
..."Cinta sebuah rasa tanpa akal. Anugrah terindah yang tak ternilai. Kejujuran landasan kuatnya ikatan cinta. Kesabaran cara terbaik mengerti arti cinta. Kesetiaan sebuah janji suci mempertahankan cinta. Cemburu menjadi pemanis dikala pahit cinta mencuat. Pengkhianatan ujian terberat dalam mengarungi cinta. Keikhlasan menjadi cara menyatukan sebuah perbedaan. Sebuah cinta suci menjadi landasan kuat sebuah pernikahan. Namun hanya keteguhan hati menjadi puncak pengertian sebuah cinta. Teguh bahwa dia yang terbaik dari yang baik. Dia yang terindah dari yang indah. Sebab sebuah pemikiran, mampu membuat hati bertahan di atas lemahnya pondasi cinta. Niscaya kita tidak akan pernah melihat kelebihan orang lain selain pasangan kita. Menerima rumit dan pahitnya sebuah hubungan, dengan sebuah keteguhan bahwa kita pasti akan bahagia. Cinta tak selamanya indah, tapi dalam sebuah cinta ada keindahan yang tak ternilai."...
...☆☆☆☆☆...
Langit malam terlihat begitu terang. Cahaya bulan membuat langit malam indah penuh cahaya. Guratan awan nampak nyata, bintang bersinar indah menyempurnakan keindahan malam. Mendampingi sang bulan menyapa penghuni bumi. Menggapai indah yang takkan pernah bisa ditandingi.
Hanna berdiri menatap langit malam yang cerah. Menganggumi cahaya yang dipancarkan bulan. Cahaya yang nyata membuat langit begitu indah. Menghapus gelap dan sepi di wajah langit. Seolah mengatakan pada dunia. Langit akan selalu ceria, takkan pernah ada duka di wajah langit.
"Kenapa berdiri sendiri di bawah langit?"
"Indah!"
"Seindah hidup yang penuh warna, air mata dan tawa menjadi pelipur lara. Sekaligus warna yang menjadikan hari kita penuh keindahan!"
"Mama benar!" Sahut Hanna lirih, Tika tersenyum di balik cadarnya.
Dia tersenyum ke arah Hanna yang menatap langit lekat. Seolah Hanna ingin menggapai langit, memetik bulan dengan tangannya. Agar hidupnya semakin penuh warna.
"Kenapa menatap langit begitu lekat? Meski sekuat apapun kamu menatapnya. Langi tetap akan ada disana. Jauh dari gapaianmu, tapi sangat dekat bila kamu mengenalnya!" Ujar Tika, Hanna mengangguk perlahan. Membenarkan perkataan Tika yang penuh dengan makna.
"Karena langit menyimpan jawaban dari gelisah hatiku!"
"Ada apa lagi? Kamu bertengkar dengan Hafidz atau mulai ada kebimbangan dalam hatimu menikah dengan Hafidz!" Ujar Tika lirih, Hanna menggeleng tak mengiyakan. Dia tak pernah berpikir sejauh itu. Namun jauh dilubuk hati Hanna ada satu keraguan yang mulai mengusiknya. Rasa ragu yang mungkin tak sepantasnya ada.
"Kenapa ada rasa ragu dihati? Ketika rasa percaya baru saja tercipta?"
"Ada apa Hanna?"
__ADS_1
"Aku mulai takut menjalani pernikahan ini. Hubungan masa lalu kak Hafidz dengan kak Aura. Membuatku merasa rendah!"
"Tapi kamu tahu, Hafidz telah melupakan Aura. Lagipula tidak sepantasnya kamu berpikir seperti itu. Aura bukan orang lain, dia istri kakakmu. Entah siapa yang membuatmu mempercayai fakta itu? Satu hal yang pasti, dia hanya ingin membuatmu membenci orang-orang yang menyayangimu. Salah satunya Aura, kakak perempuan yang kamu sayangi!" Ujar Tika lirih dan hangat, Hanna menunduk lemah. Dia mulai menyadari pemikirannya salah. Hanna terhasut oleh pemikiran yang tak benar adanya.
"Percayalah Hanna, tidak ada hubungan Aura dengan Hafidz. Dia kakak iparmu bukan musuhmu. Kakak menyakini itu, semenjak abi sendiri yang menyakinkan kakak!" Sahut Arkan, Hanna dan Tika menoleh terkejut. Arkan berjalan perlahan menghampiri Hanna dan Tika.
"Maaf!"
"Hanna, bukan hanya kamu yang ragu menikah dengan orang seperti Hafidz dan Aura. Kakak juga pernah berpikir seperti itu. Namun malam itu, semua keraguan itu musnah. Ketika Abi Salim menyerahkan putrinya padaku!" Ujar Arkan tegas, Hanna menatap Arkan penuh penyesalan. Tanpa sengaja Hanna telah menyakiti hati kakaknya.
"Sekali lagi, aku minta maaf!" Ujar Hanna lirih, Arkan diam menatap langit yang terlihat begitu cerah.
FLASHBACK
"Arkan, dulu kamu pergi dan aku tidak mencegahnya. Kamu pergi tanpa bertanya atau mendengar pendapatku. Hari ini aku ingin kamu pergi, tapi setelah kamu menjawab semua pertanyaanku. Aku ingin mengetahui kenyataan yang tersimpan dalam benakmu!" ujar Abi Salim tegas dan dingin, Arkan menggelengkan kepalanya lemah.
Terdengar suara helaan napas panjang Abi Salim. Napas yang seakan berat mengingat usia Abi Salim yang tak lagi muda. Sunyi malam terasa nyata, hanya dingin yang terasa menusuk tulang Arkan.
"Abi, apa yang sebenarnya ingin Abi katakan? Aku memang mengenal kak Hafidz. Sejauh aku mengenalnya, dia pemuda yang baik. Lantas apa hubungannya denganku? Aku hanya pernah mengenalnya, tapi aku tak sedekat itu untuk pantas berpendapat!" ujar Arkan, Abi Salim terdiam membisu.
Hafidz Arif Shaleh putra bungsu dari keluarga terpandang. Salah satu santri di pesantren yang lulus dua tahun yang lalu. Jika Arkan keluar dari pesantren, sebelum dia menyelesaikan pendidikannya. Sebaliknya Hafidz keluar dari pesantren, untuk menempuh pendidikan agama lebih dalam lagi. Hafidz seorang penghapal Al-Quran layaknya Aura. Arkan pernah mengenalnya, sebab keduanya pernah satu kamar.
"Tidak baikkah Hafidz, untuk Aura putriku. Sehingga dia menolak perjodohan ini. Menurutmu siapa calon yang lebih baik dari Hafidz? Laki-laki yang membuat Aura berpikir, dia layak menjadi imam dunia akhiratnya!" ujar Abi Salim dingin, seketika Arkan mendongak menatap Abi Salim. Keterkejutannya jelas terlihat dari kedua matanya.
"Jika Abi sudah memilih kak Hafidz, tentunya dia laki-laki terbaik untuk kak Aura. Aku tidak mengenal laki-laki yang lebih baik darinya!" ujar Arkan tegas, sembari menunduk. Abi Salim menatap Arkan yang tetap tenang. Tak terlihat rasa cemburu atau amarah di kedua mata Arkan. Ketenangan yang menyimpan berjuta pemikiran.
"Jika memang dia yang terbaik. Lantas kenapa Aura menolaknya? Aura mengatakan ada laki-laki lain yang menarik hatinya. Seseorang yang aku rasa tidak pantas mendampingi Aura!" ujar Abi dingin, Arkan semakin menunduk.
__ADS_1
"Karena kak Aura pantas bahagia. Kak Aura pantas memilih pada siapa dia bergantung? Namun tetap dengan restumu. Maaf Abi Salim; bukan maksudku menasehati Abi. Namub alangkah baiknya, jika membiarkan kak Aura mengenal kak Hafidz. Sedangkan Abi mengenal laki-laki yang membuat kak Aura terpikat. Agar hubungan Abi dan kak Aura tetap membaik. Mendengarkan bukan hal yang buruk. Setidaknya Abi bisa melihat sisi lain dari pilihan kak Aura!" ujar Arkan lirih.
"Jika itu kamu, sisi mana yang ingin kamu tunjukkan padaku?" sahut Abi Salim, Arkan menggeleng tidak percaya.
"Yakinlah Abi, bukan aku laki-laki itu!" ujar Arkan tegas.
"Kamu memintaku mendengarkan, saat aku melakukannya. Kenapa kamu malah tidak percaya?"
"Sebab aku tidak pantas menjadi imam kak Aura. Ilmu yang dimilikinya, terlalu berat aku tanggung. Pundakku terlalu rapuh, untuk menopang pengetahuannya. Tangan dan kakiku terlalu lemah, agar bisa menggandeng dan melangkah bersama dengan kak Aura!" sahut Arkan.
"Kamu menolak Aura?" ujar Abi Salim singkat dan dingin.
"Aku mengangguminya, sebab itu aku menolaknya. Aku merasa belum pantas menjadi imamnya. Aku takut hanya akan menyakitinya. Kak Aura wanita baik dan pantas mendapatkan yang terbaik. Bukan laki-laki berhati gelap sepertiku!" ujar Arkan lagi.
"Abi, munafik jika aku tidak tertarik pada kak Aura. Pribadinya yang baik, kelak mampu menjadi istri dan ibu yang baik. Sebaliknya hatiku masih dipenuhi rasa takut. Sebab itu aku tidak ingin berharap lebih. Jika kelak akan membuatnya menangis!"
"Kamu memang imam terbaik!" ujar Abi Salim, seraya menepuk pelan pundak Arkan.
"Maksud Abi?"
"Bukan ilmu atau harta sepadan yang akan membuat putriku bahagia. Pengertian dan rasa pedulimu akan masa depannya yang kelak akan membuatnya bahagia. Aku tidak butuh menantu yang berilmu tinggi atau berharta melimpah. Aku butuh hati yang mengerti akan air mata dan senyum putriku. Temuilah Aura dengan keberanian. Layaknya dirimu yang memintanya berani menemuiku. Putuskan yang terbaik diantara kalian. Sepenuhnya aku akan mendukung keputusan kalian!"
FLASHBACK OFF
"Sekarang katakan pada kakak, haruskah rasa ragumu ada untuk menghancurkan hubungan baik diantara kita!" Ujar Arkan sesaat setelah menceritakan pertemuannya dengan abi Salim.
"Maafkan Hanna, tidak sepantasnya Hanna bersikap tak pantas!" Sahut Hanna lirih, Arkan mengangguk pelan memahaminya.
__ADS_1
"Kalian saudara kembar yang takkan mudah terpisah. Apalagi dengan hasutan yang murahan!" Ujar Tika sembari memeluk kedua buah hatinya.