
"Kak!"
"Apa kabar Hanna?" Sahut Ghibran ramah, sekilas Ghibran menoleh. Lalu kembali menatap lurus ke arah taman rumah sakit.
Ghibran melihat Hanna yang tak lagi mengenakan jas putih kedokterannya. Hanna kini bukanlah yang dulu. Hanna telah menjelma menjadi wanita karir yang sukses. Menggantikan sang ayah yang mulai mundur dari dunia bisnis. Meneruskan darah keluarga Anggara yang selalu berjaya dalam dunia bisnis. Ghibran tersenyum simpul, kala melihat penampilan Hanna yang jauh lebih mempesona.
"Suster, tolong tinggalkan kami!" Ujar Ghibran ramah, seketika anggukan kepala suster terlihat oleh Ghibran.
Suster mengangguk menyapa Hanna, lalu dibalas dengan anggukan kepala. Hanna mengenal hampir seluruh pegawai di rumah sakit. Meski dia tak lagi menjadi seorang dokter. Namun hubungannya dengan Arkan tak pelak membuatnya dihormati. Adik seorang kepala rumah sakit, bukan sebutan yang tak mudah dilupakan begitu saja.
"Bagaimana kabarmu kak?"
"Seperti yang kamu lihat!"
"Maaf!"
"Tidak perlu minta maaf, aku seperti ini bukan salahmu. Kebodohanku yang tak pernah bisa mengakui kelemahanku. Cintamu tak seharusnya menjadi milikku. Baik dulu atau sekarang!"
"Kak, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana? Seandainya aku bisa memutar waktu. Ingin rasanya aku mengenalmu. Setidaknya aku bisa bersikap lebih baik sebagai seorang teman!" Ujar Hanna lirih, Ghibran menggeleng lemah.
Harapan Hanna yang nyata takkan pernah bisa terwujud. Waktu yang tak lagi bisa kembali. Status yang tak lagi sama dan kondisi yang kini jauh berbeda. Apalagi kecelakaan fatal yang menimpa Ghibran. Telah membuat semuanya tak lagi sama. Ghibran seolah terbangun dari tidur panjangnya. Namun tenggelam dalam kelam hidup tanpa sepasang kaki yang menopangnya.
Beberapa hari yang lalu, Hanna membangunkan Ghibran dari tidur panjangnya. Mengabulkan harapan orang-orang yang menyayangi Ghibran. Agar Ghibran kembali semangat menatap hidupnya lagi. Namun sebuah harapan terwujud yang nyata harus dibayar mahal oleh Ghibran. Kala dia mengetahui, kedua kaki Ghibran mengalami kelumpuhan. Meski bukan permanen, tapi Ghibran harus bergantung pada kursi roda. Kelemahan yang membuat Ghibran semakin tak berdaya di depan Hanna.
"Tak perlu lagi kamu berandai-andai. Aku bukan Ghibran yang sempurna. Cukup kamu membuatku sadar dari tidurku. Selebihnya, bukan tanggungjawabmu!"
"Tapi kak!" Sahut Hanna, namun terhenti kala Ghibran mengisyaratkan Hanna untuk diam.
"Hanna, berbahagialah dengan imammu. Tak perlu kamu mencemaskanku. Sikap hangatmu selama aku sakit. Sudah cukup membuatku bahagia. Aku tak menginginkan lebih dari ini!"
"Maaf, aku benar-benar minta maaf!" Ujar Hanna sembari menunduk.
"Kamu tidak salah, waktu yang seolah tak pernah setuju akan cintaku. Bayangkan saja, dulu saat aku kuat tanpa cacat. Kamu selalu menolak dan menepis rasaku. Jangankan menerima rasaku, bersikap hangat saja kamu tak sudi. Sedangkan hari ini, kala tubuh ini tak lagi pantas mengharapkanmu. Panggilan kakak yang kamu sematkan untukku. Nyata menghangatkan hati dingin dan kosongku!"
"Kak Ghibran!"
"Jangan pernah mengasihaniku. Aku yakin, mampu melewati semua ini. Aku tidak akan kecewa dengan keadaanku. Sebab aku telah merasakan hangat sikapmu dan bahagia karena perhatianmu!" Sahut Ghibran santai. Hanna tak sanggup menatap Ghibran.
__ADS_1
Hanna mengingat setiap sikap kasarnya pada Ghibran. Penolakan yang setiap hari menyakiti hati, bahkan harga diri Ghibran sebagai seorang laki-laki. Sikap acuh Hanna yang selalu menatap sinis Ghibran. Senantiasa meninggalkan kekecewaan yang tak sedikit di hati Ghibran. Semuanya telah menjadi masa lalu yang sangat di sesali Hanna. Seandainya sedikit saja Hanna bersikap hangat. Mungkin tak sebesar ini rasa bersalahnya. Mengingat betapa besar rasa Ghibran padanya? Tak sepantasnya Ghibran menerima semua itu.
"Kenapa kakak harus bekorban sebesar ini? Kakak menyia-nyiakan hidup. Hanya demi wanita bodoh dan kasar sepertiku. Seandainya kakak tak mengenalku. Mungkin kakak takkan sesulit ini!"
"Kenapa kamu menyesali semuanya? Sedangkan aku tak pernah menyesal telah mengenalmu. Kamu memang wanita kasar, tapi ada lembut dan rapuh di hati terdalammu. Jiwa yang ingin aku jaga dan lindungi. Tubuh yang terluka, tapi tak pernah menampakkan rasa sakitnya. Sama halnya dengan lidah buaya, berduri di luar tapi lembut di dalam!"
"Aku tak sekuat dan sesempurna itu!"
"Hanna, kamu tak sempurna tapi mengenalmu menjadi kesempurnaan dalam hidupku!" Ujar Ghibran tegas dan lantang.
Ghibran menganggumi kepolosan Hanna sejak kecil. Cinta monyet yang perubah menjadi cinta sejati. Namun perselisihan yang seolah tak pernah ada kata damai. Membuat Hanna selalu menolak dan mengacuhkan perhatian Ghibran. Tatapan sinis penuh amarah, nampak jelas dari setiap sikap Hanna pada Ghibran. Hanna menyalahkan sesuatu pada Ghibran. Meski bukan Ghibran yang melakukannya.
Bertahun-tahun Ghibran menunggu sikap hangat. Dengan harapan kelak akan ada saat, dimana Hanna menoleh padanya? Mengakui rasa tulusnya. Melupakan rasa sakit dan amarah yang pernah ditunjukkan Hanna padanya. Namun semua berakhir, ketika Hanna menolaknya dengan tegas. Hingga akhirnya Ghibran mendengar kabar pernikahan Hanna. Titik balik hidup Ghibran saat ini.
"Kak, ada hati lain yang ingin mengenalmu. Kenapa kamu tak pernah melihatnya? Aku tak pantas menerima rasa yang begitu tulus darimu!"
"Cinta mana yang kamu maksud!"
"Cinta wanita yang menganggumi dalam diamnya. Wanita yang tak pernah kamu lihat. Seseorang yang menulis namamu dihatinya!" Sahut Hanna lantang.
"Kakak menyadarinya!" Ujar Hanna tak percaya, Ghibran mengangguk pelan.
"Sejak kapan?"
"Tepat dihari kalian masuk ke Universitas!"
"Kenapa kakak diam? Apa kakak merasa Savira tak pantas? Sampai kakak mengacuhkannya!" Ujar Hanna kecewa, sekilas Hanna menggelengkan kepalanya tak percaya.
Hanna tak menyangka, Ghibran acuh pada rasa Savira. Sebuah rasa yang disematkan indah di hati Hanna. Tak sedetikpun Savira melupakan rasanya. Meski setiap saat Ghibran bertemu Hanna dan Savira. Tak pernah Ghibran menoleh ke arah Savira. Sekadar menyapanya sebagai seorang teman. Hanya rasanya pada Hanna yang diutarakan Ghibran. Seakan Savira tak pernah sakit hati.
"Sama halnya dirimu yang tak bisa menerimaku. Aku tak pernah bisa menerima rasa Savira itu. Sekarang aku jauh lebih tak pantas menerima ketulusannya!"
"Maksud kakak?"
"Jangan pernah katakan apapun pada Savira. Biarkan rasanya ada tersimpan di hatinya. Sama halnya hatiku yang mulai mengenalnya!"
"Kenapa kakak harus diam?"
__ADS_1
"Seorang laki-laki tak pernah takut sakit hati. Namun laki-laki merasa tak berharga. Ketika dia tak lagi mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Seorang laki-laki selalu egois akan harga dirinya. Lagipula, Savira berhak mengenal laki-laki yang jauh lebih baik dariku!"
"Lantas, jika Savira mulai menyapa hatimu. Kenapa dalam tidur kakak? Hanya namaku yang terucap!" Ujar Hanna penasaran, Ghibran tersenyum simpul. Ghibran menoleh ke arah Hanna. Wajah yang pernah mengusik malam tenangnya. Wajah yang akan menjadi impian tanpa kenyataan baginya saat ini.
"Mungkin hatiku mulai mengenal Savira, tapi jauh dalam jiwaku hanya ada namamu. Mencintaimu mudah bagiku, tapi melupakanmu aku masih harus belajar!" Ujar Ghibran tegas, Hanna menunduk lemah. Ada rasa bersalah yang tak pernah bisa dilupakan Hanna. Kehadirannya nyata membuat dua hati tersakiti tanpa sengaja.
"Apa alasan itu yang membuat kakak selalu mengacuhkan Savira? Melupakan keberadaan Savira!" Ujar Hanna lantang, Ghibran mengangguk tanpa ragu.
"Apa kakak sadar? Sikap acuh kakak sangat menyakitinya!"
"Tapi menjadi pelampiasan dan pelarian itu jauh lebih sakit. Mencintai tapi tak dicintai, itu tak mudah. Jauh lebih baik Savira melupakanku!"
"Tapi Savira berhak tahu, jika kakak menyadari rasanya. Dia tulus mencintaimu, tak sepantasnya dia terluka!" Ujar Hanna, Ghibran menggeleng lemah.
"Rasa sakit akan sembuh seiring waktu. Dia akan menemukan cinta yang jauh lebih baik dariku!"
"Kakak salaha!"
"Kamu, sejak kapan ada disitu?" Ujar Ghibran, Hanna menoleh bersamaan dengan Ghibran. Mereka melihat Savira berdiri anggun tak jauh dari mereka.
"Sejak kakak memutuskan yang terbaik untukku. Tanpa bertanya padaku atau peduli pada pendapatku!"
"Semua tidak penting sekarang!"
"Kenapa tidak penting? Bertahun-tahun aku memimpikan hari ini. Kenapa aku harus melupakannya? Hanya karena kakak merasa lemah dengan kondisi kakak. Cintaku tak selemah itu, sampai kakak berpikir aku akan pergi. Setelah aku mengetahui kondisimu. Saat ini waktu yang tepat untukku. Mengatakan pada dunia, bahwa aku tulus mencintaimu. Akan kubuktikan pada dunianya. Kuat cintaku akan membantu kakak sembuh!"
"Tinggalkan aku sendiri!" Ujar Ghibran lantang, Savira menggeleng lemah.
"Tidak saat ini, aku akan menjadi kakimu. Tanganku yang akan membantumu berjalan. Cintaku yang akan memberimu semangat untuk sembuh!"
"Kalian sangat romantis!" Ujar Hanna lirih dengan senyum ceria dan polosnya. Menyela percakapan Ghibran dan Savira.
"Tidak lucu!" Sahut Ghibran dan Savira serempak.
"Kompaknya, kalian jodoh selamanya dan tak terpisahkan!" Sahut Hanna menggoda.
"Hanna!" Teriak Ghibran dan Savira kesal.
__ADS_1