
"Sayang, kamu baru pulang!" Sapa Hafidz lirih, suaranya menggema di dalam hening malam.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki tegap Hanna, bak simfoni dalam gelap ruang tamu rumahnya. Hanna berjalan menghampiri Hafidz yang sengaja menunggunya dalam gelap. Hanna berjalan menuju dinding tempat saklar lampu. Perlahan Hanna menekan tombol, seketika ruang tamu menjadi terang benderang.
Hanna menatap sayu ke arah Hafidz. Nampak beberapa cangkir kopi di meja. Hanna menduga Hafidz sudah menghabiskan semua kopi saat menunggunya. Hanna menangkap aura yang tak biasa dari tatapan Hafidz. Dengan perlahan Hanna berjalan menghampiri Hafidz. Hanna duduk di seberang Hafidz. Sekilas Hanna menatap jam yang menempel di dinding. Malam semakin larut, hening dan sunyi terasa mencekam.
"Kenapa duduk di dalam gelap?" Ujar Hanna santai, Hafidz diam menatap tajam Hanna.
Hafidz diam dengan tatapan penuh pertanyaan. Raut wajah Hafidz jelas menunjukkan rasa kecewa yang begitu besar. Hafidz menghela napas, melepas beban yang ada di pundaknya. Hanna diam menanti jawaban dari pertanyaan. Jawaban yang sesungguhnya tak begitu diharapkannya. Sebuah pertanyaan yang tak pernah nyata Hanna inginkan jawabannya.
"Kamu jelas tahu alasan aku duduk di sini. Tak perlu aku menjawab pertanyaan yang sesungguhnya kamu tahu jawabannya!"
"Maksud kak Hafidz?" Sahut Hanna tak mengerti.
Hafidz menyeruput secangkir kopi yang mendingin. Sedingin tubuh Hafidz yang menunggu Hanna sejak sore. Bercangkir-cangkir kopi habis diteguknya. Sekadar menemani kebosanan Hafidz saat menunggu Hanna. Dua mata yang lelah, tak lagi mampu terpenjam. Tak ada kantuk yang menyergap, semua berganti dengan kecemasan serta rasa kecewa. Detak-detak jam yang terdengar di telinganya. Pemberi harapan dalam penantian yang tak bertepi.
"Kamu tak mengerti atau mengingkarinya. Satu hal yang jelas, bercangkir-cangkir kopi di depanku. Bukti berapa lama aku menanti kepulanganmu. Gelap ruangan ini, tak lain caraku mengingkari waktu yang semakin larut!"
"Kenapa kakak menungguku? Bukankah aku sudah meminta izin padamu. Aku akan pulang terlambat!" Sahut Hanna mencari alasan. Hafidz menggeleng tak percaya. Sikap dingin Hanna, isyarat tak ada rasa bersalah di hati Hanna.
"Haruskah kamu pulang selarut ini? Bukan satu malam, dua malam atau tiga malam. Hampir setiap malam kamu pulang tengah malam. Tak ada lagi waktumu untukku. Bahkan sekadar sarapan bersama, kamu tak lagi ada waktu!" Ujar Hafidz dingin, Hanna menatap Hafidz. Tersungging senyum tipis di sudut bibir Hanna.
"Kakak mengeluh!"
"Hanna, apa yang kukatakan bukan sebuah keluhan? Seharusnya kamu menyadari, tak ada lagi waktu kita bersama. Kamu semakin jauh, kamu dingin dalam hubungan kita. Aku suami yang berhak akan waktumu. Bukan kalah oleh pekerjaan yang terus menyita waktumu!"
__ADS_1
"Kak Hafidz, aku istrimu yang sah. Aku makmum dalam setiap langkah. Bukan hanya waktuku yang menjadi milikmu. Tubuh dan jiwaku milikmu seutuhnya. Mungkin kak Hafidz lupa, janji yang kupinta jauh sebelum kita menikah. Janji yang kini membuat hak kak Hafidz terbagi!" Sahut Hanna dingin.
"Aku berjanji mengizinkanmu bekerja, tapi bukan berarti kamu menghabiskan seluruh waktumu untuk bekerja. Aku butuh kehadiranmu, putra kita rindu belaian tangan ayahnya. Jika bukan demi diriku, lakukan semua itu demi putra yang ada di rahimmu!" Ujar Hafidz dengan nada yang sedikit tinggi.
"Aku selalu ada di sampingmu, putra kita tak pernah kehilangan sosokmu. Meski kebersamaan kita tak pernah lama, karena sejatinya hati kita yang selalu bersama!"
"Kamu egois Hanna!"
"Bukan aku yang egois, tapi keadaan yang memaksaku egois dan dingin!"
"Cukup Hanna, tidak ada gunanya aku berdebat denganmu. Selamanya aku takkan menang. Hanna tetaplah Hanna, putri kaya yang egois dan merasa benar dengan keputusannya!" Ujar hafidz kesal. Nadanya semakin meninggi, kekesalan nampak jelas dalam tutur katanya.
Hafidz berdiri menjauh dari Hanna. Dengan langkah penuh amarah, Hafidz melewati Hanna. Sebaliknya Hanna menunduk menatap lantai tempatnya berpijak. Sikap Hafidz tidak salah, tapi perkataan Hafidz membuat Hanna menyadari. Pendapat Hafidz tentang dirinya yang sebenarnya.
"Tunggu kak Hafidz!" Ujar Hanna lantang. Sontak Hafidz menghentikan langkahnya. Hanna berdiri perlahan, sembari memegang perutnya yang semaki membesar.
Tap Tap Tap
"Kak Hafidz!" Sapa Hanna sembari menarik tangan Hafidz. Punggung tegap Hafidz nampak jelas dalam tatapan Hanna.
Hanna menggenggam tangan Hafidz, menempelkan tangan Hafidz tepat di perut Hanna. Seketika Hafidz menoleh, tatkala Hafidz merasakan tendangan kecil dari putranya. Sentuhan kecil sang putra, menggetarkan hati Hafidz yang hampa. Rasa tak percaya Hafidz, membuat air matanya menetes. Putra yang dirindukan dalam setiap tarik napasnya. Menyapa penuh kehangatan, menghapus kerinduan yang tak terbendung.
"Putraku, dia menendangku!"
"Kak Hafidz, putramu mampu mengenali tangan ayahnya. Lantas kenapa kak Hafidz tak pernah bisa menyadari keinginannya? Seharusnya ikatan hati diantara kita. Jalan penghubung yang kuat, sehingga tanpa kata. Kakak bisa mengerti harapan yang ada dalam hati terdalamku!"
"Hanna!"
__ADS_1
"Kak Hafidz, aku wanita bukan robot tanpa hati. Jika kak Hafidz bosan lama menungguku. Tak pernah kak Hafidz berpikir aku merasa lelah dengan semua ini. Ketika kak Hafidz mengharapkan kehadiranku, tidakkah kak Hafidz menyadari kerinduan dan jerit hatiku. Air mata yang kusimpan serapat mungkin. Semua demi senyummu dan bunda Salma. Aku menjauh bukan demi rasa egoisku. Melainkan bukti cintaku tak egois. Kuserahkan tubuh dan cintamu sepenuhnya pada bunda Salma. Wanita yang jauh lebih pantas mendapatkan kehangatanmu!"
"Sayang!" Ujar Hafidz memelas, tangannya mencoba memegang pipi Hanna. Meminta maaf atas tuduhannya yang salah. Namun dengan sigap Hanna menepis tangan Hafidz.
"Kak Hafidz, aku rindu dekapan hangatmu. Bersandar pada dada bidangmu nyata yang keharapkan. Harum hembusan napasmu, menjadi penenang dalam kisruh hatiku. Namun dengan cinta, kutelan semua kerinduan itu. Kutahan hasrat cinta yang menggebu dalam hati dan benakku. Semua demi bunda kak Hafidz, demi senyum yang mulai memudar di wajah cantiknya!"
"Sayang!" Ujar Hafidz lirih.
"Kak Hafidz, aku tak pernah melarang bunda tinggal di rumah ini. Karena rumah putra juga rumah ibunya. Namun kak Hafidz harus tahu, berada di bawah satu atap yang sama tidaklah mudah. Agar tak ada yang merasa kalah atau mengalah. Aku memilih menatapmu dari jauh. Mencintaimu dalam diam, merindukan di sela tangisku!"
"Semua karena bunda, kamu hambar dalam pernikahan kita!" Ujar Hafidz, Hanna menggeleng lemah.
"Bukan demi bunda, tapi demi dirimu. Cintaku terlalu kuat, sampai aku tak sanggup melihatmu membaginya. Aku memilih menjauh, sebelum aku semakin terluka. Bunda hanya memilikimu, tak pantas aku merebutnya!"
"Kamu bukan milikku!"
"Aku milikmu, tapi aku masih memiliki putramu. Aku kuat menunggumu, sampai bunda ikhlas membagi kasih sayangmu!"
"Sayang, maafkan aku!"
"Aku yang seharusnya meminta maaf, karena aku tak sanggup berada disisimu. Keraguan bunda membuatku takut mendekatimu!" Ujar Hanna, lalu menjauh dari Hafidz yang tertegun dengan perkataan Hanna.
"Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu imam dunia akhiratku!" Batin Hanna pilu, sekilas Hanna menyeka air mata yang menetes dari kedua mata indahnya.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
Mohon dukung karya receh author yang baru. Sudi kiranya mampir, sekadar melihat tulisan receh author. Terima kasih dan maaf atas rasa kecewa yang tertoreh.🤗🤗🤗