
..."Ibu, wanita kuat tanpa takut kalah. Ibu, wanita bijak ladang kasih sayang. Ibu, wanita lemah tapi tak terkalahkan. Ibu, wanita sabar tanpa lelah berkorban. Ibu, wanita tulus tak mengharap balasan. Ibu, wanita renta penuh dengan anugerah. Wahai ibu, dalam belaianmu aku dibesarkan. Wahai ibu, dalam dekapanmu aku terlindungi. Besar jasamu tak akan mampu aku ganti. Tulus kasih sayangmu tak akan mampu aku bayar. Beruntunglah wanita menjadi seorang ibu. Meski dia terhina di dunia, tapi terhormat di akhirat. Walau terkadang jasamu dilupakan, tapi berkahmu dirindukan. Terima kasih ibu"...
...☆☆☆☆☆...
Sang fajar mulai menyingsing, menebarkan kehangatan di pagi yang dingin. Menaburkan semangat memulai pagi yang cerah. Mengharapkan kebahagian dalam setiap langkah. Kicauan burung ibarat simfoni nada yang mampu menenangkan kegelisahan hati setiap insan.
Setelah hampir berjuang selama dua jam, kedua buah hatiku terlahir dengan selamat. Bayi tampan dan cantik yang telah tumbuh dalam rahim yang lemah. Harapan dan ketulusan dalam pernikahanku. Semangat serta kebahagian dalam setiap napasku.
Dua harapanku terlahir dengan selamat, sebaliknya kondisiku memburuk. Pendarahan hebat yang terjadi saat operasi, membuatku harus terbaring lemah di dalam ruang ICU. Seluruh tubuhku dipenuhi alat bantu kesehatan. Para dokter berjuang, melakukan penanganan yang paling tepat untukku.
Mas Agam berdiri melihat tubuh lemahku. Dia menatap ke dalam ruangan, dimana aku terbaring tak berdaya. Selama ini tak pernah kubiarkan dia melihat lemah dan sakitku. Kini tanpa bisa kuhindari, mas Agam melihat sakitku. Seandainya tak ada dinding kaca pemisah. Aku yakin mas Agam akan berlari menggenggam erat tanganku. Namun kenyataan yang dikatakan dokter Rina semalam. Mengharuskan kami terpisah sementara.
FLASH BACK
"Dokter Rina, bagaimana kondisi Tika?" tanya bunda lirih, tapi dokter Rina hanya diam membisu. Bunda bertanya berulang kali, tapi nihil dokter Rina tetap diam.
"Seseorang tolong katakan padaku, bagaimana kondisi putriku? Jangan hanya diam saja!" teriak bunda Nissa, papa memeluk bunda erat.
"Sayang, tenanglah dulu. Tika baik-baik saja!"
"Sayang!" ujar mas Agam lirih, tubuhnya lemas memikirkan kondisiku. Tubuhnya jatuh ke lantai.
"Nissa, tenanglah dulu! Aku akan menjelaskan kondisi Tika saat ini. Sebenarnya Tika sempat mengalami pendarahan hebat. Namun berkat sikap tanggap Steven, pendarahan bisa dihentikan. Hanya saja kondisi Tika masih belum stabil. Jadi untuk sementara Tika akan berada di ruang ICU. Kita akan melihat kondisinya, selama 1×12 jam. Jika Tika belum sadar, maka kita akan melakukan penanganan lanjutan!"
__ADS_1
"Dokter Rina, itu artinya Tika baik-baik saja?"
"Pak Agam, saya belum bisa menjanjikan apapun! Kita akan melihat kondisi Tika beberapa jam ke depan. Jika dia membaik, maka Tika sudah melewati masa kritisnya. Sekarang kita berdoa saja, semoga kondisi Tika segera membaik."
"Nissa, sepertinya kamu harus memakai jas putihmu lagi. Kondisi kedua cucumu belum stabil. Sementara dokter anak rumah sakit ini belum datang. Sebaiknya kamu pantau sendiri kondisi kedua cucumu. Mengenai kondisi Tika, kamu tidak perlu khawatir. Steven akan bergantian denganku memantau kondisi Tika!"
"Dokter Rina, terima kasih!" sahut bunda lirih, dokter Rina tersenyum sembari mengangguk pelan. Bunda menoleh pada papa, seakan meminta persetujuannya untuk mengawasi kondisi kedua bayiku.
"Lakukan sayang, mereka cucu-cucu kita. Tidak ada alasan dirimu menolak."
"Baiklah, aku akan memantau mereka. Aku titip Tika. Kabari aku jika ada perkembangan mengenai kondisi Tika." ujar bunda, papa mengangguk pelan.
Bunda meninggalkan papa dan mas Agam. Beliau pergi menuju ruangan khusus bayi. Bagaimanapun bunda merupakan dokter anak yang hebat? Namun demi papa dan keluarga, bunda melepaskan impiannya sejak kecil. Malam ini demi kedua cucunya, bunda kembali menjadi seorang dokter yang merawat dengan penuh ketulusan.
Sekitar hampir 9 jam aku tidak sadarkan diri. Kecemasan mulai merasuk dalam pikiran mas Agam. Batas waktu 12 jam yang dikatakan dokter Rina akan terlewat. Namun tidak ada reaksi apapun dari tubuh lemahku. Semalaman mas Agam berdiri menatap jauh ke dalam ruanganku. Tidak ada kantuk atau lelah yang menghalanginya untuk menjagaku.
Papa sempat meminta mas Agam untuk istirahat. Namun mas Agam bersikukuh ingin menjagaku, dia berharap dirinya orang pertama yang aku lihat. Kedua orang tua mas Agam tidak berani mengatakan apa-apa? Melihat resiko yang akhirnya aķu tanggung. Sedikit banyak membuat mereka merasa bersalah. Tak pernah terbayangkan oleh mereka. Jika demi kedua keturunan yang mereka inginkan. Aku harus berkorban nyawa.
"Agam, pergilah ke kantin untuk sekadar minum kopi! Papa akan menjaga Tika di sini. Percuma kamu menghukum dirimu seperti ini. Jika Tika mengetahuinya, dia akan terluka. Kamu harus ingat, kedua cucuku membutuhkan kasih sayangmu!"
"Tapi pa? Bunda akan memisahkanku dengan mereka. Jika sesuatu terjadi pada Tika. Bunda tidak akan mengizinkanku melihat mereka. Bunda marah pada Agam!"
"Agam, bunda hanya terbawa emosi! Percayalah, bunda tidak akan pernah memisahkanmu dengan putra-putrimu. Bunda tidak akan setega itu. Sekarang kamu harus kuat demi mereka. Kita masih punya harapan melihat Tika sembuh. Jangan menyerah!"
__ADS_1
"Sudah hampir sepuluh jam Tika belum juga sadar. Dua jam lagi semua harapan akan pupus, Agam tidak ingin meninggalkan Tika. Agam ingin bersama Tika."
"Agam, minumlah ini. Bunda tidak ingin Tika terluka melihatmu sakit. Kita akan berjuang, sampai batas kita berharap."
"Bunda, tidak marah pada Agam."
"Aku tidak berhak marah padamu. Semua keputusan sudah kalian pilih bersama. Rumah tangga hanya bisa berjalan, bila suami istri selalu bersama. Sekarang istirahatlah, biarkan papamu yang menjaga Tika. Siapapun yang dilihat Tika pertama kali? Bukan menjadi yang terpenting. Kesembuhan Tika yang lebih penting." ujar bunda Nissa, mas Agam mengangguk pelan.
Mas Agam berjalan gontai menuju kantin rumah sakit. Hanya papa dan bunda yang menungguku di luar ruang ICU. Bunda berdiri menatap lurus pada tubuh lemahku. Air mata bunda menetes melihat tubuhku yang penuh dengan alat kesehatan.
Bunda menyadarkan kepalany pada dinding kaca. Tangannya menempel, seakan membelai lembut pipiku. Jika bisa bunda ingin berlari memelukku.
"Tika sayang, gadis manis bunda. Kembalilah demi kedua buah hatimu. Mereka membutuhkanmu. Hanya dekapan hangatmu yang mereka butuhkan. Kehangatan selama sembilan bulan yang telah mereka rasakan. Hanya belaian tanganmu, yang mereka rindukan. Belaian tangan yang menemani hari-hari mereka selama 270 hari lebih dalam kandunganmu. Suara merdu sholawatmu, yang ingin mereka dengarkan. Suara yang mengiringi setiap jam pertumbuhan mereka. Jangan acuhkan harapan dua buah hatimu. Jangan hancurkan keinginan sederhana mereka. Jangam pupuskan kerinduan mereka akan sosokmu. Tika sayang, bertahanlah melawan semua rasa sakit ini. Jika memang kamu kalah, tetaplah kamu pemenang dalam pertempuran ini. Kami ibu terhebat, ketulusanmu membuat bunda bangga. Bahwa seorang ibu takkan pernah tergantikan. Sayang, terima kasih telah mengajarkan bunda. Bahagia seorang ibu, hanya ketika melihat anaknya bahagia. Terima kasih sayang!" batin bunda Nissa. Air mata jatuh tanpa bisa dia bendung lagi. Kepiluan bunda Nissa, tak mampu lagi ditutupi.
"Sayang, Tika tidak ingin melihat kita lemah. Dia akan kuat, bila melihatmu kuat. Tegarlah demi Tika, dia butuh semangatmu." ujar papa Dimas, sembari memeluk tubuh bunda Nissa.
"Bunda!" ujarku sangat lemah, ingin aku memeluk bunda. Melepaskan kerinduanku, tapi tubuhku terasa kaku. Suaraku seolah tercekat di tenggorokan, tak mampu bersuara. Aku melihat bunda menangis dalam pelukan papa Dimas. Air mataku menetes tanpa bisa aku bendung. Wanita terhebat dalam hidupku, menangis melihat lukaku.
"Bunda!"
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊
__ADS_1