
"Maaf!"
"Untuk!" Sahut Hafidz datar.
"Sikap tak pantasku pada bunda Sinta!"
"Dimana letak tak pantasnya!" Ujar Hafidz tak mengerti. Hanna menoleh heran mendengar perkataan Hafidz. Sikap yang jelas salah, tapi tak nampak salah dimata Hafidz. Perlawanan Hanna pada Sinta tak seharusnya dilakukan.
"Terserah pada pendapat kakak. Satu hal yang pasti, aku tak pernah bermaksud melawan bunda. Hanya saja hatiku tak terima, ketika bunda melangkahi hak kedua orang tuaku!"
"Ada rasa tak terima di hatiku, tapi sikap bunda memang tak pantas. Setidaknya kamu bisa membela diri, di saat aku tak mampu membelamu!"
"Jelas kamu mampu membelaku, tapi kamu diam demi melihat sikap tegasku. Entah apa niat kak Hafidz? Namun lain kali, jangan pernah biarkan aku berselisih dengan bunda. Beliau lebih tua dariku. Tak pantas rasanya aku bersikap kasar!" Ujar Hanna tenang, Hafidz menatap lurus ke jalan besar di depannya.
Hafidz mencoba mencerna perkataan Hanna. Sikap tegas yang seolah tak ingin terlihat di depan mertuanya. Hanna tak pernah ingin melebehi batasan yang ada. Meski terkadang Hanna terluka dengan sikap egois bunda Hafidz.
"Maafkan aku, tapi bunda layak mendapatkan perlawanan. Aku seorang anak, sekaligus suami yang harus menjaga hati dua wanita. Aku lemah jika melawan satu, demi melindungi yang lain!"
"Kak Hafidz, aku tidak akan membatasimu. Lindungi bunda semampumu. Aku tidak keberatan, selama kak Hafidz tidak meragukan atau menyisihkanku. Namun jika kak Hafidz tak mampu memilih. Biarkan aku yang memilih, agar aku bisa melihat senyummu. Hanya bahagia kakak, tujuan hidupku!"
"Hanna, jika kamu dulu begitu takut menikah. Kenapa kamu sekarang terlihat tegar dan kuat? Meski apa yang kamu takutkan? Nyata telah terjadi dan aku laki-laki yang sama seperti papa Agam. Lemah dan kalah oleh rasa bakti!" Ujar Hafidz lirih, Hanna menggeleng. Hanna tak setuju dengan perkataan. Jelas ada perbedaan besar diantara Agam dan Hafidz. Perbedaan yang tak nampak, tapi jelas dilihat oleh Hanna.
"Kalian tidak sama, ada perbedaan yang besar!"
"Apa itu?"
"Cara kalian memandang cinta. Perjuangan kalian demi wanita yang dicintai!"
"Sayang, aku tidak mengerti perkataanmu!"
"Papa tak pernah ingin melihat mama sedih. Sebab itu papa diam, tak pernah ingin berjuang demi mama. Sebaliknya kak Hafidz selalu tegas akan hubungan kita. Namun tanpa kakak sadari, ketegasan kakak membuatku semakin tersakiti!"
"Sayang!" Ujar Hafidz cemas, Hanna menggeleng lemah. Seolah tak mengiyakan perkataan Hafidz.
"Aku baik-baik saja kakak. Akan terus baik-baik saja!"
"Sayang, sikap bunda sangat keterlaluan selama ini padamu. Kenapa baru hari ini kamu melawannya?"
__ADS_1
"Karena bunda melewati haknya. Seseorang akan marah, ketika harga dirinya dipertanyakan. Sakit akan terasa menyiksa, jika pengorbanan tak lagi dihargai. Selama ini aku diam, karena aku yang memilih mengalah. Namun hari ini, bunda menyisihkanku. Bahkan meragukan sopan santunku. Sikap yang tak pernah mama ajarkan padaku!" Sahut Hanna santai, terdengar helaan napas panjang Hanna. Seolah beban berat tengah dipikulnya.
"Lima belas tahun, aku tak mengenal mama. Jauh dari kasih sayangnya. Hidup dalam kebencian tanpa alasan, kekecewaan yang tak pernah ada batasnya. Namun lima belas tahunku yang hilang. Takkan pernah aku ulangi, dengan mengecewakan mama. Aku terlahir dari wanita kuat dan berbudi. Akan kubuktikan pada bunda, aku bukan wanita perebut yang tak berakhlak. Kedua orang tuaku membesarkanku dengan cinta yang sempurna. Bukan dengan kebencian yang akan membuatku hina di dunia!"
"Sayang, maafkan aku!"
"Aku bahagia bersamamu, tak ada penyesalan dalam hatiku. Kita akan melewatinya, selama ada rasa percaya!"
"Aku mencintaimu Hanna, sangat mencintaimu!"
"Sebaliknya aku percaya padamu!"
"Untuk!"
"Hubungan yang kamu tawarkan!" Sahut Hanna tegas.
...☆☆☆☆☆...
"Kak Aura, apa kabar? Lama tidak bertemu!" Sapa Savira ramah. Dengan senyum yang terutas di balik cadarnya. Aura menyahuti sapaan Savira. Dokter cantik yang kini menjadi dokter pribadinya.
"Aku baik-baik saja!"
"Dokter Savira, bisakah kita bicara berdua!"
"Kenapa kak Aura bicara formal? Panggil aku Savira saja. Aku sudah selayaknya Hanna, jadi aku juga adikmu. Tidak perlu sungkan, bicaralah seperti biasa!" Ujar Savira ramah, Aura menggeleng tak setuju.
Aura sengaja datang tanpa pemberitahuan, karena ingin menanyakan sesuatu pada Savira. Ada masalah yang perlu ditanyakan Aura pada Savira. Dokter pribadi yang sengaja dipilih Aura selama program hamil. Sebagai dokter Savira berkewajiban menjaga horman Aura. Dengan setia menemani Aura yang tengah berada dalam dilema.
"Jika kita bicara di rumah, mungkin aku akan bersikap santai. Namun kini kita ada di rumah sakit. Sudah sewajarnya kalau aku bersikap formal dan sopan!"
"Terserah kakak, selama itu tidak membuatmu terbebani!"
"Aku tidak keberatan, kamu memang seorang dokter yang pantas dihormati!"
"Baiklah kak, sekarang katakan apa masalahnya!"
"Aku takut tak memiliki keturunan. Sedangkan Hanna saat ini tengah hamil. Harapan yang membuatku rendah diri akan kodratku sebagai seorang wanita!"
__ADS_1
"Bukankah hasil tes kakak baik-baik saja. Cepat atau lambat kakak pasti hamil!"
"Dokter Savira!" Panggil Aura lirih.
"Ada apa kak?"
"Kak Arkan menghentikan program bayi tabungnya. Kak Arkan menolak diperiksa. Agar tak ada kebenaran yang diragukan!"
"Jika memang kak Arkan menolak, ya sudah. Aku percaya kakak akan segera mendapatkan momongan!"
"Semoga saja dokter, karena hatiku mulai terkoyak melihat anak-anak bermain ditaman. Sedangkan jiwa kak Arka, selalu diam menahan luka ini. Meski nampak jelas dia merindukan suara tangis dan tawa seorang putra!" Sahut Aura lirih dan lemah.
"Jika aku boleh bertanya, kenapa kak Arkan menolak diperiksa? Apakah dia merasa ada kelemahan dalam dirinya?" Ujar Savira lemah dan lirih, Savira berhati-hati dalam bicara. Ada rasa segan dia menanyakan tentang masalah yang sangat pribadi.
Aura menggeleng dengan tegas, kala dia mendengar pertanyaan Savira. Tundukan kepala Aura, jawaban yang nyata dalam kegelisahan hatinya. Banyak hal yang tak mampu diutarakan Aura. Kepatuhannya pada Arkan menjadi batasan yang nyata ada.
"Kak Arkan, melakukan semua itu demi diriku. Dia tidak ingin membuka masalah yang kelak akan menjadi jalan penghancur rumah tangga kami. Kak Arkan menikah denganku bukan demi keturunan. Sebab itu dia tidak ingin cinta kami ternoda. Hanya karena fakta lemah diantara kami!" Ujar Aura tegas, Savira mengangguk mengerti.
"Cinta yang tulus!" Ujar Savira, Aura menggeleng lemah. Sontak Savira menatap heran ke arah Aura. Gelengan kepala yang jelas menunjukkan gelisah yang tak mudah.
"Sebaliknya, cinta kak Arkan menyiksaku!"
"Kenapa kak Aura berpikir seperti itu?"
"Dia mengingkat dirinya pada wanita lemah sepertiku. Kak Arkan menyerahkan kebahagian pada diriku yang tak sempurna. Cinta yang begitu besar dan tulus, tapi hatiku kecil dan rapuh!" Ujar Aura lemah.
"Selemah apapun hati dan dirimu. Nyatanya dirimu yang menguatkan hatiku. Satu alasan yang cukup, agar kamu menjadi satu-satunya wanita dalam hati dan hidupku!" Sahut Arkan yang tiba-tiba datang.
"Kak Arkan!"
"Dokter Arkan!" Sapa Savira lirih bersamaan dengan Aura yang terkejut melihat Arkan datang.
"Maaf!"
"Tidak perlu, lemahmu bukan alasan kamu rendah diri. Karena ada banyak kelebihan dalam dirimu. Kesempurnaan yang tertutup di hati terdalammu. Hanya aku yang menyadarinya, jangan pernah bebani cintamu dengan pendapat orang lain. Karena kita hidup, demi kebahagiaan kita. Bukan demi melihat mereka bahagia!" Ujar Arkan lantang, sembari mengecup puncak kepala Aura.
"Terima kasih!" Ujar Aura, Arkan mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Hati jombloku merana!" Ujar Savira menggoda.