Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dia Pilihan Hatiku


__ADS_3

"Bunda sudah sadar!"


"Hmmmm!" Sahut Sinta sembari mengedipkan kedua matanya.


Sinta mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangannya. Kedua matanya seolah sedang mencari seseorang. Binar redup kedua mata sayunya. Seakan merindukan kasih sayang seseorang. Sinta jelas sedang menunggu Hafidz putra tercintanya. Seseorang yang selalu menjadi penguat dan semangat dalam hidupnya yang lemah.


"Bunda sedang mencari siapa? Atau bunda menginginkan sssuatu?" Ujar Shaila lirih, Sinta diam menatap sendu Shaila. Seolah mengiyakan perkataan Shaila, tapi tak mampu mengatakan semuamya dengan jujur.


"Hafidz tak ada disini. Sebenci itukah Hafidz? Kenapa dia melupakanku demi Hanna? Haruskah aku menerima Hanna. Membuang jauh ego dalam hatiku. Mengakui kalau Hanna memang yang terbaik untuk Hafidz!" Batin Sinta pedih, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Menjawab pertanyaan Shaila yang berlawanan dengan hatinya.


"Bunda, aku akan panggilkan dokter Savira!" Ujar Shaila lantang, Sinta mengangguk pelan. Seketika Shaila berjalan keluar mencari Savira.


"Bahkan bukan Hanna yang merawatku. Sebenci itukah mereka padaku. Sampai hati mereka melupakan diriku. Aku merasa sepi tanpa putraku, sebaliknya putraku hampa tanpa Hanna. Beri aku satu kesempatan, ingin aku membuat putraku kembali!" Batin Sinta pilu.


"Assalammualaikum, selamat pagi tante Sinta!"


"Waalaikumsalam!" Sahut Sinta ramah, seraya mengedipkan kedua matanya. Menyahuti sapaan hangat dan ramah Savira.


Dengan cekatan Savira memeriksa Sinta. Bukan hanya demi kewajiban seorang dokter. Savira menepati janjinya pada Hanna yang memintanya merawat Sinta dengan baik. Savira memastikan kondisi Sinta membaik. Perawatan yang dilakukan Hanna tidak sia-sia. Sinta sadar dari tidur panjangnya. Kembali dengan kondisi yang lebih baik.


"Kondisi tante mulai membaik. Kita hanya menunggu kondisi tante lebih stabil. Setelah itu tante bisa kembali ke rumah!" Ujar Savira ramah, Sinta mengedipkan kedua matanya mengerti perkataan Savira.


"Terima kasih!"


"Sama-sama tante, sudah tugasku sebagai dokter!" Sahut Savira ramah.


"Bunda, lihatlah siapa yang datang menjengukmu?"


"Ziva!" Panggil Sinta ramah, Ziva mengangguk pelan. Secara perlahan Ziva menghampiri Sinta. Ziva berdiri tepat di samping, tangan Ziva menggenggam erat Sinta. Mencurahkan kasih sayang yang tulus pada Sinta.


"Bagaimana kondisi tante?"


"Aku sudah lebih baik, terima kasih sudah mengkhawatirkanku!" Ujar Sinta hangat, Ziva dan Sinta larut dalam kehangatan. Keduanya nampak sangat dekat.


Savira sengaja mundur beberapa langkah ke belakang. Memberikan ruang bagi Ziva untuk menyapa Sinta. Savira melihat keakraban Sinta dan Ziva yang membuat hatinya teriris. Savira merasakan sakit hati Hanna yang tersisih.


"Dokter bisa melihatnya sendiri. Kak Ziva jauh lebih berarti bagi bunda, dibandingkan Hanna!" Bisik Shaila, Savira menggeleng lemah.


"Namun tetap Hanna yang menjadi menantu sahnya. Berarti belum tentu pantas menjadi menantu!"


"Menantu yang tak peduli dengan kondisi bunda!"


"Kamu mengigau atau masih tidur. Jelas kamu mengetahui, siapa yang menjaga dan merawat tante Sinta? Namun tanpa rasa bersalah, kamu malah mengingkarinya dan memuji orang lain!"


"Buktinya sekarang Hanna tak ada di samping bunda!" Sahut Shaila ketus.

__ADS_1


"Dokter Savira!"


"Iya tante Sinta!" Sahut Savira ramah, lalu mendekat ke arah Sinta. Savira berdiri tepat di samping Ziva.


"Terima kasih sudah merawat tante. Jujur tante bahagia melihat kalian berdua. Dua saudara berhati emas!" Ujar Sinta ramah, Savira dan Ziva mengangguk pelan.


"Aku tak sebaik itu tante!" Sahut Ziva ramah.


"Jelas kakak tak sebaik itu!" Bisik Savira dingin, Ziva menatap tajam Savira. Seolah tak mengerti maksud perkataan Savira.


"Wanita berhati baik, tidak akan sanggup melukai hati wanita lain. Apalagi berpikir ingin menggantikan posisinya!" Bisik Savira datar tanpa ekspresi.


"Savira, diam kamu!" Bisik Ziva balik. Jelas nampak kekesalan Ziva mendengar sindiran Savira.


"Seandainya Hafidz belum menikah!" Ujar Sinta lirih, seraya menatap Ziva.


"Tapi nyatanya kak Hafidz sudah menikah dan bahagia!" Sahut Savira lantang, mengingatkan status Hafidz yang tak lagi sendiri.


"Dokter Savira benar, kenyataan yang takkan pernah bisa aku ubah!" Ujar Sinta lirih, bersamaan dengan tatapan kosong Ziva. Savira menoleh ke arah Ziva. Seakan tak ingin melihat sikap tak pantas Ziva yang terus mengharapkan Hafidz.


"Kenapa bunda ingin merubahnya? Hanna tetap akan menjadi separuh hidupku. Kenyataan yang takkan pernah bisa bunda ubah atau berharap aku ubah. Hanna satu dan selamanya!" Ujar Hafidz lantang.


Hafidz melangkah tegap menghampiri Sinta. Sejujurnya Hafidz sudah lama ada di depan pintu. Namun dia memutuskan tetap di luar, saat melihat Ziva masuk ke dalam ruangan Sinta. Hafidz tak ingin mendengar bundanya memuji Ziva. Tak ada rasa sakit melebihi sikap bundanya yang terus membela Ziva dan merendahkan Hanna.


"Hafidz, kamu salah paham!"


"Hafidz, cukup kamu bicara. Ziva tidak salah, dia datang karena peduli pada bunda. Setidaknya dia peduli pada bunda. Dimana Hanna istrimu? Jangankan wajahnya, napasnya saja tak terdengar di ruangan ini!" Ujar Sinta sinis, Hafidz menggeleng lemah. Shaila menunduk kala Hafidz menatapnya tajam.


Shaila mengerti arti tatapan Hafidz, tapi Shaila mencoba mengalihkan pandangan Hafidz. Berharap Hafidz tak memintanya menjawab perkataan Sinta. Sebab Shaila saksi hidup perjuangan Hanna.


"Seandainya bunda tahu, siapa yang menjaga kala bunda tak sadarkan diri? Tentu bunda takkan pernah bertanya seperti itu. Seandainya bunda menyadari perjuangan orang yang merawat bunda? Hafidz yakin, bunda akan malu dan merasa bersalah telah meragukan ketulusannya!"


"Memangnya siapa yang menjagaku? Bukankah dokter Savira, bukan Hanna istri hebatmu. Ziva yang peduli pada bunda!"


"Percuma aku bicara, bunda akan terus menyalahkan Hanna. Sekarang yang paling penting. Bunda sudah stabil, tak perlu lagi Hafidz gelisah!"


"Kenapa Hafidz? Lelahkah kamu menjaga bunda? Tak sabarkah kamu ingin meninggalkan bunda? Pergi menemui Hanna istrimu. Sebenci itukah kamu pada bunda? Sampai hati kamu ingin pergi secepat mungkin. Meninggalkan bunda terbaring tak berdaya!"


"Bunda, biarkan kak Hafidz pergi. Shaila akan ada di samping bunda!" Ujar Shaila lirih, Hafidz diam membisu. Amarah Sinta nampak jelas dikedua mata bunda tercintanya.


Tok Tok Tok


"Permisi dokter Savira!"


"Ada apa suster Ana?" Sahut Savira ramah, Ana menghampiri Savira. Menghentikan sejenak perdebatan Sinta dan Hafidz.

__ADS_1


"Dokter Hanna baru menelpon. Beliau berpesan agar menyerahkan berkas pengobatan nyonya Sinta yang tertinggal di meja. Ada beberapa perawatan dan pemeriksaan lanjutan yang dokter Hanna tulis. Beliau meminta dokter Savira melakukannya!" Ujar suster Ana, lalu memberikan berkas bersampul merah pada Savira. Sinta dan Ziva terperangah, kala mendengar nama Hanna disebut.


"Kenapa dokter Hanna tidak menghubungiku langsung?"


"Dokter Hanna sedang terburu-buru. Beliau harus lepas landas. Sedangkan ponsel dokter Savira tidak aktif. Dokter Hanna juga memberikan nomer yang bisa dihubungi. Jika terjadi sesuatu pada nyonya Sinta!"


"Suster Ana, kalau begitu siapkan ruangannya. Kita akan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Aku tidak ingin dokter Hanna menyalahkanku. Seandainya terjadi sesuatu pada mertua tercintanya!" Ujar Savira lantang, seolah ingin Sinta mendengar perkataannya. Savira memberikan berkas pada Ana.


"Baik dokter Savira!" Sahut Ana lalu pergi keluar dari ruangan Sinta.


"Suster Ana!"


"Iya dokter Savira!" Sahut Ana ramah.


"Semalaman dokter Hanna tidak tidur dan mungkin ruangannya berantakan. Tolong minta salah satu OB membersihkan ruangannya. Namun jangan membuang apapun dari ruangan dokter Hanna. Hanya rapikan saja!"


"Baik dokter Savira!" Ujar Ana lantang.


"Kak Hafidz!"


"Ada apa?"


"Kakak tidak ingin menyimpan nomor ponsel Hanna?" Ujar Savira, Hafidz menggeleng lemah.


"Hanna tak ingin aku menghubunginya. Dia hanya bersedia dihubungi. Jika ada masalah dengan kesehatan bunda!"


"Baiklah tante Sinta, aku akan melakukan pemeriksaan menyeluruh sesuai arahan Hanna!"


"Kenapa sesuai arahan Hanna?" Sahut Sinta tak percaya.


"Karena dokter Hanna yang merawat dan menjaga tante selama tak sadarkan diri. Dia dokter yang berjuang menyembuhkan tante. Aku hanya dokter pengganti yang mendapatkan pujian!" Ujar Savira dingin dan tegas. Savira meninggalkan Sinta, langkah anggun Savira. Berirama sesuai hati Sinta saat ini.


"Hafidz, kenapa kamu diam?"


"Karena Hanna melarangku bicara!"


"Kenapa dia tak menemui bunda?"


"Karena dia tak ingin terluka!"


"Apa maksudmu?"


"Hanna pilihan hatiku, tapi Ziva yang nyata menjadi pilihan bunda. Kenyataan yang membuat Hanna takut menemui bunda!"


"Hafidz, bunda tak bermaksud menyakiti Hanna!"

__ADS_1


"Tapi penolakan bunda yang menyakiti Hanna. Wanita pilihan hatiku menangis, tanpa aku bisa menghapus air matanya. Demi senyum bunda yang selalu ingin Hanna lihat!" Ujar Hafidz tegas, Sinta diam membisu. Tak ada lagi suara lantang yang meragukan Hanna.


__ADS_2