Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Kejujuran


__ADS_3

..."Wanita, sebutan bagi anak gadis yang beranjak dewasa. Istri, sebutan bagi wanita yang telah menikah. Ibu, sebutan bagi istri yang akan melahirkan penerus keluarga. Sebanyak itu sebutan untuk wanita. Sebanyak itu pula tanggungjawab yang harus mereka tanggung. Ketika menjadi seorang wanita, dia harus mampu menjaga kehormatan dirinya. Sebagai seorang istri, dia harus sanggup menjaga kehormatan suaminya. Sebagai seorang ibu, dia harus bisa menjaga buah hatinya. Namun saat wanita menjaga tanggungjawabnya. Terkadang para laki-laki lupa akan tanggungjawabnya. Seorang ayah yang egois menentukan jalan hidupnya. Seorang suami yang mulai melupakan bahagianya. Seorang anak yang menghina harga dirinya. Wanita tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Namun bukan untuk tersakiti, tapi melengkapi. Air matanya terlalu jernih, jika harus menetes tanpa sebab. Air ketubannya terlalu berharga, jika pecah tanpa penghormatan. Keringatnya terlalu mulia, jika mengalir tanpa kemuliaan. Ada sisi lemah seorang wanita, tapi ada sisi kuat seorang wanita. Butuh dicintai dan dihargai, lemah tanpa perlindungan laki-laki. Namun mampu mengorbankan segalanya demi menjaga kehormatan dan memberikan kebahagian. Entah menjadi wanita dewasa, seorang istri atau seorang ibu? Wanita tetaplah wanita yang butuh dicintai dan dihargai. Satu keraguan padanya, akan menjadi luka selamanya. Hakikat seorang wanita, akan lengkap bila bersama laki-laki. Sebaliknya laki-laki takkan sempurna tanpa seorang wanita. Hargailah wanita, selayaknya kamu menghargai ibumu. Sayangi istrimu, seperti kamu menyayangi saudara perempuanmu. Lindungi putrimu, sekuat yang kamu mampu. Kelak salah satu dari mereka yang akan menjadi penyempurna hidup laki-laki!"...


...☆☆☆☆☆...


"Dokter Savira!"


"Kak Hafidz!" Sahut Savira terkejut, nampak Hafidz berjalan perlahan menghampiri Savira.


Langkah Savira terhenti, tatkala ada suara yang memanggilnya. Suara yang tak asing, tapi jarang pula di dengarnya. Savira melihat Hafidz menemuinya. Hal yang tak mungkin Hafidz lakukan. Mungkin Hafidz suami sahabatnya, tapi hubungan Savira dengan Hafidz tak seakrab hubungannya dengan Hanna.


"Bisa kita bicara dokter!"


"Panggil aku Savira, aku tidak berada di rumah sakit!" Sahut Savira, Hafidz mengangguk setuju.


Savira dan Hafidz berjalan beriringan menuju cafe tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hafidz sengaja menemui Savira, karena ada sesuatu yang harus ditanyakan pada Savira. Sikap Hanna yang tiba-tiba berubah. Menimbulkan kecurigaan dalam hatinya. Ada rasa tak biasa menyergap di hatinya. Sesuatu keanehan yang membuat Hafidz merasa perlu mencari tahu.


"Sayang!" Sapa Ghibran, Savira dan Hafidz menoleh bersamaan.


"Kak Ghibran!"


"Maaf kak Hafidz, jika tidak keberatan. Bisakah kak Ghibran duduk bersama kita. Namun jika ini pribadi. Aku akan memintanya menunggu di meja lain!" Ujar Savira, sesaat setelah melihat Ghibran datang menghampiri mereka.


"Tidak masalah, apa yang akan kubicarakan memang pribadi? Namun aku rasa Ghibran bisa menjaga rahasia ini. Jadi biarkan dia duduk bersama kita!" Sahut Hafidz santai, Savira mengangguk senang. Ghibran duduk tepat di sebelah Savira.


Ketiganya duduk melingkar di salah satu sudut cafe. Savira dan Ghibran menatap lekat Hafidz. Raut wajah gelisah yang jelas menyimpan masalah. Ketampanan yang menghilang tergantikan kusut. Seolah masalah yang ada tak lagi sanggup ditanggungnya.


"Ada apa Hafidz?" Ujar Ghibran, Hafidz mendongak menatap Ghibran.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi? Sebab itu aku ingin bicara dengan Savira. Dia satu-satunya harapanku saat ini. Dia orang yang mengetahui semua masalah yang tengah aku hadapi!"


"Sayang, kamu tahu sesuatu?" Ujar Ghibran, Savira menggeleng seraya mengangkat kedua bahunya pelan.


"Aku tidak tahu apa-apa?"


"Kamu tahu Savira, hanya kamu yang mengenal Hanna. Tidak ada orang yang mengenal Hanna luar dalam selain kamu. Sejak dulu, kamu satu-satunya orang yang ada dalam setiap suka dan duka Hanna!"


"Apa yang ingin kak Hafidz ketahui? Tidak perlu bicara memutar, aku semakin bingung!" Ujar Savira tegas, Hafidz diam menunduk.


Huufff


"Ada yang berbeda dengan Hanna. Dia bersikap sangat keras pada bunda. Bahkan Hanna melawan setiap perkataanku. Hanna tidak seperti itu. Dia mungkin keras tapi tidak kasar!" Ujar Hafidz sesaat setelah menghembuskan napas panjang. Gelengan kepala Hafidz, isyarat dia tidaj percaya akan perubahan sikap Hanna.


"Ada apa dengan Hanna?" Sahut Ghibran heran.


"Entahlah, aku seperti tidak mengenalnya. Dia berbeda dan sangat berbeda!"


"Hanna tak pernah berbeda, Hanna tetap sama. Orang-orang yang tak mengenalnya, akan berpikir sedangkal itu!" Sahut Savira sinis, Ghibran menggeleng lemah ke arah Savira. Tangan Ghibran menggenggam erat Savira. Berharap Savira mampu mengendalikan emosinya.


Sebaliknya Hafidz semakin gelisah. Perkataan Savira tak melukai hatinya, sebaliknya perkataan Savira membuat pemikirannya seolah benar. Suara hati yang mengatakan, jika Hanna tak baik-baik saja. Hafidz semakin galau, hati dan pikirannya kacau. Sikap kasar Hanna, perkataan sinis Savira. Isyarat Hafidz tak mengerti apa-apa?


Dukkk

__ADS_1


"Aku mohon Savira, katakan semuanya padaku. Apa yang sedang Hanna alamai? Aku merasa tak mengenalnya. Aku mohon Savira, hanya kamu yang mengetahui semuanya!" Ujar Hafidz lirih, Hafidz berlutut di depan Savira.


Suara lutut Hafidz yang membentur lantai. Terdengar keras di telinga Savira. Hafidz menangkupkan kedua tangannya. Hafidz berada di titik terendahnya. Dia tak lagi peduli akan harga dirinya. Hafidz berlutut, menghiba pada Savira. Mencari jawaban gelisah hatinya.


"Apa yang kakak lakukan?"


"Berdirilah Hafidz!" Ujar Ghibran, seraya mengangkat tubuh Hafidz.


Ghibran meminta Hafidz tak melakukan hal yang tak pantas. Hafidz menepis tangan Ghibran. Hafidz teguh berlutut di hadapan Savira. Berharap Savira bersedia menjawab suara gelisah hatinya. Savira menatap nanar Hafidz, ada rasa kasihan menyelip dalam hatinya. Di sisi lain, Savira merasa kecewa melihat sikap Hafidz. Sikap yang tak pernah peka akan kondisi Hanna.


"Sayang!" Sapa Ghibarn lembut pada Savira. Berharap Savira menerima permohonan Hafidz. Savira menatap Ghibran sendu. Seolah sangat sulit bagi Savira menerima permohonan Hafidz.


"Berdirilah kak Hafidz. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Dengan syarat, pertanyaan itu tak melanggar janjiku pada Hanna!" Ujar Savira, Ghibran tersenyum simpul. Ada rasa bahagia, sekaligus bangga. Kala dia mendengar persetujuan Savira.


"Aku semakin sayang padamu!" Bisik Ghibran, Savira menoleh tanpa menggubris perkataan Ghibran.


"Apa yang ingin kakak ketahui?"


"Kenapa Hanna berubah? Dia tak seperti biasanya. Hanna takkan bisa bicara sekasar itu. Jangan bicara, berpikir sekeji itu Hanna takkan sanggup!" Ujar Hafids tegas.


"Hanna tak pernah berubah. Itulah sisi lain yang tak pernah kak Hafidz kenal!"


"Maksudmu apa Savira? Aku tak mengerti!"


"Hanna akan bersikap kasar, seandainya lembutnya akan melukai orang yang dia sayang. Hanna akan berbicara keras, jika suara lemahnya kelak menyakiti orang yang dicintainya. Hanna mampu menyimpan air matanya, bila itu bisa membuat orang yang berharga dalam hatinya tersenyum. Hanna sanggup mengorbankan hidupnya, asalkan orang yang berarti dalam hidupnya bahagia. Hanna melakukan semua itu, demi ketenangan dirimu!" Tutur Ghibran lirih, Hafidz menoleh heran. Sebaliknya Savira menatap lekat Ghibran, lalu mengangguk pelan.


"Ternyata kakak lebih mengenal Hanna dibandingkan suaminya sendiri!" Sahut Savira sinis.


"Tenang Hafidz, aku mengatakan semua ini. Bukan karena ingin mengatakan diriku yang lebih mengenal Hanna. Aku mengatakan semua ini, karena aku mengenal Hanna sejak dia kecil. Tanpa ada maksud yang lain!" Sahut Ghibran memotong perkataan Hafidz.


"Sayang, kamu tidak salah paham bukan!" Ujar Ghibran, Savira menggeleng lemah.


"Aku tidak perlu cemburu pada hubungan masa lalu diantara kakak dan Hanna. Sama halnya kakak yang lebih mengenal Hanna dibanding kak Hafidz. Aku juga lebih percaya pada Hanna, daripada kakak. Jika tak pernah ada rasa diantara kalian berdua. Sebab aku mengenal Hanna, saat kakak mulai mengatakan rasa itu dan aku tahu Hanna tak pernah membalasnya!"


"Kak Hafidz, inilah dasar hubungan yang tak dimiliki olehmu. Rasa percaya, kesetian dan kejujuran!"


"Katakan dengan jelas Savira!"


"Percaya, jika Hanna takkan mampu bersikap jahat dan kasar pada orang yang lebih tua. Terlebih pada orang yang dicintainya. Setia pada janji kalian, apapun yang terjadi akan kalian hadapi bersama. Jujur mengakui cinta kalian takkan pernah mudah dikalahkan!"


"Aku bodoh!" Ujar Hafidz lirih, Savira menggeleng lemah.


"Itu bukan bodoh, tapi kelalaian. Selama ini kakak melihat Hanna dengan mata telanjang, bukan dengan mata hati. Kakak menyayangi Hanna karena fisiknya. Bukan pribadi yang tersembunyi dalam fisiknya. Hanna ibarat teka-teki yang tak mudah dipecahkan. Namun tidak sulit untuk memahaminya. Bukan dengan kepintaran pikiran, tapi dengan ketulusan hati. Cara mengenal Hanna lebih dalam!"


"Aku tulus mencintainya!"


"Tapi kakak tak pernah memahami Hanna. Ketulusan cinta, berbeda dengan tulus mencintai. Dua kata yang hampir sama, tapi sejatinya berbeda. Ketulusan cinta tak lebih dari cara pandang rasa itu. Sebaliknya tulus mencintai, cara kita mengenal Hanna sepenuhnya. Mencintai Hanna dengan kurang dan lebihnya. Menerima seluruh keluarga Hanna, bukan hanya Hanna. Menyayangi orang-orang yang disayangi Hanna!" Sahut Savira tegas.


"Aku menerima keluarganya, aku menyayangi keluarganya!"


"Mungkin, tapi semua itu tak cukup membuat kakak mengenal Hanna!"

__ADS_1


"Hafidz, sesungguhnya Savira ingin mengatakan. Selama ini kamu mencintai Hanna, tanpa pernah ingin mengenal keluarganya. Kamu gelisah memikirkan hubungan Hanna dengan bundamu. Meski sebenarnya kecemasan itu tak diperlukan. Sebab Hanna tahu cara menyelesaikan semuanya!" Tutur Ghibran, Hafidz menggeleng tak percaya. Penuturan Ghibran seolah bukti dia tak pernah mengenal Hanna.


"Kak Ghibran mengenal Hanna melebihi dirimu. Bukan berarti dia mencintai Hanna lebih besar darimu. Dia mengenal Hanna, karena dia mengenal keluarganya!" Sahut Savira, Hafidz semakin tak percaya. Dia satu-satunya orang yang tak mengenal Hanna.


"Aku bodoh, sangat bodoh!" Gumam Hafidz.


"Katakan padaku, bagaimana cara aku mengenal istriku? Aku hampir kehilangan dirinya, bahkan mungkin telah kehilangan dirinya!" Ujar Hafidz, sembari menundukkan kepalanya. Hafidz menyandarkan kepalanya dia atas meja. Merutuki kebodohannya yang terus menyakiti Hanna, tanpa Hafidz sengaja melakukannya. Ghibran menepuk pelan pundak Hafidz. Savira menatap sinis Hafidz, seolah perkataan Hafidz benar dan sangat benar.


Savira berdiri menjauh dari meja tempat mereka duduk. Savira berdiri tepat di pinggir cafe, menatap langit biru di depannya. Setetes bening air mata jatuh membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak, bayangan Hanna terlintas di benaknya. Savira melihat kebahagian Hanna hanya bersama Hafidz. Namun secara bersamaan, Savira kehilangan keceriaan sahabatnya.


"Satu-satunya yang berubah dari sahabatku. Hanyalah keceriaannya yang menghilang. Hanna sahabatku tak lagi bisa tertawa lepas. Hanna tak lagi bersikap sembarangan. Hanna kehilangan jati dirinya, semua demi cintanya padamu. Hanna sangat mencintaimu, cintanya terlalu besar untukmu. Sampai dia mengorbankan nyawa demi buah cinta kalian!" Ujar Savira penuh emosi.


"Mengorbankan nyawa!" Sahut Hafidz terkejut.


"Sayang, apa maksud perkataanmu? Kondisi Hanna baik-baik saja bukan!" Sahut Ghibran cemas.


"Savira, jawab pertanyaan Ghibran. Apa yang terjadi pada Hanna?" Teriak Hafidz emosi.


"Tak perlu aku menjawab pertanyaan kalian. Janjiku pada Hanna, jauh lebih penting. Aku tidak akan mengkhianati janjiku!"


"Lantas, untuk apa kamu berbicara seperti itu?" Sahut Hafidz, Savira tersenyum sinis mendengar perkataan Hafidz.


"Agar kak Hafidz tersiksa dengan rasa penasaran. Terluka dengan penyesalan. Hancur dengan rasa bersalah. Agar aku bisa menyakinkan diriku. Jika semua yang ada di dunia ini adil!"


"Savira!" Teriak Hafidz, kala melihat Savira pergi.


Ghibran terpaku melihat sikap dingin Savira. Luka yang dirasakan Hanna, seolah membuat Savira kuat dan dingin. Melupakan hubungan baik, menggantinya dengan rasa sakit yang tak bertepi.


"Apa yang harus kukatakan? Sudah kukatakan. Apa yang ingin kakak ketahui? Semua sudah aku jawab. Sekarang tinggal kakak memahami dasar masalah ini. Mengenal Hanna lagi, agar kakak menyadari. Bukan kakak yang terluka, tapi Hanna. Bukan Hanna yang berubah, tapi cintamu yang berubah. Bukan Hanna yang keras, tapi hatimu yang lemah. Hanna mengimbangi setiap sikapmu, karena hakikat istri tak lain mengikuti arah suami melangkah. Bukan ingin mendahului, tidak pula mengakhiri. Melainkan menemani langkah demi langkah bersama!" Tutur Savira lirih.


"Kak Hafidz, sahabatku telah kehilangan senyumnya. Jangan kamu rebut ketenangannya. Seandainya kakak mengetahui kebenaran Hanna. Jangan tunjukkan lemahmu, karena sahabatku tak ingin dikasihani. Terlepas kakak itu suaminya. Hanna mampu berdiri sendiri selama ini. Jadi biarkan dia tetap sendiri, setidaknya Hanna akan bangga mengatakan pada putranya. Jika Hanna kuat demi membawanya lahir ke dunia!"


"Apakah ini alasan Hanna memberikan putraku pada kak Arkan dan mengembalikanku pada bunda?" Ujar Hafidz lirih, Savira mengangguk tanpa ragu.


"Itu jalan terbaik!" Ujar Savira lantang.


"Apa Hanna menyesal menikah denganku?"


"Hanna bahagia bersamamu, dia bangga menjadi menantu dari bunda kakak yang hebat. Hanna tak pernah membenci bunda kak Hafidz, karena Hanna mengetahui. Penolakan bunda kak Hafidz bukan dari hati. Penolakan itu hanya karena pendapat orang lain. Sehingga tak pernah ada penyesalan mengenal atau menikah denganmu!"


"Berapa lama lagi waktu Hanna?"


"Berapa lama waktu Hanna? Tidaklah penting. Sekarang yang paling penting, jadikan waktu tersisa untuk memahami Hanna. Dia merindukan Hafidz yang dulu gigih mengejarnya. Bukan Hafidz yang larut dalam gelisah tanpa sebab!"


"Saat seorang wanita mencintai, dia tidak takut menangis. Ketika seorang istri menyayangi, dia tidak akan takut terkhianati. Bila seorang ibu mengasihi, dia tidak akan takut mengayomi. Semua demi satu kata, mencintai dan bekorban demi orang yang ada di hati!" Ujar Savira, lalu berjalan meninggalkan Ghibran dan Hafidz. Savira berjalan tanpa peduli lagi pada mereka.


"Sayang, kita pulang bersama!" Teriak Ghibran seraya berlari mengejar Savira.


"Kamu benar Savira, bukan sisa waktu yang harus aku pikirkan. Namun cara agar aku mengenal Hanna lagi. Mengembalikan asa yang mulai pundar. Agar aku tak kehilangan dirinya!" Batin Hafidz.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


Selamat membaca🤗🤗🤗


__ADS_2