Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Sholat Berjamaah


__ADS_3

"Duduk Hafidz, tante akan ambilkan handuk dan baju ganti. Nanti kamu bersih-bersih di kamar tamu. Tante rasa kamu belum sholat magrib!" Ujar Tika, Hafidz mengangguk pelan. Rasa segan Hafidz semakin besar pada Tika.


Keberaniannya saat meminta izin berbicara dengan Hanna di bandara tadi. Seketika menghilang saat kini dia harus berhadapan lagi dengan Tika. Kini Hafidz menyadari, Tika pribadi yang tenang penuh kelembutan. Sikap bijaksananya mampu menutup mulut Hanna. Dengan mudah Tika memberikan pengertian pada Hanna. Tanpa paksaan atau bentakan, semua dikatakan Tika dengan penuh kasih sayang.


Sikap lembut seorang ibu yang tak mudah dipahami oleh orang lain. Hafidz tak melihat sikap keras Tika. Sebaliknya Tika terlihat percaya pada Tika. Ada rasa dimana Tika selalu memberikan pengertian. Sedangkan keputusan ada di tangan Hanna. Hafidz melihat betapa mudah Tika mengakhiri kegundahan hatinya. Perkataan Arkan benar tentang Tika, karena sosok Tika yang membuat Hanna tak berkutik. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan kasih sayang tak pernah bisa diberikan orang lain. Tika memberikan pengertian yang mudah untuk dipahami Hanna. Mengalahkan sikap dingin dan keras Hanna yang tak mudah ditaklukkan.


"Terima kasih!" Ujar Hafidz, Tika mengedipkan mata. Jawaban dia mengiyakan perkataan Hafidz.


Tika tak pernah ingin ikut campur dengan hubungan Hafidz dan Hanna. Namun semua berubah, ketika Hafidz mendatanginya. Mengatakan semua rasa yang ada dihatinya. Menyampaikan isi surat Hanna yang mengatakan cinta padanya. Sehingga Tika percaya rasa itu ada, tapi ada perbedaan pendapat yang tak terucap. Tika berjanji akan mempertemukan Hafidz dengan Hanna. Namun keputusan sepenuhnya berada di tangan Hanna. Tika tidak akan ikut campur.


"Hafidz, dia istriku. Jangan berani-berani menggodanya!" Sahut Agam menggoda.


Seketika Hafidz menunduk malu. Tanpa dia sadari, Agam mengamatinya sejak tadi. Agam menggoda Hafidz tanpa malu. Meski sesungguhnya perkataan Agam, hanyalah gurauan semata. Agama mengetahui jelas, takkan ada yang bisa membuat Tika berpaling darinya. Sejak dulu sampai sekarang, Tika selalu menggenggam erat cintanya.


"Mas Agam, perkataanku di bandara masih berlaku!" Ujar Tika dingin, sembari berjalan ke dalam rumah.


Agam menelan ludahnya kasar, saat Tika mengingatkan hukuman yang dikatakan Tika di bandara. Agam dan Tika dua pribadi yang tak sama. Namun cinta mereka sama dan tulus, tak ada paksaan yang membuatnya mereka bersatu. Sebaliknya ketulusan yang menjadi dasar cinta kedunya. Ketulusan yang terjaga abadi selama belasan tahun.


"Aku bercanda!" Teriak Agam, Tika tak peduli.


Dia terus berjalan ke dalam rumah. Hanna berjalan mendekat ke arah Agam. Hanna mengedipkan kedua matanya menggoda Agam. Seolah Hanna sedang mengejek Agam. Hanna membuat Agam tak berkutik dengan tatapan sinisnya. Sedangkan Hafidz diam melihat dan merasakan kehangatan keluarga Hanna. Sebuah keluarga yang penuh pengertian dan kebebasan. Namun tetap dengan tanggungjawab penuh.


"Papa, siap-siap tidur sendiri!" Bisik Hanna, Agam menoleh dengan sangat kesal.


Sontak Hanna berlari menjauh. Dia takut berurusan dengan papanya. Apalagi semua itu berhubungan dengan Tika. Hanna menggoda Agam, hanya ingin membuat suasana ceria. Hanna selalu menghidupkan suasana dengan kepolosannya. Keceriaan Hanna menjadi suara yang selau dirindukan dalam rumah ini. Berbeda dengan Arkan yang selalu tegas. Tak pernah ada kata bercanda, Arkan selalu tegas dalam setiap perkataannya. Meski sebenatnya Arkan tak sekaku itu. Adakalanya Arkan bersikap sangat hangat. Apalagi bila berurusan dengan Aura.


"Hanna!" Teriak Agam.


"Maaf, bercanda!" Ujar Hanna lantang, sembari menjulurkan lidahnya.


Hanna layaknya anak kecil yang tengah mengolol-olok temannya. Tingkah konyol Hanna tak luput dari tatapan Hafidz. Tanpa rasa canggung Hanna melakukan semua itu. Dia lupa akan keberadaan Hafidz di samping Agam. Namun Hanna tetaplah Hanna yang ceria. Dia selalu apa adanya? Sikapnya cerminan kepolosannya. Tanpa ada yang direkayasa atau sengaja ditutupi. Hanna selalu apa adanya dengan batasan yang ada? Tika atau Agam tak pernah melarang Hanna bersikap seperti itu. Selama sikap Hanna bisa dipertanggungjawabkan.


"Uppss!" Ujar Hanna sembari menutup mulutnya. Saat dia sadar, Hafidz tengah memperhatikannya.


Tanpa menoleh pada Hafidz, Hanna berlari ke dalam kamarnya. Meninggalkan Hafidz yang tengah termenung menatap hangat ke arah Hanna. Tatapan Hafidz ke arahnya, membuat Hanna menyadari sikapnya sangat keterlaluan. Hanna merasa malu telah bersikap layaknya anak kecil. Meski sebenarnya Hanna tak pernah peduli pada pendapat orang lain. Namun pendapat Hafidz seolah harus baik akan dirinya. Mungkin Hanna tak ingin melihat Hafidz merasa risih berada di sampingnya. Hanna seolah menjaga sikapnya ketika berada di samping Hafidz.


"Keceriaan dan kepolosan ini, alasanku cinta ini ada. Jadi jangan pernah berubah hanya demi menjaga harga diriku. Aku bahagia melihat tawa ceriamu. Suara tawamu terdengar bak melodi indah di hatiku. Takkan aku biarkan tawamu menghilang. Hanna yang ceria akan tetap seperti itu. Tanpa perubahan dan janji, karena aku mencintaimu dengan perbedaan bukan ketulusan!" Batin Hafidz sembari menatap punggung Hanna yang menjauh.


"Hanna mirip Tika, dia memiliki hati yang begitu istimewa. Sampai kita para laki-laki tak mampu berpaling dari mereka. Namun satu hal yang harus kamu tahu. Keras hati mereka, tak mudah dilunakkan. Sekali mereka memutuskan, akan sangat sulit merubahnya!" Bisik Agam lirih, Hafidz menoleh menatap Agam.


Sepintas Hafidz merasakan ketakutan yang tak biasa. Perkataan Agam membuatnya takut melakukan hal yang salah. Sehingga dia harua kehilangan Hanna. Hafidz merasa gelisah, seandainya dia benar-benar melakukan kesalahan? Sifat yang dikatakan Agam, membuat Hafidz mengingat perpisahan Agam dan Tika. Belasan tahun mereka saling menyakiti. Semua karena salah paham yang membuat Tika tegas memilih.


"Maksud om Agam!"

__ADS_1


"Kamu akan memahaminya nanti. Terlalu dini jika kamu memahaminya sekarang. Aku butuh bertahun-tahun, untuk memahami betapa berartinya cinta Tika untukku!" Tutur Agam, sembari menepuk pelan pundak Hafidz.


Agam meninggalkan Hafidz dalam diamnya. Hafidz mencoba menenangkan gelisah hatinya. Perkataan singkat Agam, nyata membuat Hafid cemas. Bukan Hafidz takut menyakiti Hanna. Namun perbedaan yang ada diantara mereka masih jelas. Hafidz tak ingin Hanna memutuskan menjauh. Saat dirinya sangat takut kehilangan Hanna. Hanya bersama Hanna, tujuan hidup Hafidz saat ini.


"Hanna memang istimewa!" Ujar Hafidz lirih hampir tak terdengar.


Agam mengangguk mengiyakan perkataan Hafidz. Saat dalam langkahnya dia mendengar perkataan Hafidz. Dalam hati Agam bangga pada Hafidz. Dia tetap teguh memegang cintanya pada Hanna. Meski penolakan yang selalu diterimanya. Hafidz bak dirinya yang teguh mencintai. Namun tak pernah Agam berharap. Hafidz akan melakukan kesalahan yang sama dengannya. Sehingga dia harus kehilangan keluarga yang dicintainya. Demi menjaga keluarga yang mendampinginya selama ini.


Hafidz menunduk lemah, dia takut akan bicara pada Hanna. Bukan tanpa alasan, Hafidz takut salah bicara. Sehingga dia harus terpisah kembali dengan Hanna. Saat dia meminta izin pada Tika. Ada keyakinan yang begitu besar di hatinya. Namun saat dia bicara dengan Agam. Keyakinan itu memudar, tergantikan rasa gelisah yang teramat besar.


"Kak Hafidz, silahkan diminum!" Ujar Aura ramah, sembari meletakkan secangkir kopi.


Aura meletakkan segelas susu hangat untuk Agam. Sontak Hafidz mendongak kaget. Dia tak menyadari kedatangan Aura. Lamunan Hafidz buyar, saat nampak Aura berada di depannya. Wanita yang dulu pernah mengusik malamnya dengan iman. Namun tak pernah bisa membuatnya bahagia. Sebahagia saat melihat senyum Hanna yang ceria dan polos.


Hafidz melihat Aura, gadis bercadar yang hampir menjadi istrinya. Hafidz melihat sinar bahagia di kedua mata Aura. Terpancar nyata tanpa ada yang bisa memungkirinya. Hafidz mulai merasakan kehangatan nyata keluarga Hanna. Sebuah keluarga yang dipimpin oleh Agam. Namun berpusat pada Tika, wanita tenang penuh kelembutan. Sosok yang menjadi tolak ukur hidup Arkan dan Hanna.


"Terima kasih!" Sahut Hafidz, Aura mengangguk mengiyakan perkataan Hafidz.


"Hafidz, lihatlah yang menantuku lakukan. Kamu dibuatkan secangkir kopi. Sedangkan aku segelas susu. Belum apa-apa kamu sudah membuatku tertindas!" Ujar Agam lirih, Aura hanya bisa menunduk mendengar perkataan Agam.


Agam meninggalkan Hafidz hanya untuk mengambil sesuatu. Nyatanya Hafidz telah menjadi calon menantu idaman yang berhasil mendapatkan simpati Agam dan Hanna.


Aura tahu benar watak Agam, selalu bercanda berbeda dengan Arkan yang selalu diam. Apalagi perkataan Agam tidaklah benar. Sejak Agam sakit, Arkan melarang semua orang termasuk Aura. Membuatkan secangkir kopi atau teh, hanya susu atau air putih hangat yang bisa diminum Agam. Itupun dengan batasan dan kontrol ketat dari Arkan.


"Aura sayang, kamu sholat bersama kami atau menunggu Arkan. Sekalian mama minta tolong, bantu Hanna bersiap!" Ujar Tika lirih.


"Aku sholat dengan kalian. Kak Arkan mungkin terjebak macet!" Sahut Aura sopan, Tika mengangguk sembari membelai kepala Aura.


Menunjukkan betapa kasih sayangnya nyata untuk Aura menantu pertamanya. Aura berjalan masuk ke dalam. Dia harus membantu Hanna bersiap. Mungkin malam ini, awal keluarga besar ini sholat di satu tempat yang sama. Kedatangan Hafidz membuat semua orang berkumpul menjadi satu. Mendekatakan Hanna dan Hafidz menjadi alasan di balik berkumpulnya keluarga ini.


"Hafidz, ini handuk dan pakaian ganti milik Arkan. Pakaian ini masih baru, tadi tante juga sudah minta izin pada Arkan. Bersihkan dirimu di kamar tamu, lalu kita sholat berjamaah!" Ujar Tika tegas, Hafidz mengambil barang yang diberikan Tika. Dengan seutas senyum, Hafidz mengiyakan perkataan Tika.


Agam berdiri tepat di samping Tika, menatap punggung tegap Hafidz yang berjalan menjauh. Agam melihat ketenangan Tika yang membuat Hafidz tak gelisah.


"Kenapa masih diam? Mas Agam tidak ingin sholat berjamaah!" Ujar Tika, Agam menoleh seraya mengangguk pelan.


"Tapi kamu hanya menyiapkan untuk Hafidz!" Ujar Agam merengek, Tika menggelengkan kepala tak percaya. Tika berjalan menjauh, seolah tak peduli perkataan Agam.


"Sayang!"


"Semua sudah kusiapkan di kamar. Lagipula tidak mungkin aku mendahulukan orang lain. Suamiku tetap yang pertama dan utama!" Sahut Tika lantang, lalu berjalan menuju mushola kecil di dalam rumahnya.


Tika memutuskan segera menjauh dari Agam. Tika tidak ingin wudhunya batal, karena sikap Agam yang selalu ingin bermesraan. Terlihat Tika masuk ke dalam mushola. Dia menyiapkan semua perlengkapan sholat untuk semua orang. Agam terpaksa naik ke kamarnya. Saat melihat Tika sudah masuk ke dalam mushola.

__ADS_1


"Assalammualaikum!"


"Waalaikumsalam, sudah pulang kamu!" Ujar Tika, Arkan mengangguk.


"Mama akan sholat disini!"


"Iya, kita akan sholat bersama Hafidz. Kamu bisa sholat di kamar bersama Aura!" Ujar Tika, Arkan menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku sholat bersama kalian, tapi jangan katakan aku sudah datang. Takutnya Hafidz tak ingin menjadi imam. Malam ini, biarkan Hafidz yang memimpin sholat!"


"Kenapa?" Sahut Tika singkat.


"Agar Hanna menyadari, imam impiannya juga bisa layak menjadi imam sholat di rumahnya. Hanna tak bisa menerima cinta Hafidz, karena masa lalu keluarganya. Jika hari ini Hanna melihat Hafidz menorehkan kebahagian dalam keluarganya. Aku percaya, hati beku Hanna akan terketuk!" Ujar Arkan lantang.


"Baiklah, mama mengerti. Pergilah ke kamarmu, segera bersiap!" Ujar Tika, Arkan mengangguk pelan.


Tak berapa lama semua orang sudah bersiap. Hafidz datang dengan memakai baju koko dan sarung. Terlihat tampan dan sangat teduh. Aura datang dengan mukena lengkap. Cadar menutup wajahnya sempurna. Sebab Hafidz bukanlah mukhrimnya yang berhak menatap wajahnya.


"Astghfirullahhaladzim!" Ujar Hafidz sembari mengelus dadanya pelan.


"Ada apa?" Ujar Tika kaget, lalu menoleh ke belakang mengikuti arah tatapan Hafidz.


"Kenapa menatapku seperti itu? Aku terlihat aneh di depanmu!" Sahut Hanna ketus, Tika menggeleng lemah tak setuju dengan cara dan sikap Hanna.


"Tidak, kamu cantik. Sangat cantik dengan mukena itu!" Ujar Hafidz lirih.


"Berarti selama ini aku jelek!" Sahut Hanna kesal, Hafidz menggelengkan kepala.


"Kamu jangan salah paham, aku tidak bermaksud seperti itu!" Ujar Hafidz cemas, Hanna diam tak menggubris perkataan Hafidz. Seketika Hafidz menghela napas, dia sangat menyesal telah bicara jujur.


"Cukup berdebatnya, Hanna duduk di samping kak Aura!" Ujar Tika tegas, Hanna mengangguk seraya berjalan ke samping Aura.


"Hafidz, waktu magrib segera habis. Jika kamu masih ingin berdebat dengan Hanna. Tante akan sholat di dalam!" Ujar Tika tak kalah dingin dan tegas, Hafidz menggeleng menolak tawaran Tika.


"Om Agam, silahkan jadi imam!"


"Kamu saja yang jadi imam. Kamu jauh lebih mengerti agama daripada om!"


"Tapi om lebih tua!" Sahut Hafidz lirih, Agam menggeleng seraya tersenyum.


"Tidak ada yang lebih tua atau muda saat menjadi imam. Namun siapa yang lebih mengertilah agama? Dia yang pantas menjadi imam!" Ujar Agam bijak, Hafidz mengangguk pelan. Hafidz berjalan menuju tempat paling depan.


"Bismillahhirrohmannirrohim, Ya Allah tuntun hamba menuju jalan lurusmu. Bantu hambamu tetap dalam khusyuk dan istiqomah. Agar hamba tak terjerumus dalam napsu sesaat ini. Pertama kalinya aku menjadi imam sholatnya. Aku sudah tak sanggup menahan napsu untuk terus menatap kecantikannya. Ya Allah jika hamba boleh meminta. Izinkan hamba bersanding dengannya dalam keridhoan-MU, makhluk ciptaan-MU yang begitu sempurna. Penggetar hati yang kosong dan fana ini. Penggugah napsu birahi yang lama tersimpan. Amin!" Batin Hafidz sesaat sebelum memulai sholat.

__ADS_1


__ADS_2