Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hari Penentuan


__ADS_3

Semenjak bunda datang, hatiku sedikit tenang. Kegelisahanku menghilang bersama hadirnya kasih sayang bunda Nissa. Ibu yang selalu aku rindukan, dalam setiap rasa sakitku. Bunda Nissa, ibu yang selalu tulus menyayangiku. Demi kesehatanku dan buah hatiku, bunda meminta bantuan para sahabatnya. Bahkan bunda menghubungi om Steven, dokter ahli bedah yang tinggal di luar negeri.


Sejujurnya aku bisa melihat jelas kecemasan di mata bunda. Namun bunda tidak ingin melihatku gelisah, maka bunda menutupi kecemasannya dengan selalu tersenyum padaku. Cukup dengan melihat senyumnya, aku sudah bisa sangat tenang.


Bunda menghubungi semua sahabatnya untuk menolong persalinanku. Pagi ini dokter Rina akan memantau langsung kondisiku. Beliau akan bekerja sama dengan dokter Fia. Setiap langkah yang akan diambil, akan dikoordinasikan dengan bunda. Hanya satu prioritas bunda, keselamatan dan kesehatanku beserta bayiku.


"Nissa, ada yang harus aku katakan kepadamu dan Agam! Bisa kita bicara di ruangan dokter Fia." ujar dokter Rina, bunda mengangguk pelan. Dia menatap ke arahku, lalu mengedipkan kedua mata indah yang selalu menatapku penuh dengan kasis sayang. Isyarat yang mengatakan, semua akan baik-baik saja.


"Mas Dimas, aku titip Tika. Aku harus bicara dengan Rina dan Fia, mengenai kondisi Tika. Jangan tinggalkan dia sendirian." ujar Bunda, papa mengangguk. Selama ini papa selalu mengikuti perkataan bunda. Bukan takut pada, tapi lebih menghargai semua keputusannya. Sebab dalam setiap keputusan bunda, selalu memikirkan kebaikan kami bukan dirinya.


"Sayang, lakukan yang terbaik untuk putri kita. Tika selalu percaya padamu. Aku yakin kasih sayangmu mampu membuatnya semangat."


"Mas Dimas jangan khawatir, aku akan melakukan yang terbaik untuknya. Aku akan berusaha sekuat tenaga, takkan kubiarkan terjadi sesuatu pada Tika. Kita wajib berusaha, untuk hasil akhir kita hanya bisa berserah dan pasrah."


"Sayang, semua akan baik-baik saja. Keyakinanmu sebagai seorang ibu, akan membuat Tika kita semangat. Ketulusan cinta Agam pada Tika, akan selalu menguatkannya."


"Baiklah, aku pergi dulu. Mas Dimas jaga Tika, mungkin sebentar lagi Steven akan datang. Dia yang akan memantau jalannya operasi!" pamit bunda, papa mengangguk pelan.


"Bunda!" panggilku lemah.


"Tika sayang, kita akan berjuang bersama. Bunda akan berjuang menyelamatkanmu. Kamu akan berjuang demi kedua buah hatimu. Percayalah pada kasih sayang seorang ibu, yang akan rela melawan apapun demi kebahagian putranya. Bunda akan melakukan apapun demi dirimu, gadis cantik bunda. Tika akan bertahan demi, kedua bayi mungil yang akan terlahir. Semangat sayang, ada bunda di sampingmu!" tutur bunda lembut, beliau mengelus lembut rambutku. Lalu mencium keningku lama, aku merasa hangat dan tenang. Ciuman tulus seorang ibu, yang selalu menjadi panutanku.


Aku menatap punggung bunda dan mas Agam keluar dari ruangaku. Di tangan mereka sebuah keputusan besar akan diriku diambil. Keputusan demi sebuah hidup baru kedua buah hatiku. Sengaja papa tidak ikut bunda, karena bunda selalu mengatakan pada papa. Bahwa aku butuh tangan kekarnya, sebagai pegangan dikala sakitku. Tumbuh tegap papa, aku perlukan sebagai sandaran dikala lelah berbaring.

__ADS_1


"Papa, terima kasih sudah ada disaat tersulit Tika. Kehadiran papa membuatku sadar, bahwa selamanya aku butuh dukungan dari kalian. Bunda dan papa kekuatanku menghadapi ujian ini!"


"Tika, jika memang kami kekuatanmu. Kenapa kamu menutupi masalah sebesar ini dari kami? Seandainya dokter Fia tidak menanyakan kondisimu pada dokter Rina. Sampai kapanpun papa dan bunda tidak akan mengetahui kebenarannya?"


"Maafkan Tika, papa! Sengaja aku menutupi kenyataan ini, sebab aku tidak ingin melihat papa dan bunda khawatir. Aku yakin bisa melewati semua ini sendiri. Ternyata aku salah, aku lemah dan butuh dukungan dari bunda!"


"Sayang, apa kamu mengetahui? Jika bunda pingsan, ketika dokter Rina menceritakan kondisimu. Bunda datang kemari dalam kondisi lemah, tapi papa heran melihat bundamu sekarang! Dia terlihat sangat sehat, demi ingin menolong gadis cantiknya!"


"Papa, bunda sakit apa? Kenapa tetap memaksa datang kemari?" ujarku cemas.


"Bundamu hanya kaget, mendengar kondisimu. Namun setelah papa mengajaknya datang kemari. Bundamu langsung sehat, kamu bisa melihatnya sendiri."


"Papa benar, bunda kuat demi aku. Jadi akupun harus kuat demi kedua putraku. Bunda mampu melahirkan dan merawat Dalfa dan Dalfi, tanpa bantuan siapapun? Aku juga harus bisa bertahan, dengan tangan dingin bunda!"


Di ruangan dokter Fia, sudah berkumpul bunda dan beberapa sahabatnya. Dokter Rina selaku spesialis kandungan, dokter Steven selaku spesialis bedah, serta dokter Fia yang selama ini merawat dan menjagaku.


"Nissa, aku tidak akan banyak bicara! Malam ini juga, kami akan melakukan operasi persalinan Tika. Aku sudah melihat resiko paling buruk, jika kita tetap menunggu hingga seminggu lagi."


"Dokter Rina, apa itu tidak berbahaya bagi kedua bayi Tika? Bila kelahiran sebelum harinya, sepengetahuanku kondisi bayi Tika juga belum stabil!"


"Nissa, kedua bayi Tika baik-baik saja. Jika kita segera melakukan operasi. Sebab air ketuban Tika, mulai mengering dan biru. Itu bisa mengakibatkan keracunan bagi kedua bayinya. Namun operasi yang dipercepat, menimbulkan resiko yang lain!"


"Resiko yang lain, maksud kamu apa?"

__ADS_1


"Nissa, operasi yang dilakukan nanti malam. Akan mengakibatkan kerusakan pada rahim Tika. Kerusakan itu bisa berakibat fatal kematian, minimal Tika akan sulit memiliki momongan lagi!" ujar Steven, Agam menunduk tubuhnya terasa lemas. Hari yang ditakutkan sudah di depan mata. Hari dimana dia harus memilih Tika atau bayinya.


"Steven, kamu kehilangan akal. Memintaku menyetujui operasi yang kemungkinan berakibat fatal pada Tika. Tidak adakah cara lain? , yang jauh lebih baik dari ini" ujar bunda Nissa.


"Nissa, operasi ini kemungkinan berhasil ada. Sebab kondisi fisik dan metal Tika sangat baik. Kamu harus ingat, penyembuhan akan lebih cepat bila pasien itu yakin akan kesembuhannya." ujar Steven, aku mengangguk membenarkan perkataan Steven.


"Agam, semua terserah padamu. Jika bunda setuju dengan keyakinan mereka. Sekarang kamu putuskan, mengizinkan atau tidak operasi malam nanti."


"Bunda, lakukan apapun yang terbaik untuk Tika. Semenjak awal kehamilan, Tika sudah siap dengan segala resiko yang mungkin terjadi. Perjuangan kami sudah sejauh ini, tidak mungkin kami menyerah. Kami yakin setelah usaha yang selama ini kami lakukan. Akan ada hasil yang terbaik. Lakukan operasi secepat mungkin. Semua hasil sudah kami serahkan pada ketentuan-NYA."


"Baiklah Agam, jika kamu sudah yakin. Bunda akan meminta mereka melakukan operasi nanti malam. Semoga semua akan baik-baik saja!"


"Dokter Rina, lakukan sesuai saran anda! Selamatkan putri dan kedua cucuku!"


"Aku akan berusaha semampuku!"


"Terima kasih semua!" tuturku sopan, tim dokter yang akan menangani Tika mengangguk pelan. Malam nanti akan menjadi, malam penentuan untukku dan kedua bayiku. Bunda panutanku akan menjadi kekuatan terbesarku.


"Sayang, berjuanglah demi kedua buah hati kita!" batin Agam.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2