
"Dokter Arkan!" sapa Hafidz sopan, Arkan melepas jas putih kedokterannya. Peluh keringatnya mengalir, membasahi dahinya. Arkan terlihat sangat letih. Semalaman dia berjaga, kini dia harus berjibaku memberikan pertolongan pertama pada Abi Salim.
Setelah setengah jam lebih Arkan memberikan pertolongan. Akhirnya kondisi Abi Salim sedikit stabil, tapi Abi Salim belum tersadar. Kondisinya masih sangat lemah. Dengan segala kemampuannya Arkan mencoba yang terbaik untuk Abi Salim. Arkan merasa lega saat dia mengetahui kondisi Abi Salim yang membaik.
Hafidz berjalan menghampiri Arkan, saat melihat Arkan keluar dari ruang IGD. Sedangkan Aura dan ibunya duduk tak jauh dari ruang IGD. Terlihat raut wajah cemas dari keduanya. Abi Salim bukan hanya ayah atau suami bagi mereka. Namun dia sang pemimpin di pesantren. Banyak yang akan bersedih melihat beliau sakit.
"Abi Salim dalam kondisi stabil. Kita hanya menunggu beliau tersadar. Namun untuk sementara waktu, beliau akan berada di bawah pengawasan tim dokter!" sahut Arkan ramah, Hafidz mengangguk mengerti.
"Aku percaya kamu akan melakukan yang terbaik. Sekali lagi terima kasih!" ujar Hafidz ramah sembari mengulurkan tangan. Arkan menyambut tangan Hafidz seraya mengutas senyum. Arkan membalas sikap ramah Hafidz dengan sikap yang ramah pula.
"Sudah menjadi tugasku. Jika tidak ada lagi yang ditanyakan. Izinkan aku pamit, setelah ini akan ada dokter yang menangani Abi Salim!" ujar Arkan, lalu pamit kepada Hafidz.
Arkan berjalan melewati Aura dan ibunya. Tanpa menoleh atau menyapa Aura. Arkan terus berjalan menuju ruangannya. Arkan sempat melirik jam ditangannya. Sudah waktunya Arkan berkeliling. Tak ada lagi jam istirahat baginya. Setidaknya kesibukannya pagi ini. Membuatnya lupa akan rasa sakitnya.
"Aura, kondisi Abi Salim sudah lebih baik. Namun beliau masih berada di bawah pengawasan dokter. Aku akan mengurus administrasinya. Kamu disini saja menemani umi!" ujar Hafidz, Aura diam membisu. Tak.ada penolakan atau persetujuan dari bibir Aura.
Hafidz diam mematung menunggu jawaban Aura. Tanpa persetujuan Aura, Hafidz tidak bisa memutuskan apapun? Meski niat Hafidz baik, tapi tetap saja dengan izin Aura. Tepat saat Hafidz dan Aura berhadapan. Tanpa sengaja Arkan melihatnya. Ada rasa ngilu teramat di dadanya. Mungkin rasa sakit ini yang dinamakan cemburu.
"Ya Rabb, kupasrahkan rasa sakit ini pada ketetapan-MU. jika memang sakit ini ujian darimu. Niscaya akan kuterima dan kurasakan setiap sakitnya. Biarkan hambamu ini sakit, tapi jangan biarkan Aura makmum yang kurindukan menangis. Hapus air matanya, gantikan dengan senyum bahagia. Pertemukan dia dengan imam pilihan-MU. Satukan dia dengan jodoh terbaik-MU. Ridhoi dia dengan kebahagian dunia akhirat-MU Amin!" batin Arkan.
"Kalian pasangan serasi!" ujar Arkan lirih hampir tak terdengar. Sekilas Aura melihat Arkan berdiri menatap ke arahnya. Tatapan yang penuh rasa kecewa dan terluka.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa tatapanmu seolah mengatakan rasa kecewa? Padahal jelas aku yang kecewa dengan pengkhianatanmu!" batin Aura kesal.
"Tunggu kak Hafidz, aku yang akan menyelesaikan administrasinya. Terima kasih atas tawarannya!" ujar Aura santai, lalu berdiri menuju resepsionist.
Aura berjalan perlahan menuju resepsionist. Dia harus memesan kamar perawatan untuk Abi Salim. Aura tidak ingin bergantung pada Hafidz. Bagaimanapun Hafidz bukan siapa-siapa? Perjodohan diantara keduanya masih tertunda. Entah berlanjut atau tidak? Sudah tidak menjadi masalah.
"Suster, ruangan dokter Arkan dimana?" ujar Hanna pada resepsionist. Sontak Aura menoleh, dia melihat Hanna berdiri di sampingnya.
Aura mengamati Hanna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Indahnya rambut hitam legam dan panjang Hanna. Menunjukkan betapa sang pemilik merawat rambutnya dengan baik. Penampilan Hanna yang modis, sedikit membuat Aura merasa rendah diri. Aura mengagumi kecantikan yang terpancar dari wajah Hanna.
"Kakak yang tadi turun dari ambulans, bukan?" ujar Hanna ramah, Aura mengangguk pelan.
"Bagaimana kondisi ayah kakak? Senangnya jadi kakak bisa mendapatkan perhatian dari kakakku. Papa saja yang ayah kandungnya, tidak pernah diperhatikan seperti tadi!"
"Tadi aku melihat dokter Arkan panik saat melihat ayah kakak sakit. Dia langsung meninggalkanku tanpa pamit. Selama ini aku tidak pernah melihat rasa khawatirnya. Meski saat papa sakit, dokter Arkan tetap diam tidak membantu papa!" ujar Hanna mencoba menjelaskan. Aura diam mencoba mencerna perkataan Hanna. Meski dia tidak mengerti maksud perkataan Hanna.
"Dokter Arkan, dia kakakmu!" ujar Aura lirih, seketika Hanna mengangguk.
"Dia kakak laki-lakiku, pertama kalinya aku melihat dia cemas pada seseorang. Aku merasa ayah kakak sangat berarti dalam hidupnya!" ujar Hanna, Aura menunduk merasa malu.
Aura telah berburuk sangka pada Arkan. Tanpa bertanya pada Arkan, Aura langsung menyalahkan Arkan. Meski tidak pernah Aura mengatakannya. Namun sikapnya yang seolah nyaman di dekat Hafidz. Sedikit banyak telah menyakiti, bahkan tidak menghargai Arkan.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin kalian kakak beradik?" ujar Aura tidak percaya.
Hanna tersenyum mendengar rasa tak percaya Aura. Sebenarnya tidak perlu Hanna menjelaskan siapa dirinya sebenarnya? Namun Hanna terlanjur menceritakan siapa dirinya? Suka tidak suka Hanna harus jujur pada Aura. Tentang hubungannya dengan Arkan sang kakak.
"Kami berdua kembar, dia kakak laki-lakiku. Jadi jangan heran kalau usia kami sama. Sehingga kakak tidak percaya, jika dia kakak kandungku!" ujar Hanna santai, Aura diam membisu. Tak ada kata yang membenarkan sikapnya pada Arkan. Penghakimannya pada Arkan, telah membuat Arkan tersudut.
Aura merutuki kebodohannya, dia telah mengkhianati rasanya pada Arkan. Dengan mudah Aura menuduh dan menyalahkan Arkan. Dengan santai pula, Aura bergantung pada pundak yang lain. Aura merasa bodoh dengan sikapnya. Kini dia hanya bisa pasrah menerima penghakiman dari Arkan. Entah kapan Arkan memaafkannya? Semua seolah tidak mungkin, kala Aura mengingat tatapan tajam Arkan padanya.
"Kakak, aku permisi dulu. Aku akan mencari dokter Arkan. Setelah itu aku akan pulang!" pamit Hanna ramah, Aura mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama suster membawa berkas rawat inap Abi Salim. Aura memeriksa setiap detailnya. Bahkan Aura memeriksa, siapa dokter yang akan merawat Abi Salim? Kedua bola mata Aura membulat sempurna. Ketika dia melihat nama lain yang tertera. Aura kaget sekaligus kecewa, ketika dia melihat nama dokter lain yang akan merawat Abi Salim. Padahal jelas tadi saat di IGD, Arkan yang merawat Abi Salim.
"Suster, bisakah saya meminta dokter Arkan yang menangani Abi saya!" ujar Aura lirih.
"Maaf mbak, dokter Arkan tidak bisa menangani ayah mbak. Sebab dokter Arkan bertugas di malam hari. Tadi pagi kebetulan dokter Arkan baru saja selesai bertugas!" tutur perawat.
"Maksud suster!"
"Sebenarnya dokter Arkan bertugas malam. Tadi beliau akan pulang, setelah semalam tidak tidur. Namun dokter Arkan langsung menangani ayah mbaknya. Sekarang dokter Arkan sedang menggantikan dokter yang bertugas pagi. Jadi Ayah mbak, akan ditangani dokter yang lain!" ujar suster menerangkan.
Buuuukkkkk
__ADS_1
Seketika berkas yang dipegangnya jatuh. Aura semakin merasa bersalah. Sebagai seseorang yang berpikir mencintai Arkan dan ingin menjadi makmumnya. Aura telah bersikap tidak pantas. Aura menyakiti dan meragukan ketulusan Arkan. Tanpa peduli pengorbanan yang Arkan lakukan.
"Jahat, aku jahat. Maafkan kebodohanku, rasa cemburu membutakan mata hatiku. Sehingga aku tidak bisa melihat ketulusan dan pengorbanananmu. Masihkah aku pantas menjadi makmummu. Dengan merendahkan diri, aku meminta maaf!" batin Aura pilu sembari mengumpulkan berkas yang tercecer.