Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Dirgantara Eka Mahendra


__ADS_3

"Tuan Dirga, selamat datang dan silahkan duduk!" ujar Randy ramah, Dirga mengangguk pelan mengiyakan. Dengan tersenyum Dirga menyahuti keramahan Randy. Lalu Dirga menoleh ke arah Agam dan Zalwa. Dengan raut wajah bingung, Dirga menatap ke arah Randy.


"Tuan Dirga, ini tuan Agam dan nona Zalwa. Mereka yang akan bertanggungjawab akan pembangunan pusat perbelanjaan milik anda. Mereka pemenang tender proyek tersebut. Perusahaan mereka juga direkomendasikan oleh tuan Dimas!" ujar Randy menjelaskan, Dirga mengangguk mengerti. Dirga mengulurkan tangan pada Agam.


"Senang bertemu dengan anda. Saya Dirgantara Eka Mahendra. Maaf jika saya merepotkan anda dengan rapat hari ini!" ujar Dirga ramah, Agam menerima uluran tangan Dirga. Agam memperkenalkan diri, dia juga mengenalkan Zalwa pada Dirga.


"Randy, tuan Dimas sangat percaya padamu. Bahkan kamu diberi kepercayaan mewakilinya dalam rapat ini. Sikap bijak beliau selalu membuatku kagum. Bukan dengan arogant seorang pemimpin pada anak buahnya yang beliau tunjukkan. Namun kehangatan yang selalu terlihat pada semua karyawannya!" ujar Dirga sesaat setelah duduk, Randy tersenyum sembari membungkuk. Randy merasa tersanjung atas pujian Dirga padanya. Namun sebenarnya rapat hari ini bukan Randy yang menggantikan. Namun Tika yang mewakili Dimas, tapi karena ada Hana dan Hanif. Tika meminta Randy menggantikannya.


"Tuan Dirga, bukan maksud tuan Dimas meminta saya mewakili beliau. Kondisi kesehatan tuan Dimas yang belum stabil. Tidak memungkinkan ikut dalam rapat siang ini. Sebenarnya beliau diwakili oleh putrinya, tapi…!" ujar Randy kikuk, dia bingung ingin memberi alasan. Dirga salah satu rekan kerja, sekaligus masih kerabat Dimas. Perusaan Anggara dan Mahendra menjalin kerjasama dan mengikat kekeluargaan. Sangat tidak baik, bila Dirga merasa terhina. Bila dia datang tanpa disambut oleh pemimpin perusahaan Anggara.


"Maksudmu Kartika Putri Anggara, dia yang mewakili tuan Dimas!" sahut Dirga, sontak Randy dan Agam menoleh hampir bersamaan. Keduanya terkejut mendengar Dirga mengenal Tika dengan baik. Randy mengangguk pelan, sebaliknya Agam merasa ada yang salah dari cara Dirga menyebut nama Tika. Namun apapun itu Agam tak bisa marah dan menyalahkan Dirga. Hubungannya dengan Tika ada, tapi seolah tak terlihat nyata.


"Anda mengenal nona Tika, beliau tadi sudah datang. Namun karena ada urusan, beliau meminta saya yang menggantikannya!" tutur Randy ramah, Dirga mengangguk sembari tersenyum simpul.

__ADS_1


Dia mengingat jelas pertemuan dengan Kartika Putri Anggara. Gadis belia yang tersenyum sembari menggendong anak jalanan yang sakit. Gadis yang tak peduli akan rasa jijik. Hanya ketulusan yang terlihat nyata. Menolong tanpa melihat siapa yang ditolong dan berharap mendapatkan kata terima kasih. Kenangan akan pertemuan dengan Tika. Serta rasa kagum akan sosok Tika bermain indah dalam benaknya.


Tepat satu bulan tinggal di negara orang. Tepatnya Tika tinggal di kediaman Mahendra. Tanpa sengaja Dirga melihat Tika untuk pertama kalinya. Namun pertemuan itu hanya sesaat dan tak ada kata untuk saling mengenal. Beberapa hari ini setelah pertemuan itu. Tanpa sengaja Dirga melihat Tika berdiri di tepi jalan. Tika sedang menggendong seorang anak jalanan yang kotor. Dengan lembut Tika mendekap sang anak. Tanpa Dirga sadari, air matanya menetes. Dia menyesal telah mengabaikan orang-orang yang menyayanginya. Sedangkan tepat di depannya Tika sedang mengajarkan padanya arti kasih sayang yang tulus.


"Aku tadi bertemu dengannya. Dia sedang menjaga kedua putranya, Hana dan Hanif anak-anak yang periang. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat Tika menggendong anak jalanan. Hari ini pertama kalinya setelah sekian tahun. Aku melihatnya sedang bermain bersama anak-anaknya sendiri!" ujar Dirga, Agam langsung menatap wajah Dirga. Ada amarah dalam hati kecil Agam. Ketika seseorang dengan jelas memuji istrinya dengan begitu tulus.


"Ternyata anda laki-laki yang penuh cinta. Beruntungnya wanita yang menjadi istri anda!" ujar Zalwa lirih, Dirga tersenyum. Sejak pertama kali Dirga datang. Zalwa satu-satunya orang yang kagum akan wibawa seorang Dirga. Meski bukan rasa cinta, Zalwa merasa senang bisa mengenal Dirga. Sosok yang hebat, tapi hangat tanpa kesombongan.


"Terima kasih atas pujian, tapi lebih baik sekarang kita mulai rapatnya. Nanti malam aku harus kembali ke negaraku. Jika aku sempat mungkin aku akan mampir menjenguk tuan Dimas!" ujar Dirga tegas, Zalwa hanya bisa mengangguk pelan. Zalwa merasa sikap hangat Dirga hanya sesaat. Nyatanya Dirga bersikap dingin padanya dan seolah perkataannya hanya pujian semata.


Rapat berlangsung tanpa kendala. Selama rapat Agam lebih banyak diam. Sebaliknya Zalwa yang banyak bicara. Setelah mencapai kata sepakat. Akhirnya Dirga pamit, dia harus menemui orang lain. Dirga tersenyum simpul saat bersalaman dengan Agam. Seakan dia mengerti arti tatapan Agam.


"Tuan Agam, anda mungkin bingung kenapa saya begitu mengenal Tika? Memang saya mengenal Kartika Putri Anggara, tapi dia tidak pernah mengenalku. Memang benar ada rasa kagum akan ketulusan hatinya, tapi tidak ada kata balasan untuk rasa itu. Aku tidak pernah mencari atau menyimpan fotonya. Aku tidak pernah bicara atau merekam suaranya. Karena dia tersimpan rapi dalam sanubariku. Jangan berpikir aku akan merebut dia. Pertemuanku dengannya tadi. Murni jodoh tanpa ada kesengajaan. Cinta itu hati dan hanya hati yang mengenalinya. Tika termiliki atau tidak, aku tidak pernah berpikir bersanding dengannya. Aku terlalu hina berada disampingnya!" tutur Dirga, Agam mengeryitkan dahinya tidak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa anda mengatakannya pada saya?" ujar Agam, Dirga menggelengkan kepalanya pelan. Bukan hanya Agam, Zalwa dan Randy terkejut serta tidak mengerti maksud perkataan Agam.


"Tatapanmu yang mengatakan cintamu ada untuk Tika. Jika aku tidak salah, mungkinkah kamu ayah dari Hana dan Hanif. Entah apa yang terjadi diantara kalian? Namun sepertinya kamu mencintainya, tapi tak sanggup mempertahankannya. Sebaliknya aku mencintai, tapi tak berharap memilikinya. Karena sesungguhnya bukan cinta, bila kita membuatnya sengsara. Melainkan keangkuhan yang takut akan kekalahan!" ujar Dirga.


"Kenapa anda memahami Tika? Sedangkan aku tidak bisa memahami Tika. Bahkan diriku yang selalu menyakiti Tika!" ujar Agam lagi, Dirga diam lalu tersenyum.


"Cintaku bukan keangkuhan yang ingin memiliki dan tak ingin dikalahkan. Cintaku kebahagian dan senyum Tika. Aku mencintai Tika bukan karena wajah atau statusnya. Aku mencintai Tika, karena ringan tangan Tika dalam menolong orang lain. Tangan yang ringan untuk orang lain. Tidak akan pernah merasa berat memikul beban bersamaku. Alasan yang membuatku menghargai Tika sampai saat ini!" ujar Dirga tegas dan hangat.


"Namun seandainya jodoh ada diantara kami kelak. Aku berharap mampu membuatnya bahagia!" ujar Dirga tegas.


...☆☆☆☆☆☆...


BAGI PARA PEMBACA YANG SELALU SETIA MENDUKUNG AUTHOR. SUDI KIRANYA MAMPIR KE TULISAN RECEH AUTHOR YANG BARU. BERI LIKE AND COMEN, AGAR AUTHOR TERUS SEMANGAT. SEMOGA BERKENAN, TERIMA KASIH

__ADS_1



__ADS_2