Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Terbaring tak Berdaya


__ADS_3

"Kopi!" Ujar Arkan sembari menyodorkan secangkir kopi ke arah Hafidz.


Seketika Hafidz mendongak, manatap heran Arkan yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Hafidz menerima secangkir kopi dari Arkan. Namun jelas terlihat tak ada hasrat Hafidz meminumnya. Dengan rasa gelisah yang teramat. Hafidz menggenggam erat kopi ditangannya.


"Hanna takkan sejahat itu padamu. Sama halnya dengan dirimu. Hanna juga tersiksa dengan perpisahan ini. Tak mudah baginya percaya pada cintamu. Jauh lebih tak mudah baginya melupakan keyakinan yang kamu tanamkan di hatinya!"


"Kak Arkan!"


"Semalam Hanna menghubungiku. Dia menanyakan kondisi bundamu. Setelah mendengar penjelasanku. Hanna mengusulkan satu dokter teman kuliahnya. Dokter saraf yang jauh lebih hebat dari Hanna!"


"Dia melupakanku!"


"Hanna tak pernah melupakanmu. Dia selalu ada di sampingmu. Mengawasi semua gerak-gerikmu. Mendoakan kesehatan bagimu dan kekuatan hati dalam menghadapi perpisahan ini. Semua dia lakukan demi kesembuhan bundamu. Hanna percaya rasa sakit yang dia rasakan akan menjadi kebahagian yang abadi!"


"Hanna tak pernah peduli padaku. Apa salahku sampai dia menjauh? Aku suaminya, tapi seolah orang asing. Dia mengambil keputusan tanpa bertanya padaku. Berpikir dia benar dengan pilihannya. Hanna menganggap pilihannya yang terbaik. Namun tanpa sadar dia telah merenggut hal terindah dalam hidupku!"


"Hafidz, Hanna ada di sekitarmu. Dia sudah kembali dua hari yang lalu. Hanna mengawasi langsung perawatan bundamu. Dia merasa khawatir saat aku menceritakan komplikasi yang dialami bundamu. Sebab itu Hanna langsung kembali!" Ujar Arkan lirih, Hafidz menoleh.


Tangannya bergetar hebat, cangkir kopi yang dipegangnya bergoyang. Hafidz menatap penuh amarah. Saat dia tahu Hanna telah kembali. Namun tak sekalipun Hanna ingin menemuinya. Hanna benar-benar menyisihkan dirinya. Hafidz marah sekaligus kecewa. Hanna semakin tak bisa dimengerti. Bukan mengalah mendekat pada Sinta. Hanna malah merasa benar dengan keputusannya.


"Kak Arkan, kenapa Hanna sejahat ini? Dimana dia? Bencikah dia padaku!" Ujar Hafidz emosi.


Praaaayyyrrr


"Sabar Hafidz, tenangkan dirimu!" Ujar Arkan lirih, sembari menepuk pelan pundak Hafidz.


Hafidz melempar secangkir kopi yang dipegangnya. Amarah menguasai hatinya, rasa kecewa memenuhi benaknya. Hafidz merasa tersakiti dengan sikap Hanna. Keegoisan yang sama selalu menjadikan Hafidz tak berdaya. Hanna yang selalu merasa benar dan kuat dengan keputusannya.


"Hanna sudah keterlaluan!" Ujar Hafidz lemah, seraya menggelengkan kepalanya.


"Hanna tak sejahat itu, tapi menemui saat ini bukan keputusan yang benar. Kehadirannya hanya akan menambah kebencian bundamu. Menambah luka hati Hanna, membuka lembar kelam masa lalu mama yang tersisih!"


"Aku bukan papa, Hanna bukan mama. Kenapa dia bisa menjadikan masa lalu sebagai patokan? Ini keluargaku, bukan tempatnya bunda mencampurinya!"


"Tapi bundamu tanggungjawab yang harus kamu pikul!"


"Lantas Hanna apa? Dia juga tanggungjawabku. Aku suaminya, Hanna wanita yang aku pilih sebagai makmumku. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitinya? Namun sepertinya Hanna tak pernah percaya padaku. Dia lebih percaya masa lalunya yang kelam!" Ujar Hafidz lantang penuh emosi.


"Hafidz tenanglah, emosimu takkan membuat semuanya membaik. Kamu mengenal siapa Hanna? Jelas kamu mengerti alasan diamnya!"

__ADS_1


"Aku memang mengerti alasan sikapnya, tapi tak pantaskah aku menyakinkan dirinya. Tanpa pengorbanannya, aku bisa membuat semuanya membaik. Sejak awal aku sudah berjanji. Tidak akan membuat Hanna mengingat kepingan pahit mama Tika. Aku takkan selemah papa Agam, akan kujadikan keluarga kecil kami bahagia. Tanpa aku melukai bunda yang melahirkanku!"


"Hafidz, Hanna tak sekuat itu!"


"Seharusnya Hanna kuat, karena dia harus menemaniku melawan semua ini. Menghancurkan pemikiran dangkal mama tentangnya. Membuktikan pada dunia, kami bahagia dan takkan membuat bunda kecewa. Aku lemah tanpanya, aku butuh kehadira Hanna!"


"Maafkan aku Hafidz, aku terlanjur berjanji pada Hanna!"


"Janji untuk menyembunyikan dia dari suaminya. Jelas kak Arkan tahu, aku orang yang paling berhak atas dirinya. Kenapa aku menjadi orang yang paling jauh darinya saat ini!"


"Hafidz!"


"Kakak, Hanna istriku!" Ujar Hafidz lemah, Arkan diam menatap langit.


"Aku akan membawamu menemuinya, tapi dengan satu syarat!"


"Apa itu? Katakan apapun syaratnya. Asalkan aku bisa menatap wajahnya!"


"Jangan temui Hanna, lihat Hanna dari jauh. Jangan menghampirinya, apapun kondisi Hanna saat ini. Kamu baru menemuinya, setelah bundamu sehat dan pulang ke rumah!"


"Apa yang terjadi pada Hanna? Kenapa kakak melarangku menemuinya? Dia istriku, aku orang pertama pantas mendampinginya!"


Tap Tap Tap


"Dokter Arkan, pasien VVIP 1!"


"Ada dengannya?"


"Sebaiknya dokter Arkan melihatnya sendiri!"


"Dimana dokter Savira yang aku tugaskan menjaganya!"


"Dokter Savira sudah ada di sana. Beliau meminta saya memanggil dokter!" Ujar salah satu perawat, Arkan mengangguk pelan.


"Hanna!" Batin Hafidz.


"Hafidz, aku harus pergi. Ada yang kondisi darurat. Katakan keputusanmu nanti, aku akan menunggu dengan sabar!" Ujar Arkan tergesa-gesa. Arkan hendak berjalan menjauh, tapi tangannya tertahan oleh Hafidz.


"Apa yang terjadi pada Hanna? Dimana Hanna sekarang? Jika terjadi sesuatu pada Hanna. Aku akan menuntut kakak dengan tuduhan menjauhkan suami dari istrinya!"

__ADS_1


"Hafidz, lepaskan tanganku. Aku harus pergi sebelum semua terlambat!"


"Katakan dimana Hanna? Aku merasa VVIP 1 itu Hanna, ada apa dengan Hanna? Kenapa Hanna ada di rumah sakit ini?"


"Hafidz aku mohon, lepaskan tanganku!"


"Kak Arkan cukup, katakan apa yang terjadi pada Hanna?" Teriak Hafidz marah, Arkan diam membisu. Bibirnya kelu tak mampu mengatakan apapun?


"Dokter Arkan, kita harus cepat!" Ujar perawat, Arkan mengangguk pelan. Arkan mengangguk pelan, mengiyakan ajakan perawat. Arkan menatap sendu Hafidz. Dengan kedua telapak tangannya Arkan menghiba pada Hafidz.


"Hafidz, aku mohon padamu. Biarkan aku pergi sekarang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini. Dulu dengan kedua tanganku, aku menyerahkan Hanna padamu. Kini dengan tangan yang sama. Biarkan seorang kakak menolong hidup adiknya!"


"Apa yang terjadi pada Hanna?" Ujar Hafidz lirih, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dunia Hafidz seolah runtuh, kala dugaannya benar. Hanna mengalami sesuatu yang tidak baik.


"Maafkan aku Hafidz!" Ujar Arkan lalu berlari menuju ruangan VVIP 1.


Langkah lebar Arkan menggema di lorong rumah sakit. Arkan berlari bak kesetanan, lorong panjang yang dilewatinya tak terasa panjang. Rasa khawatir menguasai benaknya. Arkan berlari secepat mungkin menuju lorong VVIP 1. Ruang khusus yang dijaga ketat oleh beberapa satpam rumah sakit. Hanya orang dengan izin khusus yang diperbolekan masuk. Sebuah ruangan khusus yang disediakan Arkan untuk keluarga intinya.


"Hannnnaaaaaaa!" Teriak Hafidz keras, sesaat setelah Arkan pergi.


Duuuukkk


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa mereka menyembunyikannya dariku? Dimana kamu Hanna? Aku merindukanmu!" Batin Hafidz sembari terduduk di lantai rumah sakit. Keras suara lututnya yang menghantam lantai. Tak lantas membuatnya merasa sakit. Hatinya yang kini merasa sakit, sangat sakit.


"Hafidz, kamu harus kuat!"


"Ziva!" Ujar Hafidz tak percaya, kala melihat Ziva berdiri di sampingnya.


"Hanna ada di rumah sakit ini. Aku melihatnya turun dari mobil ambulans dua hari yang lalu. Aku mencoba mencari tahu kondisi Hanna dari Savira. Namun sia-sia, Savira tak mengatakan apapun padaku? Ruangan Hanna ada di VVIP 1, ruangan dengan penjagaan sangat ketat. Hanya keluarga Anggara yang bisa memasukinya!"


"Kamu tahu semua itu, tapi kenapa kamu diam selama ini?"


"Karena aku tidak yakin dengan yang kulihat. Namun aku semakin yakin, saat Savira dan dokter Arkan merawat satu pasien bersama. Kecurigaan semakin besar, saat Savira mundur merawat bunda. Dia tak pernah keluar dari ruangan itu!"


"Dimana ruangan itu?"


"Ruangan tepat di sebelah ruang kepala rumah sakit. Ruangan besar diantara IGD dan ICU!"


"Terima kasih!" Ujar Hafidz lirih, Ziva mengangguk pelan. Dengan nanar dia menatap punggung Hafidz yang menjauh.

__ADS_1


"Aku mungkin mengharapkanmu, tapi melihat kesedihanmu aku tidak sanggup. Hanna alaaan bahagia dan sedihmu. Temui dia Hafidz, jadilah semangat dalam hidup Hanna!" Batin Ziva.


__ADS_2