
"Izinkan aku masuk!" Teriak Hafidz, sembari terus mendorong para penjaga.
Namun kekuatan Hafidz tak mampu melawan tubuh gempal para penjaga. Mereka sudah terlatih dalam segala kondisi. Takkan mudah menembus benteng pertahanan mereka. Sekuat tenaga Hafidz menerobos, semakin kuat mereka menghalanginya. Nampak jelas pergulatan yang sangat hebat diantara Hafidz dan para penjaga.
"Tuan Hafidz, anda tidak bisa masuk ke dalam. Nyonya Hanna melarang anda masuk. Dokter Arkan juga belum mengizinkan anda masuk!" Ujar kepala penjaga, Hafidz mundur beberapa langkah. Nampak wajah lesu Hafidz. Dengan perlahan Hafidz menggelengkan kepalanya. Seolah tak percaya dengan yang dia lihat.
"Jadi benar Hanna ada di dalam!"
"Anda benar tuan Hafidz. Nyonya Hanna sedang istirahat di dalam. Beliau masuk dua hari yang lalu. Sesuai prosedur yang berlaku. Tidak ada yang boleh masuk. Tanpa izin nyonya Hanna atau dokter Arkan!"
"Termasuk aku suaminya!"
"Sekali lagi saya minta maaf!" Ujar kepala penjaga, seraya membungkuk meminta maaf pada Hafidz.
Hafidz berjalan mundur, menjauh dari pintu. Tubuhnya bersandar pada dinding, lemah dan tak berdaya. Gelisah memikirkan kondisi Hanna istrinya. Seminggu lebih, Hafidz menahan kerinduan pada Hanna. Namun saat mereka dekat, masih ada yang memisahkan mereka. Tubuh mereka hanya beberapa meter, tapi sangat jauh seakan terpisah oleh ribuan kilometer.
"Kenapa kamu menghindariku?" Ujar Hafidz lirih dan hancur.
Buuugh Buuugh Buuugh
"Hanna tidak ingin melihatmu cemas. Sebab itu dia menyembunyikan kedatangannya. Jika hari ini Sinta kembali ke rumah. Hari ini juga kamu bisa bertemu Hanna!" Ujar Dirga sesaat setelah memukul pundak Hafidz pelan.
"Om Dirga!"
"Tidak perlu heran, aku tahu Hanna ada di rumah sakit dari tuan Dimas!"
"Kenapa om Dirga tak memberitahuku?"
"Untuk apa Hafidz? Agar kamu menemuinya dan meninggalkan Sinta sendirian. Pada akhirnya Sinta semakin benci pada Hanna. Sebab telah merebut perhatian putra tercintanya!"
"Aku suaminya!"
"Tapi kamu juga putra Sinta!"
"Aku bertanggungjawab pada Hanna!"
__ADS_1
"Begitupun pada Sinta!" Sahut Dirga lantang, Hafidz terdiam membisu.
Tak ada lagi harapan dia bisa melihat Hanna. Semua orang sibuk menyembunyikan keberadaan Hanna. Bahkan Dirga satu-satunya orang yang memahaminya. Mendukung Hanna yang memutuskan menjauh darinya.
"Tidak perlu kecewa. Sebentar lagi tuan Dimas datang. Minta padanya untuk membawamu masuk. Percuma kamu melawan para penjaga itu. Mereka penjaga terlatih dan terbaik yang dimiliki keluarga Anggara!"
"Kenapa harus menunggu kakek Dimas?"
"Sebab Tuan Dimas satu-satunya orang yang memahami kegelisahan hatimu. Watak dan karakter Hanna sama persis dengan nyonya Nissa. Jadi beliau sangat memahami rasa cemas di hatimu. Om Dirga yakin, tuan Dimas akan membantumu!"
"Tapi aku takut terjadi sesuatu pada Hanna!" Ujar Hafidz cemas, Dirga menggeleng tanpa ragu.
"Hanna seorang dokter yang tahu kondisi tubuhnya. Apalagi yang aku dengar, dokter Arkan yang merawatnya. Dokter terbaik sekigus kakak yang paling menyayangi Hanna. Percayalah takkan terjadi apapun pada Hanna. Ada banyak orang yang menyayangi Hanna. Tidak akan ada yang membiarkan dia terluka!"
"Aku tahu Hanna dokter, tapi seorang dokter tetap manusia. Aku harus menemaninya, Hanna butuh aku ada di sampingnya!" Ujar Hafidz lemah, Dirga mengangguk setuju. Namun menerobos pertahanan para penjaga. Bukan hal yang mudah.
"Jika kamu tahu Hanna membutuhkanmu. Kenapa kamu malah diam di luar? Terobos mereka, lakukan apapun agar kamu bisa masuk ke dalam. Jangan menangis seperti perempuan. Laki-laki harus kuat, meski dengan hati hancur!"
"Kakek!"
"Tidak mudah kakek!" Sahut Hafidz, Dimas tersenyum seraya menggelengkan kepalanya pelan. Dimas melihat dirinya dalam raut wajah Hafidz. Saat dulu Nissa meninggalkannya tanpa banyak bicara.
Kreeeekkkk
"Tuan Dimas sudah datang?" Sahut dokter muda dan tampan.
"Aku baru saja tiba, bagaimana kondisi Hanna?"
"Hanna sudah lebih baik. Jantungnya mulai stabil, meski tadi sempat melemah. Jika kondisinya terus stabil. Hanna akan segera sadar!"
"Terima kasih!"
"Sudah tugasku, apalagi menyangkut Hanna. Kapanpun aku dibutuhkan? Aku pasti akan langsung datang!"
"Aku hargai itu!" Ujar Dimas ramah, lalu menoleh ke arah Hafidz.
__ADS_1
"Dokter Bryan, dia Hafidz suami Hanna!" Ujar Dimas memperkenalkan Hafidz pada Bryan.
Hafidz mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Bryan. Keduanya saling mengenalkan diri. Dua laki-laki tampan dengan kehebatan yang berbeda. Hafidz pengusaha muda berbakat. Bryan dokter muda terbaik sekaligus sahabat Hanna sejak kecil.
"Senang bertemu denganmu!" Ujar Bryan ramah, Hafidz mengangguk pelan.
"Hafidz masuklah ke dalam. Tidak akan ada yang menghalangimu. Aku akan mengajak Dirga berkeliling. Berada di dalam tidak akan membuatku tenang. Lebih baik kuserahkan Hanna pada kalian yang lebih muda!" Ujar Dimas lalu pergi menjauh.
Hafidz berjalan perlahan menuju ruang VVIP 1. Ruang yang ada di ujung lorong. Ada beberapa kamar sebelum ruang rawat Hanna. Dengan jantung yang berdetak hebat. Hafidz terus melangkah, kegelisahan hatinya tak lagi bisa di sembuyikan.
"Hanna!"
"Hanna!" Teriak Hafidz berkali-kali, ketika dia melihat tubuh Hanna yang terbaring tak berdaya.
Hafidz berdiri mematung, tubuhnya tak mampu bergerak. Tatapannya lurus pada tubuh Hanna yang lemah tak berdaya. Hafidz melihat tubuh Hanna penuh dengan alat bantu. Selang infus tertancap sempurna di tangan kiri Hanna. Nampak jelas kondisi Hanna tak baik-baik saja. Hafidz merasa hancur, ketika semua orang menyembuyikan kondisi Hanna yang tak baik-baik saja.
"Hafidz!"
"Kak Arkan, apa yang terjadi pada Hanna? Kenapa kalian tega melakukan semua ini padaku? Tak satupun dari kalian yang mengatakan kondisi Hanna!" Ujar Hafidz emosi, Arkan menghampiri Hafidz yang terguncang. Kondisi Hanna membuat Hafidz kehilangan akal. Ketakutan akan kehilangan Hanna, jelas membuat Hafidz bingung.
"Hanna sudah lebih baik. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan. 1x12 jam, Hanna akan sadarkan diri. Detak jantungnya mulai stabil!" Ujar Arkan menjelaskan, Hafidz diam menatap nanar Hanna.
"Kak Hafidz, tidak perlu cemas. Aku akan melakukan segala cara. Agar Hanna sahabatku kuat. Sebaliknya aku meminta hal yang sama padamu. Kuatlah demi Hanna, jangan buat Hanna terpojok dam tersisih. Aku akan selalu menjaga Hanna dan kakak bisa menjaga tante Sinta!"
"Bunda, alasan kalian menutupi semua ini dariku!" Ujar Hafidz lirih, Arkan dan Savira mengangguk serempak.
"Kami tidak ingin Hanna terguncang. Kondisinya sedang tidak stabil. Akan beresiko bila Hanna mendengar tekanan dari tante Sinta. Sebab itu kami menutupi fakta kondisi Hanna. Setidaknya sampai tante Sinta keluar dari rumah sakit!" Sahut Savira lantang.
"Sayang!" Ujar Hafidz lirih, dia menggenggam erat tangan mungil Hanna. Mengecup kening Hanna mesra. Hafidz mengusap wajah pucat Hanna. Meleburkan semua kerinduan dalam hatinya.
"Aku merindukanmu!" Bisik Hafidz lirih, tepat di samping telinga Hanna.
"Aku akan berdoa, agar kebahagian selalu bersama keluarga kecil kalian!"
"Maksumu Apa Savira?" Ujar Hafidz tak mengerti.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa? Kakak akan mengerti saat Hanna sadar. Bukan hakku mengatakannya. Penantian kakak akan berbalas hal manis dan indah!" Ujar Savira lantang.