Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Akhir ....


__ADS_3

"Ada apa Hanna? Kenapa kamu ingin bertemu denganku di luar? Kita bisa bicara di rumah!" Cecar Hafidz, tepat setelah dia datang menemui Hanna.


Hanna yang sengaja menghubungi Hafidz, meminta Hafidz datang ke cafe tepat di depan kantor Hafidz. Hanya tersenyum, seolah rasa cemas Hafidz tidaklah beralasan. Hanna hanya ingin bicara dari hati ke hati. Tanpa ada campur tangan siapapun? Tidak juga kedua orang tua Hanna, atau saudara Hanna.


"Duduklah dengan tenang, setelah itu kita bicara. Setidaknya pesan sesuatu, agar kita tidak dikatakan menumpang duduk!" Ujar Hanna santai, Hafidz menatap nanar Hanna. Sikap Hanna yang seolah berbeda dengan biasanya.


Hafidz terus menatap Hanna tak percaya. Perubahan sikap yang begitu cepat, tanpa ada kata atau isyarat. Diam Hanna yang selalu terlihat, kini berubah penuh dengan ketegasan dan tenangnya. Hanna tak lagi bimbang dalam memutuskan sesuatu. Hanna begitu tegas dalam setiap perkataannya. Layaknya Hanna yang dulu, ketika belum mengalami koma. Hanna yang selalu bersikap dengan pikiran, tanpa rasa takut dan kalah oleh apapun. Hanna yang dulu dikenalnya telah kembali. Membawa rasa takut akan perpisahan yang sebenarnya.


"Kamu berubah!"


"Aku sama kak, tidak ada yang berubah dariku. Selama ini aku menutupi diriku dalam diamku. Aku mencoba menelaah masalah yang ada diantara kita. Bukan mencari siapa yang salah? Namun aku hanya ingin melihat, masih mungkinkah ada cara rasaku tetap bersama imamku!"


"Apa maksudmu Hanna? Kenapa cara bicara mengisyaratkan perpisahan?" Ujar Hafidz lirih, Hanna diam menatap lekat Hafidz.


Lagi dan lagi Hafidz melihat Hanna yang berbeda. Hafidz melihat Hanna yang menggetarkan jiwanya dulu. Hanna yang dengan sikap kerasnya membuat Hafidz jatuh cinta. Hanna yang tegas menjaga dirinya, agar tidak terhina oleh orang lain. Hanna yang terus bertahan di sampingnya. Menerima hinaan dan penolakan dari Salma. Hanna yang membuat Hafidz menyadari arti cinta yang sesungguhnya. Bukan Hanna pendiam yang terus menutup diri untuk dimengerti.


"Kak Hafidz selalu mengertiku. Sejak dulu, kakak selalu memahami cara pikirku. Mungkin seperti itulah cinta kita bicara. Bukan lewat kata, tapi dengan isyarat mata dan getaran hati. Sungguh kak, aku kagum dengan caramu memahamiku!" Ujar Hanna bahagia, seolah perpisahan yang dikatakan Hafidz pantas terjadi.


"Artinya memang kamu menginginkan perpisahan!" Ujar Hafidz lirih, Hanna mengangguk tanpa ragu.


Hafidz menghela napas, sekilas ada rasa tidak percaya melihat anggukan kepala Hanna. Namun semua seakan benar, ketika Hafidz melihat jelas tatapan tajam Hanna. Ketenangan Hanna yang serasa semua pikiran Hafidz benar. Nampak Hafidz menundukkan kepala, dia merasa takut akan perpisahan dengan Hanna. Entah rasa takut itu demi apa atau siapa? Satu hal yang pasti, Hafidz merasakan sakit di hatinya. Satu anggukan kepala Hanna, terasa menghentikan detak jantungnya.


"Minumlah dulu, agar kita tenang dalam berbicara. Sebelum kamu datang, aku sudah memesan minuman kesukaanmu. Aku tahu kakak tidak akan memesan minuman. Bahkan mungkin, kakak ingin berdiri meninggalkan aku. Namun percayalah, keputusan harus diambil. Sepahit apapun jamu, jika itu obat. Maka kita harus siap meminumnya. Sama halnya sekarang, sepahit apapun keputusanku. Kakak harus menerimanya, agar kita bisa melanjutkan hidup!" Ujar Hanna tegas, Hafidz menggelengkan kepalanya lemah. Hafidz tak percaya dengan sikap Hanna, seolah Hanna sudah sangat yakin akan perpisahan diantara mereka.

__ADS_1


"Katakan Hanna, tidak perlu memintaku meminum kopi manis ini. Jika nyatanya kamu ingin memberikan racun padaku!"


"Kak Hafidz, terkadang seseorang harus berani meminum racun. Agar kita tahu, seberapa besar makna hidup. Sesuatu yang membuatku menyadari. Hidupku saat ini sebuah berkah, agar aku bisa mengerti arti hidup sesungguhnya!"


"Kamu memang Hanna yang dulu aku kenal!"


"Kak Hafidz, sudah cukup kita saling mengenal. Sudah saatnya kita bicara inti permasalahannya. Keputusan harus tetap diambil, memberikan kesempatan pada hubungan yang retak atau berhenti berharap pada hubungan yang takkan kembali seperti dulu!" Ujar Hanna tegas dan dingin.


Hafidz diam membisu, tatapannya mengunci cangkir kopi yang tengah dipegangnya. Hafidz mengalihkan pandangannya dari Hanna. Lebih tepatnya menjauh dari dua mata yang membuatnya jatuh hati pada Hanna. Hafidz mencoba mencari tenang yang tak bersahabat dengan hatinya. Hafidz terus berpura-pura, jika semua baik-baik saja. Walau sejujurnya, hatinya hancur tak tersisa.


"Kamu benar Hanna. Semakin lama kita berbicara, semakin dalam hatiku terluka. Katakan apa keputusanmu? Aku siap mendengarnya!" Ujar Hafidz, Hanna mengangguk pelan.


"Kita akhiri hubungan tidak sehat ini!"


Deg


"Aku tidak bisa bertahan dengan hubungan tanpa restu!"


"Maksudmu!" Ujar Hafidz tidak mengerti, Hanna memberikan sebuah surat.


"Ini!"


"Itu surat perpisahan kita, aku sudah mengajukannya. Selama ini aku diam, mencari jawaban dari hati terdalamku. Perpisahan akan menghancurkan hidupku. Namun bertahan dengan pernikahan yang retak, akan membuatku tiada perlahan. Restu bunda yang tidak pernah kugenggam. Cintamu yang mulai terbagi. Air mata Qaila saudaraku. Semua itu menjadi alasan kuatku, jika hubungan ini tak lagi pantas aku genggam. Terkadang kita harus siap melepaskan, jika ingin mendapatkan yang lebih baik!"

__ADS_1


"Semua itu hanya alasanmu, pembenaran akan luka yang kamu torehkan padaku!"


"Kak Hafidz, jika ingin mengatakan sakit. Mungkin hatiku jauh lebih sakit. Bertahan pada ranting rapuh, tidak akan menyelamatkan hidupmu. Namun mematahkan ranting itu, setidaknya sedikit meringankan sakitmu saat terjatuh!" Ujar Hanna, Hafidz diam membisu.


"Kak, pernikahan kita rapuh saat tak ada restu bunda yang membesarkanmu. Cinta kita lemah, saat hatimu mulai merasa nyaman pada hati yang lain. Langkahku terasa berat, jika aku menggenggam tangan yang terikat dengan tangan lain. Percayalah kak, cintamu pada Qaila itu nyata. Tangis pilu Qaila jelas terdengar. Aku hanya mencoba melepaskan genggaman yang tak mampu kamu lepaskan!"


"Sedikitpun kamu tidak terluka!" Ujar Hafidz, Hanna diam membisu. Lalu perlahan Hanna menggelengkan kepalanya.


Hanna meremas ujung hijabnya erat, menutupi rasa yang sakit jauh dalam hatinya. Hanya Hanna yang mampu merasakan, sesakit apa hatinya saat ini? Sakit yang takkan mampu dikatakan, tapi nyata dirasakan oleh Hanna.


"Sakit, sangat sakit. Namun bertahan pada hubungan yang penuh luka. Tidak akan serta merta menghilangkan sakit itu. Sebab sakit hati ini, hanya akan sembuh dengan jarak. Sebuah jarak yang akan membuat kita menyadari arti satu sama lain!" Batin Hanna pilu.


"Baiklah Hanna, aku akan menandatanganinya. Satu syaratku, hak asuh Davin hanya untukku!" Ujar Hafidz lantang, Hanna membisu.


"Baiklah, aku mungkin ibu yang melahirkannya. Namun kasih sayangmu dan Qaila yang membesarkannya. Aku tidak akan berebut hak asuh Davin. Cukup dia mengenalku, aku tidak berharap lebih!"


"Kamu memang Hanna!" Ujar Hafidz lirih, seraya menandatangani surat yang diberikan Hanna.


"Akhirnya, semua harus berakhir. Semoga kamu berbahagia imamku. Terima kasih atas cintamu padaku. Tersenyumlah imam dunia akhiratku, agar hatiku tak terlalu sakit. Aku tidak sanggup melihat bahagiamu bersama wanita lain, meski wanita itu adikku sendiri. Aku akan pergi jauh darimu, kutitipkan buah cinta kita. Hadiah terindah dalam hidupku!" Batin Hanna, seraya tersenyum menatap Hafidz. Berpura-pura bahagia dengan perpisahan ini.


"Terima kasih, semoga kita segera bertemu!" Ujar Hanna, lalu berdiri. Hanna mengambil berkas dari tangan Hafidz.


"Hanna, kemana kamu akan pergi?" Ujar Hafidz, ketika melihat Hanna keluar sembari menarik koper berukuran sedang.

__ADS_1


"Aku tidak akan sanggup menatap bahagiamu. Lebih baik aku menjauh, agar sakitku tak terlalu sakit. Kelak saat kita bertemu, aku hanya ingin melihat senyummu!" Ujar Hanna lantang, lalu pergi tanpa senyum.


"Jika kamu terluka, kenapa kamu meminta perpisahan ini?" Batin Hafidz.


__ADS_2