
"Sayang, kita pergi ke kantor bersama!" Teriak Hafidz, sembari berjalan menuruni tangga.
Hafidz berjalan menuju meja makan, mencari Hanna yang turun lebih dulu. Hanna sengaja turun lebih dulu, karena Hanna ingin menyiapkan sarapan Hafidz. Sedangkan Hafidz turun saat akan berangkat menuju kantor. Hafidz sudah melarang Hanna untuk menyiapkan sarapan. Kondisi Hanna yang belum stabil membuat Hafidz selalu menjaga dalam segala hal.
"Bunda, sedang apa di rumahku?" Ujar Hafidz terkejut, saat melihat Sinta berada di dekat meja makan.
"Kenapa kamu terkejut? Apa bunda tidak boleh datang ke rumahmu?"
"Bukan seperti itu maksud Hafidz. Aku hanya terkejut melihat bunda di rumahku sepagi ini!" Ujar Hafidz kikuk, Sinta tersenyum sesaat setelah mendengar perkataan Hafidz.
"Maafkan bunda yang mengagetkanmu. Bunda takut kamu tidak ada sarapan. Jadi sengaja bunda datang membawa makanan kesukaanmu!"
"Bunda tidak perlu repot-repot. Hanna sudah membuatkanku sarapan!" Sahut Hafidz ramah, Sinta mengangguk mengerti.
Memang saat Sinta datang, dia melihat Hanna tengah sibuk di dapur. Ada satu ART yang membantu Hanna. Namun satu hal yang membuat Sinta heran. Dia melihat Hanna begitu terampil memasak. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Hanna. Pribadi yang manja dan bebas menurut Sinta. Alasan yang membuat Sinta datang membawa masakan. Sebab Sinta takut Hafidz tidak sarapan dengan baik.
"Hanna tidak jadi membuatkanmu sarapan. Tadi bunda sudah melarangnya, karena bunda sudah memasak untukmu!"
"Lantas, dimana Hanna? Kenapa dia tidak kembali ke kamar? Bukankah dia harus bersiap ke kantor!"
"Entahlah, bunda tidak tahu dia dimana?" Sahut Sinta santai, seraya mengangkat kedua bahunya. Sinta nampak tak peduli akan keberadaan Hanna. Sebaliknya Hafidz terlihat cemas, dia takut Hanna tersinggung dengan perkataan Sinta.
Hafidz berjalan menuju ruang kerja Hanna. Barangkali Hanna sedang mengerjakan sesuatu. Namun ruang kerja Hanna kosong. Tak nampak Hanna di dalamnya. Sontak Hafidz cemas memikirkan Hanna. Tak biasanya Hanna mendadak pergi tanpa pamit.
"Hafidz, kita makan sekarang. Hanna sebentar lagi pasti datang. Tidak mungkin dia pergi tanpa pamit padamu. Bunda yakin dia sedang keluar sebentar!" Ujar Sinta, Hafidz diam membisu. Lalu dengan lemah Hafidz mengangguk mengiyakan ajakan Sinta. Hafidz merasa ragu, untuk sarapan tanpa Hanna.
Sinta melayani Hafidz makan. Layaknya dulu saat Hafidz masih tinggal bersamanya. Namun sejak Hafidz menikah dengan Hanna. Tak sekalipun Hafidz makan di rumah Sinta. Hafidz seolah lupa akan rasa masakan Sinta yang selalu diinginkannya. Hafidz memilih makan masakan Hanna yang biasa. Daripada menikmati masakan nikmat yang dibuat bundanya sendiri.
"Hafidz makanlah sekarang, takutnya kamu terlambat ke kantor!"
"Aku akan menunggu Hanna. Kami sudah berjanji akan sarapan bersama!"
"Hanna masih sibuk mungkin. Lebih baik kita sarapan lebih dulu!" Ujar Sinta memaksa, tapi dengan tegas Hafidz menolak.
Kedua tanyannya tak bergeming, tetap berada di samping piring. Tak secuilpun Hafidz menyentuh masakan Sinta. Semua terasa hambar baginya. Hafidz hanya ingin bertemu dan sarapan bersama Hanna. Harapan yang tak pernah bisa dibendungnya.
"Kak Hafidz, kenapa tidak sarapan lebih dulu?"
__ADS_1
"Sayang, kamu darimana?" Ujar Hafidz cemas, Hanna mengutas senyum simpul. Dia duduk tepat di samping Hafidz. Berhadapan langsung dengan Sinta.
"Maaf menunggu, aku tadi pergi ke rumah bik Minah. Hari ini dia libur, jadi aku datang mengantar makanan. Sekaligus aku memeriksa kondisinya!"
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Aku pergi sebentar ke depan. Sekadar memberikan makanan padanya!" Ujar Hanna santai, Hafidz menghela napas. Dia melihat ketenangan wajah Hanna yang tak biasa.
"Baiklah aku mengerti!" Ujar Hafidz final.
"Hafidz, Hanna sudah datang. Sekarang kamu makan. Tentu kamu sudah rindu masakan bunda!" Ujar Sinta riang, Hafidz mengangguk sembari melirik ke arah Hanna yang nampak santai.
Sedikitpun Hanna tak terusik dengan kedatangan Sinta. Hanya Hafidz yang merasa tak nyaman, melihat Sinta ada di rumahnya. Hafidz merasa Sinta datang dengan niat yang sama. Meragukan atau menghina Hanna yang tak salah.
"Sayang, kenapa kamu tidak sarapan?"
"Aku sudah makan bersama yang lain tadi. Maaf aku tidak menunggu kak Hafidz. Aku pikir ada bunda yang akan menemani kak Hafidz sarapan!"
"Sayang, kenapa kamu mengingkari janji!"
"Bunda sudah katakan, agar kamu sarapan lebih dulu. Namun kamu menunggu Hanna. Ternyata Hanna sendiri sudah sarapan!" Sahut Sinta sinis.
"Sayang, kamu ada masalah!" Ujar Hafidz cemas, Hanna menggeleng lemah.
"Tak ada masalah yang bisa aku keluhkan padamu. Rasa tersisih ini, tak lebih dari suara hatiku yang cemburu melihat perhatian bundamu. Tak ada kekecewaan yang bisa aku katakan padamu. Karena dengan jelas, kamu tak pernah ingin mengecewakanku. Namun tanpa disadari, bunda ingin selalu datang hanya demi rasa kecewaku. Tak ada hakku melarang bunda ada diantara kita. Sebab jauh sebelum aku hadir dalam hidupmu. Beliaulah yang mengisi harimu dengan kasih sayang. Terkadang aku bertanya dalam hati, hubungan seperti apa yang sedang kita jalani? Akankah cintaku menang atau kasih sayang bunda yang menang? Meski sejatinya tak sepantasnya kami bersaing. Karena menyayangimu bukan perlombaan, tapi ketulusan. Sebab dirimu bukan hadiah yang pantas diperebutkan, tapi insan yang pantas untuk disayangi dengan sepenuh hati!" Batin Hanna.
"Sayang, kenapa kamu diam?" Tegur Hafidz, kala melihat Hanna menunduk. Sinta menatap nanar Hafidz dan Hanna. Ada rasa yang tak bisa dia mengerti. Sebuah rasa yang hadir membuatnya iba, bahkan merasa bersalah pada Hanna dan Hafidz.
"Sudahlah Hafidz, kamu tidak perlu mencemaskan Hanna. Dia baik-baik saja, mungkin Hanna merasa lelah!" Sahut Sinta santai, Hafidz mengangguk pelan. Dia lalu melanjutkan sarapannya. Tak ada lagi suara atau kata. Hanya suara sendok dan garpu, semua hening.
Tap Tap Tap
"Mbak Hanna, ini bekalnya sudah saya siapkan!"
"Terima kasih bik Siti!" Sahut Hanna ramah, Siti mengangguk lalu kembali menuju dapur.
"Kak Hafidz aku berangkat!"
__ADS_1
"Kita pergi bersama!"
"Tidak perlu kak, aku akan pergi dengan supir!" Tolak Hanna, lalu mencium punggung tangan Hafidz. Hanna berjalan menjauh dari Hafidz dan Sinta.
Braakkk
"Kita pergi bersama!" Teriak Hafidz lantang, sesaat setelah suara kursi meja makan yang jatuh. Hafidz merasa marah melihat sikap Hanna. Bukan karena dia tidak suka dengan sikap Hanna. Namun Hafidz mengerti, alasan di balik sikap Hanna yang berbeda pagi ini.
"Tunggu aku, jangan berani kamu melangkah tanpa izinku!" Teriak Hafidz, lalu berlari ke kamarnya.
Sinta terdiam melihat amarah Hafidz. Selama dia mengenal Hafidz, tak pernah dia mendengar suara tinggi Hafidz. Pribadi Hafidz selalu tenang, tak pernah dia mengedepankan emosi dalam segala hal. Sebaliknya Sinta melihat ke arah dengan penuh amarah. Hanna alasan amarah Hafidz dan sikap tak peduli pada kehadirannya. Dengan langkah lebar, Sinta menghampiri Hanna. Sinta bak singa yang siap menerkam mangsanya.
"Kamu sengaja melakukan semua ini. Agar Hafidz meninggalkanku!"
"Bunda tak pantas bertanya padaku, karena sejatinya pertanyaan itu bukan untukku melainkan bunda!"
"Apa maksudmu?"
"Maaf jika Hanna bersikap tak pantas. Bukankah kedatangan bunda ingin menyisihkan Hanna. Berpikir dengan kepedulian bunda, kak Hafidz akan melupakan kasih sayangku. Namun nampak jelas di kedua mata bunda. Aku ada di hati dan benak kak Hafidz. Tak secuil saja, kak Hafidz melupakanku. Meski bunda terus ingin membuat kak Hafidz melupakanku!"
"Hanna jaga bicaramu!" Ujar Sinta lantang, tangannya terangkat. Namun dengan sigap Hanna menahannya.
"Anda mungkin ibu mertua yang sudah selayaknya ibuku sendiri. Namun tak serta merta status itu memberikan hak anda menamparku. Kedua orang tuaku yang membesarkanku. Tak pernah mengangkat tangannya padaku atau menyentuh pipiku. Jadi bukan hak anda melakukan itu!" Ujar Hanna kasar, lalu menghempaskan tangan Sinta kasar.
"Hanna kamu!"
"Jangan melebihi batasan anda. Sejak awal aku diam dan mengalah. Bukan karena aku takut atau merasa bersalah. Diamku senjataku melawan keegoisan anda. Jika aku menginginkan, dengan mudah akan kubuat kak Hafidz menjauh dari keluarganya. Namun hal itu takkan pernah kulakukan, karena kak Hafidz berhak terus bersama dengan keluarganya. Pengorbanan yang kulakukan. Bukan demi anda, tapi kak Hafidz. Jadi jangan berpikir aku takut pada anda. Jika anda melebihi batasan, aku akan melawannya!"
"Hanna, inikah wujud aslimu!" Ujar Sinta tak percaya.
"Hafidz, kamu mendengarnya. Dia mengancam bunda, Hanna melawan bunda!" Ujar Sinta, Hafid menatap lekat Hanna.
"Aku berangkat sendiri!" Ujar Hanna lalu berjalan menjauh.
"Hafidz, kenapa kamu diam saja? Hanna mengancam bunda!"
"Maafkan Hafidz bunda, tapi apa yang dikatakan Hanna benar? Hanna tegas dan tak mengalah, Hanna yang Hafidz rindukan. Jika Hafidz tak mampu melawan bunda. Setidaknya Hanna bisa memperjuangkan cinta kami!"
__ADS_1
"Hafidz kamu mendukung Hanna!"
"Lebih tepatnya, aku akan selalu bersamanya!" Sahut Hafidz tegas, lalu mengejar Hanna.