
Setelah hampir seminggu aku dan bayiku dirawat di rumah sakit. Akhirnya dokter Fia mengizinkanku pulang. Pertama kalinya aku dan kedua bayiku kembali ke dalam rumah yang khusus dibangun oleh mas Agam untuk kami. Kukangkahkan pasti kedua kakiku masuk ke dalam rumah sederhana yang penuh cinta dari suamiku.
Aku dan mas Agam memutuskan untuk merawat bayi kami sendiri. Baik mas Agam atau aku, menolak adanya baby sister untuk buah hati kami. Lagipula di rumahku sudah ada bik Asih dan Zahro yang siap membantuku. Kedua orang tua mas Agam mengatakan akan sering datang untuk mengunjungi kedua cucunya.
Baby Hanif dan Hanna sangat tenang. Hampir tidak pernah mereka rewel. Meski mereka menangis karena lapar, tapi setelah meminum susu. Mereka akan langsung diam bahkan terkadang tidur kembali. Mereka benar-benar mengerti kondisi kedua orang tuanya yang baru belajar merawat seorang bayi.
Sebenarnya selama aku mengandung mereka. Aku sering mengikuti pelatihan ibu dan anak. Sehingga saat mereka terlahir, aku tidak terlalu kikuk. Namun kenyataannya berbeda dengan teori. Mengasuh bayi tidak semudah saat belajar dalam pelatihan. Butuh kesabaran dan ketelatenan, agar mereka bisa tenang dan tidak rewel.
Malam ini tanpa kami ketahui, seluruh staf kantor mas Agam datang ke rumah. Tanpa ada pemberitahuan, sehingga kami belum menyiapkan apa-apa? Apalagi kondisi fisikku yang belum pulih sepenuhnya. Sehingga tidak bisa membantu apa-apa? Bik Asih dan Zahro kewalahan menyiapkan makanan ringan dan minuman. Sedangkan untuk jamuan mereka, mas Agam memutuskan untuk memborong makanan yang tanpa sengaja lewat depan rumah.
Tanpa sebuah perencanaan dan persiapan, penyambutan buah hati kami sangat sederhana tapi meriah. Banyaknya tamu yang datang tanpa undangan. Makanan yang tersedia tanpa ada perencanaan. Sebuah pesta sederhana tercipta di halaman depan rumahku. Langit terang benderang, seakan ikut merayakan kedatangan kedua buah hatiku. Suasana penuh dengan keakraban tercipta antara atasan dan bawahan. Taka ada lagi perbedaan yang terlihat.
Aku melihat mas Agam, ikut duduk bersimpuh di atas rumput bersama beberapa pekerja kasar. Dia ikut makan bersama mereka, berbaur tanpa peduli pangkat dan derajat. Makanan yang disediakan mas Agam, bukanlah makanan mewah. Namun makanan sederhana, tapi selalu dinikmati oleh seluruh kalangan masyrakat.
"Sayang, duduklah di sini. Ikut makan bersama kami!" ajak mas Agam, aku mengangguk. Aku berjalan perlahan menuju mas Agam dan beberapa pekerja.
" Maaf semuanya, saya belum bisa duduk di bawah secara langsung. Jadi silahkan saja dilanjutkan makannya. Saya hanya sekadar ingin mengucapkan terima kasih atas kehadirannya!"
"Ibu tidak perlu berterima kasih, sebenarnya kami datang mendadak agar tidak merepotkan. Malah sekarang kenyataannya kami merepotkan pak Agam." ujar salah satu pekerja.
"Iya ibu, kami datang sebagai rasa bahagia kami. Pemimpin kami yang baik, sudah memiliki keluarga yang lengkap. Sejujurnya kami pernah menyangka, jika pak Agam belum pernah menikah. Ternyata pak Agam diam-diam memiliki istri yang cantik dan sholeha. Pantas saja beliau tidak pernah membawa ibu ke proyek!" goda yang lain.
__ADS_1
"Kalian jangan salah paham. Bukan saya tidak bersedia mengajaknya. Istri saya bukan wanita yang suka pergi keluar. Lagipula sangat tidak mungkin kalian berpikir saya masih bujang. Apa kalian tidak pernah tahu? Siapa istri saya sebenarnya?"
"Maksud pak Agam apa? Kami memang tidak mengetahui, siapa sebenarnya istri pak Agam?"
"Mas Agam, sudah tidak perlu dibahas lagi."
"Pak Agam, jawab pertanyaan kami. Jangan buat kami penasaran!"
"Istriku tidak lain putri dari Dimas Anggara, pemilik seluruh proyek yang kita kerjakan!"
"Pak Agam serius, dia putri pak Dimas. Pantas saja beliau baik, persis seperti orang tuanya. Kami senang bisa mengabdi pada keluarga sebaik anda berdua. Pak Dimas dan bu Nissa, pemimpin yang bertangan dingin. Sekarang anda pemimpin yang baik dan sholeh." ujar mandor proyek. Terlihat pekerja yang lain mengangguk setuju.
"Baiklah semua, saya masuk ke dalam. Maaf tidak bisa terlalu lama menemani."
"Sayang, aku antar kamu ke dalam!" ujar mas Agam, aku menggeleng lemah.
"Tidak perlu, temani para tamu saja. Usahakan mereka tidak kekurangan apapun. Bik Asih dan Zahro sudah membuatkan minuman dan makanan ringan. Sebentar lagi mereka akan mengantarkan kemari!"
"Terima kasih bu!"
"Sama-sama, mari semua saya masuk ke dalam. Sekali lagi maaf tidak bisa menemani!" ujarku, mereka mengangguk pelan. Aku berjalan perlahan menjauh dari mereka. Aku melihat kehangatan yang tercipta diantara para pekerja. Sejujurnya aku ingin bergabung, tapi fisikku masih sangat lemah.
__ADS_1
"Pak Agam, anda sangat penyayang. Beruntungnya wanita yang menjadi istri anda!"
"Kalian salah, aku yang beruntung menikah dengannya. Dibalik kemewahan yang dia punya, tak pernah aku melihat dia berfoya-foya. Kecantikan wajahnya tak membuatnya bangga, sehingga dengan mudah mengumbar di depan laki-laki lain. Kenyataan usia yang terpaut jauh diantara kami. Tidak lantas membuatnya malu mengakuiku sebagai suaminya. Bahkan yang aku lihat, dia selalu belajar dewasa demi mengimbangiku. Sekarang menurut kalian, siapa yang lebih beruntung!"
"Pak Agam, sejujurnya saya ragu saat anda mengatakan bu Tika putri pak Dimas. Sebab penampilannya yang sederhana, tidak menunjukkan bahwa dia putri orang kaya!" ujar salah satu pegawai wanita.
"Kartika Putri Anggara, istri kecilku yang cantik. Namun tidak pernah berpikir ingin hidup berfoya-foya. Hanya kesederhanaan yang menjadi jati dirinya!"
"Pak Agam, so sweet. Semoga pak Agam dan bu Tika langgeng selamanya!" ujar salah seorang pegawai.
"Amin!" sahut yang lain serentak.
Tawa dan keceriaan membelah sepinya malam. Langit terang benderang bertabur bintang, menjadi atap indah perayaan sederhana kelahiran kedua buah hatiku. Pesta penyambutan yang tidak pernah direncanakan, berlangsung sangat meriah. Membawa rejeki tersendiri bagi para pedagang keliling. Aku sempat melihat dari balik jendela kamarku. Keakrabaan yang terlihat hangat.
Sekitar pukul 22.00 wib, satu per satu pegawai mas Agam pamit pulang. Mereka mengucapkan rasa bahagia, serta doa terbaik untuk kedua bayiku. Mas Agam sebagai seorang pemimpin yang baik. Sehingga para pegawainya begitu menghargainya. Mereka meluangkan waktu sekadar untuk mengucapkan doa terbaik untuk keluarga kami.
Setelah semua orang pulang. Mas Agam menghampiriku di kamar. Aku melihat dia menghampiri kedua bayi kami. Setelah mencium pipi gembul mereka. Mas Agam merebahkan tubuhnya yang letih tepat di sampingku. Mas Agam menyusupkan tangannya ke dalam hijabku, dia memelukku erat sembari menempelkan kepalanya dipunggungku.
"Sayang, terima kasih atas semua kebahagian yang kamu berikan. Berkat dirimu aku menjadi seorang ayah dari dua bayi yang lucu. Cintamu membuatku menjadi laki-laki yang sempurna. Kalian sumber kebahagianku, jangan pernah berpikir meninggalkanku. Aku bisa tiada tanpa melihat wajah kalian!" bisiknya tepat di telingaku, aku mengangguk pelan.
"Aku akan disampingmu selama kamu menghendaki. Namun aku akan berlari menjauh, bila kamu mengkhianati!" sahutku singkat.
__ADS_1
...☆☆☆☆☆...
TERIMA KASIH😊😊😊