
"Selamat Hafidz, sekali lagi kamu mengalahkan perusahaanku!" Ujar Agam ramah, sembari mengulurkan tangan. Agam menjabat tangan Hafidz, menantu sekaligus pesaing dalam bisnis.
Hafidz menyambut tangan Agam, dengan rasa sportifitas yang tinggi. Agam mengucapkan selamat atas keberhasilan Hafidz. Sebaliknya dengan rasa hormat dan kagum. Hafidz menerima ucapan selamat dari pengusaha senior, sekaligus papa mertuanya. Agam dan Hafidz saling mengakui kehebatan masing-masing. Tidak ada alasan bagi keduanya bersaing atau merasa iri dalam kesuksesan.
"Nona Ziva, selamat juga untukmu. Kalian berdua tim yang benar-benar solid!" Ujar Agam ramah, sembari mengulurkan tangan. Namun Ziva membalasnya dengan menangkupkan tangan di depan dadanya. Seketika Agam mengangguk mengerti. Dia memahami prinsip Ziva yang begitu sopan.
"Terima kasih tuan Agam. Anda alasan saya ingin maju. Kehebatan anda dalam bisnis, inspirasi terbesar saya!" Sahut Ziva, Agam tersenyum simpul. Dengan anggukan kepala, Agam menerima pujian dari Ziva. Namun Agam merasa, dia tak sehebat itu.
"Jika ingin memuji atau mencari panutan. Bukan aku orangnya, melainkan tuan Dimas Putra Anggara. Dia pembisnis sekaligus ayah yang hebat. Tak pernah ada kata kompromi dalam bisnis. Dia selalu konsisten dengan perkataannya. Baginya keluarga dan bisnis dua hal yang berbeda. Tak ada yang bisa membuatnya memihak, meski itu pada keluarganya sendiri!"
"Tuan Agam, ada perbedaan antara anda dengan tuan Dimas. Beliau pengusaha yang tak tersentuh dan tak terkalahkan. Beliau dingin penuh kharisma. Tak seorangpun mampu berpikir menyamainya. Beliau sejak lahir ada dengan dukungan keluarganya. Sedangkan anda sukses dengan usaha dan tekad anda. Tak ada dukungan keluarga secara finansial di belakangnya!"
"Nona Ziva, anda terlalu memuji. Apa yang anda katakan memang benar? Namun tanpa pernah anda ketahui. Aku menjadi pengusaha sukses, bukan tanpa alasan. Aku ingin menjadi hebat, agar sepadan dengan Tika. Putri tuan Dimas Anggara, putri yang dilupakan oleh beliau semenjak menikah denganku!"
"Maksud tuan Agam!" Sahut Ziva penasaran, Hafidz hanya diam menjadi pendengar yang baik.
Hafidz mencoba mengenal keluarga Hanna. Kisah masa lalu yang tak pernah Hanna ceritakan. Sekaligus tak pernah ditanyakan oleh Hafidz. Hanna yang selalu diam akan kehidupan keluarganya. Membuat Hafidz merasa bukan saatnya dia mengetahui kisah tentang Hanna dan keluarganya. Hafidz mencoba lebih mengenal Hanna melalui kisah cinta Agam dan Tika.
"Tuan Dimas, lebih tepatnya papa. Dia tak pernah mendukung Tika, sejak dia menjadi istriku. Papa berubah menjadi orang lain, meski sesungguhnya dengan harta yang dimilikinya. Papa bisa membuatku berlutut di bawah kaki Tika. Namun dengan bijaknya papa melepaskan tanggungjawab akan Tika. Beliau tak pernah membenciku atau marah padaku. Meski jelas Tika dan cucunya sengsara karena kelemahanku. Beliau tak pernah mendukung atau menyisihkanku. Beliau selalu sportif dalam bisnis, hanya pada yang mampu beliau memilih!"
"Namun papa berhasil membuktikan diri. Saat ini papa berhasil dalam dua hal sekaligus. Papa mendapatkan kebahagian sejati. Keluarga kita sudah bersatu saat ini!" Sahut Hafidz, Agam menggeleng tak setuju. Agam tak seberuntung itu, banyak hal yang hilang sebelum dia mendapatkan segalanya.
"Kebahagian yang kudapatkan hari ini, tak lebih dari kebodohanku selama lima belas tahun. Seandainya aku berani sejak dulu, maka takkan pernah aku terpisah selama belasan tahun. Kehilangan tawa dua buah hatiku. Jauh dari istri yang begitu aku cintai!"
"Maafkan kami tuan Agam. Tak seharusnya kami bertanya tentang masa lalumu!" Ujar Ziva ramah, Agam mengangguk seraya tersenyum. Agam menyuruput kopi yang ada di depannya. Hafidz menatap Agam penuh kekaguman. Ada rasa bangga yang tak mudah diutarakan oleh Hafidz. Hanya pencinta sejati yang mampu memahami beratnya menyimpan cinta selama itu.
"Tidak ada yang salah, masa laluku bukan aib. Aku berharap pengalamanku menjadi pelajaran berharga bagi kalian. Ingatlah satu hal, cinta akan selalu bersatu dengan hati yang tepat. Meski terkadang air mata yang menetes tanpa henti. Percayalah, kelak akan ada jawaban terbaik dari teguhnya cintamu. Pengabdian akan cinta sejati, akan menemukan jalan menuju bahagianya!" Ujar Agam, Hafidz mengangguk mengerti. Ziva menunduk sesaat setelah mendengar perkataan Agam.
"Jika teguhnya cinta itu terbalas, mungkin pengabdian cinta akan menemukan hati yang tepat. Bersama menggapai bahagia penuh tawa. Namun saat cinta itu tak terbalas, hanya air mata yang menetes. Membersihkan hati yang penuh dengan luka dan rasa iri!" Batin Ziva pilu. Dua bola mata Ziva mulai memerah, setetes bening air mata jatuh. Dengan cepat Ziva membasuhnya, agar tak ada yang melihat luka hati terdalamnya.
"Cinta yang indah!" Sahut Ziva lirih, Agam mengangguk pelan.
"Cinta indah yang penuh dengan duri. Bak sekuntum bunga mawar. Keindahannya tak terbantahkan. Namun duri akan melukai jari yang sembarangan memetiknya!"
__ADS_1
"Tuan Agam benar!" Ujar Ziva tegas, Hafidz menoleh ke arah Ziva. Dia merasa ada yang salah dengan perkataan Ziva.
"Kamu jatuh cinta!" Ujar Hafidz lantang, Ziva menggeleng ragu. Ziva mencoba menutupi rasa cintanya pada Hafidz.
"Aku tak ingin mengenal cinta. Jika hanya menyakitkan!"
"Kamu bohong, perkataanmu tadi menunjukkan rasa dihatimu. Seolah kamu merasakan sakit hati sebuah cinta!"
"Aku tidak jatuh cinta!" Ujar Ziva tegas, Agam tersenyum. Jelas Agam melihat kekaguman Ziva pada Hafidz. Tatapan berbeda seorang wanita yang jelas menunjukkan cinta tulus. Hanya Hafidz yang seolah buta akan cinta itu. Semua tertutup dengan kata pertemanan yang sejati.
"Kamu jatuh cinta!"
"Hafidz, aku tidak jatuh. Aku terbawa suasana, karena aku merasa kisah tuan Agam sangat menyentuh!" Sahut Ziva lantang, emosi Ziva meledak. Saat Hafidz terus dan terus menekannya. Ziva merasakan sesak cinta yang ada dihatinya.
"Kalian berdua bukan hanya tim yang hebat. Namun kalian juga teman yang sehati!" Ujar Agam, Ziva menunduk malu. Dia merasa malu dengan perkataan Agam.
"Lebih baik aku pergi, kalian lanjutkan sendiri makan siangnya. Kebetulan aku ada rapat sebentar lagi!"
"Kalian lanjutkan saja berdua. Setidaknya kalian bisa merayakan keberhasilan tadi!"
"Tuan Agam, terima kasih atas kisahmu!" Ujar Ziva, Agam mengangguk seraya mengutas senyum.
"Jujurlah pada hatimu, katakan cinta itu meski sakit. Agar hatimu ikhlas melepas cinta itu dan menemukan cinta yang lain. Namun seandainya cintamu tak sanggup kamu katakan. Simpanlah dihati terdalammu, agar cinta itu tidak bisa menyakiti hatimu!"
"Insyaallah!"
"Ziva, Allah SWT selalu mengizinkan hamba-NYA berkata jujur. Jadi ungkapkan cintamu, agar dia tahu kamu mencintainya. Cinta itu bukan sebuah dosa. Jadi tidak akan salah bila kita mengatakannya!" Ujar Hafidz, Ziva diam menunduk. Tak ada suara yang terucap dari bibirnya.
Agam berjalan meninggalkan Hafidz dan Ziva. Agam harus menemui Dimas. Sebenarnya Hanna akan datang ke kantor. Dia akan belajar langsung dari Agam. Namun Hafidz tak pernah mengetahui hal itu. Sebab itu dia tak pernah menyadari keberadaan Hanna.
"Hanna sayang!"
"Papa, kita pergi ke ruangan kakek!"
__ADS_1
"Kamu tidak menyapa Hafidz!"
"Tidak perlu, biarkan mereka merayakan keberhasilan tanpa ada yang mengganggu!" Ujar Hanna lirih, lalu merangkul tangan Agam. Hanna menyandarkan kepalanya dibahu Agam.
"Kamu mendengar semuanya!" Ujar Agam, Hanna mengangguk pelan.
"Kamu menyadari cinta Ziva untuk Hafidz!" Ujar Agam, Hanna mengangguk pelan.
"Kamu cemburu!" Ujar Agam cemas, Hanna menggeleng lemah.
"Kenapa? Sebesar itukah rasa percayamu pada Hafidz!"
"Aku wanita tak sempurna, jadi tidak ada alasan bagiku cemburu. Jika memang akan ada hubungan diantara mereka!"
"Hanna, kamu jangan berkata seperti itu. Hafidz suamimu!"
"Dia bukan hanya suamiku, dia separuh hidupku. Akan kukorbankan segalanya, agar di bahagia!"
"Hafidz tak pernah mencintai Ziva!"
"Aku tahu pa!"
"Lantas, kenapa kamu terlihat murung?"
"Aku takut papa mengacuhkanku, saat aku membutuhkan sandaran. Seperti kakek yang mengacuhkan mama!"
"Tidak ada seorang ayah yang akan tega mengacuhkan putrinya. Hanya saja cinta seorang ayah berbeda, ketika putrinya telah bersuami. Sebab cinta kalian akan lebih kuat!"
"Papa, aku menyayangi papa!"
"Begitu juga papa!" Sahut Agam hangat.
"Hafidz tulus mencintaimu. Dia imam yang terbaik, laki-laki terpilih yang dipilih oleh hati dan mendapatkan cintamu!" Tutur Agam hangat, lalu mencium puncak kepala Hanna.
__ADS_1