
"Hanna, makan sarapanmu!"
"Terima kasih ma!"
Hanna langsung duduk di tempatnya. Kursi yang berhadapan langsung dengan kursi tempat Hafidz duduk. Hanna menunduk menatap piring yang ada di depannya. Tak sedikitpun Hanna menoleh ke arah Hafidz. Tepat di samping kiri Hafidz, Davin duduk bersebelahan dengan Qaila. Hanna terus menunduk, diam seolah tak melihat Hafidz. Hanna mengacuhkan, bahkan tak menganggap ada orang lain di sekitarnya.
"Davin, duduk di sebelah papa. Bunda akan mengambilkan sarapanmu!"
"Terima kasih bunda!" Sahut Davin polos.
Qaila mengambilkan makanan untuk Davin. Setiap pagi Qaila selalu menyiapkan sarapan, bahkan menyuapi sendiri Davin. Qaila melakukan semuanya sendiri, seakan Davin putra yang lahir dari rahimnya. Qaila sangat menyayangi Davin melebihi dirinya sendiri. Kasih sayang yang jelas terlihat oleh Hanna. Alasan Hanna ikhlas melepas semua hubungan yang pernah ada diantara dirinya dengan Hafidz.
"Davin, makan sarapanmu!" Pinta Qaila, Davin mengangguk pelan. Hanna diam menunduk, menatap rejeki yang diberikan padanya hari ini.
"Hanna sayang, kamu jadi pergi pagi ini!" Ujar Tika hangat.
"Aku akan pergi, tapi setelah semua ikhlas melepas Hanna. Sementara waktu, Hanna akan mengabdi di puskesmas desa. Tenaga Hanna lebih dibutuhkan di sana!"
"Tentang impianmu!" Sahut Agam, Hanna menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
"Aku akan menutup lembaran impian yang takkan bisa kugapai. Proyek yang ingin aku kerjakan. Tak sebanding dengan ucapan terima kasih mereka yang membutuhkan bantuan Hanna. Puskesmas itu butuh tenaga tambahan!"
"Baiklah, lalukan apapun yang kamu inginkan. Papa akan mendukung keputusanmu. Katakan apa saja yang kamu butuhkan?"
"Hanna ingin memperbaiki atas rumah singgah mama. Ada kebocoran di beberapa sisi. Jika tidak keberatan, papa minta beberapa orang memperbaikinya!" Ujar Hanna tegas, Tika dan Agam termangu mendengar kata demi kata yang terucap dari bibir Hanna.
"Hafidz, jika tidak sibuk papa ingin kamu melihat rumah singgah!" Ujar Agam, Hafidz mengangguk tanpa ragu.
"Tidak perlu pa, kak Hafidz banyak urusan yang lebih penting. Tidak perlu merepotkan dirinya!"
"Hanna!" Ujar Tika sembari menggelengkan kepalanya pelan. Tika tidak menyukai cara bicara Hanna. Hafidz merasa tersisih, seketika menunduk.
Hanna semakin menunduk, tangannya bergetar. Tawa Davin bersama Qaila, meruntuhkan dinding keikhlasannya. Hanna tak berdaya, tulang belulangnya rapuh. Hanna diam tanpa kata, dia terluka melihat kehangatan Davin bersama Qaila. Hubungan yang menjauh darinya. Setetes bening air matanya jatuh, dengan perlahan dan sembunyi-sembunyi. Hanna menghapus air mata penuh kerinduannya.
"Sampai kapan kamu menyimpan tangismu? Sekuat apa hatimu melihat kebersamaan Qaila dengan Davin putra kita. Dia darah dagingmu Hanna. Saksi cinta kita, diammu hanya akan terus menyakiti. Kamu menyakiti hatimu yang jujur. Kamu menyakiti hatiku yang setia. Kamu menyakiti hati Davin yang percaya. Hati yang saling terpaut, tanpa kata atau perjanjian. Aku dan kamu, mungkin mampu mengingkari rasa ini. Namun Davin nyata ada, dia makhluk tanpa dosa yang terlahir lambang suci cinta kita!" Batin Hafidz sembari menatap Hanna yang terus menunduk.
"Davin, selesaikan sarapanmu. Bunda akan mengantarmu ke sekolah!"
"Aku berangkat diantar tante cantik!" Ujar Davin polos, Hafidz menoleh dengan tatapan penuh isyarat. Hanna tetap menunduk, seakan Hanna takut menatap wajah Davin.
__ADS_1
"Dengarlah Hanna, itu suara anakmu. Putramu merasa nyaman bersamamu. Kamu terus mengelak, tapi hatinya terus mendekat. Ikatan darah diantara kalian, tak serapuh tali. Seencer-encernya air, takkan bisa dibelah. Apalagi kental darah yang mengalir dalam diri kalian berdua. Hanna dengarkan suara hatimu, jangan memutuskan sesuatu yang belum tentu benar adanya. Davin mungkin tak mengenalmu, tapi dia merasakan hangat dekapmu. Rahimmu yang menjaganya selama sembilan bulan lebih. Tiga tahun jauh darimu, tak lantas membuatnya melupakanmu!" Batin Hafidz dengan kekesalan yang nyata.
"Davin sayang, hari ini tante cantik sibuk. Davin pergi ke bunda dan papa!" Ujar Hanna, seketika Davin menunduk. Entah kenapa Davin terlihat sedih? Qaila menatap lesu Davin, putra yang dibesarkannya tersakiti.
"Kak, Davin ingin berangkat denganmu!"
"Maafkan kakak Qaila, kakak memang sibuk!" Ujar Hanna, Agam dan Tika tak bisa berkata apa-apa? Hanna selalu tegas menutup sakitnya. Tak ada yang bisa membujuk Hanna. Satu kata dari Agam dan Tika, akan membuat Hanna pergi selamanya.
"Davin, ambil tasmu. Papa akan mengantarmu!" Ujar Hafidz lantang, nada suara Hafidz penuh amarah dan rasa kecewa. Hanna terus menunduk, tak sedikitpun Hanna melihat raut wajah kecewa putranya.
Walau sebenarnya luka di hati Hanna nyata adanya. Tanpa ada yang tahu, Hanna terus menekan rasa sakit dalam hatinya. Hanna tak ingin siapapun melihat air matanya? Sakit yang seolah mengharapkan kebahagian orang lain.
"Maafkan mama sayang, mama jahat. Benci mama, lupakan mama. Namun percayalah, mama tak pernah ingin menyakitimu. Mama pernah merasakan jauh dari ibu yang melahirkan mama. Sepi tanpa kasih sayang ibu yang melahirkan mama. Jauh dari dekapan hangat, sosok bernama ibu. Sakit dan sepi yang tak ingin mama berikan padamu. Qaila ibu yang merawatmu sejak kecil. Kamu putra yang dititipkan dirahim mama, tapi bukan mama orang yang pantas kamu panggil ibu. Qaila bunda yang tulus mencintaimu, wanita yang mencintai ayahmu penuh kasih sayang. Saat ini kamu hanya mengenal Qaila sebagai ibu. Selamanya hanya Qaila ibumu. Takkan mama biarkan ada dua ibu dalam hidupmu. Mama akan diam, meski hati mama menjerit. Bibir mama akan terus tersenyum, walau jiwa mama menangis. Tetaplah tersenyum, demi mama yang tak pernah kamu kenal!" Batin Hanna pilu, sembari meremas ujung hijabnya. Hanna sakit tanpa bisa mengeluh. Hanya diam, jalan yang kini ada di depannya. Menahan luka sekuat-kuatnya, sampai tubuhnya tak berdaya.
"Hanna Santika Ramaniya!" Sapa Hafidz lantang, Hanna menoleh. Dia melihat Hafidz berjalan menghampirinya.
Hafidz mendorong tubuh Hanna menempel ke dinding. Hafidz menatap tajam Hanna, keduanya sangat dekat. Hembusan napas Hafidz menyentuh pipi lembut Hanna. Tak ada jarak yang memisahkan keduanya. Hafidz dan Hanna begitu dekat, sampai detak jantung terdengar berdegub beriringan.
"Marah padaku, benci diriku. Namun jangan sakiti Davin, dia putra kita. Davin tak pernah salah akan hubungan kita. Aku yang menyakitimu dengan rasa nyamanku pada Qaila. Bukan Davin kecilku, dia seorang anak yang mulai merindukan ibunya. Bukan salahnya merindukanmu. Jangan limpahkan kesalahanku padanya. Kamu berhak mengacuhkan diriku, anggap diriku tiada. Jika itu membuatmu tenang, tapi jangan acuhkan kasih sayang Davin. Dia putramu!" Tutur Hafidz penuh emosi, Hanna diam menunduk.
__ADS_1
"Sekuat kamu menyimpan tangismu, semakin besar luka yang kamu torehkan di hati Davin!" Bisik Hafidz tepat di telinga Hanna.