Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Pelukan hangat


__ADS_3

"Bagaimana kondisi Davin?" Ujar Hafidz cemas, Qaila menoleh menatap Davin yang tengah tertidur pulas.


Hafidz dan Qaila cemas akan kondisi Davin yang tiba-tiba menurun. Suhu tubuh Davin terus meninggi sejak semalam. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Kaki dan daun telinganya terasa dingin dan beku. Namun kepala dan tubunya terasa panas. Hafidz takut melihat kondisi Davin. Kecerian Davin seketika menghilang. Terhapus oleh sakit yang kini dirasakan Davin.


Sejak semalam, Qaila menjaga Davin bersama dengan Hafidz. Anggota keluarga yang lain cemas, tak terkecuali Arkan. Beruntung dalam keluarga besar Agam, ada tiga dokter hebat. Salah satunya Hanna yang kini memilih menjadi seorang dokter. Hanna merasa nyaman, ketika dia menatap senyum orang yang sembuh dari sakit.


"Tubuhnya masih demam, tapi napas Davin mulai teratur. Jika besok pagi, kondisinya belum stabil. Kita harus membawanya ke rumah sakit. Aku perlu memeriksa darah dan organ vital lainnya!" Ujar Qaila, Hafidz menatap Davin penuh kecemasan.


Qaila menyadari betapa cemas Hafidz. Selama ini Davin tidak pernah sakit. Lebih tepatnya, Davin tak pernah pada kondisi selemah ini. Dalam semalam keceriaan Davin berganti dengan lemah. Tubuh gembulnya seketika tak bertenaga. Davin tumbang dalam pelukan sang nenek. Saat kedua orang tuanya tak ada di sampingnya.


"Istirahatlah, aku akan menjaga Davin sendirian. Kamu sudah sangat lelah, malam juga sudah sangat larut. Jika ada yang salah, aku akan mencarimu!" Ujar Hafidz, Qaila menggelengkan kepalanya.


"Aku akan tetap di sini. Aku tidak akan tenang, tanpa melihat Davin!"


"Baiklah, kita akan menjaganya bersama. Aku akan membuka pintu kamar Davin!" Ujar Hafidz, Qaila mengangguk pelan.


Hafidz berjalan menuju pintu, sedangkan Qaila duduk tepat di sisi kiri tempat tudur Davin. Nampak tatapan Qaila yang begitu sendu. Melihat putra yang dibesarkannya terbaring lemah. Membuatnya seolah ikut lemah. Sebuah rasa yang tak pernah dialami seorang dokter ketika memeriksa seorang pasien. Qaila tersadar akan kesalahannya. Sebuah sikap dingin yang selalu marah, saat melihat keluarga pasien lemah. Kini dia merasakannya sendiri. Bingung dan takut saat melihat Davin sakit.

__ADS_1


"Cepat sembuh sayang, bunda akan mengabulkan apapun permintaanmu. Bunda janji Davin, bunda janji asalkan kamu sehat kembali. Termasuk keinginanmu yang ingin bertemu mama kandungmu. Sosok yang selama ini kamu rindukan. Walau sebenarnya, dia ada di dekatmu. Keegoisan bunda, ketakutan bunda, kekhawatiran bunda akan kehilanganmu. Membuat bunda mengacuhkan rengekanmu, mengorbankan sakitmu, menutup mata akan air matamu. Malam ini bunda sadar, kamu makhluk kecil tak bersalah. Tak sepantasnya kamu terluka, karena sikap egois orang dewasa. Bunda janji sayang, bunda akan mempertemukanmu dengannya. Asalkan bunda melihat senyummu kembali!" Batin Qaila dengan tetesan air mata. Tangannya membelai lembut kening Davin. Lalu mencium penuh kehangatan kening panas sang bocah. Seorang anak yang tak pernah lahir dari rahimnya. Namun nyata menjadi putra dalam hati dan hidupnya.


"Qaila, tidurlah di samping Davin. Aku akan tidur di sofa!" Ujar Hafidz, lalu menoleh ke arah Qaila.


Hafidz tertegun, ketika menatap Qaila yang tertidur pulas di samping Davin. Nampak tangan Qaila memeluk erat tubuh mungil Davin. Qaila seolah merasa nyaman dengan tidur dalam posisi duduk. Hafidz melihat jelas kasih sayang tulus Qaila pada Davin. Kasih sayang yang tak pernah bisa Hafidz balas. Meski pernah ada kata nyaman dalam hatinya bersama Qaila.


"Terima kasih Qaila!" Batin Hafidz, sembari menatap sendu ke arah Davin dan Qaila. Hafidz berjalan perlahan menuju sofa. Hafidz mulai merasa mengantuk. Dia ingin sejenak menutup kedua matanya.


"Masuklah Hanna, Davin membutuhkanmu!" Ujar Tika, sembari menepuk pelan pundak Hanna.


Hanna terkejut, merasakan pundaknya ada yang menepuk. Seketika Hanna menoleh, mengalihkan pandangannya. Hanna menoleh ke arah Tika. Tatapan Hanna sayu, seolah air mata hendak menetes. Tika menarik tubuh putrinya. Mencoba menenangkan hati sang putri yang gelisah. Dengan penuh kasih sayang, Tika menempelkan kepala Hanna tepat di dadanya. Mendekap erat sang putri yang tengah galau.


"Tapi Qaila!" Ujar Hanna lirih, Tika tersenyum sembari mengelus kepala sang putri.


"Mama percaya, Qaila dan Hafidz sudah sangat dewasa. Mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dengan bijak. Ingatkah Hanna, ketika mama pergi dari papa dan kamu. Saat itu mama berpikir, keputusan mama yang terbaik. Membawa luka hati mama, meninggalkan papa dengan separuh jiwa mama. Namun nyatanya, keputusan mama salah. Bukan kebahagian yang papa dan kamu rasakan. Melainkan kepahitan tanpa akhir. Sedangkan mama dan kak Arkan, harus menahan sebuah rindu yang tak bertepi. Hidup jauh dari keluarga, berjuang sendiri jauh dari kampung halaman!" Tutur Tika penuh kasih sayang. Hanna terdiam membisu, kata-kata demi kata yang keluar dari bibir Tika. Bak tamparan yang menyakitkan baginya.


"Hanna, terkadang baik yang kamu pikirkan. Belum tentu kebaikan yang dirasakan oleh orang lain!" Sahut Tika lagi.

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus Hanna lakukan? Aku tidak ingin menyakiti siapapun? Terutama Davin, dia alasan aku melakukan hal bodoh ini. Mungkin aku dingin tanpa sakit dimata semua orang. Namun sesungguhnya hatiku sakit, aku menangis di pojok kamarku yang gelap dan sunyi. Aku hancur dan tersakiti, semua yang kurasakan hanya demi senyum Davin!"


"Biarkan air mengalir, angin berhembus tanpa arah. Lepaskan semua beban pikiranmu. Jadilah Hanna yang dulu, pribadi tanpa beban dan penuh ketenangan!"


"Maksud mama!" Ujar Hanna sembari mendongak ke arah Hanna.


"Biarkan Davin mengenalmu, ibu yang selama ini dirindukannya. Lupakan sejenak hubunganmu dengan Hafidz. Berikan sepenuhnya kasih sayangmu pada Davin. Saat ini hanya Davin yang berhak atas dirimu!"


"Mama!" Ujar Hanna lirih, Tika mengangguk pelan.


"Masuklah, dekap dia dengan cintamu. Tidak ada obat yang lebih mujarab. Selain cinta dan kasih sayang seorang ibu. Obat yang diminumnya hanya menyembuhkan luka fisiknya. Namun hatinya akan sembuh, hanya dengan satu dekapanmu!" Ujar Tika, Hanna mengangguk pelan.


Tap Tap Tap


Perlahan Hanna masuk, mendekat ke arah tubuh mungil Davin yang terbaring lemah. Hanna melihat Hafidz dan Qaila yang tengah tertidur. Dengan perlahan, Hanna duduk di samping kanan Davin. Menggenggam erat tangan putra kesayangannya. Hanna mencium lembut tangan Davin. Setetes air matanya jatuh, membasahi tangan Davin yang terasa begitu panas. Hanna menempelkan tangan Davin di pipinya. Berharap mampu menggantikan sejenak demam yang dirasakan Davin.


"Mama!" Suara Davin yang mengigau merindukan dirinya.

__ADS_1


"Davin, maafkan mama!" Ujar Hanna lirih, lalu mendekap erat tubuh mungil Davin. Menumpakhkan seluruh cinta yang ada di dalam hatinya.


"Terima kasih Hanna!" Batin Hafidz, sembari terus berpura-pura tertidur.


__ADS_2