
"Hanna, sebelum kamu pergi. Mama ingin menunjukkan sesuatu padamu!" Ujar Tika lantang, Hanna menghentikan langkahnya.
Tika menurunkan Davin dari gendongannya. Tika menyerahkan Davin pada Hafidz. Lalu tanpa basa-basi, Tika menarik tangan Hanna. Membawa Hanna masuk ke dalam rumah megah Agam. Rumah yang dibangun penuh cinta, sebagai tempat bersatu keluarga besarnya. Hasil jerih payah Agam, bukti kesetian Agam pada Tika dan dua buah hatinya.
Tika terus berjalan semakin dalam ke rumah megahnya. Tanpa menoleh atau bicara sepatah katapun dengan Hanna. Sedangkan Hanna, mengikuti langkah Tika tanpa bertanya. Hanna merasakan amarah dan rasa kecewa Tika. Hatinya terenyuh sakit, kala merasakan dingin tangan Tika. Kehangatan yang tergantikan oleh rasa kecewa yang luar biasa.
Braakkk
Suara gebrakan pintu terbuka, menyadarkan Hanna akan amarah Tika. Agam dan Arkan berjalan mengekor dua wanita yang berarti dalam hidup mereka. Mereka merasa khawatir, saat melihat amarah Tika. Entah apa yang alasan amarah Tika? Namun jelas amarah itu nyata, tak ada ketenangan yang selama ini ada dalam pribadi Tika. Saat semua khawatir dengan amarah Tika. Hanna satu-satunya orang yang bingung. Dia tidak mengerti alasan kekesalan Tika. Namun Hanna sadar, telah mengusik ketenangan Tika.
"Masuklah Hanna, katakan pada mama apa yang kamu lihat?" Ujar Tika emosi, Hanna menggeleng lemah. Tika menatap tajam Hanna. Seakan dia tidak suka dengan jawaban Hanna.
"Kenapa?" Sahut Tika kesal.
"Ini kamar papa dan mama, tidak sepantasnya Hanna masuk ke dalam. Hanna merasa canggung, jika harus masuk ke dalam!"
"Canggung, tidak nyaman. Dua kata yang kini mengisi hati dan benakmu. Kamu merasa asing diantara keluargamu. Kamu melihat kami layaknya musuh. Sejak kamu terbangun, tak sekalipun kamu belajar mengingat kami. Memang tak seharusnya mama memaksamu, tapi setidaknya kamu bisa menghargai hubungan darah. Kamu memang lupa akan mama dan papa, tapi kamu tidak mungkin lupa darah yang mengalir dalam tubuhmu sama dengan papa. Arkan dan dirimu lahir hanya berselang beberapa menit, tapi selama dalam rahim mama. Kalian tumbuh dan berbagi selama berbulan-bulan. Haruskah semua itu terlupa dan terganti dengan keraguanmu yang terus menyakiti kami!"
"Tika, sudah jangan memaksa Hanna!" Sahut Agam, Tika diam menatap tajam Hanna. Sebaliknya Hanna menunduk, merasa bingung dengan semua yang terjadi.
"Satu tahun lebih kita menunggu. Sudah saatnya Hanna menghargai kita. Bukan terus meragukan dan merasa keluarganya berbeda dengannya. Apa mas Agam mendengar cara dia menilai keluarganya? Pantaskah Hanna bersikap seperti itu. Dia bukan Hanna putri kita. Melainkan Hanna yang mencoba mencari jati diri yang baru. Berpikir dia lebih nyaman hidup sederhana, melupakan kemewahan yang kita tawarkan. Berpikir Hanna tidak pantas hidup dalam kecukupan yang nyata sejak dulu dia rasakan!"
"Tapi Tika!" Ujar Agam, Tika menutup mulut Agam dengan tangannya. Berharap Agam diam, membiarkan dirinya menyelesaikan semua masalahnya dengan Hanna.
"Mama, Hanna belum stabil!" Sahut Arkan, Tika menggeleng tak setuju.
"Dia sangat stabil, bahkan baik-baik saja. Hanna bahkan jauh lebih dewasa. Dia mampu menelaah, apa yang akan aku katakan? Malah Hanna bisa memahami lebih dari kalian. Karena Hanna yang sekarang, jauh lebih bijak dan luas dalam melihat masalah!" Tutur Tika tetap dengan sikap dinginnya.
"Tika, aku mohon hentikan. Tidak ada yang perlu diperpanjang. Biarkan Hanna memilih jalannya. Setidaknya dia tetap ada bersama kita!" Ujar Agam.
"Hanna, kamu dengar semua itu?" Ujar Tika dingin, Hanna mengangguk tanpa menatap Tika. Dia merasa takut melihat amarah Hanna.
"Apa hatimu sudah percaya? Kami semua menyayangimu, terutama papa dan kakakmu. Apa hatimu masih ragu? Apa kamu masih buta dengan kasih sayang mereka?" Tutur Tika tegas, Hanna menunduk semakin dalam. Anggukan kepala Hanna jelas, jika amarah Tika nyata adanya.
"Maafkan Hanna!"
"Tidak akan!" Sahut Tika dingin, seketika Hanna mendongak. Tatapannya sendu, dia merasa dingin Tika yang menusuk hatinya. Terasa sakit, sangat sakit menusuk hatinya.
"Tika!" Ujar Agam tak percaya, perlahan Agam menyentuh pundak Tika. Berpikir sentuhannya bisa menenangkan Tika. Namun dengan lembut Tika menepisnya.
"Biarkan aku menyelesaikannya. Hanna harus menyadari kesalahannya. Tak selamanya mas Agam membelanya. Dia harus bisa menerima konsekuensi dari sikapnya!"
"Tapi, Hanna belum sepenuhnya pulih!" Sahut Hafidz cemas.
__ADS_1
"Dia sehat lahir dan batin, tapi Hanna yang membuatnya sakit. Dia tak ingin mengingat apapun. Setidaknya menghapus keraguannya akan kasih sayang kita. Percaya akan ketulusan kita. Hanna tak lebih dari pribadi yang dingin, tapi seolah lembut!"
"Mama, maafkan Hanna bila tanpa sengaja menyakiti hati mama!" Sahut Hanna lirih.
"Mama tidak akan marah, jika kamu bersikap sedikit hangat. Setidaknya pada orang-orang yang sayang padamu. Papa yang selalu memikirkanmu, Arkan saudara yang selalu merindukanmu, Hafidz laki-laki yang selalu setia menunggumu!"
" Kak Hafidz!" Ujar Hanna lirih tak mengerti.
"Mama, aku mohon hentikan. Hanna belum bisa menerima kebenarannya. Kita tunggu Hanna membaik!" Ujar Hafidz mencegah.
"Sampai kapan? Dua tahun kita menunggu dia tersadar. Satu tahun lebih kita menunggu dia kembali dari keheningannya. Lantas, berapa tahun lagi kita diam? Apa kita menunggu Hanna pergi menjauh seutuhnya? Seperti pagi ini, Hanna pamit tanpa memikirkan perasaan kita!" Tutur Tika tegas, Hafidz mundur menjauh.
Kebenaran satu-satunya yang ingin dikatakan Hafidz. Namun dia takut kehilangan Hanna. Jika Hanna tak mampu menerima kenyataan yang sebenarnya. Pribadi Hanna yang sekarang berbeda, tapi jika mengenai prinsip. Hafidz yakin, Hanna akan tetap sama. Marah dan kecewa jika dia dibohongi.
"Tika!" Ujar Agam, Tika menoleh menatap tajam Agam. Sontak semua terdiam, tak ada lagi yang bisa menghentikan Tika. Ketegasan yang berbanding terbalik dengan hangat kasih sayang Tika.
"Hanna, masuk ke dalam!" Titah Tika, Hanna mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam kamar Tika.
Hanna mengangkat perlahan kepalanya. Dengan tatapan tajam tak percaya. Hanna melihat isi kamar Tika. Meski dia lupa akan semua kenangan di dalam kamar ini. Namun Hanna merasakan ada yang berbeda dan sangat berbeda. Sejenak hati Hanna berdetak hebat. Ada rasa nyeri yang tiba-tiba membuatnya merasa sesak napas. Hanna merasa sedih, akan sesuatu yang tak pernah dia sadari alasannya.
"Kenapa kamu terdiam Hanna? Kemana suara lantangmu tadi? Perkataanmu yang seolah hidupmu dan kami berbeda. Kejujuranmu menurut benar, meski setiap katamu bak belati tajam yang melukai hati papamu!"
"Mama!" Sapa Hanna dengan suara bergetar.
"Sayang, aku mohon hentikan!" Pinta Agam menghiba, Tika menggeleng mengacuhkan permintaan Agam.
Hanna berjalan semakin dalam, Hanna mengedarkan pandangannya keseluruh kamar. Ruangan yang begitu besar, seluas rumahnya yang di desa. Nampak kosong tanpa ada barang mewah yang sejak tadi ada dipikiran Hanna. Tak ada tempat tidur megah nan empuk. Lemari mewah dengan ukiran indah yang pasti mahal. Sofa besar nyaman yang biasanya ada di sudut kamar. Tak ada satupun, semua nampak biasa dan sederhana.
Hanna berjalan menghampiri lemari kecil plastik. Tangannya mengusap setiap inci daun lemari. Ada getaran hebat di hatinya, tapi Hanna tak mengerti alasan jantungnya berdebar. Lemari plastik kecil berwana biru bergambar winnie the pooh. Nampak biasa dan tak mencolok, tapi tangan Hanna terhenti saat dia melihat ada tulisan namanya. Hanna menatap jelas nama indahnya, setetes bening air matanya jatuh. Hanna merasakan keanehan dengan lemari itu.
Kreeeekkkk
Hanna membuka lemari bergambar kartun favoritnya. Tangannya semakin dingin, bukan tangannya yang bergetar kini. Tubuhnya mulai bergetar hebat. Tatkala kedua bola matanya melihat sepasang sepatu warna putih biru tersimpan rapi di dalamnya. Sepatu kecil yang mulai lusuh, sepatu yang pernah dipakainya kala balita dulu. Tepat di bawah rak berisi sepatu, Hanna melihat beberap baju hangat. Entah kenapa semua tersimpan di dalam lemari? Namun jelas Hanna merasakan hatinya terenyuh melihat semua itu.
Hanna mengambil satu set baju tidurnya. Hanna mencium harum baju tidur mungilnya. Tercium harum aroma minyak hangat bayi. Hanna terduduk tepat di samping kasur lantai. Air matanya menetes tanpa bisa dia cegah. Hanna memeluk erat baju yang dipegangnya. Berharap ingatannya kembali, kenangan yang dia rasakan dulu.
"Mama!"
"Kenapa kamu menangis?" Ujar Tika, Hanna menggeleng.
"Kamu menangis, karena hatimu merasakan semua kenangan yang ada. Lemari kesayanganmu, sepatu favoritmu, baju hangat yang selalu kamu pakai saat kedinginan. Semua barang yang terus menjadi pelipur lara papamu. Cara papamu bertahan dalam kerinduan dan kesepiannya. Jauh darimu tidaklah mudah bagi papamu. Jauh lebih mudah baginya, hidup tanpa kemewahan dan kesederhanaan!"
"Papa!"
__ADS_1
"Iya, papamu melupakan semua kenyaman. Dia tidak bisa hidup dengan nyaman, saat dia tahu kamu hidup penuh keterbatasan. Papamu melupakan kenyamanannya, agar dia bisa merasakan hal yang sama denganmu. Tak pernah papa melupakanmu, hidupnya hanya teringat akan rindunya padamu!"
"Maaf!"
"Untuk apa?" Sahut Tika dingin.
"Keraguan akan kasih sayang kalian!"
"Untuk itu tidak perlu kamu meminta maaf. Kami tidak pernah menghitung untung rugi menyayangimu. Jadi sangat tidak penting, kamu percaya atau ragu akan kasih sayang kami!" Sahut Tika, Hanna mendongak. Tatapannya kosong, seakan dia tidak mengerti maksud Tika.
"Minta maaflah atas sikap tak sopanmu pada papa. Penolakan akan perhatiannya padamu. Sikap dinginmu yang dengan sadar menghancurkan hatinya!"
"Apa ini tentang uang yang aku kembalikan?"
"Itu bukan sekadar uang Hanna, di dalamnya ada keringat papamu. Kasih sayang tulus seorang ayah yang ingin melindungi putrinya. Uang yang kamu anggap kemewahan tanpa cinta. Itu terlalu sederhana, dibandingkan pengorbanan papamu selama ini. Dia hidup dalam kesederhanaan, tanpa dia peduli kamu mengingatnya atau Tidak. Namun sekuat apapun kamu membantahny? Hatimu menyadari kenangan yang ada. Air mata yang keluar dari mata indahmu. Bukan sekadar tangisan biasa, tapi jeritan hatimu yang sakit karena melupakan semuanya!"
Hiks Hiks Hiks
"Jangan menangis, mama hanya emosi sesaat. Lupakan semuanya, tidak pernah papa kecewa dengan keputusanmu!" Ujar Agam sembari menepuk pundak Hanna yang bergetar.
"Maafkan Hanna!" Ujar Hanna lirih, sembari mendongak menatap Agam.
"Kamu tidak salah!"
"Memang dia tidak salah mas Agam, tapi hatinya terlalu angkuh mengakui perbedaan yang diciptakannya sendiri. Hanna ingin merubah pribadinya, tapi dia dingin mengakui hubungan yang pernah ada. Terutama hubungannya denganmu. Satu-satunya orang yang selalu ada dalam suka dukanya. Tangan yang merangkul, dalam dinginnya. Tubuh yang melindungi, dalam susahnya. Keringat yang mencukupi, dalam butuhnya. Mata yang menjaga, dalam tidurnya!"
"Tika, sudah cukup!"
"Aku sanggup melihatnya melupakanku. Aku mampu merasakan kecangguannya pada Arkan. Aku bisa menerima ketakutannya pada Hafidz. Namun aku takkan terima, jika dia menghina harga dirimu. Melupakan kenangan denganmu, menolak perhatianmu yang tulus. Bukan hanya karena kamu suamiku, tapi karena Hanna menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersamamu. Tidak adil, jika di masa tuamu. Kamu terlupa begitu saja, diabaikan tanpa ada belas kasih!"
"Maafkan Hanna, maaf!" Ujar Hanna di sela tangisnya. Hanna bersimpuh di kaki Agam, sontak Agam mengangkat tubuh mungil Hanna. Mendekap erat tubuh putri yang selalu dirindukannya.
"Bukan di bawah kaki papa tempatmu bersimpuh. Sebesar apapun kamu mengabaikan papa, kamu tetap putri papa. Selamanya pelukan papa yang akan kamu dapatkan. Papa sangat merindukanmu, jangan pernah berpikir papa bisa hidup tanpa senyummu!" Ujar Agam tepat di telinga Hanna yang tertutup hijab.
"Maaf!" Sahut Hanna lirih, Agam mengangguk pelan. Hanna menoleh menatap Tika, mengulurkan tangan. Hanna meminta Tika memeluknya bersama Agam.
"Meski kamu lupa akan kami semua, setidaknya izinkan kami kembali mengenalkan diri. Terutama Hafidz dan Davin!" Ujar Tika, Hanna diam membisu.
"Aku tidak berharap kamu mengingatku. Menatap senyummu sedekat ini, sudah lebih dari cukup. Terima kasih Hanna, terima kasih telah hadir dalam hidupku. Hadiah darimu indah dan berharga, dengan nyawa aku akan menjaganya. Sampai kamu ingat akan kami yang selalu menunggumu!" Batin Hafidz sesaat setelah mendengar perkataan Tika.
...☆☆☆☆☆...
...Terima kasih ayah, dekapanmu akan selalu menenangkanku. Tanganmu yang paling hangat terasa dalam pelukku. Jerih payahmu yang selama ini menghidupiku. Terima kasih telah menemani di tahun-tahun lemahku. Dalam usia yang butuh perlindunganmu. Meski singkat waktu kita bersama, terima kasih telah hadir dalam kenanganku. Terima kasih, hanya itu yang bisa membalas jasamu....
__ADS_1
...☆☆☆☆☆☆...