
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Semenjak kamu menikah, aku kesulitan mengajakmu pergi!" Ujar Savira lantang, Hanna tersenyum mendengar perkataan Savira.
Hanna dan Savira dua sahabat yang saling menyayangi satu sama lain. Namun semua terasa canggung, saat Hanna menikah dengan Hafidz. Laki-laki yang sangat dicintai oleh Ziva, saudara kandung Savira. Namun nyatanya semua itu tak pernah membuat Savira menjauh dari Hanna. Savira mampu berpikir logis, dia tidak menyalahkan Hanna akan cintanya pada Hafidz.
"Maaf, aku harus kuliah lagi. Sebagian waktuku tersita untuk belajar. Kak Hafidz tak pernah melarangku menemuimu. Namun aku masih belajar menjadi seorang istri. Aku masih belajar menyesuaikan diri!"
"Kamu serius Hanna, kamu berubah setelah menikah dengan kak Hafidz!"
"Aku Hanna yang sama, hanya saja aku mulai belajar memahami arti sebuah hubungan!"
"Hanna, aku bangga padamu!" Ujar Savira lantang, lalu memeluk Hanna erat. Keduanya berjalan beriringan memasuki sebuah pusat perbelanjaan.
Hanna dan Savira sering menghabiskan waktu bersama. Keduanya sangat suka berbelanja, sekadar melupakan penat yang menyita waktu mereka. Walau terkadang keduanya hanya berjalan-jalan saja. Tanpa berpikir membeli sesuatu. Sebab Hanna dan Savira bukan pribadi yang pemboros. Mereka sangat menghargai jerih payah.
"Hanna, arah jam 12!" Ujar Savira lirih, Hanna menoleh lurus ke arah yang ditunjukknya. Seketika Hanna menarik tangan Savira. Hanna tidak ingin ada kesalahpahaman lagi.
Hanna menjauh dari tempat yang ditunjuk oleh Savira. Arah dimana Hanna melihat Hafidz dan beberapa rekan kerjanya. Nampak mereka tengah berkumpul, sekadar makan siang bersama. Hanna tak ingin mengganggu Hafidz yang tengah bekerja. Dengan secepat kilat Hanna menjauh. Agar Hafidz tak menyadari keberadaannya.
"Kenapa Hanna?"
"Dia sedang bekerja, aku tidak ingin mengganggunya!"
"Tapi kamu istrinya!" Cecar Savira, Hanna mengangguk pelan.
"Aku istrinya, tapi jika aku di rumah. Aku tidak bisa mengganggu pekerjaannya. Kak Hafidz memiliki kebebasan, saat dia bekerja di luar rumah!"
"Kamu aneh, tapi aku tidak akan bertanya lagi!"
"Kita masuk ke dalam atau pulang!"
"Tentu saja kita masuk ke dalam. Banyak yang ingin aku beli. Kalau bisa aku ingin kamu mentraktirku. Setidaknya aku bisa mendapatkan hadiah pernikahan darimu!"
"Kamu bercanda!" Ujar Hanna, Savira menggeleng pelan.
"Tentu tidak!"
"Bukankah aku yang menikah, kenapa kamu yang mendapatkan hadiah!" Ujar Hanna tak mengerti, Savira tersenyum tanpa peduli perkataan Hanna.
__ADS_1
"Aku tahu itu, tapi tidak ada salahnya bukan. Seorang sahabat membelikan hadiah, saat dia mendapatkan kebahagian. Setidaknya aku bisa merasakan kebahagian itu!" Ujar Savira santai, lalu bergelayut manja pada Hanna. Dengan senyum paling manisa Hanna mengiyakan perkataan Savira.
"Pilihlah yang kamu suka. Aku akan membelikannya untukmu. Namun kamu jangan lupa, belilah apa yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan!"
"Siap Hanna sayang!" Sahut Savira sembari tertawa riang.
Hanna dan Savira masuk ke dalam satu toko busana. Sebuah toko yang selalu Hanna dan Savira kunjungi. Toko yang menjual berbagai model pakaian wanita. Keduanya sudah sering datang kemari. Meski Hanna tak berhijab, tapi dia selalu sopan dalam berpakaian. Hanna tak pernah membuka aurat yang akan mengundang napsu laki-laki.
"Apa kabar Hanna?"
"Aku baik Dilla, lama tidak bertemu!" Sahut Hanna ramah, Dilla mengangguk lalu memeluk Hanna.
"Selamat atas pernikahanmu, maaf aku tidak bisa datang!" Bisik Dilla ramah, Hanna mengangguk pelan.
"Terima kasih!" Sahut Hanna, keduanya saling memeluk. Larut dalam pertemanan yang abadi.
"Kalian melupakanku!" Ujar Savira kesal, Hanna dan Dilla menoleh.
"Kemarilah adik manis!" Ujar Dilla, Savira meringkuk di dalam pelukan Hanna dan Dilla.
"Sahabat selamanya!" Ujar Hanna lantang, Dilla dan Savira mengangguk bersamaan.
"Terima kasih Dilla yang manis. Aku tidak akan segan-segan memilih baju!" Ujar Savira santai.
"Silahkan dipilih sesuka hatimu. Aku akan membantu pembeli yang lain!" Pamit Dilla ramah, Hanna mempersilahkan Dilla pergi. Sedangkan Savira sudah sibuk mencari pakaian yang diinginkannya.
Hanna memilih duduk di sudut toko. Dia tidak terlalu ingin berbelanja. Kedatangannya kemari, hanya ingin menemani Savira. Hanna memilih duduk memeriksa ponselnya. Dia tidak terlalu peduli pada sekitarnya. Hanna larut dalam dunianya sendiri. Lalu tiba-tiba Hanna mendengar ada yang memanggilnya. Sebuah suara yang tak asing di telinganya.
"Apa kabar Hanna? Senang melihatmu ada di sini!" Sapa Shaila, Hanna mendongak menatap Shaila. Seorang adik yang tak pernah ingin menganggapnya sebagai seorang kakak.
"Senang melihatmu juga!" Sahut Hanna dingin dan singkat.
"Kenapa hanya duduk? Tidak ingin membeli sesuatu, bukankah tadi temanmu mengatakan akan memberi diskon!"
"Aku tidak ingin membeli sesuatu. Aku hanya mengantar temanku!"
"kenapa tidak berbelanja? Kak Hafidz bekerja keras saat ini. Tentu dia mampu memenuhi semua kebutuhanmu!"
__ADS_1
"Maksudmu apa?" Sahut Hanna lalu berdiri menatap tajam Shaila. Hanna merasa perkataan Shaila sangat tak pantas. Ada nada Shaila ingin memojokkannya.
"Tidak ada maksud apa-apa?"
"Bicaralah yang jelas, tidak perlu bertele-tele?"
"Apa yang kukatakan memang benar? Kak Hafidz bekerja keras, tak lain demi memenuhi kebutuhanmu yang tak biasa. Maklum saja, kamu seorang putri. Tak mungkin kamu hidup ala kadarnya!"
"Aku tak pernah meminta hidup mewah. Jika memang kak Hafidz bekerja keras. Semua demi keluarganya, bukan hanya karena diriku!" Tegas Hanna, Shaila meradang mendengar tuduhan Hanna. Shaila menatap penuh amarah ke arah Hanna.
"Jangan asal bicara kamu. Tidak ada hakmu untuk mengatakan semua itu!"
"Aku tidak akan bicara sekasar ini. Jika kamu tak memulainya. Selama ini aku tak pernah bertanya pada kak Hafidz tentang penghasilannya. Meski tanpa dia bicara, aku sudah tahu kalau sebagian besar penghasilannya untukmu dan bunda!"
"Hanna!"
"Tidak perlu berteriak, aku tak peduli dengan semua itu. Penghasilan kak Hafidz menjadi haknya. Tak pantas bila aku mencampurinya. Jadi, jangan pernah acungkan telunjukmu padaku. Jika nyatanya kamu orang yang menikmati keringat suamiku!"
"Jangan banyak bicara kamu!"
"Shaila, satu hal yang harus kamu ketahui. Aku tak pernah mengeluh atau menghiba pada kakakmu. Sedikit atau banyak uang yang diberikannya untukku. Tak pernah menjadi masalah untukku. Selama dia merasa nyaman dan tenang dalam pekerjaannya!" Ujar Hanna menyahuti perkataan Shaila.
"Banyak bicara kamu!"
"Terserah padamu, aku tidak peduli kamu percaya atau tidak!"
"Munafik kamu Hanna. Di depan kak Hafidz kamu pendiam, nyatanya sekarang kamu mulai mempermasalahkan penghasilan kak Hafidz. Seolah aku dan bunda yang menghabiskan uang kak Hafidz!"
"Aku berhak bertanya, sebab itu keringat suamiku!"
"Tapi dia kakakku!"
"Lantas dimana suami yang seharusnya menafkahimu? Bukankah padanya kamu berhak bertanya!"
"Kurang ajar!" Ujar Shaila marah, tangannya terangkat. Dengan amarah yang menggebu, Shaila ingin menampar Hanna.
"Shaila!"
__ADS_1
"Jangan berani menamparnya. Dia istriku sekaligus kakak iparmu!" Ujar Hafidz lantang sembari menahan tangan Shaila. Lalu menghembasnya kasar
"Kak Hafidz!"