Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Akhirnya


__ADS_3

"Silahkan duduk, ada keperluan apa anda dan Agam datang kemari. Jika kalian ingin bertemu Tika, saya minta maaf. Tika belum pulang, dia dalam perjalana pulang dari luar kota!" ujar Nissa ramah dengan senyum yang senantiasa terlihat dari wajahnya. Sekilas Nissa melihat Agam yang terus menunduk. Jelas Agam sedang gelisah. Nissa melihat Agam terus meremas tangannya.


Sebelum menjadi menantu Dimas. Agam tak lain sahabat Nissa. Kedekatan Tika dan Agam sedikit banyak berkat hubungan masa lalu Nissa dan Agam. Sebab itu Nissa bisa mengetahui, apa yang biasa dilakukan Agam? Ketika dia sedang gelisah. Nissa tersenyum sembari menatap Agam. Sengaja Nissa menemui mereka sendiri. Kondisi kesehatan Dimas tidak memungkinkan untuk bertemu Agam dan kedua orang tuanya.


"Aku tidak akan basa-basi lagi. Kedatanganku kemari, aku ingin mengambil Hana dan Hanif. Selama dua tahun mereka tinggal bersama Tika. Sekarang mereka harus tinggal bersama Agam!" ujar ibunda Agam tegas dan lantang, Nissa terdiam sejenak. Kedua bola matanya membulat sempurna. Dia tidak menduga setelah dua tahun perpisahan Agam. Agam dan orang tuanya datang hanya ingin mengambil kedua cucunya. Bukan ingin memperbaiki hubungan Agam dan Tika.


Sontak Nissa menoleh ke arah Agam yang terus menunduk. Dengan anggukan kepala, akhirnya Nissa mengerti arti kecemasan Agam yang terlihat olehnya. Sebaliknya Nissa melihat raut wajah kedua orang tua Agam yang penuh dengan keangkuhan. Mereka merasa berhak mengambil Hana dan Hanif buah hati Agam dan Tika.


"Maaf sebelumnya, aku tidak salah dengar. Kalian datang hanya ingin mengambil Hana dan Hanif. Dimana hati nurani kaliaj? Mereka bukan barang yang tak memiliki hati. Hana dan Hanif terlalu kecil, untuk ikut dalam perseteruaan kalian orang dewasa. Mereka hanya anak berusia 5 tahun. Tidak bisakah kalian memahami perasaan mereka. Sebelum berpikir sejauh ini!" ujar Nissa tegas, Agam semakin menunduk. Dia marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa setuju dengan permintaan kedua orang tuanya?


Meski sebenarnya Agam telah menolak permintaan mereka. Namun dengan segala cara kedua orang tua Agam memaksa mengambil Hana dan Hanif. Jika Agam tidak setuju. Agam harus segera berpisah secara hukum dengan Tika. Dua pilihan yang sulit, tapi Agam harus tetap memilih. Jika tidak dia akan kehilangan orang tuanya. Entah kenapa rasa angkuh keluarganya begitu tinggi? Sehingga mereka selalu merasa terhina dengan status Tika yang jauh lebih tinggi dari Agam.


"Apa perlu aku mengulangi perkataanku? Bukankah Agam berhak atas Hana dan Hanif. Mereka darah daging Agam, sampai sekarang Agam selalu memenuhi kebutuhan Hana dan Hanif. Bahkan mungkin, Tika masih hidup dengan keringat Agam!" ujar ibunda Agam sinis, Agam menarik tangan ibundanya. Agam menggelengkan kepala. Berharap ibunya berhenti berkata sekasar itu.


Nissa hanya tersenyum melihat sikap kasar ibunda Agam. Tidak ada amarah yang terlihat dari raut wajah Nissa. Dia tetap tenang menghadapi sikap keras dan arogant ibunda Agam. Nissa tidak terpengaruh akan amarah orang tua Agam. Sebab amarah tidak akan menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengingkari, sampai kapanpun Hana dan Hanif putra Agam dan Tika? Darah Agam mengalir dalam nadi mereka. Namun kasih sayang Tika yang membesarkan dan melindungi mereka. Memang benar Agam yang mencukupi kebutuhan Hana dan Hanif. Namun kebutuhan Tika, tanyakan sendiri pada Agam. Aku rasa dia bisa menjawab dan jauh lebih tahu dariku!" ujar Nissa, Agam mendongak menatap Nissa. Agam terkejut ketika secara tidak langsung. Nissa mengetahui bahwa Tika tidak pernah menerima nafkah materi darinya lagi.


Nissa tersenyum melihat Agam yang terkejut. Dengan kedipan mata, Nissa seolah mengatakan pada Agam. Bahwa Nissa mengetahui segalanya. Agam menunduk malu, dia merasa gagal menjaga keluarganya. Kedua orang tuanya berhasil membuat keluarganya hancur tak bersisa.


"Tidak perlu terkejut Agam. Sebelum Tika menjadi istrimu, dia putriku yang lahir dari kasiu sayangku. Aku tidak akan menyalahkan atau meremehkanmu. Bila Tika tidak menerima nafkah materimu. Sebab sebagai orang tuanya, bantuan kami juga dia tolak. Bukan tanpa alasan Tika bekerja keras sampai pulang selarut ini. Semua demi memenuhi kebutuhannya!" ujar Nissa, Agam mengangguk mengerti. Sedangkan orang tua Agam terperangah mendengar perkataan Nissa. Mereka tidak menyangka. Jika Tika menolak pemberian orang tuanya. Kedua orang tua Tika sangatlah mampu memenuhi kebutuhan Tika. Namun Tika memilih bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya.


"Sudah sangat malam, panggilkan Hana dan Hanif. Kami akan tetap membawa mereka, tidak peduli apapun keputusan Tika. Lagipula jika Tika menolak, kami akan membawa masalah ini ke pengadilan. Kami akan merebut hak asuh atas Hana dan Hanif!" ujar ibunda Agam lantang. Nissa diam lalu menoleh ke arah Agam. Sikap ibunda Agam sudah melewati batas. Nissa masih menghormati Agam dan ayahnya. Jika tidak entah apa yang bisa dilakukan Nissa sebagai ibu dari Tika?


"Agam, aku akan menutup mata dan menutup telingaku. Aku akan berpura-pura tidak melihat sikap kasar ibumu. Aku akan berpura-pura tidak mendengar semua perkataan ibumu. Aku hanya melihat sikapmu dan mendengar perkataanmu. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan? Sepenuhnya aku akan mengikuti perkataanmu!" ujar Nissa ramah dan tenang.


Agam diam membisu, bibirnya kelu seolah tak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya. Nissa menatap lekat Agam, dia menunggu jawaban yang sudah lama ditunggu oleh Tika dan keluarganya. Sudah waktunya Agam bicara, bukan waktunya Agam untuk diam. Ibunda Agam menyikut lengannya, seolah berharap Agam bicara dan mengatakan segalanya.


"Agam!" panggil Nissa ramah, dia melihat Agam yang masih diam bimbang dengan keputusannya.


"Aku tidak mungkin membawa Hana dan Hanif. Mereka hidup Tika dan hidupku. Namun tidak mengikuti perkataan bunda, hanya akan menambah masalah baru dan berkepanjangan. Tolong panggil mereka, lebih baik aku bertanya pada mereka. Siapa diantara aku dan Tika yang mereka pilih? Setidaknya siapa yang akan ikut denganku pulang?" ujar Agam lirih, Nissa mengangguk pelan. Ibunda Agam langsung memeluk Agam. Dia bahagia mendengar perkataan Agam. Nissa berdiri hendak memanggil Hana dan Hanif.

__ADS_1


"Tunggu bunda tetaplah duduk, tidak perlu memanggil mereka!" ujar Tika tegas, sontak Agam mendongak melihat Tika. Nissa mengangguk lalu duduk kembali di depan Agam.


"Apa maksudmu? Kami berhak bertemu mereka!" ujar ibunda Agam emosi. Agam diam menunduk tanpa berani menatap Tika. Nissa menggelengkan kepala tak percaya. Melihat sikap ibunda Agam yang keras dan kasar.


Tika berdiri tepat di depan Agam dan kedua orang tuanya. Tak ada amarah yang terlihat dari sikap dan nada bicara Tika. Dia tetap tenang, setelah dua tahun akhirnya Agam bicara. Sesuatu yang selalu ditunggu Tika.


Lama Tika menatap Agam, tak ada suara yang terdengar. Suasana tiba-tiba hening tanpa suara. Semua larut dalam angan masing-masing. Malam yang gelap terasa semakin sunyi dan senyap. Tiba-tiba terdengar langkah kecil Hana dan Hanif. Mereka berlari memeluk kaki Tika. Suara mobil Tika terdengar oleh mereka. Seketika mereka berlari menemui Tika.


"Sayang, kemarilah ini papa dan nenek!" ujar ibunda Agam, Hana dan Hanif menggeleng. Mereka memeluk kaki Tika sangat erat. Dengan lembut Tika mengusap kepala kedua buah hatinya. Seakan ingin memberikan kekuatan pada kedua buah hatinya. Tika menunduk mencium puncak kepala Hana dan Hanif bergantian. Meluapkan kerinduan pada kedua buah hatinya.


"Abdillah Abqari Agam, tidak perlu kamu meminta mereka memilih. Usia mereka masih terlalu muda. Hati mereka terlalu rapuh, bahkan tulang mereka belum mampu menopang berat tubuhnya. Biarkan aku yang memilih, hati dan tulangku sudah hancur. Jadi sekali lagi hancur, tidak akan terlalu berimbas terlalu besar!" ujar Tika lirih, Agam hanya diam membisu. Terdengar suara napas panjang Tika. Dia memegang tubuh Hana dan Hanif sangat erat.


"Tika sayang, apa kamu yakin?" ujar Nissa, Tika mengangguk pelan.


"Bawalah mereka berdua bersamamu. Jangan minta mereka memilih. Selamanya kita orang tuanya, tidak akan pernah aku biarkan Hana dan Hanif memilih. Satu hal lagi, Hana dan Hanif mungkin dua nama. Namun sesungguhnya mereka satu hati dan jiwa. Mereka terlahir dari cinta yang pernah ada diantara kita. Jangan pernah berpikir memisahkan mereka, jika tidak kamu akan kehilangan keduanya!" tutur Tika, lalu jatuh terduduk di depan kedua buah hatinya.

__ADS_1


Tika memeluk Hana dan Hanif erat, menenggelamkan dalam dekapan hangatnya. Pelukan yang selama ini melindungi dan menjaga mereka. Tika mencium Hana dan Hanif bergantian. Mengusap wajah Hana dan Hanif yang sedang menangis. Tika mencium air mata Hana dan Hanif.


"Maafkan mama sayang, maaf!"


__ADS_2