
"Seandainya mas Agam berharap akan hubungan ini. Tidak perlu aku menunggu selama 2 tahun sikap tegasnya. Mungkin membuat Hana dan Hanif tumbuh jauh dari mas Agam salah. Namun membiarkan mereka melihat dan mendengar aku dihina dan disepelekan. Itu jauh lebih salah. Bertahan ketika terus tersakiti aku mampu, tapi bertahan dengan terus mendengar mereka menghina kalian. Jujur aku tidak sanggup. Bukan mereka yang membesarkanku, bukan mereka yang ada dalam sedih dan sakitku. Sangat tidak pantas, bila aku diam menerima sikap mereka!" ujar Tika, Nissa diam melihat amarah yang coba ditahan oleh Tika.
"Meski demi Hana dan Hanif!" ujar Dirga dingin, Tika dan Nissa seketika menoleh. Tika dan Hana melihat Dirga berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.
Entah sejak kapan Dirga berada di samping mereka? Mungkin saat Tika dan Nissa sedang fokus melihat ke arah Agam dan Zalwa. Namun kenyataannya sekarang. Dirga mendengar pembicaraan mereka berdua. Dirga mungkin salah telah mencuri dengar pembicaraan Tika dan Nissa. Namun terlihat dari cara bicara Dirga. Dia seakan menjadi orang yang setuju bila Tika kembali pada Agam. Dirga tidak ingin memanfaatkan kerenggangan hubungan diantara Tika dan Agam.
"Kak Dirga!" ujar Tika lirih, Dirga mengangguk pelan seraya mengutas senyum. Dia mengangguk ke arah Tika dan Nissa bergantian.
Sengaja Dirga datang untuk sekadar berpamitan. Dia akan kembali ke negaranya sedikit lebih lama. Dirga datang untuk menepati janjinya pada Hana. Sebaliknya Hanif yang melihat kedatangan Dirga. Seketika tersenyum sumringah. Ada rasa bahagia yang teramat di hati Hanif. Rasa bahagia yang jelas terlihat dari raut wajah Hanif. Entah pesona apa yang dimiliki Dirga? Sehingga Hanif begitu mendambakan kedatangan Dirga.
"Om Dirga!" ujar Hanif lemah. Kedua tangannya menjulur ke arah Dirga. Seolah meminta Dirga menggendongnya. Sontak Dirga mengangkat tubuh mungil Hanif. Sang pangeran yang memikat hati Dirga sejak pertama kali mereka bertemu.
Nissa merasa heran melihat sikap hangat Hanif pada Dirga. Kedekatan yang terjalin tanpa ada yang meminta. Nissa melihat ke arah belakang Dirga. Terlihat salah satu asisten Dirga menggendong boneka Teddy Bear berukuran jumbo. Nissa mengutas senyum seraya mengangguk. Kini dia mengerti alasan kedatangan Dirga ke rumah sakit. Ketulusan Dirga jelas terlihat nyata ada untuk Hana dan Hanif.
"Hanif tampan, sudah lebih baik!" ujar Dirga, Hanif mengangguk pelan dalam gendongan Dirga. Kedua tangannya mengalung erat di leher Dirga. Hanif menyandarkan kepalanya di bahu Dirga. Hanif seakan nyaman berlindung dalam dekapan Dirga.
Tika dan Nissa terdiam melihat kedekatan yang tak terduga. Sikap dingin Tika menurun pada Hanif. Jadi sangat tidak mungkin Hanif bergantung pada Dirga. Namun semua terbantahkan, ketika kedua mata Tika dan Nissa melihat sikap manja Hanif pada Dirga. Dirga mampu meluluhkan hati Hanif dengan ketulusannya. Hati yang tak pernah bisa dimiliki oleh Agam, ayah kandung Hanif sendiri.
__ADS_1
Tak jauh dari mereka, Agam menghentikan langkah kakinya. Dia melihat sikap manja Hanif pada Dirga. Sikap yang sangat dirindukan Agam sebagai seorang ayah. Zalwa terkesima melihat Dirga yang begitu dingin dan tak berhati. Terlihat hangat saat menggendong Hanif. Tak terlihat amarah yang selalu terpancar nyata di wajahnya. Sedangkan ibunda Agam, menjadi satu-satunya orang yang merasa bahagia dengan kehadiran Dirga. Sebab dia memiliki alasan untuk menghancurkan Tika.
"Tika, kamu belum menjawab pertanyaanku. Seandainya kamu bertahan demi kebahagiaan Hanif dan Hana!" ujar Dirga tegas, Tika terdiam lalu menggeleng. Terdengar suara helaan napas Dirga. Nissa mengamati perubahan raut wajah Dirga.
Namun Dirga tulus dengan perkataannya. Tak bisa Nissa mengatakan jika Dirga tidak tulus. Namun kenyataan Dirga tak memiliki niat apapun pada Tika. Meski dia sudah mengetahui, seberapa besar dan kuat cinta Dirga pada Tika. Namun sorot mata Dirga menunjukkan. Dirga tidak ingin memiliki Tika, tapi kebahagian Tika seutuhnya.
"Seandainya bertahan setelah pengorbanan. Semudah seperti kak Dirga bertanya padaku. Tentu aku akan bertahan demi Hana dan Hanif. Meski hubungan yang aku jalani, layaknya perahu yang terombang-ambing dihantam badai. Hubungan yang dipenuhi keraguan, tanpa pernah ada pembelaan dan rasa pengertian!" ujar Tika tegas, Dirga menatap lekat wanita yang mengisi hatinya.
Meski cintanya besar pada Tika. Namun tak secuil Dirga ingin bersama Tika. Semua demi Hana dan Hanif agar bisa hidup dalam keluarga yang utuh. Namun mendengar keras hati Tika. Seolah semua itu takkan pernah terjadi.
"Dalam cinta akan selalu ada pengorbanan. Meski cinta itu mengharapkan kebahagian. Mungkin bertahan dalam hubungan yang gamang memang sangatlah sulit. Namun mencoba tetap bersama demi dua buah cinta yang kalian miliki. Aku rasa sudah bisa menjadikanmu kuat melawan keraguan itu. Kenapa tidak sekali saja kamu melawan semua itu? Terjang badai yang menghantam perahu kalian. Buat perahu kalian yang berkuasa atas badai itu!" ujar Dirga bijak, Nissa mengangguk mengerti.
"Keraguan yang kak Dirga tanyakan. Bukan keraguan akan besar cinta diantara kami. Atau keraguan akan perjuangan mendapatkan kebahagian. Namun keraguan yang kukatakan, tak lain keraguan akan kedua orang tuaku yang tak pernah salah. Kegamangan yang kubicarakan, bukan kegamangan yang sederhana dan mudah dihadapi. Namun kegamangan akan sikap suamiku yang memilih membelaku atau tetap menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya!" ujar Tika, Dirga diam membisu.
Kini Dirga menyadari seberapa dalam luka hati Tika. Seandainya bertahan terluka demi cinta yang kelak akan ada bahagia. Mungkin Tika akan melakukannya tanpa banyak bicara, tapi bertahan ketika tak ada lagi pengertian. Semua seolah berharap hujan turun di tengah teriknya matahari. Mungkin akan terjadi, tapi tidak akan tahu kapan semua terwujud? Artinya bertahan tanpa mengenal batas waktu, tapi luka yang ada akan semakin bernanah dan menyakitkan.
"Sebaliknya Tika, seandainya aku bertanya pada tuan Dirga tentang dilemaku. Akankah dia bisa menjawabnya. Ketika satu sisi ingin bertahan dengan istri tercinta, tapi melukai hati orang tua. Di sisi lain tak bersama, tapi tak menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Layaknya diriku yang terus berada di tengah jurang yang tercipta diantara ibu dan dirimu!" ujar Agam lirih, sontak Tika dan Dirga menoleh bersamaan.
__ADS_1
Nissa seketika berdiri, dia meminta Hana dari gendongan Agam. Nissa juga membawa Hanif menjauh dari pembicaraan yang semakin serius. Ibunda Agam tak bersedia ikut dengan Nissa. Dia ingin tetap berada di samping Agam. Bahkan Zalwa di tahan olehnya. Agar terus berada di dekat Agam. Tika hanya tersenyum sinis melihat sikap ibunda Agam.
"Inilah kegamangan yang aku katakan. Kini kak Dirga mendengar sendiri dari mulut mas Agam. Tanyakan pada hatimu, haruskah aku bertahan dengan suami yang tak bisa mengambil ketegasan. Seandainya dia menjauh dariku, tapi membuat bahagia orang tuanya. Mungkin aku bisa menunggunya. Namun dia tetap berada di titik nyamannya. Berpikir dia benar dengan sikapnya, tidak memilih dan menyakiti salah satu diantara kami!" tutur Tika, Agam menatap terkejut ke arah Tika.
Akhirnya Agam mengerti kesalahan yang takkan pernah Tika maafkan. Dengan sikap tak tegasnya, Tika tak lagi bisa berharap hubungan yang baik diantara mereka. Sungguh kenyataan yang tak pernah dibayangkan Agam.
"Kak Dirga, jawablah pertanyaan mas Agam. Setidaknya aku ingin mendengar, pemikiran seorang suami. Bila berada di posisi mas Agam!" ujar Tika, Dirga mengangguk pelan.
"Sebenarnya aku tidak pantas menjawab. Sebab aku belum pernah berada diposisi Agam. Satu hal lagi aku belum menikah, tapi aku akan memilih sebagai seorang laki-laki!" ujar Dirga, lalu menghela napas panjang.
"Katakanlah!" ujar Agam dingin.
"Aku akan bertahan bersama Tika, tanpa aku menyakiti orang tuaku. Jika memang orang tuaku merasa terhina dengan harta yang dimiliki keluarga Tika. Maka dengan tegas, aku akan memutus hubungan Tika dengan keluarganya. Tidak akan aku bekerja sama dengan perusahaan keluarga Anggara. Seandainya aku harus miskin, aku pasti bisa melaluinya. Sebab harta yang terbaik bukan kekayaan, tapi keutuhan keluarga yang penuh dengan cinta. Setidaknya dengan begitu, tidak akan orang tuaku mencari kesalahan keluarga Tika. Sebab tak ada harta kekuarga Anggara yang menyentuh keluarga kecilku!" ujar Dirga tegas, Tika menoleh pada Agam.
"Dia berjuang demi harga diri dengan tidak membuatku mendengar hinaan ibumu pada keluargaku. Sebaliknya kamu diam, seakan ibumu benar pada pemikirannya. Seandainya dulu kamu memutuskan hubunganku dengan keluargaku. Sepenuhnya kamu berhak atas diriku, tapi sekarang aku tidak akan memilihmu dan meninggalkan keluargaku. Sebab bukan kamu yang ada mendukungku dalam terpurukku!" tutur Tika dingin, lalu berjalan melewati Agam. Dirga mengikuti langkah kaki Tika. Dia berjalan jauh di belakang Tika.
"Tika tidak menganggapmu, lebih baik kamu menikah dengan Zalwa!" ujar ibunda Agam, Tika tersenyum sinis mendengar perkataan ibunda Agam.
__ADS_1
"Tidak akan aku menikah dengan Zalwa!" sahut Agam.