Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Tanpa terasa usia si kembar menginjak 5 tahun. Selama dua tahun terakhir, Agam dan Tika memilih hidup terpisah. Tanpa ada kata bersatu atau berakhir. Agam tidak pernah berpikir ingin meninggalkan Tika. Sebaliknya Tika tidak ingin mengakhiri pernikahan. Ketika sang imam belum memutuskan. Keduanya teguh memeganng prinsip yang mereka yakini.


Tika membesarkan kedua buah hatinya dengan penuh cinta. Sedangkan Agam melakukan kewajiban sebagai seorang ayah. Namun sebagai seorang suami, Agam tak mampu berbuat apa-apa? Tika menerima nafkah lahir bagi kedua buah hatinya. Sebaliknya nafkah batin tak lagi Tika terima bagi dirinya sendiri. Tika tidak ingin tersentuh atau menyentuh Agam. Keduanya hidup dalam persimpangan yang seolah takkan pernah bersatu. Hanya Hana dan Hanif alasan keduanya saling menyapa.


Pagi ini Tika mengantar sang buah hati menuju TK terbaik di kotanya. Si kembar mulai sekolah, mengenal beberapa teman. Hana dan Hanif layaknya anak yang lain. Merasa gembira dan antusias saat mereka pergi ke sekolah. Meski hanya akan ada Tika yang mengantar mereka sekolah di hari pertamanya. Entah kenapa Hana dan Hanif tidak pernah bertanya tentang Agam pada Tika? Sebaliknya saat Agam datang, mereka tidak pernah bercerita tentang Tika. Sebuah pengertian yang tak seharusnya dimengerti anak seusia mereka.


"Papa!" teriak Hanna saat melihat Agam berdiri bersadar di samping mobilnya. Hanna berlari menghampiri Agam, sesaat setelah dia turun dari mobil Tika. Sedangkan Hanif tetap berdiri disamping Tika. Terlihat Agam berjongkok merentangkan tangan menanti pelukan sang putri tercinta. Agam memeluk sang putri dengan penuh kehangatan. Sebaliknya ada rasa tersisih, saat dia melihat tatapan sang putra Hanif. Agam merasa Hanif menjauh darinya. Sikap diam sang putra yang menyimpan duka yang mendalam.


Tika sengaja menghubungi Agam, mengatakan pada Agam jika hari ini Hanna dan Hanif akan sekolah. Dengan antusias Agam datang ke sekolah yang dikatakan Tika. Sebab itu hari ini Agam berdiri menunggu kedua buah hatinya datang. Tika tidak pernah membatasi pertemuan Agam dengan kedua putra mereka. Seandainya Hanna dan Hanif ingin tinggal bersama Agam. Tika tidak keberatan, sepenuhnya Tika sadar jika mereka butuh sosok ayah. Layaknya dirinya dulu yang selalu merindukan kasih sayang seorang mama.


Tika melihat senyum bahagia Hanna, ketika Agam menggendongnya. Kebahagian yang mulai menghilang dari waja kedua buah hatinya. Tika berjongkok di depan Hanif yang terus menatap ke arah Agam, tapi tidak berpikir ingin menemui Agam. Tika memegang kedua pundak Hanif. Dengan penuh kehangatan Tika memeluk Hanif.

__ADS_1


"Hanif sayang, papa sudah datang. Kenapa Hanif tidak ingin memeluk papa? Bukankah Hanifa merindukan papa? Hanif tidak ingin mencium tangan papa? Hari ini Hanif sekolah, kelak Hanif akan menjadi anak yang pintar. Sekarang peluk papa dan minta doa dari papa. Agar Hanif selalu menjadi anak yang pintar dan berbakti!" tutur Hana, Hanif diam sejenak lalu menggeleng. Tika terkejut melihat jawaban Hanif. Mungkin Hanif hanya anak berusia 5 tahun, tapi perpisahan kedua orang tuanya membuatnya berpikir sedikit lebih dewasa.


Hanif selalu menolak bila Tika mengajaknya tidur bersama. Hanif selalu mengatakan ingin mandiri. Dia tidak ingin menyusahkan Tika. Sebab kelak dia yang akan melindungi Tika dan Hanna. Pemikiran sederhana anak usia 5 tahun. Tika selalu menangis mendengar pemikiran Hanif. Kenyataan yang membuatnya sadar. Perpisahan dirinya dengan Agam telah menghancurkan masa anak-anak Hanif. Hidup Hanif yang seharusnya dipenuhi keceriaan. Malah harus dilewati dengan sebuah pengertian yang tak seharusnya ada.


"Kenapa?" sahut Tika lirih, Hanif menunjuk ke arah mobil Agam. Tika menoleh ke arah mobil Agam. Dia melihat ada dua orang di dalam mobil Agam. Seketika Tika terdiam, lagi dan lagi dia melukai hati sang putra. Kepahitan yang dia alami. Kini nyata dirasakan sang putra.


"Hanif, mungkin papa sedang ada urusan. Jadi papa datang bersama mereka. Hanif tidak boleh marah pada papa. Demi datang menemui Hanif, papa meluangkan waktu untuk Hanif. Sekarang peluk papa, lalu Hanif masuk ke dalam kelas!" ujar Tika membujuk Hanif, tapi hanya gelengan kepala yang diperlihatkan Hanif. Mengatakan sesuatu yang nyata tak benar adanya. Tika tidak ingin menyakiti Hanif, tapi melihat dia menjauh dari Agam. Selamanya Agam ayah kandung Hanif yang harus dihormati.


"Maafkan mama sayang, maafkan mama!" batin Tika pilu sembari mencium kepala Hanif. Air mata Tika tak lagi bisa ditahan. Cadar yang dikenakannya telah basah oleh air matanya. Tika berjalan mendekat pada Agam, dia menggandeng tangan mungil Hanif. Jika bukan Agam yang datang. Tika siap datang selama kedua putranya mendapatkan pelukan sang papa.


Agam memeluk dan mencium Hanif dengan penuh cinta dan kehangatan. Tak ada lagi jarak yang membuat mereka menjauh. Setelah Hanna dan Hanif bertemu Agam. Tika meminta guru mereka membawanya masuk. Setelah melihat Hanna dan Hanif masuk. Tika langsung berbalik menuju mobilnya. Tika tidak menyapa atau berpamitan pada Agam.

__ADS_1


"Tunggu Tika, ada yang ingin aku tanyakan!" ujar Agam lantang. Tika menoleh menatap Agam. Dia diam menanti perkataan Agam, Tika tidak mengangguk atau menyahuti perkataan Agam. Hanya diam satu-satunya cara yang dilakukan Tika. Saat Tika menoleh, tanpa sengaja dia melihat ke dalam mobil Agam. Dua orang yang seolah bahagia akan kehancuran dua buah hatinya.


"Tika, aku hanya ingin meminta izinmu. Aku ingin menjemput Hanna dan Hanif. Aku berniat mengajak mereka jalan-jalan. Itupun bila kamu mengizinkan. Aku tidak akan membawa mereka pergi tanpa izinmu!" ujar Agam ramah, Tika menggeleng seraya tersenyum sinis di balik cadarnya. Tika menyesalkan pertanyaan Agam. Seolah Agam ingin menunjukkan, betapa keras hati Tika. Sehingga Agam butuh izinnya bertemu dengan Hanna dan Hanif.


"Tidak ada yang bisa melarangmu bertemu atau membawa mereka pergi. Seperti tidak ada yang bisa menghapus darahmu dalam diri mereka. Dengan atau tanpa izinku, kamu berhak akan mereka. Bukan hanya darahmu yang mengalir dalam tubuh mereka. Cintamu yang membuat mereka terlahir. Namun satu hal yang aku pinta darimu. Jangan sakiti hati mereka, dengan datang bersama mereka. Sudah cukup mereka mengetahui, mama dan papanya tidak bersama. Jangan hancurkan hati mereka dengan kehadirannya!" ujar Tika, lalu memberikan tanda pengenal milik Hanna pada Agam. Seketika Agam menunduk, setelah mendengar perkataan Tika.


"Tanda pengenal Hanna, aku berikan padamu. Tidak akan ada yang menghalangimu menemui mereka!" ujar Tika, lalu berbalik menjauh dari Agam.


"Apa Hanif melihatnya?" tanya Agam lirih hampir tidak terdengar.


"Hanif mungkin anak berusia 5 tahun, tapi mereka membuatnya tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia bisa melihat air mataku, tapi kamu tidak akan bisa melihat air matanya. Dialah putra yang terlahir dari rahimku, bukti cinta yang pernah ada diantara kita!"

__ADS_1


__ADS_2