Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Achmad Rayhan Sanjaya


__ADS_3

"Kartika Putri Anggara!" sapa seorang laki-laki, sontak saja Tika menoleh. Terlihat seorang laki-laki berdiri di belakang Tika. Dia sedang mendorong troli sama seperti Tika. Kebetulan hari ini Tika pergi ke supermarket. Tika membeli keperluan rumah tangganya. Sekaligus kebutuhan rumah singgah yang dikelolanya.


"Siapa? Apa kita saling mengenal?" ujar Tika heran, pria itu membuka jaket hodienya. Terlihat jelas wajah sang pria, dia tersemyum semania mungkin ke arah Tika.


"Masih lupa denganku, aku teman masa kecilmu. Kita dulu sekolah di TK dan SD yang sama. Saat SMP aku pindah ke luar kota!" ujarnya ramah, Tika memijit pelipisnya pelan. Berusaha mengingat pria di depannya.


" Achmad Rayhan Sanjaya!" ujar Tika lantang, pria itu manggut-manggut mengiyakan. Rayhan mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan, dengan sigap Tika menangkupkan kedua tangannya. Seolah mengatakan bahwa dia tidak bisa menyentuh yang bukan mukhrim.


"Maaf, aku tidak tahu. Kamu sekarang banyak berubah. Aku hampir saja tidak mengenalimu. Kenapa kamu bisa ada di kota ini?" cecar Rayhan, Tika menggeleng lemah. Tika tidak percaya, jika Rayhan masih sama seperti dulu. Dia tetap cerewet dan ingin tahu segalanya.


Rayhan teman kecil Tika, rumah mereka dulu bersebelahan. Kepindahan Rayhan keluar kota, memisahkan dua sahabat yang saling membantu. Tika sejak kecil pribadi yang acuh, dia berteman dengan laki-laki. Sikapnya berubah semenjak Nissa menjadi bundanya. Saat itu Tika mengerti arti seorang wanita. Rayhan dan Tika tidak mudah dipisahkan. Mereka dekat ibarat nadi dan darah. Selama ini Tika melupakan Rayhan, sebab tak mungkin lagi baginya mengenal laki-laki lain selain suaminya. Berbeda dengan Rayhan yang selalu mengingat Tika.


"Kamu tetap Rayhan yang sama. Banyak bicara dan selalu ingin tahu!" sahut Tika dingin.


"Kamu banyak berubah, Tika yang pendiam dan seolah ingin sembunyi dari dunia ini!" ujar Rayhan, Tika menunduk malu. Akhirnya Tika dan Rayhan menyelesaikan belanja masing-masing. Mereka memutuskan mencari tempat yang lebih tenang untuk sekadar berbicara.


Tika dan Rayhan memutuskan mencari cafe yang tak jauh dari supermarket. Kebetulan ada cafe yang dilengkapi tempat bermain anak-anak. Tika tidak pernah keluar tanpa kedua buah hatinya. Tentu saja Zahro setia menemani Tika, bila dia tidak sedang kuliah. Rayhan sempat terkejut saat mengetahui. Jika Tika telah menikah. Ada rasa kecewa dihati Rayhan, tapi dengan santai Rayhan menutupinya.


Tika dan Rayhan asyik berbicara, mereka mengingat saat mereka masih anak-anak. Rayhan yang ceria dan Tika yang acuh. Seolah menjadi paket yang kompak. Tanpa Tika sadari Rayhan mampu mengembalikan tawa yang telah lama menghilang. Rayhan membuat Tika tersenyum, bahkan tertawa keras. Kartika Putri Anggara kembali menjadi dirinya sendiri.


Rayhan memang pribadi yang mudah bergaul. Dia tipe orang yang hangat dan humble. Jadi sangat mudah untuknya mendapatkan sahabat. Apalagi menaklukan sikap dingin Tika. Wanita yang sejak kecil tersimpan rapat dalam hati seorang Rayhan. Pertemuan Tika dan Rayhan sedikit membuka kenangan masa lalu.

__ADS_1


"Tika, bukankah itu Tika! Dengan siapa dia berbicara? Terlihat akrab dan mesra!" ujar Salwa sembari menunjuk ke arah Tika. seketika Agam mendongak melihat ke arah yang ditunjuk Salwa. Tatapan Agam tajam, dia mengunci sosok Tika yang ada di depannya.


Tawa Tika terdengar nyaring di telingan Agam. Meski sesungguhnya Agam hanya melihat tawa Tika yang tak pernah mampu dia ciptakan. Agam melihat sosok laki-laki di depan Tika. Tak pernah sekalipun dia mengenal laki-laki itu. Semenjak menikah dengannya, Tika tak pernah bergaul dengan siapapun? Tika membatasi ruang pertemanannya. Hanya menulis yang menjadi dunia baru Tika. Teman dikala susah dan senangnya.


"Tika, sedang apa kamu di sini? Tidak seharusnya kamu bertemu laki-laki. Ketika suami bekerja, apa ini yang dinamakan istri sholeha?" ujar Salwa sinis, Tika menoleh seraya tersenyum. Dia melihat Agam berdiri berjejer dengan Salwa. Rayhan menatap serius ke arah Agam. Sebaliknya Tika hanya diam menanggapi perkataan Salwa.


"Tika, dia siapa?" bisik Rayhan, Tika mengedipkan mata isyarat meminta Rayhan diam. Agam menatap ke arah Tika, dia seakan meminta Tika menjelaskan semuanya.


"Sayang!" sapa mas Agam, setelah melihat Tika diam saja mendengarkan perkataan Salwa. Dengan santai Tika berdiri, dia mencium tangan Agam. Rayhan melihat perbedaan sikap Tika pada Agam dan terhadapnya. Rayhan mulai memahami, siapa sebenarnya laki-laki di depannya?


"Mas Agam dan mbak Salwa ingin makan siang. Kenapa kita tidak satu meja saja? Supaya lebih akrab, tapi jika kalian ingin lebih privasi. Aku tidak keberatan!" ujar Tika santai, Agam melihat ke arah Tika. Raut wajah Tika seolah tanpa beban. Dia melihat sosok Tika yang berbeda.


"Sayang, apa maksud perkataanmu? Seolah kamu menganggap kedatangan kami ke restoran ini, sengaja untuk makan berdua!" ujar Agam dingin, Tika tersenyum tipis.


"Kenalkan saya, Rayhan sahabat kecil Tika. Senang bertemu dengan anda!" ujar Rayhan dengan seutas senyum. Agam menerima uluran tangan Rayhan, begitu pula dengan Salwa yang berjabat tangan dengan Rayhan.


"Rayhan, dia suamiku. Sedangkan disampingnya Salwa Ainun Azizah. Salah satu pegawai mas Agam, dia juga tinggal di rumah kami. Jika kamu ada waktu, mampirlah ke rumah kami!" ujar Tika, Agam tertegun mendengar tiap kata yang keluar dari bibir Tika. Rayhan mengangguk mendengar perkataan Tika.


"Papa!" teriak si kembar bersama, Agam seketika menoleh dengan raut wajah terkejut. Zahro datang bersama si kembar. Terlihat mereka berlari menghampiri Agam, dengan wajah datar Agam menerima pelukan kedua buah hatinya.


"Mbak Tika aku lelah, mereka berlari kesana kemari! Seperti tidak ada lelahnya!" gerutu Zahro, si kembar tersenyum mendengar Zahro mengadu pada Tika. Rayhan memberikan minuman pada Zahro.

__ADS_1


"Terima kasih mas Rayhan tampan!" ujar Zahro dengan centil, Rayhan membalas dengan anggukan kepala. Agam melihat interaksi yang berbeda. Salwa diam mematung teracuhkan, seakan dirinya tak pernah ada.


"Sama-sama mbk Zahro!" sahut Rayhan, Tika merangkul tubuh Zahro. Agam menggendong kedua buah hatinya dengan perasaan bimbang.


"Siapa dia yang mampu membuatmu tertawa? Siapa dia yang dengan mudah masuk ke dalam keluarga kita? Siapa dia?" batin Agam dalam diam dan bimbangnya.


"Mama pulang, aku ingin tidur!" ujar sang kakak, Tika mengangguk pelan.


"Rayhan, senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa bertemu kembali!" pamit Tika, Zahro mengutas senyum memandang Rayhan.


"Baiklah, aku pamit terlebih dahulu!" ujar Rayhan, Tika mengangguk. Rayhan memeluk si kembar, melihat Rayhan akan pergi. Si kembar memaksa turun dari gendongan Agam. Lagi dan lagi Agam melihat keakraban yang begitu mudah terjalin.


"Mas Agam, aku pamit pulang. Kalian datang ingin makan siang bukan. Silahkan diteruskan, aku tidak keberatan. Jangan pernah berpikir dia siapa? Sebab sampai detik ini Rayhan hanya teman untukku. Jika status itu berubah, semua karena dirimu!" bisik Tika sesaat setelah mencium punggung tangan Agama.


"Mbak Salwa, sebelum anda menunjuk ke arah saya. Sebaiknya anda melihat ke arah diri sendiri. Jika mbak bisa berpikir salah, karena aku makan siang dengan laki-laki lain. Meski aku datang bersama kedua buah hatiku, apalagi itu sebuah kebetulan. Lalu apakah benar? Jika dengan kedua mataku, aku melihatmu makan berdua dengan suamiku. Jangan pernah berpikir menyalahkan diriku, sebelum kamu sendiri benar. Aku bukan wanita murahan, akan kugenggam tangan laki-laki selain mas Agam. Jika tanganku sudah melepaskan tangan mas Agam!"


"Sayang!" ujar Agam sembari menahan tangan Tika.


"Lepaskan mas, aku harus membawa si kembar pulang. Hari ini kamu masih berhak menahan tanganku, tapi suatu hari kamu akan kehilangan hak untuk sekadar melihat tanganku!" ujar Tika dingin, Agam membisu melihat sikap dingin Tika. Agam melihat Tika pergi dengan hati penuh kegelisahan.


"Aku tidak akan membenarkan diriku benar dengan tertawa bersama laki-laki lain. Meski aku bertemu dengannya tanpa sengaja dan tak melupakan statusku sebagai seorang istri dan ibu. Namun aku tak pernah menyangka, jika diammu memberiku jawaban. Siapa dia dihatimu? Aku mengenalmu, bukan satu atau dua tahun. Aku mengenalmu melebihi dirimu mengenalku. Aku melihatmu kecewa, tapi aku melihat kelegaan dari kedua matamu. Keraguanmu padaku seolah pembenaran akan pertemuanmu dengannya. Maaf jika aku tak sehangat dulu, aku mulai merasa lelah. Disaat hatimu tak lagi percaya pada ketulusanku!" batin Tika sembari terus berjalan menjauh dari Agam. Meninggalkan dua insan yang mulai merajut asa, diatas pondasi rumah tangga yang berdiri kokoh.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2