Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Baby Hanif dan Hanna


__ADS_3

Sinar matahari tidak lagi malu menampakkan sinarnya. Panasnya sudah terasa menyebar ke seluruh penjuru dunia. Pagi mulai beranjak siang, kicauan burung tak lagi terdengar. Langit kuning berubah biru tanpa sedikitpun awan.


Setelah 11 jam tak sadarkan diri. Akhirnya aku tersadar, menghilangkan kecemasan orang-orang yang menyayangiku. Sebenarnya aku tersadar, ketika aku merasa sebuah sentuhan menempel di pipiku. Sentuhan hangat yang menjalar di sekujur tubuhku. Kehangatan dari seorang ibu yang lama aku rindukan.


Orang pertama yang aku lihat saat aku tersadar, tidak lain bunda. Wanita kuat yang selalu ada dalam setiap dukaku. Mas Agam tidak terlihat, mungkin dia sedang keluar sebentar.


"Nissa, kondisi Tika mulai stabil. Jika memungkin malam ini, dia bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa. Namun untuk bayinya, masih harus tetap di ruang rawat bayi."


"Terima kasih dokter Rina, berkat bantuanmu kondisi Tika mulai membaik. Aku tidak bisa membalas kebaikanmu!" ujar bunda Nissa, dokter Rina mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Nissa, aku hanya perantara. Semua sudah Kehendak-NYA. Namun ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Resiko yang pernah aku katakan benar-benar terjadi. Kemungkinan Tika akan susah, bahkan tidak mungkin Tika memiliki keturunan lagi."


"Dokter Rina, aku tidak menginginkan apa-apa lagi? Selain kesembuhan dari Tika. Cukup sudah aku melihat Tika terluka, aku tidak ingin melihatnya tersiksa lagi. Dua buah hati kami, sudah lebih dari cukup. Aku tidak ingin menuntut apapun dari Tika. Pengorbanan Tika sudah terlalu besar!"


"Pak Agam, aku salut pada anda. Jika memang anda menerima kondisi Tika sekarang. Semua akan jauh lebih baik untuk rumah tangga kalian."


"Nissa, aku harus segera kembali ke kota. Besok pagi aku ada operasi. Kondisi Tika akan dipantau oleh dokter Fia. Dia akan selalu berkonsultasi padaku. Aku akan memantau dari jauh. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja!" tutur dokter Rina, bunda Nissa mengangguk pelan. Mereka saling berpelukan.


"Terima kasih!" sahut bunda lirih. Tangan dingin dokter Rina, telah membantu persalinanku. Aku dan kedua buah hatiku telah selamat dari maut. Sahabat-sahabat bunda menjadi penolong di kala susahku.


Bunda menatap punggung dokter Rina yang semakin menjauh. Hanya rasa terima kasih yang mampu bunda ucapkan pada dokter Rina. Dokter Steven sahabat papa dan bunda, sudah dua jam yang lalu pergi. Dia masih banyak urusan. Melihat keadaanku yang membaik, dokter Steven memutuskan pulang lebih cepat.


Tepat pukul 19.00 wib, aku sudah dipindahkan menuju ruang rawat biasa. Bunda meminta ruang VVIP khusus. Sebab bunda mengingkan ruangan yang sedikit pribadi. Agar aku dan kedua bayiku lebih nyaman. Bunda ingin merawatku, sampai aku benar-benar pulih. Bunda tidak ingin meninggalkanku sendirian.

__ADS_1


"Tika, kondisimu belum pulih sepenuhnya. Jangan terlalu banyak bergerak. Jika butuh sesuatu katakan saja, biar bunda yang mengambilkan!"


"Bunda juga lelah, sudah dua hari bunda menjagaku. Bunda juga harus istirahat, aku tidak ingin bunda sakit. Cukup aku yang menyusahkan bunda, aku tidak ingin bunda kelelahan." ujarku, bunda menggeleng lemah seraya tersenyum.


"Tika, lelah bunda hanya ketika bunda melihatmu sakit. Bunda akan selalu kuat, demi kalian buah hatiku. Jangan takut bunda sakit, bunda akan sehat selama melihat senyum manismu!" ujar bunda, sembari mengecup lembut keningku. Aku mengangguk pelan, kehangatan bunda kurasakan merasuk ke dalam seluruh tubuhku. Energi positif dari bunda, membuatku selalu semangat menjalani hidup.


"Mas Dimas, sudah sholat isya! Kemana Agam pergi? Kenapa kamu datang sendiri?"


"Agam, tadi berada di belakangku. Dia mengatakan akan membeli beberapa makanan untuk kita. Namun dari jauh, aku melihat kedua orang tuanya datang. Mungkin sebentar lagi mereka kemari."


"Aku pikir mereka tidak akan datang kemari, karena malu telah meragukan putriku. Namun sepertinya mereka tidak punya malu. Buktinya mereka datang kemari!"


"Sayang, bagaimanapun mereka orang tua Agam? Kakek-nenek putra-putri Tika. Kita tidak boleh melarang mereka datang. Kita hanya melihat sikap mereka pada Tika, tidak lebih!" ujar papa bijak, bunda diam tak menanggapi perkataan papa. Aku melihat jelas kemarahan bunda, entah apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diri? Aku tidak pernah melihat bunda marah pada orang lain.


"Bunda, jika kedua orang tua mas Agam melukai hatimu. Tika minta maaf, tapi jangan benci mereka dengan amarahmu. Aku tidak akan bisa memilih, dirimu atau mas Agam. Demi diriku bunda, maafkan mereka."


"Bunda, jangan pergi! Tetaplah di sini, Tika butuh bunda. Jika bunda pergi, itu artinya bunda meminta Tika memilih. Sampai kapanpun Tika tidak ingin memilih?"


"Tika, bunda harus melihat kedua buah hatimu. Jika mereka sudah siap, bunda akan membawanya kemari. Jadi bunda pergi bukan untuk memastikan itu, bukan hanya untuk menghindar dari kedua orang tuamu."


Kreeekkk


Terdengar suara pintu terbuka. Mas Agam masuk bersama kedua orang tuanya. kedua tangannya membawa makanan, yang aku yakin untuk bunda dan papa. Aku menoleh pada bunda, beliau bersiap-siap pergi. Bunda mengambil tas dan kunci mobil. Papa sempat menahan tangan bunda, tapi dengan halus bunda menepisnya.

__ADS_1


Mas Agam melihat jelas kemarahan bunda pada orang tuanya. Aku tersenyum melihat kedua orang tua mas Agam datang. Tubuhku yang masih lemah. Belum bisa duduk, sehingga aku hanya bisa berbaring melihat semua yang terjadi.


"Maaf semuanya, saya permisi menuju ruang bayi. Jika kondisi mereka baik-baik saja. Akan saya minta suster mengantarkan mereka kemari."


"Bunda!" sapaku, bunda mengangguk pelan. Aku berharap bunda tidak pergi. Aku tidak ingin sendiri di sini.


"Agam, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk mereka? Sebentar lagi mereka akan ada di tengah-tengah kalian. Buah hati yang telah kalian perjuangkan!"


"Aku dan Tika sepakat, akan meminta bunda yang memberi nama untuk kedua buah hati kami. Bunda orang yang paling berjasa. Jika tanpa bunda, Tika mungkin sudah lemah. Jika bukan bunda yang merawat mereka berdua. Mungkin kondisi mereka belum stabil. Jadi demi rasa terima kasih kami. Aku mohon bunda saja yang memberikan nama pada mereka!" ujar mas Agam tegas, bunda menggeleng lemah.


"Bunda, Tika mohon. Berikan nama terbaik untuk kedua buah hatiku. Sebagai sebuah doa bunda untuk mereka."


"Sayang, lakukanlah apa yang pinta? Berikan nama pada kedua cucu kita. Doa terbaik ada dalam nama yang baik!" ujar papa, bunda tetap menggeleng.


"Nissa, berikan nama untuk kedua cucumu. Kami telah salah menilai makna pernikahan Agam dan Tika." ujar ayah Ilham, bunda mengangguk pelan.


"Jika kalian setuju, aku ingin memberi mereka nama. Hanna Santika Ramaniya dan Hanif Arkan Khairulanam."


"Bagus!" ujar kami serempak.


Setelah semua setuju, bunda pergi menuju ruang bayi. Tak berapa lama, bunda kembali membawa si kembar padaku. Bunda tersenyum padaku, beliau mendekat padaku.


"kamu menang sayang, kamu ibu terhebat. Terima kasih telah kembali!" bisik bunda, aku tersenyum. Dua wajah mungil bayi yang telah tumbuh dalam rahim lemahku. Amanah yang tak akan pernah aku ingkari.

__ADS_1


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH


__ADS_2