Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Semenjak pulang dari rumah sakit. Sikap mas Agam berubah menjadi sangat dingin dan lebih pendiam. Memang mas Agam pribadi yang tertutup, tapi sikap diamnya kali ini berubah. Aku merasa ada yang disembuyikan darinya.


Biasanya mas Agam selalu memanjakanku, setiap kali pulang kerja. Namun hari ini berbeda, sepulang kerja mas Agam langsung masuk ke ruang kerjanya. Mas Agam seolah mengacuhkan keberadaanku. Sikap dinginnya semakin membuatku merasa aneh.


Ternyata tanpa sepengetahuanku, mas Agam bertemu dengan dokter Fia. Pertemuannya dengan dokter Fia, sedikit membuat hatinya gelisah. Mas Agam ingin menyalahkanku, tapi dimana letak kesalahanku? Mas Agam ingin bahagia dengan keputusanku, tapi memikirkan kehilangan diriku. Membuatnya frustasi seolah dunianya telah hancur. Pertemuan yang membuka rahasia yang sengaja aku tutupi. Awal kesedihan dan rasa bersalah seorang Abdillah Abqari Agam.


FLASH BACK


"Dokter Fia, bisa saya mengganggu waktu anda!" ujar Agam, dokter Fia mendongak kaget melihat Agam berdiri di depannya. Seketika dokter Fia langsung mengangguk. Kebetulan siang ini, dokter Fia ada di kantin rumah sakit.


"Silahkan pak Agam, ada yang bisa saya bantu? Kondisi Tika baik-baik saja, bukan?" tutur dokter Fia cemas, Agam menggeleng.


"Dokter Fia, tolong katakan padaku kondisi sebenarnya Tika. Kenapa aku merasa ada yang kalian sembuyikan?, aku berhak memgetahui yang sebenarnya. Apapun yang terjadi pada Tika, menjadi tanggung jawabku. Keputusan tentang buah hati kami bukan hanya ada di tangan Tika. Aku juga berhak memutuskan!" tutur Agam lirih. Seandainya dia bisa menangis, mungkin air matanya sudah jatuh. Agam seolah lemah dan takut, saat memikirkan kemungkinanan terburuk yang dialami Tika.


"Pak Agam, maafkan saya. Ada sebuah janji yang harus saya tepati. Janji seorang dokter pada pasiennya. Janji seorang sahabat yang tak mungkin saya ingkari!"


"Dokter Fia, jika itu sebuah janji. Kenapa Rizal mengetahui semuanya?, sedangkan aku ayah dari kedua bayi itu. Tidak mengetahui apa-apa?, dimana letak hati nuranimu sebagai seorang dokter!" tutur Agam. Dokter Fia kaget saat mendengar bahwa Agam mengetahui, jika Rizal tahu kondisi sebenarnya Tika.


"Maaf pak Agam, saya bingung harus menjelaskan apa pada anda? Beri saya satu alasan, agar saya bisa membela diri. Ketika Tika marah pada saya!"


"Tika istriku, yang dia kandung itu buah hati kami. Apapun yang terjadi pada mereka?, akan menjadi tanggung jawabku. Suka atau tidak suka semua keputusan ada ditangaku, bukan hanya Tika yang bisa memutuskan!" ujar Agam tegas.

__ADS_1


"Baiklah pak Agam, saya akan menjelaskan semuanya! Namun sebelumnya saya berharap anda tabah dan menghargai keputusan yang dibuat Tika. Semua keputusan yang diambilnya, demi kebahagian anda dan kedua putra yang dia kandung!"


"Katakanlah, aku sudah menyiapkan diri. Semenjak aku melihat kesakitan Tika malam itu. Hatiku sudah hancur, takkan lagi aku biarkan dia merasa sakit lagi."


"Kehamilan Tika bermasalah, ada masalah yang akan terjadi saat kelahiran si kembar."


"Masalah apa yang anda maksud?, katakan dengan jelas. Jangan membuatku cemas!"


"Mungkin saat Tika melahirkan, kita harus memilih salah satu diantara keduanya. Tika memintaku memilih buah hati kalian, jika memang kita harus memilih. Sebenarnya aku sudah meminta Tika menggugurkan kandungannya. Namun Tika menolak, dia tidak ingin menjadi pembunuh untuk anak-anaknya. Amanah yang dititipkan dalam rahimnya." tutur dokter Fia, Agam shock mendengar penjelasan dokter Fia. Dia bingung harus bersikap seperti apa?, Tika bukan pribadi yang akan mudah diubah pendiriannya.


"Apa yang dipikirkan Tika?, sampai hati dia menanggung dan menyimpan masalah sebesar ini." ujar Agam lirih, seraya menunduk. Dirinya telah kalah. Istri yang selalu ingin dia bahagiakan. Rela mengambil keputusan sebesar ini, hanya demi ego kedua orang tuanya.


"Pak Agam tenanglah, kita akan mencari jalan terbaik. Saya sebagai seorang dokter belajar sesuatu pada Tika. Dia percaya semua belum pasti. Keyakinan Tika membuat saya yakin, ada jalan lain selain pilihan tersebut. Jadi saya mohon pada anda, tegar dan kuatlah. Demi keyakinan Tika. Jadilah sandaran untuk Tika, jangan meragukan keputusannya yang akan membuat Tika lemah." tutur dokter Fia, Agam mengangguk lemah. Agam berdiri pergi meninggalkan dokter Fia, tanpa satu katapun. Dia pergi menjauh dari kenyataan pahit yang baru saja dia dengar.


"Hubby, bisa kita bicara!" ujarku, sesaat setelah aku memasuki ruang kerjanya. Aku sudah tidak tahan melihat sikap dinginnya.


"Hmmm, masuklah!"


"Hubby, apa aku mempunyai salah padamu? Aku merasa kamu bersikap dingin padaku. Kita suami istri, seharusnya tidak ada yang disembuyikan. Katakan apa kesalahanku?, supaya aku bisa memperbaiki diri."


"Jika kamu merasa aku suamimu, pantaskah kamu menyimpan rahasia sebesar ini padaku. Kamu mengambil keputusan, tanpa bertanya padaku!"

__ADS_1


"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan? Hubby, katakanlah dengan jelas. Apa kesalahanku sebenarnya?."


"Kamu mengetahui dengan jelas kesalahanmu. Jadi tidak perlu bertanya padaku, aku yang harus bertanya padamu. Apa kesalahanku padamu?, sampai kamu ingin melihatku merasa bersalah seumur hidup"


"Hubby cukup, katakan apa yang ada dalam pikiranmu? Jangan buat aku semakin cemas."


"Kamu yang membuatku cemas. Kamu yang menyiksa pikiranku dengan keputusan mempertahankan kehamilanmu. Padahal dengan jelas akan membahayakan nyawamu. Kamu yang kejam, berpikir ingin meninggalkanku untuk selamanya. Kamu yang tidak berhati, berharap aku bahagia dengan luka yang dalam. Luka akan kepergianmu! Sekarang katakan padaku, siapa yang bersalah?" tuturnya lirih, seraya menunduk. Kedua mataku melihat jelas rasa bersalah di mata mas Agam.


Suami panutanku terpuruk di depanku. Tidak ada lagi wibawa seorang Agam dihadapanku. Air matanya menetes, meratapi keputusan besar yang telah aku ambil. Imam sholatku kini hancur, menyalahkan dirinya sendiri atas keputusanku. Sebaliknya tubuhku bergetar hebat, ada rasa takut melihat kehancuran suamiku. Tidak pernah terbayangkan, jika rahasia ini harus terkuak begitu cepat. Kebahagian yang aku berikan, dalam sekejap musnah oleh kenyataan akan kondisiku.


"Hubby, maaf jika aku telah melakukan kesalahan. Namun aku mohon, jangan seperti ini. Air matamu seakan pisau yang menancap tepat dihatiku. Jangan hancur hanya karena diriku. Hubby imamku, pemimpinku. Maafkan aku jika membuatmu kecewa, aku mohon bangkitlah!" tuturku lirih, sesaat setelah aku berada di depannya. Kupeluk mas Agam, kusandarkan kepalanya pada perutku yang sedikit membuncit. Keelus lembut rambut ikalnya, kudekap erat kepalanya. Berharap dia bisa mendengar detak jantung kedua buah hati kami.


"Hubby, dengarkan suara jantung mereka. Buah hati kita tumbuh dalam rahim lemahku. Bukan salah mereka, jika rahim inilah tempat mereka hidup. Jangan rampas kebahagian mereka, biarkan mereka melihat indahnya dunia ini. Hubby, semua sudah tertulis tanpa bisa kita hindari. Jadikan aku wanita sempurna, seorang ibu untuk anak-anakmu. Biarkan Tika yang lemah ini, menjaga amanah terbesar selama hidupku. Aku yakin kelak mereka akan tumbuh dengan baik, dengan atau tanpa adanya diriku!"


"Jangan tinggalkan aku!" ujarnya sangat lirih, dia mencium lembut perutku. Rahim yang di dalamnya tumbuh buah hati kami. Kurasakan dekapannya yang sangat erat.


"Hubby, aku akan selalu bersamamu. Mereka bagian dari diriku. Jika kelak aku tiada, mereka yang akan mengingatkanmu akan cinta kita. Namun aku percaya, dengan sebuah do'a dan harapan. Aku bisa melewati semua dengan baik. Aku akan hidup dengan sebuah keyakinan, bahwa kita tidak akan mudah terpisah. Teguhkan hatimu, bahwa DIA sang pemilik hidup tidak akan menguji kita melebihi kemampuan kita. Demi buah hati kita, ikhlaskan apa yang terjadi? Semua akan baik-baik saja." tuturku, dia mengangguk pelan.


"Terima kasih, sudah mempercayaiku!" ujarku, aku menunduk kucium lembut kepala suamiku. Dia pelindungku, takkan kubiarkan dia hancur. Semua akan baik-baik saja.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😊😊😊


__ADS_2