Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hafidz Al Hakim


__ADS_3

Dua hari sudah Arkan tidak datang ke rumah sakit. Bukan Arkan sengaja menghindar dari Aura, tapi memang Arkan tidak ada waktu kunjungan ke rumah sakit. Kemarin setelah seharian di rumah sakit. Siangnya Arkan libur, sekaligus Arkan cuti satu hari menemani Hanna. Arkan tidak ingin bekerja di saat ada Hanna. Arkan takut tidak fokus dalam bekerja.


"Papa, aku akan menemui kak Arkan. Dia sudah ada datang!" ujar Hanna ramah, Agam mendongak menatap Hanna.


Selama di negara ini, Agam tidak membiarkan Hanna pergi sendirian. Agam mengawasi sekaligus membatasi ruang gerak Hanna. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Hanna. Jadi Agam selalu membawa Hanna kemanapun? Termasuk menghadiri rapat seperti hari ini. Agam seakan tidak keberatan, bila Hanna selalu ikut dalam pekerjaannya.


"Sayang, kenapa tidak meminta kakakmu kemari saja? Bukan hanya kamu yang ingin bertemu Arkan. Papa juga ingin bertemu dengannya!" ujar Agam, Hanna mengangkat kedua bahunya. Seakan dia tidak peduli dengan permintaan Agam.


"Jika papa ingin bertemu kak Arkan dan mama. Kenapa papa tidak ikut saja denganku? Aku datang kemari untuk berlibur bersama mereka. Bukan malah ikut papa rapat!" ujar Hanna ketus, Agam menggeleng tak percaya. Dengan mudah Hanna melupakan dirinya demi bersama Arkan dan Tika.


"Sayang, papa kemari karena ada urusan pekerjaan!"


"Kalau begitu tidak perlu papa berharap bertemu kak Arkan atau mama!" sahut Hanna memotong perkataan Agam. Hanna berjalan tergesa-gesa keluar dari ruang kerja Agam. Namun terhenti saat dia mendengar suara Agam bicara padanya.


Agam datang ke negara ini memang karena pekerjaan. Seandainya dia bisa bertemu Arkan atau Tika. Itu akan menjadi kebahagian tersendiri baginya. Alasan dia setuju Hanna ikut, semua demi memperlancar kebahagiannya tersebut. Hubungan baik Hanna dengan Arkan akan membuat semuanya mudah terlaksana.


"Baiklah, papa kalah bicara denganmu. Biarkan papa menyelesaikan ini. Setelah itu papa akan pergi dengan kalian. Tunggu papa sepuluh menit saja. Papa janji akan langsung menemui kalian!" ujar Agam memeles, Hanna diam dengan raut wajah cemberut. Dia harus menunggu Agam lagi bekerja. Padahal sejak tadi rekan kerja Agam belum juga datang.


"Baiklah aku akan menunggu papa. Hanna hanya akan menunggu papa sepuluh menit saja. Lebih dari itu, Hanna akan pergi dengan mama dan kak Arkan sendiri tanpa papa!" sahut Hanna ketus, Agam mengangguk seraya mengacungkan jari jempolnya ke udara.


Hanna keluar dengan terburu-buru. Dia takut Arkan marah, karena menunggu dirinya terlalu lama. Kesempatan Hanna hanya sedikit untuk dekat dengan Arkan. Jadi tidak akan pernah Hanna membiarkannya hilang begitu saja.

__ADS_1


Kreeeeekkk.....Buuggghhhh


"Aaaawwwss!" teriak Hanna terjatuh sembari memegang keningnya.


Tepat setelah Hanna membuka pintu. Dia bertabrakan dengan seseorang. Hanna yang berjalan menunduk serta terburu-buru. Tak menyadari ada orang yang berdiri di depan pintu. Seseorang yang baru saja mengetuk dan hendak membuka pintu. Namun terlambat sebab Hanna terlanjur membuka pintu lebih dulu.


"Maaf, saya tidak sengaja!" ujar Hafidz merasa bersalah, dia berjongkok hendak membantu Hanna. Sebaliknya Hanna terus memegang kepalanya yang membentur dada bidang Hafidz. Keras benturan keduanya membuat Hanna terpental dan tersungkur.


Hanna menatap Hafidz yang berjongkok di depannya. Tatapan Hanna tak mudah diartikan. Entah itu sebuah amarah atau rasa kagum? Satu hal yang pasti tatapan Hanna sedikit membuat hati Hafidz bergetar. Sebaliknya Hanna diam menatap, tak lain karena terkesima oleh ketampanan dan kharisma Hafidz.


Hafidz diam terkesima melihat paras cantik Hanna. Keduanya saling menatap dalam beberapa detik. Melupakan rasa sakit yang mereka rasakan. Bukan kata maaf atau memaafkan. Sebaliknya saling menatap menjadi cara mereka bicara. Tak ada suara yang terdengar di telingan Hanna dan Arkan. Hanya suara getaran hati masing-masing yang nyata terdengar. Meski banyak orang yang berlalu lalang melewati mereka berdua.


"Sekali lagi, aku meminta maaf!" ujar Hafidz, memecah kesunyian. Hanna diam sembari berdiri. Lalu dengan santai Hanna melewati Hafidz. Tanpa berpikir menyahuti perkataan Hafidz. Sekilas Hafidz melihat Hanna mengusap keningnya.


"Jelas saja sakit, dadamu sekeras besi. Daripada kamu memikirkan rasa sakitku. Lebih baik segera selesaikan urusanmu dengan papa. Jika tidak, kamu akan menjadi orang yang membuatku marah dua kali dalam waktu sepuluh menit!" ujar Hanna ketus, lalu berlalu meninggalkan Hafidz.


"Maksudmu apa?" teriak Hafidz, Hanna tak peduli akan perkataan Hafidz. Dia terus berjalan menjauh dari Hafidz.


"Cantik dan menarik!" batin Hafidz sembari menatap punggung Hanna.


"Hafidz Al Hakim, senang bertemu denganmu!" teriak Hafidz memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengenalmu!" sahut Hanna sinis tanpa menoleh ke arah Hafidz. Hanna menghilang dalam tikungan. Meninggalkan Hafidz yang tersenyum sendiri mengagumi sikap acuh Hanna padanya. Sikap yang berbeda dari kebanyakan teman wanitanya.


Hafidz bukan hanya pintar dalam ilmu agama. Dia seorang pembisnis yang disegani dan memiliki nama. Hafidz bergerak di bidang perhotelan. Bidang yang sama dengan Agam dan Vahira. Sejak melihat Hanna, Hafidz merasakan getaran yang berbeda. Rasa yang tak pernah ada dalam hidupnya yang lurus. Bertemu dengan Hanna, seorang wanita yang sangat acuh akan penampilannya. Wanita polos yang berbicara sesuka hatinya. Wanita dengan penampilan berbeda dari lingkungan keluarganya yang agamis. Bagi Hafidz bertemu dengan Hanna menjadi kebahagian tersendiri. Wanita dengan daya tarik yang sangat kuat. Penuh dengan hal berbeda dari hidupnya yang monoton.


"Kamu akan terus menatap putriku atau kamu akan masuk memulai rapat!" ujaf Agam membuyarkan lamunan Hafidz. Sontak Hafidz menoleh melihat ke arah Agam. Seketika Hafidz menunduk malu, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hafidz merasa terciduk, ketika dia mengagumi Hanna yang tak lain putri Agam.


"Maaf tuan Agam!"


"Sudahlah kamu tidak perlu meminta maaf. Aku juga pernah merasakan, apa yang kamu rasakan? Namun aku katakan dengan jujur. Hanna putriku tidaklah muda. Dia pribadi yang sulit dipahami!" ujar Agam, Hafidz menunduk malu.


"Hanna, nama yang cantik dan manis. Secantik dan semanis orangnya!" batin Hafidz.


"Sekarang masuk ke dalam. Aku harus pergi dengan Hanna. Rapat hari ini akan diwakili oleh Randy!" ujar Agam santai, sembari menepuk pelan pundak Hafidz.


"Jika anda sibuk, lebih baik kita tunda rapat hari ini. Aku akan datang kembali!" ujar Hafidz, Agam menggeleng lemah. Lalu dia tersenyum sembari menatap Hafidz.


"Aku tidak hanya sibuk, tapi aku tidak ada waktu rapat. Seandainya Hanna dan putraku yang mengajakku pergi. Karena mereka segalanya dalam hidupku!"


"Anda sangat menyayangi mereka!" ujar Hafidz, Agam mengangguk tanpa ragu.


"Seandainya aku harus memilih. Kehilangan proyek ini atau pergi bersama mereka. Maka aku memilih pergi bersama mereka!"

__ADS_1


"Anda ayah yang bijak dan penh kasih sayang!" ujar Hafidz


"Terima kasih, sekali lagi maaf!" pamit Agam.


__ADS_2