
Hari berganti bulan, waktu berputar begitu cepat. Tanpa terasa sebulan lebih Tika tinggal di rumah orang tuanya. Sekali atau dua kali Agam datang bertemu Hanif dan Hana. Kedua buah hati pengikat Agam dan Tika. Baik Dimas dan Nissa tidak pernah menghalangi Agam bertemu kedua buah hatinya. Hanya saja, setiap kali Agam datang. Tak pernah Tika menemui Agam. Seolah Tika tidak ingin lagi mengenal Agam. Tika terlalu takut melihat Agam, sosok yang begitu lemah dan takkan mampu tegas memutuskan.
Hampir sebulan Tika menunggu keputusan Agam, tapi Agam seakan belum mampu memutuskan. Agam terlalu nyaman dengan kondisi sekarang. Sebaliknya Tika mulai merasa tidak nyaman tinggal bersama dengan orang tuanya. Sebagai seorang putri yang telah menikah. Tidak sepantasnya Tika tinggal bersama orang tuanya. Namun statusnya belum sepenuhnya pasti. Tidak mungkin bagi Tika tinggal sendiri dengan status istri Agam.
Rayhan masih sesekali datang menemui Tika. Dia dan Tika memiliki kerjasama yang terlanjur ada. Setiap kali bertemu dengan Rayhan, Tika selalu meminta Nissa atau Dimas menemaninya. Tika masih menghargai Agam sebagai suaminya. Dia tidak pernah ingin mengkhianati Agam, tapi kembali bersama Agam. Tika masih harus belajar dan memiliki hati yang sangat luas.
"Tika, Agam ingin bicara denganmu! Hana dan Hanif sudah tidur. Dia sedang menunggumu di taman depan!" ujar Nissa, Tika diam melamun. Ada keraguan Tika menemui Agam. Setelah sebulan lebih dia tidak pernah bertemu dengan Agam. Bukan Tika takut jatuh cinta atau marah pada Agam. Entah kenapa Tika merasa canggung bila melihat Agam?
Nissa melihat jelas keraguan Tika, kedua bola mata Tika seolah mengatakan kegelisahan yang tak terucap. Tika seakan takut menemui orang yang pernah mendampinginya selama ini. Dengan perlahan Nissa mendekat pada Tika. Dia menyentuh pundak Tika. Seketika Tika menoleh menatap Nissa. Jelas terlihat ketakutan dan keraguan di wajah Tika.
"Bunda!" sahut Tika lirih, Nissa menatap nanar wajah Tika. Putri kecilnya yang tak pernah akan menjadi dewasa di depannya. Tika sang gadis kecil yang membuatnya terikat pada Dimas Putra Anggara. Dengan lembut Nissa memeluk tubuh Tika. Mendekapnya hangat, dengan penuh kasih sayang. Nissa mengusap punggung Tika, berharap Tika bisa tenang sesaat. Nissa mengecup lembut kepala Tika yang terhalan hijab. Lama keduanya berpelukan, kehangatan Nissa sedikit membuat Tika menjadi tenang.
Pernah Nissa berpikir, betapa tidak beruntungnya Tika. Dia terlahir dalam keluarga yang kaya, tapi miskin akan kasih sayang. Sejak kecil hanya mendapatkan cinta dari sang ayah. Kepergian ibu kandungnya, menyisakan kepedihan yang teramat sakit. Kini saat dia menjadi seorang ibu. Tika harus berjuang mempertahankan pernikahannya demi sang buah hati. Atau mengalah dan menyerah, karena sakit yang tak akan pernah berakhir.
"Tika sayang, bunda tidak bisa merasakan kepedihan yang kamu rasakan saat ini. Bunda juga tidak bisa menghapus air matamu. Bunda belum tentu bisa setegar dirimu. Dalam keterbatasan bunda, ada cinta yang tak terbatas untukmu. Kasih sayang orang tua pada putrinya tidak akan terhenti. Meski sang putri telah menikah. Tapi bukan hak orang tua mencampuri keputusan sang anak. Apapun keputusanmu, bunda ada di belakangmu. Bunda siap menopang dukamu. Sekarang temui Agam, katakan apa yang harus dikatakan? Agar tidak ada lagi keraguan dalam hatimu!" ujar Nissa lirih, Tika mengangguk dalam pelukan Nissa. Tika mengambil cadar, setelah memakainya Tika berjalan keluar dari kamarnya. Dengan perasaan campur aduk, Tika berjalan menuju taman depan rumahnya.
__ADS_1
Tika berhenti sesaat, ketika dia melihat Agam duduk di gazebo depan rumahnya. Tika menatap lekat wajah yang perlahan mulai menghilang dari hati dan ingatannya. Tika bukan lagi wanita yang mencari cinta dan kehangatan laki-laki. Kini hidupnya hanya demi sang buah hati. Hana dan Hanif semangat hidup dan napasnya. Tika terus berjalan mendekat pada Agam. Sempat Tika mendongak ke langit. Terlihat bulan bersinar dengan terang. Langit bersih tak tertutup awan. Bintang kecil bertebaran menambah indahnya malam.
"Mas Agam, kenapa harus bicara disini? Kita bisa bicara di dalam!" ujar Tika tegas, Agam mendongak menatap Tika istri yang dirindukannya. Ada yang berubah dari Tika. Kini tak ada lagi wajah cantik Tika. Semua tertutup oleh cadar yang dipakainya. Tepat malam dimana Tika keluar dari rumah Agam. Malam yang sama Tika merubah dirinya. Dia menutup seluruh wajah dan tubuhnya. Hanya mukhrim yang halal melihat wajahnya.
"Sejak kapan?" ujar Agam lirih, Tika diam menatap Agam. Penampilan Agam terlihat lusuh dan tak terawat. Mungkin beban pikiran yang membuat Agam stress. Selama ini Tika tak pernah bertemu Agam. Meski Agam datang melihat buah hati mereka. Jadi baru malam ini Tika melihat kondisi Agam yang sesungguhnya. Tika merasa iba melihat kondisi Agam, tapi Tika tidak bisa berbuat apa-apa?
"Sejak malam dimana aku keluar dari rumahmu? Jika menjadi seorang istri yang baik aku tidak bisa. Setidaknya aku masih bisa menjadi wanita yang baik. Aku tidak ingin wajahku menjadi fitnah dalam hidupku. Apalagi dengan statusku saat ini!" ujar Tika santai, dia duduk tepat di depan Agam. Lalu Nissa datang membawa secangkir teh untuk keduanya. Tanpa banyak bertanya, Nissa sudah bisa melihat hasil pembicaraan keduanya.
"Kenapa selama sebulan ini kamu selalu menghindar dariku? Setiap kali aku datang, hanya anak-anak yang menemuiku. Sebenci itukah kamu padaku? Tidakkah ada kata maaf untukku?" ujar Agam, Tika menggeleng lemah. Tika menghela napas panjang. Kegelisahan Tika semakin menjadi. Melihat penampilan Agam yang berantakan. Sekarang melihat Agam menghiba padanya. Tanpa membawa keputusan yang ditunggu Tika selama ini.
"Sebulan aku rasa sangat cukup bagimu memutuskan. Aku hanya makmum yang menunggu keputusan imam. Kemana langkah hidup akan berjalan? Bukan aku yang memutuskan, pantaskah kata maaf itu ada. Masih adakah jalan kita bersatu. Aku menyadari, betapa sulitnya dirimu saat ini. Bakti kepada orang tua atau cinta pada istri! Dua pilihan yang tidak akan pernah mudah kamu putuskan!" ujar Tika, terdengar Agam menghela napas panjang. Lalu Tika berdiri menatap bulan yang begitu terang.
"Tunggu, artinya kamu memintaku melepaskan pernikahan kita. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu? Aku akan tetap berjuang demi pernikahan ini. Perpisahan bukan jalan yang tepat!" ujar Agam, Tika tersenyum dibalik cadarnya.
"Sebaliknya bersatu kita juga tidak akan bisa. Seandainya tangan tak lagi mampu menggapai. Bukankah lebih baik bila melepaskan. Daripada saling menjauh yang akhirnya saling menyakiti. Aku yakin padamu, sebab dirimu imam yang dulu menuntunku!" ujar Tika tegas.
__ADS_1
"Apa kamu yakin dengan perpisahan ini?"
"Tidak pernah ada yang ingin berpisah, tapi seandainya bersatu tak lagi mampu. Lalu untuk apa teguh menjalani pernikahan? Tanyakan pada hatimu pilihan mana yang akan kamu pilih. Menjadi anak yang durhaka pada orang tua? Atau menjadi suami yang tidak akan pernah bisa melindungi istrinya?" tutur Tika lirih, Agam menatap lekat Tika. Sikap Tika telah berubah. Cara berpikir Tika jauh lebih dewasa dan lebih berani.
"Kamu berubah, Tika tidak akan sekasar ini. Dia tidak setegar ini, dia mencintaiku dengan tulus. Dia tidak akan melepasku begitu saja. Tika tidak akan meninggalkanku dalam kepahitan!" ujar Agam lirih seraya menggeleng tidak percaya.
"Tika masih mencintaimu, tapi cinta yang didasari dengan iman. Bukan hanya hasrat ingin bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu, bayanganmu akan selalu aku lihat dalam wajah Hana dan Hanif. Aku hanya ingin mendapatkan pahala dengan membantu suamiku berbakti pada orang tuanya!" ujar Tika, sembari terus menatap langit.
"Kamu kejam!"
"Malam ini akan terasa gelap dan sunyi membuat setiap makhluk merasa takut. Namun bulan datang dengan sinar terangnya. Menjadikan malam yang indah dan membawa kebahagian. Seperti itulah diriku kini, gelap dan sunyi. Namun aku akan terang dan bercahaya, ketika Hana dan Hanif tersenyum. Setiap kali aku melihatmu datang. Aku melihat senyum mereka. Setiap kamu pergi, aku melihat tangis mereka. Putuskan jalan terbaik, penuhi permintaan orang tuamu. Agar kedua buah hatiku memiliki keluarga yang utuh!"
"Lalu dirimu, bersama siapa kamu akan bahagia? Kami akan bahagia bila bersamamu, bukan dengan orang lain!" sahut Agam, dia marah dan kecewa mendengar perkataan Tika.
"Langit akan selalu ada, meski bulan tak pernah bersinar. Hanya yang berbeda, malam tetap gelam atau menjadi terang. Sudah malam aku harus masuk. Renungkan perkataanku, mungkin ini yang terbaik!"
__ADS_1
"Kartika Putri Anggara, betapa kerasnya hatimu!"
"Aku besar dalam keluarga yang tak utuh. Aku baru merasakan kasih sayang. Ketika papa menikah dengan bunda. Aku tidak berharap Hana dan Hanif harus besar dalam keluarga yang tidak utuh. kerasnya hatiku, tak sesakit hatiku. Ketika orang tuamu datang membawa seorang wanita dan kamu diam menerimanya. Sejak saat itu, hatiku tidak lagi keras tapi mati!"