
"Kenapa harus marah? Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ziva. Kami murni hanya teman, tidak lebih!" Ujar Hafidz saat tiba di samping Hanna.
Hafidz mengejar Hanna yang cemburu. Mendengar Dimas menjodohkan Ziva dengan Hafidz, membakar hati Hanna. Dengan amarah yang tak terkendali, Hanna meninggalkan acara makan malam. Dengan rasa cemas Hafidz mengejar Hanna. Terlihat Hanna duduk di tepi kolam renang. Dengan kedua kakinya terbenam sempurna di dalam kolam renang.
"Kenapa kakak mengejarku?"
"Karena aku harus menyakinkanmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu salah paham. Apalagi hanya kareba masalah sepele. Ada rasa senang dihatiku, tapi disisi lain aku kecewa. Kamu marah bukan karena mencintaiku, tapi kamu tak pernah yakin akan diriku. Cintaku butuh rasa percayamu!" Ujar Hafidz, Hanna menatap bulan yang terpancar indah di dalam kolam renang.
Hanna duduk tanpa peduli pada Hafidz. Perkataan Hafidz tak sedikitpun menggetarkan hati Hanna. Mungkin dia marah, tapi disisi lain Hanna merasa rendah diri. Ketika orang yang paling mengenal kita, merasa kita tak berharga. Mungkin disaat itu, kita akan menjadi orang paling tak berguna. Rasa rendah diri yang nyata dirasakan Hanna. Kala Dimas merasa Ziva jauh lebih pantas untuk Hafidz.
"Hanna!" Sapa Hafidz, Hanna menoleh dengan tatapan dingin. Tanpa satu katapun yang keluar dari mulutnya. Hanna diam membisu, tak nampak rasa hangat dari kedua matanya.
"Kak Hafidz, lihat bulan nampak indah di air kolam yang tenang. Meski itu hanya bayangan, tapi bulan tetaplah bulan yang bersinar terang. Bulan akan selalu indah dipandang, meski bulan tak selamanya indah!" Ujar Hanna sembari menunjuk ke arah bayangan bulan. Hafidz menatap bayangan bulan, dia duduk tepat di samping Hanna. Tak ada jarak yang memisahkan keduanya. Napas keduanya terdengar seirama, penuh gelojak cinta.
"Ada apa Hanna? Ini bukan hanya karena rasa cemburumu. Kenapa kamu terlihat berbeda hari ini?" Ujar Hafidz heran bercampur rasa gelisah. Hanna mengangguk pelan, dia menoleh ke arah Hafidz. Lagi dan lagi tatapan Hanna sangat dingin.
Nampak setetes air mata tanpa suara. Tangisan yang terasa amat pedih di hati Hanna. Hafidz semakin cemas melihat Hanna. Air mata yang menetes dari kedua mata indah Hanna. Menggambarkan betapa berat beban yang ada dalam benaknya. Hafidz menggenggam erat tangan Hanna yang dingin. Tangan yang entah kenapa terasa beku? Hafidz mencoba menenangkan Hanna, menyakinkan hati Hanna yang bimbang. Namun dengan lembut, Hanna menepis tangan Hafidz. Menolak rasa cinta yang ditawarkan Hafidz. Cinta yang tak lebih dari rasa kasihan bagi Hanna.
"Kak Hafidz, aku tetap Hanna yang sama. Aku tak pernah berubah. Hanya saja setiap kali aku mencoba tersenyum. Saat itu hatiku terasa sakit. Lama kelamaan aku mulai lelah. Aku ingin menjadi Hanna yang bebas. Tanpa batas dan tekanan, tapi semua itu tak mampu kulakukan. Ketika status keluarga, nama baik keluarga dan rasa cinta ini. Tak mengharapkan Hanna yang bebas itu!"
"Aku tak pernah menuntutmu berubah. Jadilah dirimu yang bebas, tak ada tekanan dari cintaku. Kamu berhak hidup dengan caramu. Aku akan menerimamu dengan cinta tulusku!"
"Tapi tidak dengan keluarga dan lingkunganmu!"
"Hanna, bukan mereka yang menjalani cinta ini. Kenapa kita peduli dengan pendapat mereka? Memang benar kita hidup dalam sebuah lingkungan, tapi kebahagian kita bukan mereka yang menilai. Kebahagian cinta ini, sepenuhnya kita yang merasakan. Tak sepantasnya kamu menyisihkanku, hanya karena pendapat mereka yang tak pada tempatnya!"
"Kakak benar, mereka tidak pantas menilai hubungan ini. Namun saat keraguan itu ada dari keluargaku sendiri. Haruskah aku merasa pantas bersamamu. Dengan kedua telingaku, kakek menganggapku tak pantas bersamamu. Keraguan yang membuatku sadar diri, kakak bukan tercipta untukku!" Ujar Hanna lirih, Hafidz menoleh heran.
"Kamu menganggap serius perkataan tuan Dimas. Aku yang mencintai kamu, aku yang akan hidup bersamamu. Baik dan burukmu tak akan menjadi penghalang cintaku!" Ujar Hafidz tegas, Hanna menunduk semakin dalam. Dingin air kolam perlahan membekukan kedua kakinya.
"Apa yang membuatmu begitu mencintaiku? Padahal keluarga sendiri merasa aku tak pantas untukmu. Kak Ziva jauh lebih pantas bersanding denganmu!"
"Aku tidak pernah tahu alasan cinta ini. Hanya saja, setiap aku melihatmu. Aku merasa duniaku hidup. Aku bahagia hanya dengan melihat senyummu. Namun hatiku terasa sangat sakit, ketika dengan lantang kamu menolakku!"
__ADS_1
"Kamu mencintaiku atau mengasihaniku?" Ujar Hanna lantang.
"Aku menyayangimu dengan sepenuh hati. Seandainya hari ini kamu bersedia. Aku akan pulang ke rumah. Bukan sebagai Hafidz, tapi suami dari Hanna Santika Ramaniya!"
"Maksud kakak?"
"Menikahlah denganku, kita lawan keraguan mereka bersama. Jujur Hanna, berada sangat dekat denganmu. Membuatku sangat bahagia, sekaligus membuatku tersiksa!" Ujar Hafidz, Hanna menatap heran Hafidz. Hanna menatap Hafidz begitu dekat. Hembusan napas Hanna menyentuh wajah tampan Hafidz.
"Hanna, aku mohon jangan menyiksaku!" Ujar Hafidz lirih dengan napas yang memburu.
"Kenapa denganku?"
"Hanna, setiap inci tubuhmu membangunkan gairahku. Aku mohon, jangan buat aku kalut. Imanku tidak sekuat itu, harum napasmu membangunkan hasrat yang kutahan!"
"Kakak ingin memilikiku!" Ujar Hanna tanpa dosa, wajah keduanya sangat dekat.
Tanpa aba-aba Hanna mengalungkan tangan ke leher Hafidz. Hanna memutar tubuhnya berhadapan dengan Hafidz. Napas keduanya mulai memburu, benak mereka penuh dengan bayangan napsu yang tak terkendalikan. Hanna mendekatkan wajahnya, hidung mancungnya menyentuh hidung Hafidz. Kening keduanya saling menyatu, bibir keduanya terpisah hanya dengan satu jari.
"Hanna, aku mohon!" Ujar Hafidz dengan napas yang mulai memburu. Hasrat Hafidz siap meledak, mengalahkan iman yang dipegang teguh selama ini. Hanna semakin erat mengalungkan wajahnya.
"Miliki aku, jika kak Hafidz mencintaiku. Buktikan padaku, kakak mencintaiku tanpa syarat. Aku siap menyerahkan mahkota terindahku padamu. Jadikan malam dingin ini hangat dengan belaian cintamu. Di bawah sinar bulan, renggut mahkota yang seharusnya kuserahkan pada laki-laki pilihanku!" Bisik Hanna mesra tepat di telinga Hafidz.
"Asthgfirullahhaladzim!" Batin Hafidz menenangkan hatinya.
Harum rambut Hanna menggugah hasrat yang tersimpan nyata jauh di dalam hati Hafidz. Debaran jantung Hafidz terdengar begitu kuat. Sekuat hasrat Hafidz ingin memiliki Hanna. Dengan kepasrahan yang tak bernalar, Hanna menyerahkan mahkota terindahnya. Hanna begitu dingin, sampai dia haus akan kehangatan Hafidz.
"Hanna kamu yakin!" Balas Hafidz, dengan anggukan kepala. Hanna mengiyakan perkataan Hafidz.
Dengan lembut Hafidz menarik dagu Hanna. Mendekatkan kedua bibir mereka. Hembusan napas penuh cinta, menggugah naluri yang mulai tak bernalar. Membenarkan yang salah, melakukan yang tak pantas menjadi pantas. Hafidz merebahkan Hanna tepat di tepi kolam. Dengan penuh cinta Hafidz, menatap Hanna yang siap menerima kehangatan cinta Hafidz.
"Sayang, aku sangat ingin memilikimu. Namun tidak dengan cara yang salah. Akan kumiliki dirimu sepenuhnya, saat walimu menyerahkan tanganmu padaku. Besok pagi aku akan meminangmu. Akan kujadikan dirimu halal untukku. Percayalah sayang, aku mencintaimu tanpa syarat. Jangan pernah berpikir lari dariku, karena mulai malam ini kamu sepenuhnya milikku!" Bisik Hafidz, Hanna mengangguk mengerti.
"Kamu sungguh mencintaiku, tanpa napsu ingin menguasaiku. Jika kamu yakin, katakan pada keluargaku malam ini juga!"
__ADS_1
"Baiklah, kita temui mereka sekarang!" Ujar Hafidz lantang, lalu menarik tubuh Hanna untuk bangun.
"Kakak Hafidz yakin!" Sahut Hanna sembari menahan tangan Hafidz.
"Malam ini yang kutunggu selama ini. Tak perlu aku menyakinkan diri, karena sepenuhnya aku mencintaimu!" Ujar Hafidz lantang.
"Ibumu!"
"Dia tidak akan bisa mengubah pendirianku. Sudah saatnya aku bahagia!" Ujar Hafidz menyakinkan.
"Terima kasih!"
"Untuk!" Sahut Hafidz heran.
"Karena mencintai Hanna yang tak sempurna!"
Cup
"Terima kasih kembali!"
"Untuk!" Ujar Hanna tak mengerti.
"Telah menguji cintaku!"
"Maksud kak Hafidz!"
"Hanna, kamu hanya ingin mengujiku. Aku mengenalmu, kamu takkan berbuat sejauh itu. Selama ini kamu selalu menjaga diri. Jadi sangat tidak mungkin kamu menyerahkan begitu saja padaku!"
"Maaf, aku membohongimu!"
"Aku tidak keberatan, jika akhirnya kamu bersedia menikah denganku. Ingat Hanna, malam ini terakhir kali kamu tidur sendirian. Persiapkan dirimu, akan kuminta hakku!"
"Lihat saja besok!" Sahut Hanna santai, lalu meninggalkan Hafidz yang tersenyum penuh kebahagian.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu!" Batin Hafidz sembari menatap penuh cinta punggung Hanna yang menjauh.