Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Guratan jingga


__ADS_3

"Hanna, papa akan mengantarmu. Hafidz mungkin sudah pulang. Lebih baik kamu pulang dengan papa!" Pinta Agam, Hanna menggelengkan kepala menolak.


"Aku bisa pulang naik angkot. Nanti saat di jalan aku akan menghubungi kak Hafidz!"


"Kenapa tidak pulang bersama papa?"


"Aku takut kak Hafidz kecewa. Tadi pagi dia yang mengantarku ke kampus. Kalau aku pulang dengan papa. Takutnya kak Hafidz merasa tak dibutuhkan!"


"Hanna, kamu semakin dewasa!" Ujar Agam, Hanna menatap lekat Agam. Sejenak Hanna terdiam, seolah perkataan Agam tak benar.


"Aku tak pernah dewasa, tapi aku harus belajar dewasa. Kak Hafidz banyak bekorban, ketika dia memilihku menjadi istrinya. Sudah sewajarnya aku mengimbangi. Meski aku takkan bisa menyamainya!"


"Ada sosok mama dalam dirimu. Ketenangan yang kini mulai nampak dalam tutur katamu. Papa bangga padamu!"


"Keikhlasan kak Hafidz membuatku malu. Jika dia bisa menerima diriku apa adanya? Sangat pantas bila aku belajar menjadi lebih baik!"


"Papa mengerti, kalau begitu biarkan papa mengantarmu sampai depan. Agar papa yakin, kamu sudah pulang!" Ujar Agam lirih, Hanna mengangguk pelan.


Hanna dan Agam berjalan beriringan keluar dari ruangan Dimas. Sejak siang hari, Hanna berada di perusahaan Anggara group. Hanna mendapatkan bimbingan langsung dari Dimas. Hanna mulai mempelajari seluk beluk dunia bisnis. Tekadnya menggantikan Agam sangat bulat. Hafidz mengetahui keinginan Hanna, sepenuh hati Hafidz mengizinkan Hanna mengejar impiannya. Berbakti pada kedua orang tuanya. Tanpa Hanna berpikir bersaing atau melebihi Hafidz.


"Papa, aku akan menunggu angkot di halte depan!"


"Kenapa kamu tidak naik taxi?"


"Aku tidak akan duduk berdua dengan supir taxi. Aku bukan Hanna yang dulu, aku sudah memiliki suami. Aku harus bisa menjaga kehormatannya. Setidaknya aku tak ingin ada fitnah!"


"Papa sangat bangga padamu!" Ujar Agam lirih, sembari membelai lembut kepala Hanna. Rambut hitam legam Hanna terurai sempurna. Agam sangat menyayangi Hanna, ada rasa ngilu melihat Hanna akan pulang menggunakan angkot. Berdesak-desakan dengan banyak orang.


"Hanna, papa bangga padamu. Namun disisi lain, papa terluka melihatmu seperti ini. Kini papa menyadari, betapa tega papa dulu? Laki-laki bodoh yang arogant. Tanpa papa sadari, kesempatan dan kepercayaan papa Dimas dengan mudahnya papa khianati. Putri yang seharusnya papa jaga, nyata terluka dan menangis. Namun tak pernah sekalipun amarah nampak dari papa Dimas. Kini papa merasakan kepedihan itu. Sakit saat melihatmu harus hidup dalam sebuah pengertian yang tak mudah. Papa bangga padamu, maafkan papa yang tak pernah bisa mengenal dan melihat relung hatimu!" Batin Agam sendu.


Hanna mencium punggung tangan Agam. Lalu dengan langkah tegas, Hanna berjalan menuju halte depan perusahaan Anggara. Hanna menunggu angkot yang lewat. Hanna tidak sendiri, ada banyak orang yang menunggu bersamanya. Sepintas Hanna melihat jam di tangannya. Sore telah berganti petang, sayub mulai terdengar murrotal dari speker masjid. Hanna menatap langit jingga yang begitu indah.


"Alhamdulillah, Engkau masih memberi kesempatan diriku menatap senja. Keajaiban lukisan tinta emas yang tak terbantahkan. Bukti keagungan dan kuasa-MU. Ya Allah, semoga hamba selalu bersyukur dengan segala nikmat yang Engkau berikan. Maafkan hamba-MU yang hina ini, karena terlambat mengenal kehadiran-MU!" Batin Hanna seraya menatap langit jingga yang begitu indah.


Sekitar sepuluh menit lebih, Hanna menunggu angkot yang datang. Lalu terlihat satu angkot datang. Namun angkot hampir terisi penuh, maklum jam pulang kantor. Hanna melihat orang berebut masuk ke dalam angkot. Sebaliknya Hanna memilih menjauh, dia mundur beberapa langkah. Hanna menunggu angkot lain yang datang. Nampak kesabaran Hanna menunggu angkot yang datang.


Drrttt Drrtt Drtttt

__ADS_1


Suara getar ponsel Hanna di dalam tas tak lagi bisa di dengar Hanna. Suara riuh penumpang yang berebut masuk ke dalam angkot. Ditambah suara mobil yang lalu-lalang tanpa henti. Nyata membuat Hanna tak lagi mendengar suara ponselnya. Kebetulan Hanna tak sedikitpun Hanna mencoba melihat ponselnya. Dia larut dalam penantian tanpa lelah, menanti angkot yang akan membawanya pulang.


Lama Hanna menanti, tanpa terasa hampir setengah jam Hanna berdiri di tepi jalan. Namun tak satupun angkot yang lewat. Kalaupun ada, selalu penuh dengan penumpang. Sepintas terdengar helaan napas Hanna. Suara keluhan terdalam dari hatinya. Kenekatan Hanna mulai melemah. Hanna mulai lelah menunggu, tapi ada rasa bahagia yang tak bisa dijelaskan oleh Hanna. Dia merasakan kehangatan yang tercipta. Kala Hanna berbaur dengan orang-orang yang tak pernah mengenalnya. Orang-orang yang tulus bekerja, tanpa ada rasa lelah demi sesuap nasi. Hanna mulai mengerti cara menghargai harta yang dimilikinya.


"Sayang!" Sapa Hafidz ramah, sontak Hanna menoleh.


"Kak Hafidz!" Sahut Hanna terkejut, dia mundur beberapa langkah. Hanna tak percaya melihat Hafidz berdiri tepat di depannya.


"Kenapa?"


"Maksud kak Hafidz?"


"Sejak siang aku menunggumu. Aku melihat punggungmu yang pergi menjauh dariku. Aku melihat langkahmu menuju halte. Aku melihat peluh yang menetes dari keningmu. Ketika kamu harus berdiri menunggu angkot!"


"Kak Hafidz membuntutiku!"


"Aku tak ingin mengikutimu, tapi langkahmu yang menjauh siang tadi. Membuatku penasaran, siapa aku dalam hidupmu?" Ujar Hafidz lirih, Hanna diam menunduk.


"Aku tak mengerti!"


"Sayang, kenapa kamu selalu memutuskan tanpa bertanya padaku?" Ujar Hafidz lirih, Hanna diam membisu.


"Sampai kapan Hanna? Sampai kapan kamu selalu seperti ini? Kita bukan sepasang kekasih yang harus saling menjaga perasaan. Kita suami istri yang harus saling terbuka. Kita memang dua pribadi, tapi kita memiliki satu hati yang terikat!"


"Kita bicara nanti!" Ujar Hanna, lalu masuk ke dalam mobil Hafidz. Meninggalkan Hafidz yang termangu menatap Hanna.


Hafidz dan Hanna duduk di dalam mobil yang sama. Keduanya sama-sama diam, tak ada yang mulai berbicara. Mereka bermain dalam benak masing-masing. Baik Hanna dan Hafidz tak ingin memulai bicara. Suasana semakin dingin, Hanna tak mengerti letak salahnya. Sedangkan Hafidz merasa terluka dengan sikap Hanna.


"Sampai kapan kamu merasa mampu tanpa diriku? Sampai kapan kamu menganggap aku tak pantas? Sampai kapan kamu meremehkan cintaku?" Ujar Hafidz tegas dan dingin.


Setiap kata yang diucapkan Hafidz terasa tajam menusuk ke dalam hati Hanna. Hafidz mengatakan semuanya penuh dengan amarah. Tak lagi nampak ketenangan atau pengertian dari Hafidz. Hanna menunduk seraya meremas ujung bajunya. Entah kenapa hatinya gelisah? Setiap kata yang terucap dari bibir Hafidz. Nyata membuatnya tak mampu bicara.


"Tak ada jawaban untuk pertanyaanmu. Sebab aku tak pernah melakukannya. Aku tak pernah ingin meremehkan, mengacuhkan atau menganggapku mampu tanpamu. Selama ini aku berusaha mengerti cinta ini!"


"Lantas kenapa kamu pergi, saat melihatku bersama Ziva? Kalau bukan karena kamu meremehkan cintaku!"


"Aku pergi, karena kak Ziva yang berhak ada di sampingmu. Merayakan kesuksesanmu, lebih tepatnya kesuksesan kalian sebagai tim yang hebat!"

__ADS_1


"Kenapa kamu tak memintaku menjemputmu? Kamu memilih berdiri di tepi jalan. Seolah kamu tak memiliki sandaran yang siap menjagamu. Kamu tak menghargaiku!"


"Aku menepati janjiku padamu!"


"Maksudmu apa?"


"Kak Hafidz sendiri yang berjanji akan menghubungiku bila tidak sibuk. Kakak akan menjemputku, bila tidak ada halangan. Lama aku menunggu ponselku berdering. Namun nyata tak pernah kamu menghubungiku!"


"Kamu hanya beralasan!"


"Apapun yang kak Hafidz pikirkan? Bukan hakku memaksa kakak percaya!"


"Hanna, kamu keterlaluan!"


"Aku memang tak sempurna, tapi percayalah aku bukan wanita munafik. Aku mungkin tak beriman, tapi aku tak pernah berbohong. Guratan jingga langit mengajarkanku satu hal. Jika aku kagum dan bahagia menatapnya, tapi aku takkan pernah bisa memilikinya!"


"Apa yang ingin kamu katakan?" Ujar Hafidz tegas, Hanna menatap keluar jendela mobil Hafidz. Tangan kanannya menekan dadanya yang mulai terasa sesak. Ngilu yang teramat, seolah ingin melihat air matanya menetes.


Ceklleekkk


"Aku mencintaimu, tapi kamu tak pernah percaya pada kesungguhanku!" Ujar Hanna sesaat setelah membuka pintu mobil.


"Tunggu Hanna!" Ujar Hafidz, seraya menahan tangan Hanna. Hafidz tak mengerti maksud perkataan Hanna.


"Kakak akan mengerti kelak. Lebih baik kita turun, sebelum ada yang melihat kedatangan kita!" Ujar Hanna, sembari melepas tangan Hafidz. Hanna mencium punggung tangan Hafidz lembut. Lalu turun dari mobil Hafidz, tanpa menoleh Hanna berjalan masuk ke dalam rumahnya.


"Hanna tunggu!" Teriak Hafidz, Hanna turun dari mobil.


"Kalian sudah pulang!"


"Hanna ke kamar dulu!" Ujar Hanna setelah mengangguk menjawab panggilan Tika. Hanna berlari menuju kamarnya. Meninggalkan Hafidz yang masih bingung.


"Kalian pulang bersama!"


"Maksud papa?"


"Tadi papa ingin mengantar Hanna pulang. Namun dia menolak, takut kamu akan kecewa. Saat tahu Hanna memilih pulang dengan papa!" Ujar Agam tegas, Hafidz menggeleng penuh penyesalan. Tuduhannya pada Hanna sangat salah.

__ADS_1


"Bodohnya aku!" Ujar Hafidz, lalu mengejar Hanna ke kamarnya. Berharap Hanna akan memaafkannya.


__ADS_2