
15 TAHUN KEMUDIAN
"Hana, awas!" teriak Savira lantang. Dia melihat Hana yang berlari hampir saja terserepet sepeda motor.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Hana terkejut, sembari menutup kedua matanya.
Savira tidak kalah terkejut melihat Hana. Dia menutup mata, takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Keduanya berteriak sangat histeris. Suara mereka membuat semua orang menoleh. Ketakutan Hana sangat nyata sampai dia tak bisa menghindar. Kedua kakinya terasa kaku, dia membayangkan tubuhnya yang terpental tertabrak sepeda motor.
Ciiiiitttt
Terdengar suara ban sepeda motor beradu dengan jalan beraspal. Suara rem sepeda terdengar sangat nyaring. Lalu Hana membuka kedua matanya perlahan. Terlihat seorang pemuda berhenti tepat di depannya. Sepeda motor sport miliknya berhenti tepat pada waktunya. Dengan perlahan pemuda membuka helm yang dipakainya. Dengan tatapan dingin, sang pemuda menatap Hana. Seakan sang pemuda mengenal Hana dengan sangat baik.
"Hana, kamu baik-baik saja!" ujar Savira, Hana mengangguk pelan seraya memegang dadanya yang berdetak sangat hebat. Savira mengusap wajah sahabatnya. Savira takut terjadi sesuatu pada Hana.
Hanna Santika Ramaniya, gadis manis berusia 21 tahun. Salah satu mahasiswa kedokteran di universitas terbaik di kota ini. Seorang gadis periang, tapi sedikit seroboh. Gadis cantik yang selalu berpenampilan sedikit tomboy. Dia selalu berpenampilan layaknya laki-laki. Bukan gamis atau dress pendek yang dipakainya. Melainkan setelan kaos pendek dipadukan dengan celana jeans panjang. Rambut hitam legam panjangnya selalu terurai. Kecantikan alami yang mampu memikat para laki-laki.
Hanna tidak seperti gadis seusianya. Penampilan tomboy dan kemampuan bela dirinya. Membuat nyali para laki-laki menciut untuk mengenalnya. Hanna tak pernah ingin mengenal laki-laki. Dia akan mengulurkan tangan pertemanan pada siapapun, bukan cinta.
"Maaf!" ujar Hanna lirih, sang pemuda diam menatap lekat Hana. Sekilas keduanya memiliki mata yang sama.
Tanpa banyak bicara sang pemuda memakai helm kembali. Dia tidak bicara sepatah katapun, sekadar marah menyalahkan kecerobohan Hana. Sebaliknya dia berlalu mengendarai sepeda motornya menjauh dari Hana. Sedangkan Hanna dan Savira terheran-heran menatap punggung sang pemuda.
__ADS_1
"Sombong!" teriak Hana kesal, Savira menggelengkan kepala. Dia mengerti sifat Hanna. Pertama kalinya Savira melihat Hanna kesal pada seorang laki-laki. Semenjak mengenal Hanna, tidak pernah dia melihat Hanna peduli pada sikap orang lain padanya.
Hari ini secara langsung, Savira melihat sikap acuh sang pemuda. Mampu meruntuhkan sikap tak peduli dalam diri Hanna. Secara tak langsung Hanna mulai mengakui ada yang bisa membuatnya peduli. Savira tersenyum simpul, kini dia yakin sahabatnya masih memiliki aikap hangat dalam dirinya.
"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lebih baik kita masuk ke kelas. Akan ada dokter muda yang memberikan materi. Dia yang akan menjadi dosen pengganti. Aku dengar dia tampan!" ujar Savira histeris, Hanna menoleh sembari mengeryitkan keningnya.
Hanna melihat raut wajah Savira yang semangat. Hanna tidak heran bila Savira begitu semangat, ketika mendengar dokter muda dan tampan. Salah satu alasannya kuliah kedokteran. Tidak lebih lain karena keinginannya menjadi istri seorang dokter. Padahal banyak hal dalam dunia medis yang sangat ditakuti oleh gadis feminim seperti Savira.
"Pantas saja nilaimu selalu C, hanya wajah dosen yang kamu perhatikan. Bukan materi yang dia sampaikan. Daripada kamu membuang uang dan waktu kuliah. Lebih baik kamu datang ke rumah sakit milik keluargamu. Pasti ada satu dokter yang dengan senang hati menjadi suamimu!" ujar Hanna dingin, lalu berjalan menuju ruang kelasnya.
Savira mendengus kesal mendengar perkataan Hanna. Dengan langkah kesal, savira mengejar Hanna. Mereka berjalan beriringan menuju ruang kelas. Dosen pengganti akan mengisi jam pelajaran pertama.
"Arkan, lihat arah jam 12. Dia Hanna Santika Ramaniya. Gadis tomboy yang mengusik malamku. Penampilannya yang sederhana mampu membuatku tak berdaya. Namun di balik penampilan acuhnya. Ada satu sisi yang tak bisa disentuh oleh siapapun?" ujar Ghibran, Arkan menatap lurus ke arah Hanna.
"Jangan pernah permainkan dia, jika kamu tidak ingin berhadapan denganku!" ujar Arkan dingin dan tegas, sembari berjalan menuju ruang kelasnya.
Ghibran termenung mendengar perkataan Arkan. Sebuah kata yang lebih ke arah ancaman. Ghibran heran bukan karena perkataan Arkan, tapi nada ancaman Arkan. Seolah Arkan mengenal Hanna melebihi dia. Padahal Arkan baru tadi pagi menginjakkan kaki di negara ini.
"Arkan, kenapa aku merasa kamu mengenalnya?" ujar Ghibran heran, Arkan diam tidak menyahuti perkataan Ghibran. Arkan terus berjalan menuju kelas pertamanya mengajar.
Ghibran hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tidak heran melihat sikap dingin Arkan. Pribadi yang tidak terlalu hangat dan acuh pada sekitar. Membuat Arkan tidak memiliki banyak teman. Namun Ghibran merasa cocok berteman dengan Arkan. Dibalik sikap dingin Arkan, dia pribadi yang setia dan ringan tangan. Alasan Ghibran merasa nyaman berteman dengan Arkan.
__ADS_1
"Selamat pagi!" sapa Ghibran.
"Selamat pagi pak Ghibran!" sahut para murid, diantaranya Savira dan Hanna.
Ghibran tersenyum begitu manis ke arah Hanna. Namun selalu Hanna mengacuhkannya. Savira sahabat Hanna sudah lama mengetahui. Jika Ghibran menaruh hati pada Hanna, tapi tak pernah Hanna menganggap rasa Ghibran padanya.
"Jaga pandanganmu, air liurmu hampi jatuh. Ingat Ghibran, kamu seorang pengajar. Tidak sepantasnya kamu menatap muridmu. Seperti singa kelaparan!" bisik Arkan, Ghibran seketika menelan ludahnya kasar. Dia malu sekaligus heran melihat sikap dingin Arkan yang menjadi.
"Kamu menyukai Hanna!" bisik Ghibran balik, Arkan menggelengkan kepala. Lalu maju beberapa langkah ke depan. Kini Arkan berada di depan para muridnya.
"Perkenalkan semua, saya Arkan dosen pengganti sementara. Saya akan membantu kalian melewati semester ini. Kalian bisa memanggilku pak Arkan saat di kelas, tapi kak Arkan bila di luar!" ujar Arkan tegas, Savira melongo melihat Arkan. Suara barito Arkan menghipnotis Savira.
"Pak Arkan masih single atau sudah punya pasangan!" teriak salah satu murid.
"Dia tidak akan memiliki pasangan. Dalam hidupnya hanya ada belajar. Hidup yang sangat membosankan!" sahut Ghibran, Arkan menatap Ghibran lekat. Seketika Ghibran mundur sembari menutup mulutnya.
"Jika kalian hanya memikirkan cinta. Jangan berharap kalian akan mampu mengikuti jam belajarku. Aku mungkin masih sangat muda, tapi dalam hal disiplin. Aku tidak akan pernah main-main!" ujar Arkan, semua murid terdiam. Aura Arkan membius satu kelas.
"Satu hal lagi, seorang dokter tidak pernah takut apapun. Tidak ada kata jijik saat merawat pasien. Seorang dokter harus memiliki hati yang bersih. Jadi jangan penuhi hati kalian dengan cinta yang hanya akan menghancurkan. Masa kalian hanya belajar, bukan bermain. Sekarang bersiaplah, aku akan memulai pelajaran pertama!" ujar Arkan lantang dan tegas. Semua murid menunduk, Savira dan Hanna diam membisu. Mereka takut bila Arkan akan membahas kejadian tadi pagi.
"Selamat menikmati cara belajar pak Arkan. Jaga diri kalian!" ujar Ghibran, Arkan berdehem mendengar perkataan Ghibran. Seolah Arkan tidak suka mendengar perkataan Ghibran.
__ADS_1
"Mama, aku bertemu dengannya. Putri kecilmu tumbuh menjadi gadis tomboy yang cantik. Tawa riang selalu menghiasi wajahnya. Mulai hari ini aku akan menjaganya. Dia amanahmu yang harus aku jaga. Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi dia. Hanna Santika Ramaniya, putri kecil yang kita rindukan!" batin Arkan pilu.