Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
SENJA


__ADS_3

"Tika!" sapa Rayhan, Tika menoleh. Dia menghampiri Rayhan, mengisyaratkan dia untuk ikut dengan Tika.


"Aku pulang, assalammualaikum!" ujar Tika ramah tanpa lagi menoleh.


"Kalian menang, kalian berhasil menandatangani surat kehancuran putramu!" ujar Agam dingin.


"Om Rayhan!" sapa si kembar, Rahyan merentangkan kedua tangannya. Si kembar berlari memeluk kedua buah hati Tika. Agam mendengar suara kedua buah hatinya. Seketika Agam menoleh, dia melihat kedua belahan jiwanya memeluk Rayhan penuh cinta. Agam terpuruk untuk kedua kalinya. Bukan hanya tangan Tika yang akan terlepas, bayangan kepergian kedua belahan jiwanya seakan nyata terpampang.


Hati dan pikiran Tika benar-benar kacau. Bukan hanya kedua matanya yang menangis, tapi hatinya menjerit terluka. Dengan sisa tenaga, Tika berjalan menuju mobilnya. Tidak ada keinginan Tika untuk pulang ke rumah. Tika ingin pergi ke tempat dimana tak ada orang yang mengenalinya?


"Sayang, kalian naik mobil om Rayhan. Mama sedikit pusing, biarkan mbak Zahro yang menemani. Kalau kalian satu mobil dengan mama. Takutnya membuat kepala mama semakin pusing dengan cerewetnya kalian!" bujuk Rayhan, dengan tegas mereka mengangguk. Kedua berjalan beriringan menggandeng tangan Rayhan.


"Lihatlah, kedua anakku sudah menemukan calon penggantiku. Mereka tak melihatku berdiri disini. Semua selesai untukku. Kalian menang, kalian berhasil menghancurkan keluarga kecilku!" ujar Agam lirih, tubuhnya jatuh ke lantai. Agam hancur dalam waktu singkat. Takkan lagi ada sambutan dari kedua buah hatinya. Senyum dan tawa mereka takkan lagi didengarnya. Bukan tangan Agam yang mereka cari saat terluka. Tapi tangan seorang Rayhan yang kelak menjadi pelindung mereka.

__ADS_1


"Agam, bangunlah kita pulang sekarang. Tika tidak akan semudah itu membawa mereka. Kita akan berjuang mendapatkan hak asuh mereka. Sekarang lebih baik tenangkan pikiranmu. Rencana pernikahanmu dengan Zalwa kita pikirkan nanti!" ujar Ilham sembari menepuk pelan pundak Agam. Seketika Agam berdiri, menatap wajah kedua orang tuanya.


"Harimau takkan pernah tega memakan anaknya sendiri. Sebaliknya aku melihat orang tuaku, sedang bersorak akan hancurnya kebahagianku!" ujar Agam dingin, sembari meninggalkan kedua orang tuanya. Dengan langkah gontai Agam keluar dari restoran. Pikiran Agam benar-benar kalut. Cinci pengikat dirinya dan Tika telah terlepas. Perpisahan seakan semakin nyata terlihat.


Saat Agam terpuruk dan tak lagi mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Tika mencoba tenang, ikhlas menerima kenyataan jika dia harus mengakhiri pernikahannya. Rayhan sangat mengenal Tika. Dia mampu memahami pikirannya. Sengaja Rayhan meminta kedua buah hati Tika ikut dalam mobilnya. Agar Tika bisa menangis, tanpa si kembar melihatnya. Rayhan terus mengikuti arah mobil Tika. Lagi dan lagi Rayhan sudah bisa mengetahui. Jika Tika akan pergi ke laut. Menatap senja demi sebuah ketenangan.


"Haruskah semua aku akhiri sekarang! Jujur aku bingung dengan hatiku. Aku tak pernah berpikir ingin menjauh dari surgaku. Namun hinaan dan keraguan mereka akan orang tuaku. Seolah pisau yang mengoyak hatiku. Sakit sangat sakit, aku seolah tak mampu bernapas!" ujar Tika lirih, tatapannya jauh menerawang mencari batas laut di depannya. Rayhan menoleh sebentar, lalu menatap laut yang sama dengan Tika. Si kembar dan Zahro berada di restoran tak jauh dari Tika berdiri.


"Waktu yang lama tak mampu membuktikan kita masih bisa bersama. Mas Agam takkan mampu memilih dan takkan pernah aku minta memilih. Antara diriku dan orang tuanya. Mungkin aku bodoh, lebih memilih mengakhiri pernikahan hanya demi orang tuanya. Tapi apa kamu tahu? Semenjak aku menikah dengan Mas Agam, orang tua dan saudaraku menjauh. Mereka menjaga jarak denganku, supaya aku tidak bergantung pada mereka. Apa kamu tidak akan terluka? Setelah pengertian dan pengorbanan mereka. Orang tuaku hanya mendapat sebuah keraguan tanpa alasan yang benar. Jika bertahannya rumah tanggaku semua demi si kembar. Kamu salah Rayhan, itu bukan alasan yang tepat. Semenjak hamil sampai melahirkan. Aku tak pernah melihat kasih sayang tulus orang tua mas Agam. Hanya anggapan mereka pewaris keluarga mas Agam. Hanya itu yang tersemat dalam hidup putraku bukan pitriku. Lagipula pantaskah seorang kakek dan nenek memperlakukanku cucunya hanya untuk menyambung keturunan. Mereka terlalu kejam. Aku sangat takut pada mereka!" ujar Tika lirih, Rayhan mengangguk lemah. Rayhan dan Tika menatap senja yang menyeruak.


Senja yang mampu mendamaikan hati seorang Kartika Putri Anggara. Hati yang mulai goyah akan cintanya, tapi tetap teguh akan ketulusannya. Tika menatap senja seakan takkan ada Hari esok. Baginya semua terlalu menakutkan. Apa yang akan dia katakan pada si kembar? Bila mereka bertanya alasan kepindahan mereka.


Rasa malu seperti apa yang dengan santainya diberikan Tika untuk orang tuanya? Banyak yang menjadi pemikiran Tika diatas rasa sakit kehilangan Agam. Tika mencintai Agam dengan ketulusan tanpa paksaan. Selama ini Tika memposisikan dirinya sebagai makmum yang mengikuti imam. Bukan hanya demi sebuah pengabdian dan tanggungjawab. Melainkan lebih kepada sebuah ketulusan tanpa sebuah balasan.

__ADS_1


Tika mengangkat tangan kanannya. Tak Ada lagi cincin pengikat diantara dirirnya dan Agam. Cincin penyatu yang tak pernah Tika lepas selama bertahun-tahun. Kini dengan mudah Tika lepaskan. Hanya demi sebuah pembenaran atasa pemikiran yang salah pada orang tuanya.


"Sebaiknya kamu pikirkan kembali. Jangan menggunakan emosi, tenangkan hatimu setenang senja yang terlihat. Tahun yang terlewati takkan mampu menghilang hanya dalam sekejap. Jika memang kalian harus terpisah sementara. Mungkin itu jalan terbaik, kembalikan cintamu untuk Agam dengan sujudmu. Pasrahkan hubungan kalian pada jalan dan ketetapan-NYA. Semua demi dua buah hatimu!" tutur Rayhan menguatkan, Tika terdiam menatap senja jauh di depannya. Cerah langit jingga, tak secerah hatinya. Keindahan yang terpampang nyata, tak sejalan dengan pernikahannya.


"Seandainya dulu aku menyerah akan rasa ini. Mungkin semua takkan seperti ini. Aku takkan menangis dan terluka. Papa dan bunda takkan terhina dan bersedih!"


"Tika, apa yang kamu katakan? Bukan perkataan seseorang yang memiliki iman. Kamu jangan lupa, meski kita berjalan dengan hati-hati. Jika sudah tertulis akan jatuh dan terluka, pasti kita akan jatuh. Sejauh kamu berlari dari masalah, tetap saja masalah akan selalu ada. Hidup selalu ada dengan suka dan dukanya. Aku tidak mengenal pribadimu yang baru. Namun sebelum Tika yang sekarang. Dia selalu optimis dan ceria. Kembalilah menjadi Tika penyuka senjaku yang ceria. Aku yakin Tika itu masih ada. Berdamailah dengan keadaan, jadikan Agam sebagai rekanmu. Jika bukan rekan dalam hati, jadikan dia rekan untuk membesarkan si kembar!"


"Kamu benar Rayhan, hanya pengecut yang takut akan masalah. Terima kasih selalu ada di saat terpurukku. Kamu tetap Rayhan yang dulu, selalu menjadi sandaran saat aku menangis!" ujar Tika, Rayhan menunduk terdiam. Dia menoleh melihat ke arah Tika.


"Aku memang tetap Rayhan yang sama. Rayhan yang menyimpan rapat rasanya untukmu. Rayhan yang takkan pernah mampu menggapaimu. Rayhan yanga akan tersenyum bila melihat senyummu. Tika, satu hal yang aku takutkan. Melihat air mata yang jatuh dari kedua mata indahmu. Jangan pernah berpikir untuk menangis, karena aku akan ada untuk menghapus air mata itu. Meski bukan aku nama yang ada dihatimu. Namun aku akan menjadi sandaran, agar tak ada sakit yang kamu rasakan sendirian. Aku akan menjadi Rayhan yang sama, kuharap kamu menjadi Tika yang sama. Meski hubungan diantara kita tak lagi sama!" batin Rayhan sesaat setelah mendengar perkataan Tika. Rayhan menatap senja layaknya menatap Tika. Teduh dan Tenang, senja yang selama ini menemani hari-hari Rayhan.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


__ADS_2