Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Belum Saatnya


__ADS_3

FLASHBACK


"Sah!"


Satu kata menggema di seluruh sudut rumah megah Hanna. Satu kata yang mengawali perubahan status Hanna. Ikatan suci yang kini ada diantara Hafidz dan Hanna. Pengucapan janji suci pernikahan yang dengan lantang diucapkan Hafidz. Menjadikan dirinya halal untuk Hanna. Mengesahkan status dirinya yang kini berhak atas hidup Hanna. Kebahagian yang tengah digapai oleh Hanna dan Hafidz.


Tepat setelah kata sah menggema. Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Hafidz dan Hanna. Keduanya menangis merasakan awal kebahagian yang tak pernah mereka bayangkan. Hafidz tak pernah menyangka, perjuangannya kini mencapai akhir. Sebuah persetujuan yang tak pernah dia bayangkan akan datang secepat ini. Sebaliknya Hanna merasakan getaran aneh dalam hatinya. Setiap kata yang diucapkan Hafidz menyentuh hati terdalamnya. Menyadarkan dirinya yang hampa, mengatakan pada hati kosongnya. Jika cinta Hafidz nyata ada untuknya. Hubungan yang suci dan sakral kini ada diantara dirinya dengan Hafidz.


"Mama, terima kasih!"


Kata yang tepat mewakili perasaan Hafidz. Kala kata sah mengakhiri perjuangannya. Tanpa aba-aba dan rencana, Hafidz dan Hanna berbalik dari pelaminan. Keduanya turun bersimpuh di depan kedua orang tuanya. Hafidz berjongkok tepat di depan sang ibu. Mengucapkan ribuan kata terima kasih, karena telah mengizinkan Hafidz menggapai kebahagiannya. Sedangkan Hanna bersimpuh dan memeluk Tika. Dengan deraian air mata, Hanna memeluk Tika erat.


"Maafkan Hanna!"


Ungkapan penuh penyesalan Hanna pada sang mama. Ribuan kekecewaan Hanna berganti dengan penyesalan. Kala Hanna menyadari arti sebuah pernikahan. Rasa sakit dan bahagia sang mama, entah kenapa terasa dihati Hanna? Kata sah yang membuatnya memahami arti pernikahan. Sebuah tanggungjawab yang berat, tanggungjawab dan cinta yang pernah dirasakan oleh Tika. Keputusan terbesar bertahan dengan cinta, meski Tika harus terus tersakiti.


Hafidz dan Hanna menangis dalam dekapan kedua orang tuanya. Semua tamu merasa terharu melihat sikap Hafidz dan Hanna. Tak terkecuali Agam dan Dirga. Dua sosok laki-laki yang selama ini melindungi Hanna dan Hafidz. Dua orang yang mencintai satu wanita, tapi tak pernah bersaing mendapatkan wanita yang begitu dihargainya. Baik Agam dan Dirga mencintai dengan ketulusan tanpa batas. Cinta yang mengenal rasa sakit, bukan cinta yang memaksa untuk tersenyum dengan mengorbankan air mata sang pemilik hati.


"Jangan sakiti putriku!"


Satu permintaan Agam pada Hafidz menantunya kini. Sebuah pinta seorang ayah, kala kebahagian dan kesedihan putrinya tak lagi bisa dilihatnya. Kecemasan seorang ayah, ketika sang putri jauh dari dekapannya. Kegelisahan seorang ayah, saat tangannya tak lagi berhak merangkul putrinya. Kini ada tangan lain yang jauh lebih pantas merangkul dan menghapus air matanya. Bukan dengan dirinya Hanna tersenyum kini. Bersama dengan Hafidz, Hanna kelak menggapai bahagia. Rasa tersisih yang tak bisa ditutupi Agam. Namun nyata harus tersimpan, demi kebahagian sejati sang putri.


"Selamat datang putri kecilku!"


Ungkapan kebahagian Dirga yang kini terwujud. Bertahun-tahun Dirga berharap menjadi ayah bagi Hanna. Kini jalan jodoh membuatnya menjadi ayah putr kecilnya. Kasih sayang tulus seorang ayah yang tak berharap bertemu sang putri. Kini terwujud nyata, saat sang putra membawa putrinya kembali. Sebuah impian yang menjadi nyata, harapan tulus yang terwujud. Saat kesabaran menjadi jalan yang nyata dipilihnya. Dirga menjadi ayah bagi Hanna kecilnya. Meski dia tak pernah menikah dengan Tika. Kebahagian menjadi seorang ayah yang selalu diimpikan Dirga. Laki-laki yang tulus mencintai, kini menggapai rasa bahagia menjadi seorang ayah.


FLASHBACK OFF


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


"Kenapa melamun? Kamu menyesal menikah denganku!" Ujar Hafidz lirih, Hanna menggeleng lemah.


Hanna berdiri menatap lurus keluar dari jendela kamarnya. Menatap langit biru yang penuh dengan awan putih. Hanna mengingat setiap kata yang terucap. Setiap kata yang begitu dalam menyimpan makna. Sebuah doa dan harapan pernikahannya. Air mata Hanna mungkin mengerih, tapi rasa haru itu masih nyata terasa. Doa tulus orang-orang yang bahagia akan pernikahannya. Harapan orang tua, kala melihat putrinya bahagia.


"Ada apa? Jangan diam, bicaralah!" Bisik Hafidz mesra tepat di telinga Hanna. Hafidz mengedus mesra tengkuk Hanna. Mencium harum rambut Hanna yang tergerai indah.


"Aku sedang mengingat kejadian tadi pagi. Setiap kata yang terucap dari orang tua kita. Teringang dalam benakku, meninggalkan rasa bersalah yang tak kumengerti!"


"Memangnya ada yang aneh? Perkataan mereka sebatas nasehat orang tua pada anaknya. Aku rasa tidak ada yang salah!"


"Kak Hafidz, aku mengerti tentang itu. Hanya saja aku mulai sadar. Jika semua tak semudah yang aku pikirkan. Selama ini aku hidup bebas, aku selalu melakukan semuanya sesuai kemauanku. Tanpa aku peduli, sikapku telah menyakiti orang lain. Terutama mama dan papa!" Ujar Hanna lirih, Hafidz menggeleng tak mengerti. Dengan perlahan Hafidz menyandarkan pundaknya di bahu Hanna. Hafidz memeluk erat Hanna, istri tercintanya kini.


"Aku tidak mengerti!"


"Jika tidak mengerti, lebih baik kak Hafidz diam!"


Sejak tadi Hanna mencoba diam, dia membiarkan Hafidz melakukan apapun yang diinginkannya. Namun lama kelamaan, Hanna merasa risih. Hanna mulai merasa gerah, ketika Hafidz memeluknya. Meski Hanna sadari, jika Hafidz berhak melakukan apapun padanya.


"Mulut kakak memang diam, tapi tangan kakak yang terus bergerak. Aku merasa geli, jadi aku mohon menyingkir dariku!"


"Aku tidak akan melepaskan pelukanku!"


"Kak Hafidz, aku mulai merasa sesak!"


"Hanna, kamu sedang mencari alasan. Aku akan menagih utangmu saat ini juga!" Ujar Hafidz tegas, Hanna memutar tubuhnya dengan susah payah. Pelukan erat Hafidz, mengurung Hanna sampai tubuhnya tak berkutik.


"Aku akan menjadi milikmu bila saatnya tiba!"


"Bukankah aku sudah sah menjadi suamimu. Kenapa sekarang kamu malah menjauh?" Sahut Hafidz ketus, Hanna menggeleng lemah. Seolah perkataan Hafidz takkan pernah terwujud.

__ADS_1


Hanna tersenyum melihat muka cemberut Hafidz. Hafidz merajuk, bak anak kecil yang batal mendapatkan mainan. Hanna menyentil hidung Hafidz mesra. Dengan lembut Hanna meniup kedua mata Hafidz. Aroma napas mint Hanna, semakin menggugah gairah Hafidz. Dengan sigap Hafidz menarik tubuh Hanna mendekat. Keduanya sangat dekat, hanya sehelai baju yang membatasi mereka.


Tok Tok Tok


"Makan malam sudah siap!" Panggil Tika ramah, Hafidz menghela napas kecewa. Sedangkan Hanna tersenyum penuh kemenangan. Saat Hafidz melepaskan pelukannya.


"Salah satu alasan aku menolakmu!" Ujar Hanna menggoda Hafidz.


"Mama datang disaat yang tidak tepat!" Sahut Hafidz kecewa, Hanna menggandeng tangan Hafidz. Hanna mengajak Hafidz turun ke meja makan. Hanna sudah sangat lapar. Sejak tadi sore dia belum makan sesuatu.


"Hanna, kita makan nanti saja. Aku hanya ingin berdua denganmu!" Ujar Hafidz sembari menahan langkah Hanna. Dengan spontan Hanna menggeleng, dia menolak ajakan Hafidz.


"Aku lapar!"


"Sayang, aku mohon!" Ujar Hafidz memelas.


"Aku sedang datang bulan!" Bisik Hanna mesra tepat di telinga Hafidz.


"Tidak mungkin!" Ujar Hafidz tak percaya.


"Bersabarlah kak Hafidz sayang, belum saatnya aku kamu miliki!" Sahut Hanna menggoda.


"Sayang, kamu bercanda!"


"Silahkan diperiksa!" Ujar Hanna, Hafidz menggeleng lemah.


"Kamu menang!" Sahut Hafidz lesu, seketika Hanna tertawa.


"Kak Hafidz, kamu tampan saat merajuk!"

__ADS_1


__ADS_2