
"Dokter Arkan!" sapa Hafidz ramah, Arkan menoleh dengan raut wajah terkejut.
Arkan melihat Hafidz berdiri tepat di depan ruangannya. Sepintas Arkan ragu jika itu Hafidz. Namun beberapa saat kemudian. Arkan yakin kalau Hafidz yang berdiri di depannya.
"Kak Hafidz, sedang ada urusan apa? Tangan kakak kenapa berdarah?" ujar Arkan cemas, Hafidz menggeleng seraya mengutas senyum. Seakan mengatakan dirinya baik-baik saja.
Arkan meminta Hafidz masuk lalu berbaring di ranjang pasien. Hafidz menolak dia merasa baik-baik saja. Mungkin hanya luka di tangannya yang perlu diperban. Arkan mengangguk mengerti, ketika melihat Hafidz memilih duduk di tempat tidur pasien.
"Baiklah kak, sebentar aku siapkan perbannya. Asistenku kabur-kaburan, maklum dokter muda yang labil!" ujar Arkan seraya menggelengkan kepalanya lemah.
Hafidz mengangguk mengiyakan perkataan Arkan. Meski dia tidak mengerti maksud perkataan Arkan. Tidak mungkin ada dokter yang sembrono seperti yang dikatan Arkan. Meskipun ada seharusnya Arkan menegurnya. Bukan malah setuju dengan sikap tak pantasnya.
"Kak Hafidz, julurkan tanganmu. Aku akan membersihkannya dulu. Baru setelah itu aku akan memperbannya!"
"Arkan, kenapa harus kamu? Kenapa kamu tidak menunggu perawat atau asisten doktermu!" ujar Hafidz, Arkan menggeleng lemah. Tanpa banyak bicara, Arkan membersihkan luka di tangan Hafidz.
Braakkkkk
"Biar aku saja dokter Arkan!" ujar Hanna lantang. Sontak Arkan dan Hafidz mendongak kaget. Suara keras bantingan pintu, kalah dengan suara lantang Hanna. Mereka terkejut dua kali.
Deg Deg Deg
"Ternyata dia asisten dokter Arkan. Aku baru tahu dia seorang dokter. Sungguh wanita yang penuh kejutan. Aku pikir kamu tak lebih dari wanita manja yang tak pernah mengenal kata bekerja. Sekarang aku melihatmu memakai jas putih kedokteran. Jas yang nyata memancarkan aura putih hatimu. Ya Rabb, sampai kapan aku menahan rasa ini? Sanggupkah aku menahan hasratku, menggenggam erat iman yang ada dalam hatiku. Wahai Hanna gadis ceria, sampai kapan kamu hanya ada dalam benakku? Tidak mungkinkah dirimu nyata ada di sampingku!" batin Hafidz.
"Akhirnya kamu datang juga. Memangnya kamu sarapan apa? Sampai satu jam lebih menghilang!" ujar Arkan kesal, Hanna senyum-senyum sendiri. Bukan merasa bersalah, Hanna malah bersikap layaknya anak kecil.
"Jangan marah padaku, Ghibran temanmu yang membuatku lama. Minta dia menjauh dariku, aku mulai risih selalu diikutinya!" ujar Hanna santai, Arkan menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat sikap Hanna yang kekanak-kanakan.
__ADS_1
Seketika Hafidz menunduk, ada rasa ngilu ketika Hanna menceritakan Ghibran. Entah rasa cemburu atau merasa ada yang menjadi pesaingnya. Arkan menatap Hafidz yang tiba-tiba pendiam. Arkan memahami perubahan sikap Hafidz. Sikap yang sama pernah dilakukan Arkan. Ketika dia mendengar ada laki-laki lain yang mendekati Aura.
Hanna duduk tepat di depan Hafidz. Dia hendak membersihkan luka Hafidz. Hanna yang ceria dan selalu ceroboh. Tanpa canggung tiba-tiba menarik tangan Hafidz. Hanna menggenggam tangan Hafidz dengan sangat erat.
"Awwwsss!"
"Dasar manja, begini saja sudah teriak. Kalau tidak ingin sakit. Jangan suka melukai diri!" ujar Hanna ketus, Hafidz diam membisu. Arkan menggelengkan kepala. Arkan benar-benar heran dengan sikap Hanna yang terlalu santai.
"Aku menjerit bukan karena sakit. Sentuhan tanganmu membuat darah dalam nadiku mendidih. Jantungku berdetak hebat, aku seakan tak mampu menahannya. Seandainya aku tahu kamu seorang dokter. Bukan hanya tanganku yang terluka. Tubuhku rela terluka, asalkan kamu yang menjadi dokternya!" batin Hafidz.
"Hanna, jaga bicaramu. Ingat sebagai seorang dokter, kamu harus bersikap ramah. Bukan seenaknya sendiri!"
"Kalau pasiennya dia, lebih baik aku tidak menjadi dokter. Dia dan Ghibran sebelas dua belas. Laki-laki yang menggunakan wajahnya untuk memikat seorang wanita!" sahut Hanna ketus, Hafidz mendongak terkejut. Kedua matanya bertemu dengan mata indah Hanna.
Hafidz terkejut dengan pendapat Hanna. Entah apa salahnya? Sampai Hanna berpikir seburuk itu tentangnya. Mereka tidak pernah saling mengenal, tapi dengan mudahnya Hanna menilai buruk tentangnya.
"Kapan aku melakukannya?" sahut Hafidz, Arkan terkekeh melihat Hafidz. Tatapan dan cara Hafidz terkejut dengan perkataan Hanna membuat Arkan semakin yakin dengan pendapatnya.
"Alasan itukah yang membuatmu enggan menikah? Selalu marah dan memandang buruk laki-laki yang mendekatimu!" ujar Hafidz tegas, Hanna mengangguk tanpa ragu. Arkan menjadi orang ketiga yang tak dianggap. Hanna dan Hafidz berbicara, tanpa berpikir ada Arkan yang bisa diajak diskusi.
"Kamu berpikir kami buruk, tapi pernahkah kamu berpikir kami juga bisa baik. Karena tidak semua laki-laki akan kalah oleh napsunya!" sahut Hafidz, Hanna tersenyum simpul tepat di depan wajah Hafidz.
"Asthgafirullah, senyumnya begitu manis!" batin Hafidz sembari menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sudah kukatakan tidak semua laki-laki, tapi kebanyakan. Lagipula kamu buruk atau tidak. Aku tidak peduli, karena tidak ada hubungannya denganku!" ujar Hanna santai.
"Ada!" sahut Hafidz lantang dan tanpa sadar.
__ADS_1
"Kenapa harus ada? Aku bukan siapa-siapamu?" sahut Hanna, Hafidz terdiam merasa malu. Tanpa sadar dia sudah mengatakan isi hatinya.
Hanna berdiri meletakkan alat-alat medis. Meninggalkan Hafidz yang tertunduk lesu. Hanna duduk di kursi Arkan, lalu menulis resep untuk Hafidz. Sedangkan Arkan menghampiri Hafidz. Berdiri tepat di samping Hafidz, satu tangannya merangkul tubuh Hafidz hangat. Hubungan yang awalnya canggung, kini mulai mencair dan hangat.
"Aku tahu isi hatimu, tapi Hanna tidak mudah ditaklukkan. Ghibran sahabatku yang juga masih kerabatku. Bertahun-tahun mendekatinya, tapi kakak bisa mendengar sendiri pendapat Hanna tentangnya. Jika ingin mendekati Hanna, aku bisa membantumu!" ujar Arkan lirih, Hafidz menunduk mendengarkan Arkan.
Kebulatan tekad Hafidz mendekati Hanna, tidak bisa diragukan lagi. Segala cara akan dilakukan Hafidz. Selama bukan hal yang salah dan menyakiti Hanna. Arkan tersenyum sembari menatap lekat Hafidz. Tekad yang nyata terpancar dari kedua mata Hafidz. Menyakinkan Arkan jika dia yang terbaik untuk Hanna.
"Dekati orang-orang yang dicintainya!" ujar Arkan.
"Kenapa?"
"Karena kami orang yang paling dekat di hati dingin Hanna. Jika kakak bisa menyakinkan kami, cintamu tulus dan suci. Menjadikan bahagia Hanna tujuan hidupmu. Kami akan dengan senang hati menyerahkan tangan Hanna!"
"Apa itu mungkin? Tanpa kami mengenal, dia bisa mencintaiku!" ujar Hafidz, Arkan mengangguk pelan.
"Mungkin, karena luka dan dingin Hanna bukan orang lain penyebabnya. Kami orang-orang yang dicintainya meninggalkan luka itu. Alasan kuat Hanna tak ingin mencintai. Agar dia tak lagi tersakiti. Hanna merasa cinta kami sudah sempurna. Padahal ada cintamu yang jauh lebih sempurna!"
"Artinya kamu setuju, jika aku mendekati Hanna!" ujar Hafidz, Arkan mengangguk pelan.
"Aku tidak ragu menyerahkan Hanna padamu. Namun alangkah baiknya, temui orang tua kakak. Minta saran dari mereka, agar jalanmu lebih mudah. Ridho orang tua jalan terbaik untuk kita!" ujar Arkan, Hafidz mengangguk mengerti.
"Mereka sedang bicara apa? Kenapa berbisik-bisik? Seperti wanita yang sedang bergosip!" batin Hanna kesal, sembari menatap Arkan dan Hafidz lekat.
"Ini resep untuk lukamu. Sekarang cepat pergi, banyak pasien yang antri di luar!" ujar Hanna ketus, Hafidz mengangguk sembari menerima resep dari Hanna.
"Jangan terlalu membencinya. Takut nanti kamu malah mencintainya!" bisik Arkan lirih.
__ADS_1
"Tidaaaakkkkk mungkin!" teriak Hanna lantang, sembari mendengus kesal.
"Hanna, ini yang aku suka darimu. Ramai dan apa adanya? Tak pernah takut mengeluarkan emosi, berpikir layaknya anak-anak. Namun terkadang kedewasaanmu membuatku terdiam terkesima!" batin Hafidz.