
"Arkan, katakan apa keputusanmu? Kondisi Agam sudah sangat buruk. Kita harus segera mengambil keputusan. Nenek menyadari rasa kecewamu terlampau besar, sampai hatimu begitu dingin dan beku. Dia ayah kandungmu, bukan orang lain!" ujar Nissa ramah, Arkan hanya diam membisu.
"Kenapa harus bertanya pada orang yang bahagia melihat putraku hancur? Aku yakin dia tidak akan membantu Agam, dia menganggap Agam orang lain!" ujar Salma menusuk ke hati Arkan.
Seketika Arkan tersenyum sinis mendengar perkataan Salma. Entah kenapa Arkan merasa Salma sangat menggelikan? Salma menyalahkan Arkan atas hancurnya Agam. Padahal nyata dialah yang membuat Agam terluka dan tak berdaya.
"Nyonya tidak mungkin lupa, bagaimana penilaian anda terhadap saya? Lantas masih pantaskah saya membantu anda. Bukankah harta yang anda miliki. Mampu membayar dokter hebat yang jauh lebih profesional!" ujar Arkan, Salma menunduk malu. Nissa diam melihat perdebatan Arkan dan Salma.
Nissa tidak menyangka, Arkan melupakan hubungan darah diantara mereka. Sebaliknya Salma seolah tak peduli akan perasaan Arkan. Sifat Salma tidak akan pernah berubah. Sekarang atau nanti, hanya harta yang menjadi patokan dalam hidupnya.
"Saat itu aku tidak mengenalimu. Aku mengira kamu laki-laki miskin yang hanya mengadalkan kepintaran. Seandainya aku mengenali dirimu. Mungkin aku tidak akan bicara seperti itu!" ujar Salma, Ilham menatap Salma. Berharap istrinya bersedia diam. Agar Ilham bisa membujuk Arkan. Satu kesempatan yang ada dan takkan ingin dilewatkan oleh Ilham. Sebisa mungkin dia ingin membujuk Arkan. Agar bersedia menjaga Agam.
"Pendapat anda tentang saya, sudah menjawab hubungan diantara kita. Seandainya anda tak mengagungkan harta. Anda akan dengan mudah mengenaliku. Cucu yang terbuang dan tercerai berai, karena keegoisan anda. Sekarang hak apa yang anda katakan pada saya. Jika anda meminta bantuanku sebagai seorang dokter. Dengan senang hati saya bersedia!" ujar Arkan, Ilham mengangguk.
"Tapi tidak sebagai anak dari putramu!" ujar Arkan final, Bayu dan Nissa menggelengkan kepala pelan. Keteguhan hati Arkan tidak benar, tapi menyalahkan amarah yang tersimpan dihati Arkan. Bukan sikap yang benar. Nissa tak dapat menasehati Arkan. Sebab rasa sakit yang dialami Arkan tidak akan mudah hilang.
"Arkan, papamu butuh transplantasi ginjal!" ujar Bayu lantang, Ilham dan Salma menatap lekat Arkan. Menanti anggukan kepala Arkan mengiyakan permintaan Bayu. Sebaliknya Zalwa tak mampu menatap kedua mata Arkan.
Pertemuan Zalwa dengan Arkan kapan hari? Sudah menjadi jawaban final Arkan. Zalwa menyadari amarah Arkan takkan mampu dibendung. Dia akan tetap teguh menolak membantu Agam. Meski nyata Agam ayah kandungnya. Darah yang sama mengalir dalam tubuh Arkan dan Agam.
"Lantas, haruskah aku mendonorkan ginjalku!" ujar Arkan sinis, Salma mengangguk tanpa ragu. Sontak Arkan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aku akan mendonorkan ginjalku, seandainya keringatnya yang menghidupiku selama ini. Gunakan harta yang anda miliki, untuk kesembuhan putramu. Seandainya hartamu tak mampu membeli sehat putramu. Saat itu anda akan menyadari. Harta yang selalu menjadi alasan ibuku rendah dihadapan kalian. Tidak ada gunanya dan takkan bisa membeli kasih sayang. Ibuku wanita hebat yang kalian sia-siakan. Bukan senyum putramu yang ingin aku lihat, tapi senyum ibuku yang terus kalian buat menangis!" ujar Arkan, lalu berdiri.
Arkan membungkuk ke arah Nissa dan Bayu. Arkan berjalan beberapa langkah, tepat di depan pintu. Terdengar suara kursi terdorong ke belakang.
Duuukkk
Suara lutut Zalwa yang membentur lantai. Membuat Arkan menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badan 180°. Arkan terkejut melihat Zalwa berlutut di depan Arkan. Kedua tangannya menangkup di depan dadanya. Arkan menatap lekat Zalwa yang sedang bersimpuh. Menatap nanar Arkan, seolah mengharap kata iya dari Arkan.
"Aku mohon, dia sudah cukup menderita!" ujar Zalwa lirih, air mata Zalwa menetes.
"Nyonya Salma, lihatlah hasil dari keangkuhanmu. Putra yang selalu membanggakanmu hancur dan kini berjuang melawan rasa sakit. Sedangkan wanita yang kamu harap bahagia bersama putramu. Tanpa sengaja tersakiti dan terhina. Harus berapa hati lagi hancur? Demi obsesi yang sesungguhnya salah!" ujar Arkan tegas dan dingin.
"Ayah Ilham, dulu aku mengagumi kebijaksanaanmu. Kini aku menyadari, Arkan jauh lebih dewasa darimu. Harta dan kedudukan membuat kalian lupa akan jati diri!" ujar Nissa.
"Jangan banyak bicara kamu!" ujar Salma ketua ke arah Nissa.
"Salma diam, kita memang salah!" ujar Ilham lirih.
"Maaf, aku tinggal dulu!" pamit Nissa datar, berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1
"Assalammualaikum!" ujar Tika lirih, sembari membuka pintu ruangan Agam. Tika membuka pintu lebar-lebar. Sengaja Tika tidak menutup pintu ruangan Agam. Agar Tika tidak berdua saja dengan Agam.
Tika menatap Agam yang terbaring tak berdaya. Tika diam mematung tak berdaya melihat Agam hidup bergantung pada alat-alat medis. Suster yang merawat Agam hendak keluar. Namun dicegah oleh Tika.
"Mas Agam!" sapa Tika lirih, dengan perlahan Agam membuka matanya. Jelas dia mendengar suara Tika. Meski belasan tahun Agam tak pernah mendengar suara Tika. Namun hari dia mendengar suara Tika dengan jelas.
"Tika!" sahut Agam lemah dan tak percaya. Agam berusaha duduk, di mencoba duduk dengan sisa tenaganya.
Namun sia-sia kondisi Agam sangat lemah. Akhirnya dengan bantuan perawat, Agam tidur dengan posisi tegak. Tika berdiri sedikit menjauh dari Agam. Tatapan keduanya bertemu, tapi tak ada rasa cinta yang terlihat dari wajah Tika. Sebenarnya Tika datang setelah mendengar kondisi Agam memburuk. Dia datang hanya ingin memberikan dukungan pada Agam tidak lebih.
"Tika sayang, kamu menemuiku!" ujar Agam tak percaya, Tika mengangguk pelan. Agam mengulurkan tangannya ke arah Tika. Namun dengan sopan Tika menggeleng. Lalu menangkupkan kedua tangannya. Seolah meminta maaf, dia tidak bisa menyentuh Agam.
"Permisi, saya keluar dulu!" ujar perawat merasa tidak nyaman.
"Tidak perlu keluar, lebih baik tetap disini. Kami berdua bukan mukhrim. Jadi tidak pantas berada di dalam ruangan berdua!" ujar Tika menahan perawat. Dengan sopan perawat mengangguk mengiyakan.
"Tidak sepantasnya kamu menyerah. Seharusnya kamu bertahan dan berjuang mendapatkan kepercayaan Arkan. Mungkin kamu tidak akan pernah bisa menembus dinding hati Arkan yang penuh amarah. Dia bukan lagi bocah yang akan menangis bila tersakiti. Namun dia akan berjuang demi senyumku. Tanpa mas Agam sadar dia yang paling terluka. Tapi percayalah kelak Arkan akan kembali padamu!" ujar Tika lirih.
"Kapan?"
"Saat hatinya tidak lagi menyimpan amarah untukmu!" sahut Tika
__ADS_1