
"Silahkan masuk Hafidz, sudah lama aku menunggumu!" Ujar Dimas lantang, tangannya menyambut kedatangan Hafidz dan Ziva.
Hafidz dan Ziva mendapat undangan khusus dari Dimas Anggara. Undangan resmi yang diberikan kepada beberapa rekan penting perusahaan Anggara. Salah satunya Hafidz yang kini menjadi rekan kerja Perusahaan Annggara. Hafidz dan Ziva datang tepat waktu. Keduanya terlihat serasi layaknya sepasang kekasih. Aura ketampanan Hafidz menyatu dengan kelembutan wajah Ziva yang memakai hijab.
"Terima kasih tuan Dimas!" Sahut Hafidz ramah, seraya mengutas senyum. Dimas mengangguk menyahuti perkataan Hafidz. Dengan sopan Dimas mengajak Hafidz dan Ziva masuk lebih dalam ke rumahnya.
Acara makan malam yang sengaja diadakan Dimas sebagai rasa syukur menyambut kebahagian Tika putrinya. Dimas mengadakan acara dengan sederhana di kediamannya. Halaman belakang menjadi tempat acara. Tika dan Agam tak pernah setuju, tapi sikap keras Dimas mengalahkan penolakan Tika dan Agam. Akhirnya acara diadakan dengan sangat sederhana.
"Rumah anda sangat nyaman!" Ujar Hafidz, Dimas hanya tersenyum mendengar perkataan Hafidz. Rasa nyaman yang diutarakan Hafidz. Berbeda dengan rasa nyaman yang dirasakan Dimas.
"Sangat nyaman!" Sahut Dimas, Hafidz mengangguk mengiyakan.
Tak berapa lama ketiganya sampai di halaman belakang rumah Dimas. Terlihat beberapa tamu telah berkumpul. Hafidz dan Ziva merasa canggung berada di acara semegah ini. Meski acara sangat sederhana, tapi undangan yang datang bukan orang sembarangan. Banyak pengusaha penting yang datang dalam acara malam ini. Tatanan pesta memang sangat sederhana. Namun terasa nyaman dan hangat, penuh rasa kekeluargaan.
"Agam, lihatlah siapa yang datang?" Teriak Dimas, seketika Agam dan Arkan menoleh. Mereka melihat Hafidz datang bersama Ziva.
"Hafidz!" Sahut Agam lirih, Dimas mengangguk pelan. Mereka bertiga mendekat ke arah Agam dan Arkan.
Hafidz mengangguk menyapa Agam dan Arkan. Hafidz mencium punggung tangan Agam. Hafidz baru tersadar, jika Hanna cucu perempuan keluarga Anggara. Dengan tatapan gelisah, Hafidz menoleh kesana kemari. Dia mencari keberadaan Hanna. Hafidz tak ingin ada lagi keslahpahaman diantara mereka. Kedatangannya bersama Ziva akan membuat Hanna marah.
"Hanna tidak ada, dia malas ikut acara seperti ini?" Ujar Arkan menjawab rasa gelisah Hafidz. Sontak Hafidz mengangguk mengerti. Dimas merasa heran, tapi dia tak mengerti maksud perkataan Arkan.
"Agam, dia Hafidz pengusaha muda. Mereka berdua tim yang sangat solid. Bahkan aku mendoakan mereka segera menikah!" Ujar Dimas santai, Agam dan Arkan langsung menggeleng lemah. Mereka tak setuju dengan perkataan Dimas.
"Tuan Dimas, kami hanya rekan kerja!" Sahut Hafidz lantang, Ziva langsung menunduk kecewa. Penolakan Hafidz yang begitu lantang, membuatnya tersadar akan rasanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Kenapa tidak? Cinta datang karena terbiasa. Kalian berdua tim yang hebat. Aku yakin kalian semakin hebat bila menikah. Aku tunggu undangannya!" Ujar Dimas teguh, Hafidz menggeleng tak setuju.
"Papa sudah cukup. Biarkan Hafidz dan Ziva duduk. Mereka tamu undangan, tidak sepantasnya papa menggoda mereka!" Ujar Tika lirih, sontak Dimas tertawa. Dia merasa benar dengan perkataan Tika. Namun Dimas sangat senang, ketika menggoda Hafidz dan Ziva. Dimas merasa lebih muda beberapa tahun.
"Hafidz, duduklah disana. Ajak temanmu sekalian, jangan diambil hati perkataan papa!"
"Tante Tika, dimana Hanna?" Ujar Hafidz, Tika mengangkat kedua bahunya. Isyarat dia tidak tahu keberadaan Hanna.
__ADS_1
"Kamu kenal cucu istimewaku!" Ujar Dimas, Hafidz mengangguk tanpa ragu.
"Seandainya dia tak seistimewa itu. Tentu aku akan jodohkan kamu dengannya!" Ujar Dimas santai, Hafidz menunduk terdiam.
"Kakek, hati-hati bicaranya. Kalau Hanna mendengarnya, akan terjadi perang dingin. Hafidz akan pusing tujuh keliling menghadapi Hanna!"
"Memangnya ada hubungan apa Hafidz dengan Hanna? Setahu kakek, Hanna tidak menyukai laki-laki. Lagipula Hanna dan Hafidz jauh berbeda!" Ujar Dimas santai dengan tertawa.
Dimas semakin menjadi, dia berpikir Hanna dan Hafidz tidak memiliki hubungan. Dimas mengenal Hanna dengan sangat baik. Selama ini Dimas selalu berusaha menjodohkan Hanna dengan beberapa kenalannya. Namun selalu ditolak dengan tegas oleh Hanna. Sebab itu, Dimas berpikir Hanna tidak mungkin tertarik dengan Hafidz.
"Kenapa kalau mereka berbeda? Terkadang perbedaan yang membuat kita bisa saling mengerti. Jika memang perbedaan membuat cinta itu tak pantas ada. Kenapa kamu menikah denganku? Jelas kita berdua berbeda!" Ujar Nissa dingin, Dimas seketika menoleh.
Dengan langkah tergesa-gesa, Dimas menghampiri Nissa. Suara dingin Nissa jelas menunjukkan rasa tidak sukanya. Dimas kalut melihat Nissa yang dingin. Nissa bukan pribadi perasa, tapi sangat sulit bila sudah merajuk. Dimas tidak akan sanggup melihat sikap dingin Nissa.
"Sayang, aku hanya bercanda. Aku hanya sedang menggoda Hafidz. Bukankah Hafidz sangat cocok dengan Ziva. Tidak mungkin bila Hafidz memiliki hubungan dengan Hanna!" Ujar Dimas membela diri.
"Penilaian manusia tidak selamanya benar. Sebab ada kuasa yang lebih besar dibaliknya. Allah SWT pemilik segala keputusan, DIA mengetahui yang terbaik untuk hamba-NYA yang taat!"
"Tidak ada hal seperti itu!" Sahut Dimas cemas, Arkan terkekeh melihat Dimas yang kebingungan. Sebaliknya Nissa berlalu begitu saja. Dia menghampiri Ziva dan Tika. Aura belum terlihat, dia sibuk di dapur. Aura tidak terlalu suka ada dalam acara seperti ini.
"Kalian memang serasi, tapi apapun hubungan yang ada diantara kalian saat ini. Semoga tidak menghancurkan pertemanan yang ada. Gurauan om Dimas jangan diambil hati. Jangan jadikan gurauan itu sebagai bibit perselisihan diantara kalian!" Ujar Nissa lirih, lalu memeluk Ziva.
"Anda begitu teduh, perkataan anda membuat saya sadar akan rasa yang tak pantas ada diantara kami!" Ujar Ziva, Nissa mengedipkan kedua matanya. Nissa tersenyum menyahuti perkataan Ziva yang penuh kejujuran dan kepahitan.
"Setiap rasa itu pantas ada, tapi terkadang rasa itu memilih hati yang tak tercipta untuk kita. Saat itulah kita harus sanggup bekorban. Bertahan tapi terluka oleh penolakan. Menjauh dan tersisih demi kebahagian pemilik hati yang terpilih. Apapun posisi yang kamu pilih, yakinlah air mata dan tawa takkan selamanya ada. Kelak air mata akan berganti tawa, sebaliknya tawa akan berganti dengan air mata. Hidup yang terus berputar, meski dengan terseok-seok kita menjalaninya!"
"Anda begitu bijaksana!" Ujar Ziva.
"Aku sama sepertimu, tapi kepahitan yang kamu rasakan sekarang. Kebimbangan yang ada dalam hatimu. Pernah aku alami dulu dan dengan kesabaran kuhadapi semua!" Sahut Nissa tegas.
"Lebih baik kita duduk, makan malam akan segera dimulai!" Ujar Tika, semua orang mengangguk bersamaan.
"Hanna, kamu datang di waktu yang tepat!" Ujar Arkan lantang, saat melihat Hanna datang bersama Aura.
__ADS_1
Hanna duduk sedikit menjauh dari Hafidz. Tak sedetikpun Hanna menatap wajah Hafidz dan Ziva. Sikap dingin Hanna membuat Hafidz kalut. Tika dan Agam sudah menyadari hal seperti ini. Sikap manja Hanna membuatnya mudah salah paham dan cemburu.
"Hanna, kamu dan Hafidz saling mengenal!" Ujar Dimas, Hanna menggeleng tanpa menatap Dimas atau Hafidz.
"Kamu setuju tidak? Jika Hafidz dan Ziva cocok!" Ujar Dimas lagi, Hanna mengangguk pelan.
"Mereka pasangan yanh serasi!"
"Hanna, kamu salah paham. Aku sudah katakan pada tuan Dimas. Ziva bukan siapa-siapa? Aku dan Ziva hanya teman!" Ujar Hafidz lantang, Hanna diam tak menyahuti.
"Ada hubungan apa diantara kalian?" Ujar Nissa lirih.
"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa?" Sahut Hanna lantang.
"Hanna cukup, kita makan sekarang. Lanjutkan amarahmu nanti!" Ujar Tika tegas, Hanna menunduk.
Braakkk
"Maaf, saya sudah kenyang!" Ujar Hanna berdiri.
"Hanna duduk!"
"Mama, sekali saja. Hargai keputusan Hanna, biarkan Hanna memutuskan!"
"Tika cukup, biarkan Hanna pergi. Kita akan bicara dengannya nanti!" Ujar Dimas, Hafidz terdiam menunduk.
"Maaf tuan Dimas, saya harus mengejar Hanna. Saya tidak akan kenyang, saat Hanna merasa lapar!"
"Hafidz, Hanna baik-baik saja!" Ujar Agam.
"Mungkin Hanna baik-baik saja, tapi saya tidak bisa melihatnya pergi tanpa makan malam!" Ujar Hafidz lantang, lalu berlari mengejar Hanna.
"Kamu melupakanku demi Hanna. Kamu meninggalkanku di tempat asing. Hanya demi mengejar Hanna. Sebesar itukah rasamu pada Hanna. Sampai kamu buta melihat air mataku yang menetes. Sedingin itukah hatimu untukku. Sampai kedua telinga tuli, tak mendengar jerit sepi hatiku. Hafidz, bukan satu atau dua bulan aku mengenalmu. Namun kamu melupakanku hanya dalam hitungan menit!" Batin Ziva pilu.
__ADS_1