Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Baik Hati yang Tersimpan


__ADS_3

"Pergi kalian dari restoran!" teriak salah satu pegawai. Bukan hanya dengan teriakan, dia mengusir dua kakak-beradik dengan mendorong kasar ke jalan raya.


Buggghhh


Hanna berdiri mematung, menatap dua bocah lusuh yang tengah menangis. Keras benturan akibat dorongan pegawai, membuat sang kakak terluka. Lututnya menghantam jalan aspal yang kasar. Luka yang dia dapatkan demi menopang tubuh sang adik. Darah segar mengalir, seirama dengan suara tangis sang adik. Hanna membisu tak mampu bicara. Dia sakit, sangat sakit menatap dua bocah yang terluka.


Hiks Hiks Hiks


Suara tangis sang adik semakin keras. Kala sang kakak tak mampu berdiri. Luka yang tepat berada di tengah lutut. Membuat sang kakak kesakitan, sehingga sang adik menangis. Meski sang kakak tak menunjukkan rasa sakitnya. Namun sang adik menangis, seakan dia merasakan sakit sang kakak.


"Kalian tidak apa-apa?" sapa Hanna ramah, kedua bocah menggeleng lemah. Jelas terlihat ketakutan dari kedua mata mereka. Takut akan kedatangan Hanna yang tak pernah mereka kenal. Seketika Hanna berjongkok, menatap sendu kedua bocah tak berdosa ini.


Hanna mengelus kepala kedua bocah bergantian. Hanna mencium lembut puncak kepala keduanya. Lusuh dan dekil tubuh keduanya, tak membuat Hanna jijik dan risih. Malah Hanna merasa tak berdaya. Dia tak mampu membantu kedua bocah itu. Dia hanya diam ketika pegawai itu melempar tubuh kurus mereka.


Hanna mengedipkan kedua mata indahnya. Berharap mereka percaya Hanna bukan orang jahat. Dengan lembut dan penuh kasih sayang. Hanna meniup lutut sang kakak yang berdarah. Menghilangkan sedikit rasa perih akibat tergores jalan beraspal. Usaha Hanna berhasil, sang adik berhenti menangis. Meski dia tetap memegang erat sang kakak. Seakan takut ditinggal oleh sang kakak.


"Biarkan kakak mengobati lukamu. Setelah itu kita makan bersama!" ujar Hanna lirih, keduanya mengangguk ragu. Hanna mengutas senyum simpul. Setidaknya kini dia mendapatkan sedikit rasa percaya mereka.


"Bismillahhirrohmannirrohim!" ujar Hanna lirih, tept sebelum dia menggendong tubuh sang kakak. Hanna menggendong tubuh kurus Adi, sedangkan Alif mengikuti langkah kaki Hanna.


Hanna membawa keduanya ke tepi jalan. Tepatnya di depan restoran tempat mereka dilempar ke luar. Hanna membersihkan luka Adi dengan obat-obatan yang ada di dalam tas kecilnya. Hanna merawat Adi dengan kasih sayang, dia seakan merasakan sakit lutut Adi. Hanna memplester luka Adi, agar tidak terinfeksi oleh kuman.

__ADS_1


"Kenapa kalian dilempar keluar?" tanya Hanna pelan, dia tak ingin membuat Adi dan Alif ketakutan.


Keduanya diam membisu, tak ada suara yang mampu keluar dari mulut mereka. Dengan sabar Hanna menunggu jawaban mereka. Hanna tidak ingin memaksa bila mereka tidak ingin bercerita. Hanna melihat keduanya ketakutan, seakan telah melakukan kesalahan.


"Baiklah, kakak tidak akan bertanya. Kalian simpan saja sendiri. Sekarang kita masuk ke dalam. Kakak akan membelikan makanan kesukaan kalian!" ujar Hanna ramah, keduanya menggeleng. Adi dan Alif menolak ajakan Hanna, karena mereka takut pada pegawai yang mendorongnya. Hanna mengeryitkan dahi tak mengerti. Namun dengan kesabaran dan kasih sayang. Akhirnya Hanna bisa membawa keduanya masuk ke dalam restoran.


Hanna mengajak mereka duduk di sisi pojok. Mereka sangat ketakutan masuk ke dalam restoran. Mereka takut diusir lagi oleh pegawai restoran. Namun Hanna meyakinkan, tidak akan ada satu orangpun yang berani mengusir mereka dari sana.


"Sebentar, kakak akan memesan makanan. Kalian tetap disini, jangan kemana-mana?" ujar Hanna, Adi dan Alif mengangguk. Mereka melihat Hanna masuk ke dalam restoran. Entah kemana Hanna? Mereka diam menunggu Hanna kembali.


Tak berapa lama pegawai yang mengusir mereka datang. Adi dan Alif ketakutan, mereka takut kembali diusir. Apalagi Hanna belum datang. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu. Mereka diam menunduk, saat pegawai itu berdiri di depan mereka.


"Kenapa kalian masih berani masuk? Bau kalian membuat pelanggaku tidak selera makan. Sekarang kalian keluar atau aku akan menarik kalian keluar!" teriak sang pegawai, Adi dan Alif berdiri. Dengan berjalan tertatih, Adi menggandeng Alif keluar.


"Sekali lagi kamu mengusir mereka. Aku akan memastikan kamu dipecat!"


"Jangan berlagak nona, anda bukan siapa-siapa? Anda hanya nona kecil yang berpikir ingin membantu mereka. Dilihat dari penampilanmu, tidak akan cukup uang jajanmu membayar makanan disini!" sahut sang pegawai, Hanna tersenyum sinis.


"Kalian duduklah, sebentar lagi makanannya datang!" ujar Hanna lirih, Adi dan Alif menggeleng. Mereka tidak ingin makan di tempat ini. Mereka terlalu takut melihat pegawai itu.


"Baiklah, kita keluar dari sini. Kita makan dimanapun kalian suka? Hari ini kak Hanna milik kalian!" ujar Hanna, mereka mengangguk pelan. Sang pelayan tersenyum sinis, seakan dia benar dengan perkataannya.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, kamu tidak akan bisa membayar makanan di restoran ini!" ujar sang pegawai kasar.


Hanna maju menghampiri pegawai itu. Dengan tatapan tenang, Hanna menatap pegawai lekat. Hanna marah mendengar hinaannya kepada Adi dan Alif.


"Papa, aku ingin dia dipecat. Katakan pada sahabat papa. Dia bukan pegawai yang tepat. Seseorang yang menganggap rendah orang lain. Tidak akan bisa menghargai pelanggan. Lihat cara dia bicara padaku. Dia menganggap semua orang hina!" ujar Hanna dingin, Agam mengangguk mengiyakan. Agam menatap bangga putrinya. Dia melihat sisi baik Tika di hati Hanna.


"Anda putri tuan Agam!"


"Kenapa heran? Karena aku berpakaian seperti ini. Sebab aku jalan kaki, tidak membawa mobil sport!" ujar Hanna lantang, sang pegawai menunduk.


"Aku memang putri tuan Agam, sekaligus cucu dari Dimas Anggara. Sejak kecil aku hidup berkecukupan, bahkan lebih. Aku tidak pernah bangga akan semua itu. Ingatlah seseorang itu dilihat dari hatinya, bukan hartanya!" ujar Hanna ketus, lalu menghampiri Agam.


"Papa, selesaikan urusanku dengannya. Aku akan pergi, nanti kita bertemu di hotel. Aku sudah mengemas semua barangku. Kita tinggal pergi saja!" ujar Hanna lirih, Agam mengangguk pelan. Hanna menjauh dari Agam.


"Tunggu, izinkan aku mengantarmu!" tawar Hafidz, Hanna menggeleng lemah. Sebaliknya Agam tersenyum mengerti maksud Hafidz.


"Hafidz, jika kamu menyukai putriku. Bersabarlah, dia tidak mudah dihadapi!"


"Anda benar, dia penuh dengan kejutan. Aku melihat sisi lain putrimu. Kebaikan dan ketulusannya menggetarkan hatiku. Rapuhnya membuatku tak berdaya ingin mendekapnya!" ujar Hafidz lirih, Agam mengangguk mengiyakan.


"Sisi lain Tika istriku, sisi yang membuatku tak bisa menjauh dari bayangnya. Hanna layaknya Tika, tegarnya menutupi rapuhnya!" ujar Agam lirih.

__ADS_1


"Semakin aku mengenalmu, semakin aku terpikat padamu. Kebaikanmu menggetarkan hatiku!" batin Hafidz.


__ADS_2