
"Katakan apa yang ingin anda sampaikan padaku?" ujar Arkan dingin, Agam menghela napas panjang. Dia melihat sikap Arkan yang sangat dingin padanya.
Tubuh Agam membeku, menatap putra yang tak bisa digapainya. Tangan Agam tak mampiu menyentuh ujung kulit Arkan. Sungguh kebencian yang nyata diperlihatkan oleh Arkan pada Agam.
"Kenapa Arkan? Aku bukan orang lain, aku ayah kandungmu. Darah yang mengalir di tubuhmu. Nyata darahku, bukan orang lain. Kamu bukti adanya cinta diantara aku dan Tika. Lantas kenapa kamu begitu membenciku?" ujar Agam lirih, Arkan menggeleng lemah.
"Tidak ada kebencian dihatiku untukmu. Rasa kecewa yang kurasakan selama selama belasas tahun. Memenuhi seluruh hatiku, tak ada lagi tempat untuk kebencian yang lain!" ujar Arkan dingin, lalu dia meminum teh yang dipesannya. Arkan seakan tak pernah mengenal Agam. Dia seolah tak peduli akan perkataan Agam yang mengharapkan kasih sayangnya.
"Maafkan papa, kalian harus terpisah karena papa. Namun meski papa bersalah, tidak adakah kata maaf atau kesempatan memperbaikinya!" ujar Agam memelas, Arkan diam tak menjawab.
Kesempatan yang diminta Agam telah lama menghilang. Terabaikan oles sikap lemah dan bimbang Agam. Meski dulu Arkan tak pernah mengetahui alasan sebenarnya perpisahan kedua orang tuanya. Namun kemarin melihat kebersamaan Agam dan Zalwa. Sedikit menjawab rasa penasaran Arkan.
Tanpa bertanya Arkan mulai menyadari, betapa berat beban batin yang ditanggung Tika. Dia menekan rasa cemburu yang ada. Merubahnya menjadi senyum selama hidupnya. Arkan tak pernah bisa menyalahkan Agam. Namun membenarkan sikap Agam. Bukan sesuatu yang benar menurut hati terdalamnya.
Arkan mendongak sembari menyadarkan tubuhnya. Langit siang ini terlihat biru tanpa awan. Bersih dan sangat indah tanpa cacat. Seakan berbanding terbalik dengan hidupnya. Lama Arkan menantang langit, sedetik kemudian Arkan menutup mata. Dia teringat perkataan Tika, kala Arkan datang ke kota ini. Sebuah pesan yang menyayat hati terdalamnya.
FLASH BACK
__ADS_1
"Mama, dua minggu lagi Arkan akan dinas di rumah sakit terbesar kota kelahiranku. Dosen pembimbingku menyarankan agar aku magang disana. Jika tidak salah, om Bayu yang akan menjadi dokter pembimbingku!" ujar Arkan lirih, Tika diam menatap sang putra.
Arkan tidur di pangkuan Tika. Dengan lembut Tika membelai kepala Arkan. Tak ada suara yang terdengar. Hanya hembusan napas Tika dan Arkan yang jelas terdengar. Arkan menutup mata merasakan belaian lembut sang mama. Mungkin Arkan sudah besar, tapi di depan Tika dia selalu menjadi anak kecil. Arkan selalu haus akan dekapan hangat Tika.
"Aku tidak akan berangkat, besok pagi aku akan mengatakannya pada dosenku!" ujar Arkan final, Tika tersenyum mendengar perkataan Arkan. Keputusan yang seolah mewakili diam Tika.
Tika mengusap lembut kepala Arkan. Tika memijat pelan kepala Arkan yang penuh dengan tekanan. Selama ini Tika selalu mengikuti keputusan Arkan. Tika tidak pernah menuntut pada Arkan. Sebaliknya Arkan yang selalu memutuskan sesuatu demi Tika. Tak pernah Arkan ingin menyakiti Tika. Hanya kebahagian Tika yang menjadi alasan hidup Arkan saat ini.
"Sejak kapan mama melarangmu atau tidak sependapat denganmu? Putuskan apapun yang terbaik untukmu. Mama percaya kamu bisa memilih yang terbaik diantara yang baik. Lakukan apapun yang mampu kamu kerjakan. Jangan memaksa sesuatu melebihi kemampuanmu. Ada batas dimana kamu mengalah dan menyerah? Bukan berarti kita kalah atau takut berjuang!" ujar Tika bijak, Arkan mendongak menatap Tika.
Raut wajah tenang jelas dilihat oleh Arkan. Sikap penuh kedewasaan seorang ibu yang tercipta demi sang anak. Rasa sakit Tika yang selalu tersimpan. Agar air mata sang putra tak menetes. Senyum yang selalu terutas meski hatinya menjerit sakit. Dengan menatap wajah Tika, Arkan merasa damai dan tenang. Menantang hidup berliku di depannya. Tanpa mengeluh akan terjalnya hidup. Tika segalanya dalam hidup Arkan. Semangat dan tujuan Arkan ada dalam hidup Tika.
"Mama diam bukan melarangmu atau tidak setuju. Pergilah kemana kamu harus pergi? Namun tempat yang akan kamu tuju, tempat dimana masa lalu kita tersimpan? Papamu dan Hanna akan ada disana. Sudah siapkah kamu bertemu mereka? Mampukah kamu melupakan semua rasa sakit mama? Agar tak ada dendam tersimpan dihatimu untuk papamu!" tutur Tika lembut, Arkan menggeleng lemah.
"Ketakutan yang ada dihati mama selama ini. Bukan takut kehilangan atau jauh darimu. Namun kebencianmu pada papa dan keluarganya yang membuat mama takut tidak mengenalmu. Seandainya kamu mampu memaafkan papamu, pergilah kesana. Jaga adik dan papa, mama akan baik-baik saja disini!" ujar Tika lirih, Arkan menggeleng lemah.
"Aku tidak akan pergi tanpa mama. Aku akan meminta dosen mencarikan dokter lain. Tidak akan aku pergi dari mama!" ujar Arkan, Tika diam menatap wajah sang putra.
__ADS_1
"Arkan, mama datang ke negara ini. Demi menjauh dari masa lalu. Lari dari pilihan yang takkan pernah bisa mama pilih. Tidak mungkin mama kembali ke tempat itu. Terlalu banyak air mata yang tertahan. Percayalah pada mama, tidak akan mama kesepian. Sudah cukup kamu menemani mama. Sudah saatnya kamu menjadi anak yang baik bagi papa dan kakak untuk Hanna adikmu. Mama akan mendoakan kesuksesanmu!" ujar Tika, Arkan diam membisu.
Perkataan Tika terasa sakit dihatinya. Arkan seolah telah kehilangan haknya sebagai putra Tika. Dengan tegas Tika meminta Arkan pergi. Tanpa merasa Arkan akan terluka dengan keputusan Tika. Padahal dalam hati terdalam Arkan. Berharap Tika melarangnya pergi dan tetap tinggal bersamanya.
"Arkan tidak akan pergi!"
"Tapi kamu harus pergi, papa dan Hanna membutuhkanmu. Mama akan menyusulmu saat semua sudah siap. Satu hal lagi, jangan pernah katakan jati dirimu. Selama kamu belum bisa melupakan semua rasa sakit. Jadilah keluarga mereka saat amarahmu tidak ada. Mereka tidak salah, apa yang mama rasakan? Tak lain jalan yang tertulis untuk mama. Bentuk kasih sayang Allah SWT pada mama. Agar mama menjadi pribadi yang bersyukur!" ujar Tika tegas.
FLASH BACK OFF
"Aku tidak punya hak memberikan kata maaf atau kesempatan padamu. Bukan aku yang menangis, karena sikapmu. Bukan aku yang terluka, karena kebimbangamu. Mama orang yang berhak atas memaafkanmu. Hidupnya hancur karena kebimbangan papa. Tak ada cinta dalam hidup mama. Semenjak cintanya papa khianati. Kesempatan apa yang papa pertanyakan? Sedangkan disini papa hidup di bawah satu atap dengan dia!" ujar Arkan.
"Siapa?" sahut Agam tak mengerti, Arkan tersenyum sinis. Melihat Agam yang tak pernah merasa salah dengan sikapnya.
"Tante Zalwa, bukankah dia yang selalu ada disampingmu. Meski dia bukan istri sahmu, tapi dia bak bayangan dalam hidupmu. Dia yang akan selalu ada menjadi penghalangku dekat denganmu. Mama pernah memintaku, aku tidak boleh menyalahkanmu atau membencimu. Hanya mama berpesan, aku tidak bisa menjadi keluargamu. Selama ada amarah dihatiku dan sampai detik ini aku kecewa denganmu!" ujar Arkan dingin, lalu pergi dari hadapan Agam.
"Arkan!" panggil Agam lirih, Arkan terus berjalan menjauh. Tanpa menoleh pada Agam.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku tidak bisa mendekat padamu. Jika air mata mama yang akan aku lihat. Papa memiliki Hanna dan keluarga besarmu, bahkan tante Zalwa ada di sampingmu. Sedangkan mama hanya memiliku, tanpa ada keluarga dan penopang hidupnya. Mama akan menyimpan lukanya serapat mungkin. Takkan dia mengatakannya pada siapapun? Mama lebih memilih menangis sendiri tanpa siapapun? Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu. Aku akan tetap disampingnya. Tanganku yang menghapus air mata mama selama ini dan selamanya. Pundakku yang menjadi sandaran keluh kesahnya. Takkan pernah aku menjauh meski mama memintanya. Aku yakin papa akan baik-baik saja!" batin Arkan sembari terus berjalan menjauh.