Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Om Beruang


__ADS_3

"Aku takut tinggal sendirian di rumah sebesar ini. Sejak tadi aku berpikir, sikapku sangat keterlaluan padamu. Padahal kamu bukan orang sembarangan!"


"Kamu tidak akan tingal sendirian di rumah ini. Ada aku dan anak-anak kita kelak!" Ujar Hafidz lirih.


Buuugghhh


"Tidak lucu!" Ujar Hanna, Hafidz tersenyum. Lalu mempersilahkan Hanna masuk ke dalam rumahnya.


"Silahkan masuk!" Sapa ibunda Hafidz, Hanna mengangguk seraya tersenyum.


Hanna brerjalan mendekat ke arah meja makan. Hafidz mengekor di belakang Hanna, keduanya laksana sepasang kekasih yang sedang mencari restu. Pagi ini secara khusus Hafidz mengundang Hanna, untuk sarapan bersama. Sebab itu Hanna datang ke rumah Hafidz sebelum dia berangkat ke rumah sakit.


Bahkan Hanna sempat menemui Tika, meluapkan kegelisahan hatinya yang akan bertemu orang tua Hafidz. Tika dengan segala kelembutan dan kehangatan seorang ibu. Menenangkan hati Hanna yang bimbang dan gelisah. Akhirnya setelah lama bicara, Hanna mulai tenang dan memutuskan pergi ke rumah Hafidz.


"Terima kasih tante!" Sahut Hanna, Hafidz menarik kursi untuk Hanna. Dengan perlahan Hanna duduk di sebelah Hafidz. Berhadapan dengan Ibunda Hafidz.


Hafidz hanya memiliki ibu, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal. Seorang adik yang sudah menikah, satu-satunya saudara yang dimiliki Hafidz. Dirga kakak laki-laki dari ibunda Hafidz yang selama ini mendukung keluarganya. Hanna merasakan debaran aneh, saat berada di samping Hafidz.


"Kak, bisa pindah ke sebelah tante. Aku merasa aneh dekat denganmu!" Bisik Hanna lirih, Hafidz menoleh dengan raut wajah terkejut. Dia tak menduga Hanna bisa bicara seperti itu. Penolakan yang tak pernah Hafidz sangka. Hanna menolaknya di depan ibundanya sendiri.


"Tidak, aku akan tetap duduk di sampingmu!" Sahut Hafidz tegas dan final. Sekilas ibunda Hafidz melirik ke arah dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Bahka tatapan tajam ibunda Hafidz, dengan mudah membuat Hafidz tertunduk.


Kedekatan Hafidz yang tak lazim dengan Hanna. Sedikit banyak membuat ibundanya kecewa. Bukan menantu yang seperti Hanna impian beliau. Bukan karena penampilan Hanna atau kecantikan Hanna yang membuat ibunda Hafidz sedikit tidak suka. Sikap Hafidz yang begitu jelas melewati batasan dengan Hanna. Tatapan penuh nafsu dan cinta Hafidz pada Hanna. Mampu membuatnya keduanya jatuh di lubang dosa. Alasan terbesa ibunda Hafidz bersikap tegas dan dingin.


"Jaga sikapmu Hafidz!"


"Tidak mungkin kak Hafidz menjaganya bunda. Jelas kak Hafidz bernapsu pada dia. Sejak tadi pagi, kak Hafidz layaknya setrika yang menunggu pujaannya!" Sahut Shaila ketus, sontak Hafidz menoleh menatap tajam. Sedangkan Hanna diam menunduk, bukan takut atau marah mendengar perkataan Shaila. Hanna merasa Hafidz jauh lebih pantas bersama orang lain.


"Maaf menyela perkataan tante. Jangan salahkan kak Hafidz, semua ini salah Hanna yang tak begitu mengenal agama!" Sahut Hanna lirih, Hafidz menunduk terdiam. Perkataan Hanna membuat semakin sulit keluarganya menerima Hanna.


"Maksudmu apa? Kamu seiman dengan Hafidz bukan?"


"Iya tante, Hanna seiman dengan kak Hafidz. Namun Hanna jauh di bawah kak Hafidz tentang agama. Bahkan Hanna tidak mengenal agama. Jadi maaf jika akhirnya tante melihat sikap kak Hafidz berbeda!" Sahut Hanna lirih penuh ketegasan. Ibunda Hafidz langsung menoleh ke arah Hafidz. Seolah dia tidak suka dengan wanita pilihannya. Shaila adik yang begitu menyayangi Hafidz menatap sinis Hanna.


"Apa saja yang kamu pelajari selama ini? Tidak mungkin kamu tidak mengenal dasar agama!" Ujar ibunda Hafidz lirih. Hanna menunduk membisu. Bibirnya terasa kelu, tulangnya lemah tak bertenaga.

__ADS_1


Hanna tak lagi mampu bersikap tenang. Kegelisahannya mulai menyergap ke dalam hatinya. Hanna tidak pernah berharap bersama dengan Hafidz. Ketakutan Hanna lebih kepada, keraguan orang tua Hafidz akan pengajaran orang tuanya. Hanna tidak ingin mendengar orang lain menghina kedua orang tuanya.


"Bunda, Hafidz mohon hentikan. Nanti saja kita bicara, Hanna datang untuk sarapan bersama kita!" Sahut Hafidz mencairkan suasana.


"Hafidz, sejak kapan menyahuti perkataan bunda?" Ujar ibunda Hafidz dingin.


Sontak Hafidz menunduk, Hanna merasa bersalah telah berada diantara mereka. Kehadiran Hanna menjadi pemicu perdebatan yang nyata tak pernah ada. Hafidz anak penurut, mulai menyela pembicaraan orang tuanya. Hanna merasa tak pantas bersama Hafidz dengan segala kekurangannya.


"Sinta cukup, Hafidz sudah besar. Dia tahu mana yang benar dan salah? Tidak pernah hafidz ingin membangkang padamu. Kamu yang harus belajar mengerti perasaan putramu!" Sahut Dirga dingin, Ibunda Hafidz seketika terdiam.


Dirga seorang kakak yang sangat dihormati Sinta. Sejak suaminya meninggal, Dirga sepenuhnya menanggung kebutuhan keluarga Hafidz. Sebab itu pemikiran Dirga sangat berpengaruh dalam keluarga Hafidz.


"Jangan salahkan Hanna akan perubahan sikap Hafidz. Dia seorang laki-laki, tidak sepantasnya dia kalah oleh napsu. Hanna tidak bersalah, seandainya Hafidz berubah. Lihat saja cara Hanna meminta maaf padamu. Mengakui siapa dirinya sebenarnya? Jika Hanna menyukai atau ingin menguasai Hafidz. Hanna tidak akan berkata jujur tentang kelemahannya!" Ujar Dirga tegas dan dingin, sembari Dirga duduk di ujung kursi.


"Kakak tidak mengenal gadis ini, tapi kakak mengenal Hafidz sejak kecil. Mungkinkah Hafidz berubah, jika tidak ada yang mempengaruhinya!" Sahut Sinta sinis, Dirga menggeleng lemah. Hafidz menunduk semakin dalam.


Harapan penyatuan cintanya dengan Hanna pupus sudah. Bukan hanya Hanna yang ragu padanya, kini ibundanya yang mulai menentang hubungan yang belum pernah ada.


"Sinta cukup!" Ujar Dirga lantang.


"Aku sudah mengatakan padamu, pahami hati Hafidz. Percaya akan pilihannya sekali saja. Dia sudah dewasa dan mampu bertanggungjawab akan pilihannya. Jangan tunjuk tanganmu pada Hanna. Dia tidak salah apa-apa? Kesalahannya hanya satu, dicintai oleh putramu!" Sahut Dirga tegas, Hanna dan Hafidz membisu. Keduanya terdiam mendengar perdebatan yang tak seharusnya ada.


"Satu kesalahan besar aku ada di tempat ini. Dengan bodohnya aku mengiyakan permintaan kak Hafidz. Jika aku tahu semua akan berakhir seperti ini. Ketakutanku kini nyata terjadi, apa yang dialami mama dulu? Kini aku rasakan, sakitnya terasa menyesakkan. Pantas mama memilih pergi menjauh, bukan karena dia tak menyayangi papa. Tapi karena mama tidak ingin menghancurkan keluarga papa. Pemikiran yang kini ada dibenakku. Menjauh sebelum semua semakin kacau. Mama maafkan Hanna, betapa kejamnya aku yang telah meragukan tulus kasih sayangmu. Nyatanya mama yang paling terluka dan tersisih!" Batin Hanna sendu.


"Om Dirga, tidak perlu berdebat. Hafidz yang salah!"


"Sudah sepantasnya kakak meminta maaf. Kakak membawa calon istri yang tidak jelas bibitnya!"


Braaakkk


"Shaila diam!" Ujar Dirga lantang, sembari menggebrak meja.


Kreeeeeekk


Suara geseran kursi terdengar nyaring menggema di seluruh bagian rumah Hafidz. Hanna berdiri memecah keheningan yang tercipta, sesaat setelah kemarahan Dirga. Hanna tidak lagi sanggup berada di tempat, dimana dia tak diharapakan? Seketika Hafidz berdiri, dia melihat kekecewaan Hanna.

__ADS_1


"Maafkan Hanna!" Ujar Hanna lirih, sembari menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.


"Hanna, kamu tidak salah. Duduklah kembali, kita sarapan bersama!" Pinta Dirga, Hanna menggeleng lemah.


"Om mohon, jangan biarkan mamamu kecewa padaku. Setidaknya penuhi permintaanku demi pertemanan yang pernah ada diantara aku dan Tika!"


"Om Dirga mengenal mama!"


"Aku bukan hanya mengenal Tika. Aku tahu seluruh keluarga besarmu. Siapa sebenarnya kamu?"


"Sinta, kamu salah telah menghina Hanna. Dia bukan gadis sembarangan. Hafidz mengenal benar, siapa orang tua Hanna? Namun dia tidak mengatakannya padamu. Hafidz ingin kamu mengenalnya dengan ketulusan. Bukan karena status Hanna yang tak biasa. Kini semua sudah terjadi, hubungan mereka tidak akan pernah terjadi. Hubungan yang sebenarnya belum pernah ada!"


"Shaila, gadis yang kamu ragukan bibit dan bobotnya. Dia gadis yang bisa membuat suamimu menjadi pengangguran. Dia cucu keluarga besar Anggara, pemilik perusahaan Anggara Group. Perusahaan yang berinvestasi cukup besar di perusahaan suamimu!" Ujar Dirga dingin, terlihat Shaila menelan ludahnya kasar. Rasa takut kehilangan perusahaan, kini nyata terpampang di depannya.


"Siapa sebenarnya om Dirga? Kenapa aku merasa kita pernah bertemu? Suara om Dirga sangat familiar ditelingaku!" Ujar Hanna lirih, Dirga tersenyum.


"Om Dirga, begitu mengenal keluarga Hanna!" Ujar Hafidz heran.


"Shaila, aku mengenal Hafidz sejak dia kecil. Sebaliknya aku mengenal keluarga Hanna. Jauh sebelum dia terlahir!"


"Hanna, mungkin kamu lupa padaku. Namun aku tak pernah lupa akan senyummu. Duplikat boneka teddy yang kamu minta dariku. Masih aku simpan rapi sampai saat ini!"


"Om beruang!" Teriak Hanna senang, Dirga mengangguk pelan.


"Kamu ingat padaku!" Ujar Dirga, Hanna mengangguk pelan.


"Sekarang kamu bersedia sarapan denganku. Bukan demi Hafidz, tapi demi om beruangamu ini!"


"Baiklah!" Sahut Hanna lantang, Hafidz menghela napas lega. Sesaat setelah melihat Hanna duduk. Sinta dan Shailq hanya bisa diam terpaku. Tak ada yang bisa mereka katakan, setelah mengetahui siapa sebenarnya Hanna?


"Hafidz, sekarang berjuanglah sekuat tenagamu. Hanna dan Tika itu bak pinang dibelah dua. Bukan hanya kecantikan yang sama diantara mereka. Namun watak keras dan teguh yang takkan mudah digoyahkan. Semoga kamu bisa bersama dengan Hanna. Setidaknya diantara kita berdua ada yang bisa menaklukkan mereka!" Bisik Dirga lirih.


"Maksud om Dirga? Tante Tika wanita yang membuat om jatuh cinta, sekaligus patah hati!" Bisik Hafidz, Dirga mengangguk pelan.


"Pantas om Dirga gagal move on dari tante Tika. Aku saja tak berkutik di depan Hanna putrinya. Memang perkataan om Dirga benar, mereka bak pinang di belah dua. Sama-sama penakluk hati!" Batin Hafidz.

__ADS_1


__ADS_2