Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Rumah Singgah


__ADS_3

Rencana kepindahan yang aku usulkan secara spontan benar-benar terlaksana. Aku dan mas Agam memutuskan meninggalkan lingkungan yang telah lama kami tempati. Sebenarnya tanpa sepengetahuanku, mas Agam sudah membangun rumah di tengah kota dengan gaya minimalis.


Rumah yang sedianya akan menjadi kado pernikahan setahun kami. Dengan berat hati mas Agam tunjukkan padaku. Mas Agam tidak menyetujui keinginanku yang akan menempati rumah kontrakan. Kepindahan kami yang mendadak sempat membuat gempar warga sekitar.


Mas Agam hanya menerangkan seperlunya. Bagaimanapun keputusan ada ditangan kami? . Bik Asih tidak ingin berpisah dengan kami. Sebenarnya aku berniat mengajaknya, tapi bik Asih masih dalam kondisi berkabung. Suaminya meninggal beberapa minggu yang lalu.


Annisa sempat menemuiku, dia meminta maaf padaku. Sedikit banyak kepindahanku, disebabkan oleh kehadirannya. Kedatangan Annisa selain minta maaf. Dia juga berpamitan padaku. Dia ditugaskan oleh perusahaan, mengawasi proyek yang lain.


Bagiku tidak ada yang salah atau benar. Semua ikut andil dalam masalah yang terjadi. Mas Agam yang tidak bisa menjaga jarak dengan Annisa. Aku yang lemah, kurang memperhatikan mas Agam. Annisa yang terpesona oleh pesona mas Agam. Semua terjadi saling bertaut satu dengan yang lainnya.


Pagi ini aku berencana mengajak mas Agam mengunjungi rumah di kala aku sedih. Rumah yang membuatku melupakan semua permasalahan hidup. Tempat dimana aku bahagia dan membahagiakan orang lain. Semalam setelah percakapan antara aku dan mas Agam. Kuputuskan menunjukkan kegiatan disela kesibukanku sebagai seorang istri.


FLASH BACK


"Sayang, kamu sedang apa? Tidak lelah sejak tadi kamu bersih-bersih! Aku yang melihatmu saja, merasa lelah!"


"Aku harus segera menyelesaikan tulisan ini. Pihak penerbit meminta besok harus selesai. Aku masih belum menyelesaikan separuh bab."


"Sayang, kenapa kamu harus susah payah menulis? Jika hanya kebutuhanmu, aku merasa masih sanggup memenuhinya. Bahkan aku hampir tidak pernah menerima tagihan bulanan yang membengkak dari kartu kredit yang kuberikan padamu!"


"Aku menulis bukan untuk kebutuhan pribadi. Menulis sebagai hobi, seolah aku memiliki hidup baru dari setiap tulisanku. Aku hanya ingin berguna untuk seseorang!"


"Sayang, kamu memang unik. Banyak wanita ingin menghabiskan uang, tanpa berpikir ingin susah payah bekerja. Kamu malah sibuk menulis, sedangkan uang yang kuberikan tidak pernah kamu gunakan."


"Aku hanya ingin bermanfaat untuk orang lain. Jangan marah padaku, jika penghasilanku dari menulis seluruhnya aku gunakan untuk orang lain. Jadi untuk kebutuhanku, tetap menggunakan penghasilanmu!"


"Sayang, kalau bisa gunakan penghasilanku untuk kebutuhan orang lain juga. Aku tidak akan keberatan. Seluruh penghasilanku menjadi hakmu sepenuhnya. Aku bekerja keras hanya untuk dirimu."


"Aku tahu itu, Hubby tenang saja! Suatu hari, aku akan menghabiskan semua penghasilanmu. Besok pagi, jika Hubby tidak sibuk. Ikut aku ke suatu tempat. Hubby akan tahu, kemana penghasilanku selama ini!"

__ADS_1


"Tidak akan ada kata sibuk, selama kamu yang meminta waktuku! Aku akan pergi ke kantor, setelah pergi bersamamu!" ujar mas Agam. Aku mengangguk seraya tersenyum.


FLASH BACK OFF


Matahari mulai sedikit tinggi. Panas matahari mulai terasa menyentuh kulit. Hari sudah sedikit siang, sekitar pukul 09.00 wib aku berangkat dengan mas Agam. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit, untuk sampai di tempat yang ingin aku datangi.


"Sayang, ini jalan menuju rumah siapa? Kenapa aku tidak pernah tahu!" tanya mas Agam heran.


"Rumah singgah yang aku dirikan dari penghasilanku sebagai penulis. Kalau rumah ini milik bunda Nissa. Beliau yang membelinya untukku!"


"Maksudmu apa sayang? Kamu mendirikan rumah singgah sebesar ini. Namun sedikitpun aku tidak menyadarinya! Suami macam apa aku? sampai aku tidak menyadari kegiatan sosialmu!"


"Suami yang selalu percaya pada istrinya. Suami yang tidak pernah meragukan ketulusanku sebagai seorang istri. Terkadang aku merasa Hubby mengacuhkanku. Namun disisi lain, aku merasa Hubby sangat sayang padaku. Sehingga tidak akan pernah ada keraguan untukku."


"Sayang, aku tidak bisa meragukanmu! Kamu satu-satunya alasan kebahagianku. Jika aku meragukanmu, itu artinya aku keyakinanku telah goyah. Kamu ingat perkataanku, kita ini dua jiwa satu hati. Tidak akan ada keraguan, yang mampu memisahkan jiwa kita. Sebab hati kita hanya satu. Jika sisi kanan sakit, maka sisi kiri juga sakit."


"Hubby, kamu sadar tidak kalau usiamu tidak muda lagi. Kenapa aku malah merasa Hubby semakin sering merayu?"


"Hmmmm, pernikahan kita masih seumur jagung. Kita jalani saja yang di depan. Selama kita menjalani pernikahan ini dengan tulus. Aku percaya semua akan baik-baik saja!" ujarku, mas Agam mengangguk. Dia menarik tubuhku dalam pelukannya. Dekapan yang sempat menghilang dariku


"Lepaskan, kita harus turun! Masih ada kejutan lain menantimu. Tidak mungkin bukan? Kita di dalam mobil terus!" ajakku, mas Agam mengangguk pelan. Kami berdua turun dari mobil, mas Agam terus menggandengku. Seakan dia tidak ingin melepas genggamannya.


"Assalamualaikum!" sapaku, semua orang yang di dalam menoleh.


"Waalaikumsalam!" saut mereka serentak.


"Zahro sudah datang? . Aku memintanya datang pagi, karena dia harus membeli keperluan rumah singgah!" ujarku pada Nia, salah satu relawan rumah singgah.


"Aku sudah datang sejak dua jam yang lalu! Kak Tika saja yang baru saja datang. Apa saja yang harus aku beli? Sekalian saja aku perginya, jadi tidak perlu bolak-balik." saut Zahro ketus. Terlihat dia datang dari belakang kami.

__ADS_1


"Zahro, kamu juga ada di sini. Kalian berdua kompak menyembunyikan semua ini dariku. Kalian keterlaluan menyembuyikan hal sebaik ini dariku." ujar mas Agam kesal. Zahro mengacuhkan mas Agam. Dia meninggalkan kami berdua.


"Mas Agam, maaf jika kamu kesal. Aku ingin membuktikan padamu. Bahwa aku bisa berguna bagi orang lain. Semua orang berhak bahagia, termasuk anak-anak ini."


"Sayang, berapa anak yang ada di rumah singgah ini? Bagaimana kamu membiayai mereka semua? Seharusnya kamu mengatakan padaku, supaya aku bisa membantumu!"


"Penghasilanmu sebagian aku gunakan untuk membiayai mereka. Rumah singgah ini, hanya untuk singgah sementara. Kegiatan mereka hanya setelah mereka pulang sekolah. Kegiatan mereka belajar bersama dan mengaji bersama. Setelah sholat isya, mereka pulang ke rumah masing-masing."


"Sayang, sejauh ini kamu melangkah. Sedikitpun aku tidak menyadarinya. Ketulusanmu berbagi dengan mereka, membuatku merasa beruntung menjadi suamimu. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku akan selalu mendukungmu." ujar mas Agam, sembari memelukku dari belakang. Tercium harum parfum dari tubuhnya. Wangi dan pelukan yang menjadi penenang dikala gelisahku.


"Mas Agam, sekarang yang aku butuhkan sepeda untuk beberapa anak. Tulisanku belum selesai, jadi aku tidak bisa membelikan mereka sepeda. Jika mas Agam merasa mampu. Belikan beberapa sepeda untuk mereka."


"Aku akan membelikan sepeda sesuai permintaanmu. Dengan catatan nanti malam kamu bersedia makan malam romantis denganku."


"Ceritanya mas Agam tidak ikhlas. Kalau begitu, aku beli sepeda sendiri saja. Mas Agam jelek!"


"Sayang, aku bercanda jangan diambil hati. Kita sudah lama tidak keluar bersama. Kamu tidak merindukanku!" ujar mas Agam lirih.


"Baiklah, nanti malam aku akan pergi dengan Hubby!" sautku lirih, mas Agam tersenyum. Dia mendekapku erat. Kemudian mencium lembut keningku.


"Hubby, sudah siang. Kenapa belum berangkat kerja? Aku akan menemanimu ke kantor. Itupun jika kamu tidak keberatan!"


"Aku tidak akan keberatan, malah aku sangat senang!"


"Aku pikir mas Agam keberatan. Mungkin saja di kantor ada Annisa lain!" godaku pada mas Agam.


"Sayang, jangan mulai!" sautnya kesal.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


TERIMA KASIH😄😄😄


__ADS_2