Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
kerinduan


__ADS_3

PUKUL 00.00, KEDIAMAN HAFIDZ


"Hafidz, sudah malam! Kamu belum tidur?"


"Om Dirga, belum tidur juga!" Sahut balik Hafidz; Dirga menggeleng lemah.


Dirga duduk tepat di samping Hafidz. Dia sengaja keluar dari kamarnya. Saat dia mengetahui Hafidz sedang berada di ruang tengah. Dirga langsung menemui Hafidz. Sebab Dirga merasa ada yang tidak benar dengan sikap Hafidz. Sejak dulu Hafidz pribadi yang tak mudah menyimpan rahasia. Jadi dengan mudah Dirga bisa menyadari. Jika ada sesuatu yang menggangu Hafidz.


"Ada apa Hafidz? Kenapa kamu menonton televisi di sini? Kamu merindukan Hanna!"


"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku teringat Hanna. Aku takut dia kesepian tanpaku!"


"Lantas kenapa kamu menginap? Seharusnya kamu menemani Hanna. Jika akhirnya kamu mengkhawatirkannya!"

__ADS_1


"Hanna yang memaksaku, agar aku menginap. Meski aku sudah memaksa pulang. Hanna terus memintaku menginap. Dia tidak ingin bunda sedih, bila mengetahui aku pulang!"


"Tapi nyatanya kamu merindukan Hanna. Kamu membutuhkan Hanna!" Ujar Dirga, Hafidz menganggukkan kepalanya pelan. Dia mengakui kalau merindukan sosok Hanna.


"Om Dirga benar, aku sangat merindukannya. Aku teringat akan harum rambutnya. Sangat segar, sehingga aku merasa santai bila menciumnya. Suara napas Hanna kala tertidur, membuat diriku bahagia. Sungguh om Dirga, setiap inci tubuh Hanna membuatku candu!"


"Pesona keturunan keluarga Anggara yang sulit kita pungkiri!" Ujar Dirga lirih, Hafidz mengangguk pelan. Dia mengiyakan perkataan Dirga. Meski Hafidz tak menyadari, apa yang sedang dimaksud oleh Dirga?


Lama Dirga dan Hafidz terdiam. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka. Keduanya larut dalam lamunan. Baik Dirga atau Hafidz, sama-sama memikirkan wanita yang mereka cintai. Namun ada satu hal yang berbeda, Hafidz dapat menggapai cintanya. Sebaliknya Dirga tetap menggenggam cintanya. Meski Dirga sadari, takkan ada penyatuan dalam cintanya.


"Maksud om Dirga!"


"Pulanglah sekarang, lagipula bundamu sudah tidur. Jadi dia tidak akan mengetahui kepulanganmu!"

__ADS_1


"Tapi!" Sahut Hafidz ragu.


"Pulang sekarang atau kamu akan menahan kerinduan sampai pagi!"


"Baiklah, aku akan pulang. Aku tidak sanggup jauh dari Hanna!" Ujar Hafidz lantang, Dirga mengangguk setuju. Dia mengizinkan Hafidz pulang menemui Hanna. Separuh belahan jiwa Hanna yang takkan bisa dipungkiri Hafidz.


Setelah pamit pada Dirga, Hafidz berjalan menuju kamarnya. Tak berapa lama, Hafidz kembali dengan membawa kunci mobilnya. Hafidz tak sanggup lagi menahan kerinduannya pada Hanna. Hanya Hanna nama yang ada di benaknya. Kedua matanya haus, hanya dengan menatap Hanna. Hafidz akan merasa lega. Dia sangat-sangat merindukan Hanna.


"Om Dirga, Hafidz pulang!"


"Hati-hati, sampaikan salamku bila kamu bertemu dengan Hanna. Percaya atau tidak, om yakin Hanna juga sedang merindukanmu!" Sahut Dirga lirih, Hafidz mengangguk pelan. Dia menghampiri Dirga, lalu mencium punggung tangan laki-laki yang telah merawatnya selama ini. Dirga orang yang menggantikan sosok ayah dalam hidup Hafidz.


Kreeekkk

__ADS_1


"Kamu benar-benar pulang Hafidz. Kamu bukan Hafidz yang dulu bunda kenal. Sekarang dalam hiidupmu, hanya ada Hanna. Kamu tak lagi merasa nyaman di rumah ini. Kamu merasa asing berada diantara keluargamu. Sungguh Hafidz, bunda tidak menyangka. Kamu begitu mencintai Hanna. Sampai kamu menginap di rumah ini hanya sebagai kewajiban. Bukan kasih sayang dan kerinduanmu akan rumah ini!" Batin Sinta, sesaat setelah Hafidz kelyae dari rumahnya.


__ADS_2