Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Permintaan


__ADS_3

"Duduklah Hafidz, kakakmu Arkan ingin bicara!" Sapa Agam, Hafidz mengangguk pelan.


Hafidz duduk tepat di depan Arkan dan berada di sisi kiri Agam. Sedangkan Arkan duduk berdampingan dengan Hanna. Istri yang berharap dilupakan oleh Hafidz. Tak berapa lama Tika datang membawa beberapa cangkir minuman, tapi tidak untuk Hanna. Sebab Hanna sedang berpuasa sunnah.


"Hafidz, bagaimana kondisi Davin? Apa yang dikatakan Qaila tentang kondisinya?"


"Davin sudah membaik pa, tapi masih dalam proses pemulihan. Sejak Hanna yang merawat Davin, Qaila memilih melepaskan tanggungjawab dan menyerahkannya pada Hanna. Jadi Hanna jauh lebih tahu, tentang kondisi Davin!"


"Hanna!" Ujar Agam, lalu dengan spontan Hanna mendongak. Tanpa sengaja Hanna menatap Hafidz. Tatapan penuh tanya yang tak mampu terjawab begitu saja. Entah tatapan cinta ataukah tatapan kebencian? Namun sejauh kebersamaan mereka, Hanna selalu menjaga jarak. Seakan tak ada harapan dirinya bersatu dengan Hafidz.


"Iya pa!"


"Bagaimana kondisi Davin?" Ujar Agam tegas, Hanna menunduk.


"Kondisi Davin baik-baik saja, hanya ada beberapa faktor yang membuatnya sakit. Davin memiliki riwayat alergi akan makanan tertentu. Kita harus mengecek kondisi Davin secara meluruh. Sampel darahnya sudah aku bawa ke laboratorium. Besok aku bisa mengetahui penyebab sakit Davin!" Tutur Hanna, Agam mengangguk pelan.


"Syukurlah, jika dia mulai membaik. Papa berharap tidak ada penyakit yang serius. Lakukan apapun demi menyembuhkan Davin. Jangan biarkan cucuku sakit!" Titah Agam, Hanna dan Hafidz mengangguk secara bersama-sama.


"Arkan, apa kamu sudah menemukan rumah yang kamu idamkan?" Ujar Tika, Arkan diam membisu.


Arkan tak mampu menjawab, sebab apapun jawaban Arkan hanya membuat hati Tika sakit. Kebahagian orang tua ada, ketika sang anak menemukan impiannya. Sebaliknya impian anak terkadang membuatnya lupa akan orang tua. Hal yang tanpa sadar menjadi alasan duka orang tua. Sama halnya hari ini, pertanyaan Tika pada Arkan menyiratkan banyak arti. Kebahagian seorang ibu yang melihat putranya menemukan impiannya. Sekaligus kebimbangan Arkan menjauh dari Tika.


"Mama, maafkan Arkan!"


"Untuk!" Sahut Tika, Arkan dan Hanna menunduk. Jelas mereka berdua tahu alasan dari kata maaf yang terucap.


Lama Tika menanti jawaban tegas putra kebanggaannya. Sebuah jawaban yang membuat hati seorang ibu terluka. Namun itu ibu yang lain, bukan ibu berhati tegar seperti Tika. Sejak Arkan dan Hanna kecil, Tika sudah belajar arti kata ikhlas. Tika mencoba memahami arti perpisahan, demi kata penyatuan. Tika tidak pernah takut sakit, demi menggapai bahagia. Sebuah pengertian yang tidak semua orang memahaminya. Sebaliknya, justru hati Arkan dan Hanna yang melemah. Mereka tidak setegar dan setenang Tika. Jauh dari pandangan Tika, bak layang tanpa benang. Terbang tanpa arah dan tujuan.


"Arkan, mama tidak pernah melarang keinginanmu. Sama halnya hari ini, mama tidak akan mencegahmu. Kalian berdua sudah sangat dewasa. Mama percaya kalian mampu memilih jalan yang benar. Hanya saja, mama ingatkan pada kalian. Terkadang keinginan yang paling besar dalam benak kita. Belum tentu yang terbaik bagi kita. Teruntuk kamu Hanna, belajarlah memahami masalah. Sebelum kamu memutuskan jalan yang kamu pilih!" Tutur Tika, Hanna menunduk semakin dalam. Hafidz merasa aneh dengan pertemuan ini. Hanya mereka berlima, tidak ada orang lain.

__ADS_1


"Arkan, sebelum Hanna menjadi istri Hafidz. Papa adalah wali dari hidupnya, tapi setelah Hafidz menjadi suaminya. Hanya Hafidz yang berhak menentukan jalan hidup Hanna. Tiga tahun perpisahan mereka, bukan karena ketidakcocokan. Melainkan cara-NYA mendekatkan mereka!"


"Papa!" Ujar Hafidz tak mengerti, Agam mengedipkan kedua matanya. Seakan mengatakan pada Hafidz. Semua akan baik-baik saja.


"Arkan, sekarang katakan keinginanmu pada Hafidz. Minta dia menyerahkan istri yang selama ini dirindukannya. Katakan dengan lantang, selantang kamu mengatakannya pada papa semalam!"


"Tapi pa!" Sahut Arkan lirih, Tika memegang tangan Arkan. Hangat terasa mengalir deras dalam darahnya. Arkan mulai bimbang akan permintaannya semalam. Sebuah permintaan yang awalnya dianggap paling benar. Nyatanya kini menjadi jurang pemisah yang begitu dalam.


"Katakan dengan lantang Arkan. Agar Hafidz bisa memutuskan. Memenuhi permintaanmu atau menolaknya. Jangan ragu Arkan, jika kamu berpikir ini yang terbaik buat Hanna!" Ujar Agam dengan nada tegas. Isyarat sebuah ketidaksetujuan akan permintaan Arkan.


"Hanna, kenapa kamu diam? Bantu kakakmu bicara pada Hafidz. Semalam kalian begitu kompak mengatakannya pada papa. Kalian memiliki pendapat sendiri. Sekarang katakan pada Hafidz, dia berhak memutuskan!"


"Ada apa sebenarnya? Apa yang ingin kak Arkan katakan pada Hafidz? Sebisa mungkin Hafidz akan memenuhinya. Jika memang Hafidz bisa menyentujuinya!" Ujar Hafidz, Arkan terdiam membisu. Entah kenapa hatinya merasa sakit? Terasa ngilu sampai Hafidz tak mampu bernapas. Seolah dirinya tengah merasakan posisi Hafidz.


"Hafidz!"


"Ada apa kak Arkan? Katakan, tidak perlu ragu!"


Duaaarrr


Bak petir menyambar tubuhnya, Hafidz seketika terdiam. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya. Hanna meminta pergi dari hidupnya. Menjauh dari keluarga yang menyayanginya. Hanna memilih mengacuhkan seluruh cintanya. Hafidz langsung hancur, tak ada alasan Hafidz tetap menatap langit. Baru beberapa hari yang lalu, Hafidz merasakan kebahagian. Setitik sinar harapan akan penyatuan cinta antara dirinya dengan Hanna. Namun nyata hari ini, Hanna ingin menjauh darinya. Hanna menutup pintu hati untuknya. Hafidz terdiam, tak dapat memutuskan apapun? Diam yang bisa dipahami oleh Agam dan Tika.


"Hafidz, apapun keputusanmu? Papa tidak akan melarangnya. Papa akan mendukung sepenuhnya keputusanmu. Hanna bukan lagi tanggungjawab papa dan kakakmu Arkan. Hanna sepenuhnya tanggungjawabmu, sampai kamu mengembalikan Hanna pada kami. Hari ini kakakmu meminta Hanna, berpikir dia bisa menjaga dan membahagiakan Hanna adiknya. Meski dia lupa, tidak ada kebahagian tanpa belahan jiwa!"


"Papa!" Ujar Arkan lirih.


"Apa yang papa katakan benar Arkan? Apa kamu lupa perpisahan mama dan papa? Berapa tahun kami hidup dalam kesendirian? Kami menyiksa diri dengan perpisahan, berpikir Arkan dan Hanna bahagia dengan perpisahan itu. Meski nyatanya, kami hanya bahagia ketika bersama!"


"Papa, kenapa berpikir Hafidz lebih berhak akan Hanna? Bukankah selama ini, hanya duka yang Hafidz berikan!" Ujar Hafidz, Agam mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sebab, papa pernah berada di posisimu. Merasakan kepercayaan yang begitu besar dari ayah mertua. Ayah yang tak pernah menyalahkan atau menghakimi setiap kesalahan papa. Sebaliknya, beliau selalu menerima apapun keputusan yang papa ambil. Kelapangan hati seorang ayah yang tidak pernah ikut campur dalam rumahtangga putrinya. Meski hampir setiap hari, air mata putrinya menetes!" Tutur Agam, Tika menepuk pelan pundak Agam.


"Sekarang, kamu berhak memutuskan dimana Hanna akan tinggal? Bersama kamu dan Davin atau tinggal bersama Arkan dan Aura!" Ujar Agam tegas dan lantang, Hafidz mendongak menatap tajam Hanna. Berharap dua bola mata Hanna memberikan jawaban yang dia butuhkan.


"Angkat kepalamu sayang, aku mohon angkat kepalamu. Agar aku bisa melihat keinginanmu. Inikah yang kamu pilih, pergi dari hidupku dan Davin. Tidakkah ada jalan kita bersama. Mungkinkah, kita bisa memulai semuanya dari awal. Sayang, tatap mataku. Katakan, apa yang harus aku putuskan? Aku tidak akan sanggup jauh darimu. Kepergianmu kali ini, seolah tanda kamu takkan pernah kembali padaku. Aku mohon sayang, maafkan aku dengan segala khilafku. Kembalilah pada keluarga kecil kita. Benci aku, tapi jangan tinggalkan aku!" Batin Hafidz pilu, sembari menunduk.


"Hafidz, jika memang sulit kamu memutuskan. Biar papa yang memutuskan!" Ujar agam, Arkan dan Hanna diam menunduk. Mereka merasakan amarah Agam yang tak bisa dielak.


"Arkan, jawab pertanyaan papa. Setelah itu kamu akan tahu, permintaanmu ini benar atau salah!" Ujar Agam, Arkan menganggukan kepalanya pelan.


"Arkan, seandainya kelak ada seorang kakak yang meminta Aura padamu. Apa jawabanmu?"


"Aku tidak akan menyerahkannya!"


"Jika kelak ada yang mengukit keturunan pada Aura, apa sikapmu?"


"Aku akan melarang dia menemui Aura. Tidak akan kubiarkan satu orangpun menyakiti Aura dengan mengukit kekurangan dalam keluarga kami!" Ujar Arkan lantang dan tegas.


"Lalu, apa yang sedang kamu lakukan? Kamu meminta Hanna dari suami sahnya. Memisahkan suami dari istrinya, menjauhkan putra dari ibunya. Kamu juga mengukit lemah Hafidz, meski kamu tahu. Jika selama ini, Hafidz yang terus membela dan mendukung lemah Hanna. Jika kamu tidak bersedia menyerahkan Aura pada kakaknya. Lantas, kenapa kamu meminta Hafidz menyerahkan Hanna? Ingat Arkan, kepedulianmu pada Hanna hanya sebatas kakak dan adik. Namun bukan untuk ikut campur dalam rumahtangganya. Ingat Arkan, kebaikan akan menjadi benar. Jika itu tidak menyakiti hati orang lain. Namun semua akan menjadi buruk. Saat satu tetes air mata jatuh mengiringinya!"


"Maafkan Arkan!"


"Sedangkan kamu Hanna, Hafidz mungkin pernah mencintai Qaila. Namun tak pernah Hafidz mengkhianati cinta kalian. Jika memang Hafidz ingin berkhianat. Mungkin dua tahun lalu dia sudah menikah dengan Qaila. Tahun dimana papa dan mama memaksa Hafidz mencari penggantimu? Lebih baik kamu belajar menghargai, sebelum kamu kehilangan yang lebih besar!" Ujar Agam tegas.


"Mama!" Ujar Hanna.


"Sayang, Hafidz suamimu sampai detik ini. Ingat, dosa terbesar seorang istri. Ketika dia mengacuhkan harapan dan bahagia suaminya!" Ujar Tika tegas, Hanna langsung terdiam. Tak lagi ada suara dalam ruang kerja Agam.


"Hafidz akan mengikuti keinginan Hanna. Selama itu membuatnya bahagia!" Ujar Hafidz lalu pamit pergi. Dengan langkah berat, Hafidz keluar dari ruang kerja Agam.

__ADS_1


"Kamu akan menyesal!" Ujar Agam pada Hanna.


__ADS_2