Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Lepaskan


__ADS_3

"Tika!" sapa Zalwa ramah, Tika menoleh ke arah Zalwa. Terlihat Zalwa berdiri tepat di belakangnya.


Sudah hampir seminggu lebih Agam dirawat. Arkan menjadi salah satu dokter yang merawat Agam. Entah kenapa kondisi Agam semakin membaik? Rencana awal Agam harus transplantasi masih bisa ditunda. Agam hanya perlu melakukan cuci darah. Jika memungkinkan Agam selamanya tidak perlu melakukan transplantasi.


Pagi ini Tika datang ke rumah sakit. Bukan untuk menemui Agam atau menjenguk Dimas. Sebab sudah lama Dimas keluar dari rumah sakit. Sedangkan Agam meski dia masih dirawat. Tika tidak mungkin menemuinya lagi. Selamanya Tika tidak ingin rasa yang ada muncul kembali. Jauh lebih baik semua kembali seperti semula.


Namun jodoh berkata lain, Tika bertemu Zalwa. Sosok yang selama ini selalu diam menerima tatapan sinis Arkan. Wanita yang tersakiti dengan hubungan diantara Agam dan Tika. Wanita yang tanpa sengaja harus berada di tengah-tengah kemelut rumah tangga Tika. Tak pernah ada rasa marah Tika pada Zalwa. Sebab sebagai seorang wanita. Tika merasakan sakitnya mencintai, tapi tak pernah bisa memiliki.


"Mbak Zalwa, silahkan duduk!" ujar Tika ramah, Zalwa terdiam membisu. Lalu dengan lembut Tika menarik tangan Zalwa. Sehingga Zalwa duduk di sampingnya.


Tika melihat jelas kegelisahan Zalwa. Rait wajah cantik Zalwa terlihat lebih tua. Tika bisa menduga beban berat yang sedang dipikirkan Zalwa. Dengan penuh kehangatan Tika menggenggam tangan Zalwa. Memberikan dukungan yang selama ini tidak pernah Zalwa terima.


"Ada apa mbak? Katakan padaku, percayalah kamu bisa mengatakan apapun padaku!" ujar Tika ramah, membuka pembicaraan.


Tika merasa Zalwa dalam kondisi tertekan. Dia seolah berada dalam dilema yang sangat besar. Tika melihat betapa hancur dan sakitnya batin Zalwa. Lima belas tahun menemani Agam. Hanya direndahkan dan tak dianggap yang diterimanya.


"Tika, menikahlah dengan Agam. Percayalah aku tidak pernah menikah dengan Agam. Dia hanya mencintaimu dan selalu mencintaimu. Sejujurnya aku lelah berada di sampingnya. Aku ingin pergi sejauh langkah kakiku!" ujar Zalwa, seketika Tika menggelengkan kepala tak mengerti dan menolak keras perkataan Zalwa.


"Aku kembali bukan dengan harapan kembali menikah dengan mas Agam. Aku bukan tidak percaya, dia pernah mencintaimu atau tidak. Kenyataannya aku dan dia sudah tidak mungkin bersama!" ujar Tika hangat dan lembut.


Zalwa menatap heran ke arah Tika. Dia tidak mengerti maksud perkataan Tika. Zalwa merasa Tika masih mencintai Agam, tapi Tika tak ingin bersama Agam kembali. Nada bicara Tika seakan meminta Zalwa tetap berada di samping Agam. Namun hati Zalwa mulai lelah berada di samping Agam. Zalwa kebahagian tak akan pernah tergapai. Meski dia menunggu Agam selama mungkin.

__ADS_1


"Aku lelah sangat lelah!" ujar Zalwa lirih, Tika menatap lekat Zalwa. Kesepian yang dialami Zalwa seakan wajar. Bertahun-tahun bertahan di samping Agam. Tanpa ada status yang jelas dan perhatian khusus dari Agam.


"Jangan melangkah bila kakimu mulai tak kuat. Berhenti dan menyerah terkadang jalan terbaik. Ketika harapan selalu berakhir dengan ketidakpastian. Jangan buat dirimu tersiksa, lepaskan beban yang tak lagi sanggup kamu tanggung!" ujar Tika hangat, Zalwa diam membisu. Tak ada kata yang mampu terucap dari bibirnya.


Zalwa seolah tak lagi mampu berdiri. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga. Belasan tahun Zalwa berada di samping Agam. Menerima tekanan dan hinaan dari Agam. Dia membisu menerima kesalahan yang tak pernah sengaja dilakukan. Zalwa merasa hancur tak bersisa. Tak ada daya dalam dirinya. Sehingga dia mampu bangkit.


"Tika, belasan tahun aku berada di samping Agam. Bukan karena aku mencintainya, tapi utang budiku pada Agam. Aku bertahan menerima sikap dingin Agam. Hanya demi status putri yang aku lahirkan. Memang aku akui, ada cinta yang tersimpan untuk Agam. Namun semua kalah oleh cintanya padamu. Telah lama aku mengaku kalah, tapi ibunda Agam selalu menekanku. Dia selalu membuatku terobsesi lagi dengan Agam. Ketika hatiku mulai lemah!" tutur Zalwa, Tika mengangguk mengerti.


"Tinggalkan Agam, lepaskan beban yang ada dipundakmu. Mbak Zalwa, cinta itu ketulusan. Bukan balas budi yang pada akhirnya menyiksa. Jangan dengarkan kata orang lain. Mbak berhak bahagia. Layaknya diriku yang memutuskan pergi. Dengan segala resiko dan kebencian yang akan aku terima. Semua kulakukan demi sebuah ketenangan sejati!" ujar Tika.


"Tidakkah kamu ingin kembali pada Agam!"


"Tidak!" jawab Tika tegas, Zalwa terkejut mendengar jawaban yang begitu lantang.


"Mama, Arkan sudah selesai. Kita bisa berangkat sekarang!" ujar Arkan sopan, Tika menoleh seraya mengangguk pelan.


"Mbak Zalwa, semoga kita bisa bertemu kembali. Aku harus segera pergi!" pamit Tika, Zalwa berdiri termangu. Tika menarik tubuh Zalwa.


Tika memeluk Zalwa dengan penuh kasih sayang. Tak ada dendam atau amarah. Akhir pernikahannya bukan karena Zalwa. Melainkan jalan yang tak lagi satu diantara dirinya dan Agam.


"Mbak Zalwa, lepaskan sesuatu yang tak ingin digenggam. Semakin erat mbak Zalwa memegangnya. Semakin dia akan memaksa untuk terbebas. Mbak Zalwa berhak bahagia bersama laki-laki yang jauh lebih baik dari mas Agam!" bisik Tika, lalu melepaskan pelukannya pada Zalwa.

__ADS_1


Arkan meganggukkan kepalanya pelan, isyarat dia berpamitan pada Zalwa. Dengan senyum tulus, Zalwa membalas sopan santun Arkan. Tika dan Arkan berjalan menjauh dari Zalwa.


"Maafkan aku Tika, keluargamu hancur karena diriku. Cintaku tak lebih dari utang budi, tapi cintamu murni dan suci. Tak ada sesuatu yang mampu menghancurkannya. Namun kini cintaku dan cintamu harus menyerah. Ketika ada hati yang tak menginginkannya. Kamu benar, aku harus melepaskan semua beban ini. Aku harus pergi menyerah, mas Agam berhak tenang tanpa ada aku yang mengganggunya. Akan kutanggung aib yang kuperbuat. Putriku akan mengeti, jika Agam bukan ayah kandungnya. Dia berhak tahu, Agam ayah yang begitu dibanggakan dan disayanginya. Tak lebih dari ayah diatas kertas!" batin Zalwa pilu sembari menatap kepergian Tika.


Arkan dan Tika berjalan menuju tempat parkir rumah sakit. Vahira sudah menunggu Tika dan Arkan. Hari ini Tika dan Vahira akan pergi meninggalkan Arkan.


"Mama, aku akan segera pulang. Setelah papa sembuh aku akan menemui mama!"


"Arkan, mama baik-baik saja. Sudah cukup kamu merawat mama. Sudah saatnya kamu merawat papa. Maafkan papamu, dia tidak salah atas semua ini!" ujar Tika.


"Hebat, kalian berdua memutuskan jalan masing-masing. Lupakah kalian padaku, gadis kecil yang tak pernah salah. Namun seakan aku salah dan menerima hukuman selama belasan tahun. Aku gadis yang tumbuh tanpa ksih sayang. Dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu? Aku putri yang terlahir dari rahimu, tapi seakan aku lahir dari sebongkah batu tanpa hati!" ujar Hanna emosi.


"Jaga bicaramu!" teriak Arkan.


"Kenapa?" teriak Hanna penuh amarah.


"Hanna, bukan mama yang melupakanmu. Tatapanmu yang seolah mengatakan aku ibumu!" ujar Tika.


"Karena kamu memang tak pantas menjadi seorang ibu. Kamu kejam dan egois!" ujar Hanna.


"Hanna, jangan kurang ajar!" teriak Arkan marah. Hanna semakin menantang.

__ADS_1


"Kelak kamu akan mengerti pengorbanan mama!" ujar Tika datar, lalu masuk ke dalam mobil.


__ADS_2