Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Hari Pertama


__ADS_3

"Pagi ini aku akan ke sekolah. Aku sudah mulai membantu mengajar di sana. Bukankah aku sudah meminta ijin padamu kemarin hari."


"Sayang, jangan seperti ini. Aku merasa kamu mulai menjauh dariku, tidak bisakah kita kembali seperti dulu!"


"Aku tidak pernah berubah. Aku masih istrimu yang sah."


"Sayang, cara bicaramu padaku berbeda. Tidak ada kehangatan dan kasih sayang dalam setiap kata-katamu. Aku minta maaf jika salah. Jangan acuhkan aku, sikap dinginmu mampu menghancurkanku!"


"Sudahlah kita hentikan pembicaraan ini. Masih terlalu pagi untuk membahas masalah serius!"


"Sayang, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu? Hanya kamu yang ada dalam hatiku!"


"Tapi Annisa jauh lebih baik dariku. Dia wanita yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakmu. Menikahlah dengannya, jika itu mampu membuat kedua orang tuamu bahagia!"


"Cukup, kita hentikan pembicaraan ini. Perkataanmu semakin melantur!."


"Cepat atau lambat semua akan berubah. Kamu imamku, yang berhak akan diriku. Namun jangan lupa, aku juga berhak bahagia."


"Maksud kamu apa? , katakan dengan jelas. Jangan bermain teka-teki!"


"Lepaskan salah satu diantara aku dan Annisa. Tidak akan pernah ada dua cinta, dalam satu hati. Jika bukan aku yang pergi, minta Annisa menjauh darimu. Namun jika Annisa tinggal, biarkan aku yang pergi!"


"Tika, hentikan perkataanmu!. Kamu sudah berpikir terlalu jauh, tidak akan pernah ada yang harus kulepaskan!. Aku hanya akan menggenggam tanganmu, bukan tangan orang lain!"


Terdengar suara pintu diketuk. Bik Asih berlari membuka pintu. Setelah membuka pintu, bik Asih menghampiri kami. Ternyata kedua orang tua mas Agam yang datang.


Aku melihat raut wajah mas Agam gusar. Aku sudah menduga, apa yang membuat kedua orang tua mas Agam datang? Mas Agam menyelesaikan sarapannya. Bahkan mas Agam belum sempat memakan sarapannya.


"Sayang, aku menemui ayah dan bunda di depan. Selesaikan dulu sarapanmu, jika kamu berkenan ikut aku menemui mereka."

__ADS_1


"Aku sudah selesai!. Aku akan menemui mereka, tapi aku mengambil buku untuk mengajar di kamar." ujarku. Aku berjalan menuju kamar, tanpa menunggu jawaban dari mas Agam.


Mas Agam berjalan perlahan menuju ruang tamu. Mas Agam melihat kedua orang tuanya. Raut wajah mereka terlihat sangat serius.


"Agam, duduklah! Kami ingin membicarakan sesuatu!." ujar ayah serius.


" Ada apa ayah? , jika ingin membahas masalah momongan dalam pernikahan kami. Agam rasa tidak perlu, aku tidak ingin rumah tanggaku hancur. Hanya Tika yang aku sayangi, tidak akan ada yang lain!"


"Kamu egois Agam. Kamu tidak memikirkan kami. Hanya kamu pewaris keluarga ini. Jika kamu tidak memiliki anak, pada siapa kami bergantung kelak? Kami ingin memiliki seorang cucu sebelum ajal menjemput!"


" Kalian akan memiliki seorang cucu. Mas Agam akan melakukan apapun, agar semua itu terwujud. Dia putra kalian, aku tidak akan merebutnya!"


"Sayang, apa maksud perkataanmu?. Adanya momongan dalam pernikahan, bukan kita yang menentukan. Aku tidak berharap kamu berpikir terlalu jauh!"


"Syukurlah jika kamu menyadari dan menerima permintaan kami dengan ikhlas. Bunda tidak berharap lebih, hanya bunda ingin kalian memeriksakan diri. Agar kita mengetahui, diantara kalian siapa yang kurang sehat?"


"Bunda, cukup jangan diteruskan!. Aku sudah mengatakan kami berdua sehat. Jangan berpikir kalau salah satu diantara kami tidak sehat!"


"Kenapa kamu menolak Tika? , semua demi kebaikan pernikahan kalian. Jadi kita akan mengetahui, siapa diantara kalian yang lemah?" tutur ayah, aku tersenyum. Mas Agam menunduk, seolah merasa bersalah padaku!.


"Ayah, tidak perlu ada pemeriksaan. Aku sudah mengatakan dengan jelas. Anggap saja aku yang lemah, jangan menyakiti harga diri suamiku. Kehormatannya segalanya untukku!"


"Kenapa kamu keras kepala. Jangan katakan kamu sudah memeriksakan diri. Apa hasilnya kamu mandul?" ujar bunda lantang. Mas Agam langsung mendongak. Wajahnya merah padam, dia marah mendengar bunda mengatakan aku mandul.


Deg Deg Deg


Jantungku berdegub hebat, satu kata yang sangat kutakuti. Sebuah kata yang mampu menghancurkan sebuah pondasi pernikahan. Setiap wanita selalu menjadi pihak yang salah. Ketika sebuah pernikahan tak kunjung memiliki momongan.


"Bunda!" bentak mas Agam. Kupegang tangan mas Agam, tangan yang sudah lama aku lepaskan.

__ADS_1


"Bunda, ini hasil pemeriksaan kandunganku. Tidak ada masalah dalam rahimku. Aku baik-baik saja, mungkin ALLAH SWT belum berkenan memberikan amanah untukku!"


"Sayang, kapan kamu melakukan pemeriksaan? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Seharusnya aku yang mengantarmu, jangan katakan kamu pergi bersama orang lain!" tutur mas Agam lirih. Aku hanya diam tanpa berpikir ingin menjawab pertanyaannya.


"Jika kamu memang sehat, kenapa kamu tidak ingin Agam diperiksa? Bukankah adil jika kita mengetahui kondisi Agam. Seandainya Agam yang lemah, bunda bisa mencarikan solusi yang lain!"


"Kehormatan suamiku segalanya. Aku tidak ingin mas Agam terluka, bila mengetahui dia lemah. Sejatinya percuma pemeriksaan ini, meski kami sehat secara lahir batin. Kami berdua tetap lemah, karena semua tergantung ketentuan-NYA."


"Sayang, kenapa kamu membelaku dengan menerima hinaan dari mereka. Semua ini tidak adil untukmu!"


"Tidak ada yang adil untuk seorang istri. Ketika dalam pernikahan terjadi sebuah masalah. Semua orang akan sibuk menyalahkan seorang istri, tanpa berpikir seorang suami juga bisa salah!"


"Tika, perkataanmu seolah menyidir kami. Bahwa kami telah melakukan sebuah kesalahan. Apa sekarang kamu merasa benar? , dengan hasil pemeriksaanmu yang sehat. Setiap orang tua akan selalu berharap memiliki cucu dari pernikahan putranya. Salahkah bunda yang berharap ingin menggendong cucu, sebelum ajal menjemput kami!" tutur bunda lirih.


"Bunda, tidak ada yang menyalahkan permintaanmu. Semua berhak berharap merasakan sebuah kebahagian. Seandainya saat dulu, selama pernikahan bunda dan ayah. Orang tua ayah bersikap sama seperti kalian padaku. Aku rasa bunda tidak akan mampu berkata seperti ini. Kita sama-sama wanita yang ingin sempurna. Aku yakin bunda juga bisa merasakan, terluka dan terhinanya aku saat ini." tuturku lirih. Bunda menunduk malu. Dia pernah merasakan, apa yang kurasakan saat ini? Kegelisahan menanti kedatangan mas Agam. Kecemasan yang sangat besar, takut jika dia tidak mampu menjadi seorang istri yang sempurna.


"Sayang, maafkan aku!" ujar mas Agam, aku menggeleng lemah. Kulihat jam di pergelangan tanganku. Aku harus segera pergi. Hari pertama mengajar, tidak mungkin aku terlambat.


"Maaf semuanya, Tika harus segera berangkat." pamitku, kucium punggung tangan mereka bergantian. Segera aku pergi menuju ke sekolah.


"Sayang, kamu lupa kunci mobilnya!" ujar maa Agam, aku menoleh seraya menggeleng.


"Terima kasih, aku jalan kaki ke sekolah." ujarku singkat.


Aku pergi menjauh dari rumahku. Kulangkahkan kakiku mantap, menapaki jalan hidup yang terbentang. Aku optimis melewati semuanya. Setiap masalah yang ada menjadikan kita semakin dewasa.


Kulihat jalan setapak yang kulewati. Hari ini pertama kalinya dalam hidupku. Aku merasa berbeda. Aku ingin menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain. Mungkin menjadi seorang guru bukan cita-citaku. Namun aku yakin menjadi seorang guru, cara ALLAH SWT menyayangiku. Aku akan bertemu murid-muridku, yang kelak menjadi pengganti buah hati yang belum aku miliki. Seorang anak tidak harus terlahir dari rahimku, tapi menyayangi seorang anak sudah mampu membuatku menjadi seorang ibu. Ketulusan bunda yang pernah dia berikan padaku. Akan aku berikan pada anak-anak didikku.


...☆☆☆☆☆...

__ADS_1


MAAF😔😔😔


__ADS_2