
"Kamu putra tuan Agam!" ujar Hafidz, Arkan mengangguk tanpa ragu.
"Aku putra pertama tuan Abdillah Abqari Agam. Sedangkan Hanna adik kembarku. Dia manja padaku, karena selama belasan tahun kami terpisah!"
"Dunia sangat sempit!" ujar Hafidz lirih.
"Anda benar, dunia sangat sempit. Bahkan di kota seluas ini. Aku harus bertemu dengan anda lagi. Aku benar-benar tak percaya!" sahut Hanna dingin, Arkan menatap Hanna. Seolah mengerti akan arti tatapan sang kakak. Seketika Hanna menutup mulutnya dengan tangan. Hanna merasa bersalah dengan sikapnya.
"Kak Aura, kenapa kakak bisa menyukai kak Arkan? Padahal dia dingin, lihat saja cara dia menatapku. Seperti elang yang siap memangsa!" ujar Hanna santai, Aura terkejut sekaligus malu. Hanna bertanya padanya tanpa canggung. Meski pertanyaan Hanna bukan hal yang biasa.
Arkan menggelengkan kepalanya lemah. Dia tak lagi bisa berkata apa-apa? Hanna pribadi yang periang dan ceplas-ceplos. Dia akan mengatakan isi hatinya, tanpa peduli perasaan orang lain. Atau setidaknya dia berpikir, itu benar atau salah bila diutarakan.
"Kak Arkan, aku datang kemari bukan tanpa alasan. Papa sedang kontrol di rumah sakit ini. Sedangkan Mama ada janji dengan dokter mata!" ujar Hanna santai, Arkan menoleh tak percaya.
"Dimana mama?" sahut Arkan cemas, Hanna mengangkat kedua bahunya pelan. Isyarat dia tidak mengetahui keberadaan Tika.
Sejak semalam Tika tidak menghubungi Arkan. Biasanya Tika akan meminta bantuan Arkan. Bila ingin pergi ke rumah sakit. Namun anehnya, pagi ini Tika tidak menghubungi Arkan. Sekadar ingin mengatakan, Tika sedang berada di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Lantas darimana kamu tahu mama disini?" ujar Arkan heran, Hanna tersenyum simpul. Sebenarnya dia belum bertemu Tika, tapi tanpa sengaja dia melihat Tika berjalan masuk. Lalu diikuti Vahira di belakangnya.
Hanna menghentikan langkah Vahira, lalu bertanya kemana Tika pergi? Vahira hanya mengatakan, Tika akan memeriksakan matanya. Sebab itu Hanna berpikir ingin menemui Tika bersama Arkan.
"Aku tadi bertemu Vahira di tempat parkir. Vahira wanita yang dijodohkan denganmu oleh mama!" sahut Vahira tanpa beban, seketika Arkan menginjak kaki Hanna.
"Aaawwwsss!" rintih Hanna, Arkan meletakkan telunjuk tepat di tengah bibirnya. Isyarat agar Hanna menutup mulutnya. Arkan melirik ke arah Aura yang menunduk malu. Hafidz tersenyum sembari menatap Hanna. Senyum yang memiliki banyak arti.
"Kenapa menatapku?" ujar Hanna ketus, Arkan memukul kepala Hanna pelan. Arkan benar-benar kewalahan menghadapi sikap blak-blakan Vira.
Namun jauh dihati Arkan, dia sakit mengingat Hanna tumbuh tanpa kasih sayang Tika. Seandainya dulu Hanna berada di bawah pengasuhan Tika. Mungkin Hanna tidak akan bersikap seceroboh ini. Setidaknya Hanna akan sedikit santun, bila berhadapan dengan laki-laki.
"Kak Hafidz, maafkan Hanna. Dia terlalu periang, sikap polosnya terkadang tak terkendali!" ujar Arkan, Hafidz menggeleng lemah. Hafidz merasa senang melihat kepolosan Hanna. Sikap tulus tanpa dibuat-buat yang telah menggetarkan hati Hafidz.
"Tidak perlu, aku lebih suka berhubungan dengan wanita yang apa adanya? Sebab dia selalu tulus dan jujur dalam bersikap!" ujar Hafidz ramah, lalu melirik ke arah Hanna. Senyum Hanna yang tak pernah lepas dari wajahnya. Menggoyahkan iman Hafidz, menggoda nalurinya sebagai laki-laki. Membangkitkan hasrat terpendam Hafidz untuk menikah dengan Hanna.
"Manis, sangat manis. Hanna, aku luluh hanya dengan senyummu. Sikap riangmu menggetarkan hatiku. Sudikah kiranya kamu menerima pinanganku? Aku tak lagi sanggup menahan hasrat ingin memilikimu!" batin Hafidz.
"Kak Arkan dengar sendiri. Aku itu bukan kurang sopan, tapi aku polos dan tulus!" ujar Hanna mengulang perkataan Hafidz. Seketika Aura tersenyum mendengar perkataan Hanna. Dia merasa bahagia, seandainya Vira benar-benar menjadi adik iparnya kelak. Keriangan Hanna seakan menjadi penerang dalam gelap hatinya kelak.
__ADS_1
"Kak Arkan, adikmu unik dan menyenangkan. Aku yakin hidupmu tidak akan membosankan. Tidak sepertiku yang tak memiliki saudar!" ujar Aura senang, Hanna mengangguk seraya mengangkat kedua jempol ke udara.
"Menikah saja dengan kak Arkan. Maka aku akan menjadi adik iparmu. Mumpung mama dan papa ada disini. Minta kak Arkan meminanmu, sebelum pengusaha itu datang mengacau!" ujar Hanna santai, Arkan diam membisu. Kini bukan orang lain yang meminta Arkan meminang Aura. Adik kandungnya sendiri mulai bersuara.
Aura menunduk malu mendengar gagasan dari Hanna. Seandainya mungkin, ingin rasanya Aura meminta Arkan mewujudkannya. Namun semua tak semudah membalik telapak tangan. Banyak pertimbangan yang dipikirkan Arkan. Salah satunya restu dari Tika, wanita pertama yang disayanginya.
"Siapa yang kamu maksud Hanna? Jangan bicara sembarangan!" ujar Arkan dingin, Hanna tersenyum sembari mengakat kedua jari ke udara. Isyarat dia meminta maaf pada Arkan.
"Vahira, wanita muda yang belajar menjadi anak dan calon menantu yang baik!" sahut Hanna tanpa rasa bersalah.
Hafidz tak berhenti menatap Hanna. Jelaa terpancar rasa kagum dari kedua matanya. Hafidz diam menganggumi Hanna. Wanita yang tak melihat dirinya. Meski Hafidz membuka diri untuk mengenal Hanna.
"Sudah diam, ayo kita cari mama. Aku takut mama membutukanku!" ajak Arkan, Hanna mengangguk pelan. Lalu di berdiri dan menarik tangan Aura dan Hafidz.
Hafidz terkejut, ketika dia merasakan sentuhan tangan Hanna. Tangan yang begitu lembut dan menenangkan kegelisahan hatinya. Tanpa ada rasa canggung, Hafidz mengikuti langkah kaki Hanna. Sedangkan Aura diam membisu, dia tak percaya akan bertemu dengan Tika. Sang mertua yang lama ingin Aura temui. Ada rasa cemas, takut akan penolakan Tika. Sebaliknya Arkan diam mematung, melihat Hanna menggandeng tangan Hafidz dan Aura bersamaan.
Seandainya Hanna hanya menggandeng Aura, mungkin Arkan akan bersikap biasa-biasa saja. Namun Hanna menggandeng tangan Hafidz yang jelas-jelas bukan mukhrimnya. Arkan hanya bisa menggengkan kepala tak memahami sikap Hanna. Terus mengingatkan Hanna dan berharap dia segera mengerti bukan hal yang mudah.
"Hanna, lepaskan tanganmu dari kak Hafidz. Dia bukan mukhrimmu!" teriak Arkan sembari mengikuti langkah Hanna.
"Maafkan Hanna, dia gadis polos. Hanna tidak memahami batasan diantara kalian. Lebih baik kak Hafidz menjauh dari Hanna. Takutnya Hanna akan menjerumuskan kak Hafidz!" ujar Arkan, Hafidz mengangguk ragu.
"Sebaliknya aku ingin dekat dengannya. Seandainya imanku kalah oleh sikapnya. Mungkin aku akan rela, sebab dia yang kuharapkan menjadi makmumku. Tak perlu takut aku terjerumus. Nyatanya aku telah jatuh dalam pesonanya. Maafkan aku Arkan, Hanna adik kecilmu meruntuhkan pondasi imanku. Aku akan meminangnya segera. Jika dia jodohku, cintaku akan bersambut. Aku akan menikung Vira di sepertiga malamku. Dengan restu-NYA, aku akan bisa menjadikan Hanna makmum dunia akhiratku!" batin Hafidz lirih.
"Mama, kak Arkan jahat!" teriak Hanna langsung berhambur memeluk Tika.
Arkan melongo mendengar Hanna mengadukan dirinya. Sontak Arkan menggeleng tak setuju perkataan Hanna. Tika tersenyum di balik cadarnya, dia bahagia melihat jarak diantara dua buah hatinya mencair. Tika menoleh ke arah Aura, lalu menoleh ke arah Vahira. Tika diam mengamati dua wanita dengan pribadi yang sangat berbeda.
Arkan diam membisu, dia melihat jelas tatapan Tika pada Aura dan Vahira. Aura maju ke arah Tika, menarik tangannya lembut lalu mencium punggung tangan Tika. Aura melakukannya sebagai cara menghormati Tika. Sebaliknya Arkan tak berkutik melihat dua wanita paling penting dalam hidupnya bertemu.
"Mama, dia kak Aura kekasih kak Arkan. Sengaja kak Arkan mengajaknya, karena kak Arkan ingin menikah dengan kak Aura. Mereka menunggu restu mama!"
"Hanna diam!" teriak Arkan, Hanna mendengus kesal. Hanna kesal akan sikap Arkan yang selalu menyalahkannya. Hanna berlari menjauh, dia tidak ingin bertemu dengan Arkan.
Bugghh
"Papa!" sapa Hanna lirih, Agam memeluk putrinya erat. Hanna pribadi periang sekaligus perasa. Sejak kecil Hanna kekurangan kasih sayang. Hanna selalu merindukan sosok Arkan dan Tika. Sebab itu dia selalu berusaha mengerti hati Arkan dan Tika.
__ADS_1
"Papa, kak Arkan!" ujarnya lagi, Agam mengangguk mengerti.
"Hanna sayang, kak Arkan berteriak padamu. Bukan karena dia marah, tapi Hanna sudah melewati batas. Tak seharusnya Hanna bicara seperti itu. Biarkan kak Arkan menyelesaikan masalahnya sendiri!"
"Aku hanya ingin membantu kak Arkan, aku tidak ingin menyakitinya!" sahut Hanna, Agam mengangguk lagi. Agam memahami kepolosan dan ketulusan Hanna. Sikap yang apa adanya? Terkadang membuat Hanna tak mampu mengontrol perkataannya.
"Kelak Hanna akan mengerti, saat Hanna menyukai seseorang dan kak Arkan ikut campur. Hanna pasti akan bersikap sama. Hanna akan marah dan tak terima Jika kak Arkan ikut campur!" ujar Agam sembari mengelus rambut hitam legam Hanna. Seketika Hanna menggeleng tak setuju. Hanna melepaskan pelukannya, berjalan mundur menjauh dari keluarganya.
"Aku tidak ingin menikah dan meninggalkan kalian. Aku tidak ingin memilih antara kalian dan cinta. Aku kehilangan 15 tahunku bersama mama dan kak Arkan. Semua karena papa yang tak bisa memilih. Aku tidak ingin menjadi melihat seseorang memilih satu dan melukai yang lain. Aku ingin bersama kalian. Aku tidak ingin jatuh cinta!" ujar Hanna lirih, Tika menghampiri Hanna.
Tika menarik tubuh Hanna, dia mengelus rambut hitam legam milik Hanna. Tika mencium lembut puncak kepala putrinya yang terluka. Tika menenggelamkan wajah putrinya jauh ke dalam pelukannya. Tika sakit melihat luka yang ingin diutarakan Hanna.
"Sayang, maafkan mama yang pergi darimu. Mama yang lemah tak mampu bertahan menggenggam cinta papa. Bukan salah papa yang tak bisa memilih, tapi mama yang tak pernah mampu menjadi bagian keluarga papa. Jangan mengutuk cinta, setiap hati memiliki cinta dan berhak merasakan cinta. Jangan pernah tutup hatimu akan cinta yang datang!"
"Aku tidak ingin menikah!" ujar Hanna lirih, Tika menggeleng tak setuju.
"Seorang wanita lahir untuk menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Kodrat yang harus kamu lalui, dengan sakit dan bahagianya. Jangan jadikan perpisahan mama dan papa, alasan kamu menempuh hidup baru. Mama yakin akan ada imam yang menuntunmu. Jangan keras pada hatimu!" tutur Tika, Hanna diam dalam pelukan hangat Tika. Dia tak lagi ingin berdebat dengan Tika. Hanna lebih memilih diam, merasakan kehangatan yang diberikan Tika.
"Arkan, mama tidak akan banyak bicara. Minta Aura datang ke rumah. Izin terlebih dulu pada orang tuanya. Kita bicara di rumah bukan tidak disini!" ujar Tika tegas, Arkan mengangguk tanpa membantah. Sejak dulu Arkan tidak akan membantah perkataan Tika. Kecuali menikah dengan Vahira yang sampai saat ini belum ditolak atau disetujui oleh Arkan.
"Vahira, kamu juga datang ke rumah mama. Kita bicara di rumah!" ujarnya pada Vahira yang sejak tadi terdiam. Vahira mengangguk setuju.
"Mas Agam, datanglah bersama Hanna. Arkan putramu, kamu berhak memutuskan yang terbaik untuknya!" ujar Tika dingin pada Agam.
Tika berjalan menghampiri Aura, lalu mencium puncak kepala Aura. Tika mengedipkan matanya pelan, isyarat dia pamit pada Aura. Tika berjalan menuju poli mata bersama Vahira.
"Hafidz, maaf kamu harus melihat semua ini!" ujar Agam pada Hafidz.
"Tuan Agam, saya yang harus minta maaf!" ujar Hafidz lirih, Agam menggeleng pelan.
"Hanna, kita pulang sekarang. Papa sudah selesai!" ujar Agam, Hanna mengangguk pelan.
"Papa!" sapa Arkan lalu mencium punggung tangan Agam. Dengan hangat Agam memeluk Arkan, lalu pergi bersama Hanna.
"Kak Arkan jelek!" ujar Hanna seraya menjulurkan lidahnya.
"Hanna, wanita yang menggetarkan hatiku. Dalam riangmu aku melihat rapuhmu. Kelak akan kubuat kamu percaya akan cinta. Rasa cinta untukmu yang kini mulai mengusikku!" batin Hafidz.
__ADS_1