
"Rayhan, masuklah ke dalam. Ada yang ingin om Dimas katakan padamu dan Tika!" ujar Dimas tegas saat melihat Tika dan Rayhan pulang bersama. Terlihat Rayhan sedang menggendong Hanif dan Zahro sedang menggendong Hanna. Nissa mengambil Hanif dari gendongan Rayhan. Tika dan Rayhan masuk ke dalam mengikuti Dimas.
Agam, Salwa dan kedua orang tuanya duduk berdampingan. Rayhan duduk berjejer dengan Dimas. Meski heran Rayhan tetap mengikuti perkataan Dimas. Tika duduk berdampingan dengan Nissa yang baru saja datang. Sebenarnya kedatangan kedua orang tua Tika, tak lain karena permintaan Agam. Sore tadi Agam menghubungi Dimas, menceritakan semua yang terjadi. Sebagai orang tua, Dimas dan Nissa datang untuk melihat kondisi putri mereka.
Setelah semua sudah berada di dalam. Dimas mulai berbicara, bukan ingin ikut campur urusan keluarga putrinya. Namun saat sebuah masalah tak kunjung menemukan titik penyelesaian. Wajib bagi orang tua mencari kejelasan akan permasalahan. Itulah yang kini sedang dilakukan Dimas dan Nissa. Mereka datang saat, Agam meminta bantuan akan peliknya masalah rumah tangga yang tak kunjung menemukan titik temu.
"Agam, papa datang bukan ingin mencanpuri urusan kalian berdua. Papa disini hanya ingin menasehati, tanpa berpikir ingin mencampuri. Jika setelah perkataan papa, kalian tetap ingin berpisah. Itu artinya tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Pikirkan semua dengan kepala dingin. Papa akan mengatakan sebuah pendapat. Baik Agam dan Tika sudah seperti anak papa. Tidak ada yang membedakan kalian. Salah satu sakit, papa juga akan merasa sakitnya!" tutur Dimas, Tika dan Agam menunduk lemah. Orang tua Agam terdiam mendengar kebijaksanaan dan pola pikir Dimas.
"Tika, bunda sudah mendengar dari Agam. Tentang keinginanmu yang akan mengakhiri hubungan diantara kalian. Bunda tidak akan membenarkan atau menyalahkan keputusanmu. Satu hal yang harus kamu tahu, keputusanmu akan mempengaruhi tumbuh kembang si kembar. Kasih sayang yang tak sempurna, akan membuat mereka tumbuh dalam kesepian. Sebelum bunda berpendapat, ada yang mengatakan sesuatu. Entah Tika atau Agam!" ujar Nissa, Tika dan Agam terdiam menunduk. Dimas melihat sebuah masalah yang takkan mudah diselesaikan. Hanya ada keegoisan yang terlihat.
"Baiklah jika memang kalian akan diam. Tika apapun yang terjadi pada rumah tanggamu. Tidak seharusnya kamu mencari tangan dan sandaran dari laki-laki lain. Papa tidak pernah berharap melihat ini. Jujur papa kecewa melihatmu datang bersama Rayhan. Seandainya kamu bersama Rayhan, saat tanganmu benar-benar tak lagi digenggam oleh Agam. Papa tidak akan kecewa padamu. Meski hubungan diantara kalian sebatas teman, tapi sampai kapanpun tidak ada pertemanan yang murni. Rasa sakit yang dirasakan, Agam pernah papa rasakan!" tutur Dimas, Tika menunduk merasa salah. Kedua orang tua Agam terperangah, saat melihat Dimas kecewa pada Tika. Dimas memarahi Tika saat, tanpa sengaja Tika membuat Agam kecewa.
"Rayhan, om Dimas tidak akan menyalahkanmu. Kedatangamu tepat disaat pernikahan Tika dalam masalah. Namun om Dimas harap, ini pertemuan kalian yang terakhir tanpa kami wali Tika. Sebab sampai detik ini Tika masih istri sah Agam. Seandainya Agam benar-benar melepas Tika dan kamu ingin menjalin hubungan dengan Tika. Om Dimas akan menerimamu dengan tangan terbuka!" ujar Dimas, Rayhan mengangguk mengerti. Kini dia paham, kenapa Dimas memintanya masuk? Tanpa dia duga, Rayhan telah terlibat dalam pelik masalah rumah tangga Tika. Meski dalam hati sedikitpun Rayhan tidak berpikir ingin menjadi orang ketiga.
"Agam, aku tidak akan memaksamu mempertahankan pernikahan ini. Semua murni keputusan kalian. Papa tahu semua ini berat, takkan mudah untukmu melupakan tahun-tahun bersama Tika. Perjuangan kalian mendapatkan keturunan hanya untuk menghilangkan keraguan. Namun sepertinya keraguan itu tidak akan pernah hilang. Papa rasa sudah waktunya kita menyelesaikan masalah yang takkan pernah selesai ini!"
"Perkataan anda seolah menyindir kami sebagai orang yang bertanggungjawab atas hancurnya pernikahan Agam dan Tika. Bukankah anda sendiri melihat, Tika pulang dengan laki-laki lain. Berarti bukan kami yang tak mampu mendidik Agam. Namun kalian yang salah mendidik Tika!" sahut bunda Agam, Nissa menggeleng lemah. Tika meradang mendengar perkataan orang tua Agam. Sebaliknya Agam membisu, dia sudah tak mampu lagi untuk berbicara. Tak ada lagi alasan dirinya untuk membela diri.
__ADS_1
"Maafkan kami yang salah mendidik Tika. Sebagai orang tua, saya telah lalai. Sebab itu kami datang untuk membawa Tika pulang. Kita tidak perlu banyak bicara. Perkataan anda baru saja, menunjukkan bagaimana putri kami diperlakukan disini!" ujar Nissa, sembari menangkupkan kedua tangan.
"Tika, ikut papa dan bunda pulang. Minta Zahro mengambil beberapa pakaian Hanif dan Hanna. Kamu tidak perlu membawa apapun dari rumah ini. Kamu masuk ke dalam rumah ini, hanya menggunakan baju yang kamu pakai. Jadi bunda akan membawamu, dengan cara yang sama!" tutur Nissa, Dimas menggenggam tangan Nissa. Namun dengan lembut ditepis oleh Nissa. Hati seorang ibu tidak akan pernah terima, melihat putrinya terus tersakiti. Tika berjalan masuk ke dalam. Dia meminta Zahro mengemas beberapa pakaian Hanif dan Hanna. Bik Asih menangis tanpa henti, kedua orang yang menyayangi Tika di dalam rumah ini.
"Sayang, terlalu cepat kamu mengambil keputusan. Tidak sepantasnya kita membawa Tika dengan cara seperti ini. Agam belum mengatakan apa-apa? Kita masih belum berhak membawa Tika!"
"Apa yang ingin mas Dimas dengar? Agam tidak akan mampu mengatakan apapun. Dia terlalu malu melihat sikap kedua orang tuanya. Selamanya Tika dan Agam akan menghadapi masalah yang sama. Orang tua Agam akan selalu meragukan putri kita. Tidak sepantasnya Tika kecilku mengalami ini. Aku terluka melihat perpisahan ini, tapi aku jauh lebih terluka mendengar mereka terus meremehkan Tika. Mas Dimas mendengarnya sendiri. Orang tua Agam menyalahkan Tika, saat mereka melihat Tika datang bersama laki-laki lain. Seolah putri kita wanita murahan dan kita tidak lebih dari orang tua yang gagal. Aku akan diam, tapi aku tidak akan terima saat mereka meragukan kesucian cinta putriku. Jika Agam tidak bisa membela Tika. Aku sendiri yang akan membela putriku. Tidak akan kubiarkan mereka menginjak ketulusan cinta putriku!" ujar Nissa emosi, Dimas menggeleng. Dia tidak akan bisa menyanggah perkataan Nissa. Selama ini Nissa selalu menggunakan hati dan logika secara seimbang. Ketenangannya dalam mengambil keputusan sudah tidak bisa diragukan.
"Nissa, cara bicaramu terlalu berlebihan. Aku mengatakan sesuai fakta. Jadi kamu tidak perlu membela Tika. Mungkin kamu merasa bangga memiliki putri seperti Tika. Sebab dirimu tidak jauh berbeda dengan Tika. Kamu melakukan semua ini. Agar tuan Dimas merasa kamu pantas menjadi istrinya!" sahut bunda Agam, Ilham menarik tangan istrinya berharap dia diam. Salwa dan Rayhan suka tidak suka, akhirnya terlibat dalam masalah ini.
Plakķk
"Jaga bicaramu!" ujar bunda Agam emosi, Agam berdiri mendekat pada Tika. Dia ingin melihat Tika, tapi dengan kasar Tika menepis tangan Agam.
"Jangan sentuh diriku dengan tanganmu. Terlambat kamu ingin membelaku. Haruskah orang tuamu melihatku tiada, baru mereka akan sadar akan arti diriku. Aku tetap diam saat mereka menuduhku hina. Tanpa mereka sadari, mereka yang hina. Dengan santai mereka datang ke dalam rumah kita. Membawa seorang wanita agar pernikahan kita berakhir. Kini aku penuhi permintaan mereka, lepaskan aku rangkul mereka. Menikahlah dengan wanita-wanita yang mereka bawa. Agar mereka puas melihatmu hamcur. Namun mereka harus mengingat malam ini. Kelak meski mereka menangis mencium kakiku. Memintaku kembali aku tidak akan kembali. Aku mungkin hina, tapi jangan pernah menghina bunda Nissa. Aku mampu kehilanganmu, akhiri semua agar orang tuamu bahagia!"
"Tika!" panggil Nissa, Tika menoleh.
__ADS_1
Plaakkk
"Bunda tidak ingin melihat sikapmu ini. Sekarang minta maaf, biarkan mereka menghina bunda. Namun jangan kamu rendahkan dirimu dengan emosimu. Minta maaf pada mereka. Lalu kita pergi, ambil kedua buah hatimu!" ujar Nissa, Tika mengangguk. Dengan lembut Tika menarik tangan Agam, bergantian dengan kedua orang tua Agam.
"Maaf Tika telah berkata kasar!" ujar Tika sembari menangkupkan tangan.
"Agam, maafkan bunda. Tidak akan ada titik temu. Lebih baik kalian terpisah sementara waktu. Kalian butuh menenangkan diri. Pintu rumah bunda terbuka untukmu, temui kedua buah hatimu kapanpun? Mereka tidak salah, mereka berhak bahagia!"
"Sayang, tidak bisakah kita bicarakan lagi!" ujar Agam menahan tangan Tika.
"Aku ada di rumah bunda. Buatlah keputusan yang terbaik. Kamu imamku, keputusanmu jalan hidupku!" ujar Tika sembari menggendong Hanna. Sedangkan Dimas menggendong Hanif.
Semua pergi membawa kecemasan. Meninggalkan Agam dalam kepahitan hidup. Orang tua Agam mematung melihat Agam terpuruk. Belum satu hari, Agam seakan tak bernyawa tanpa Tika dan kedua buah hatinya. Bik Asih dan Zahro menangis melihat kepergian Tika.
"Tika sayang, semua akan baik-baik saja. Ketulusanmu akan menang, kini kesabaran yang kamu butuhkan. Menanti ketegasan imammu akan pernikahan ini!" tutur Nissa, Tika mengangguk.
...☆☆☆☆☆...
__ADS_1