Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Makan Malam


__ADS_3

"Mbak Salwa, silahkan duduk bersama. Mari kita makan bersama. Setelah itu selesaikan pekerjaan, tak baik bekerja dalam kondisi perut kosong!" ujar Tika, Salwa dan Agam menoleh ke arah Tika. Kebetulan malam ini Salwa dan Agam sedang menyelesaikan pekerjaan di rumah. Irfan asisten pribadi Agam juga ikut, tapi kebetulan masih keluar.


"Salwa, duduklah makan bersama kami. Sembari menunggu Irfan datang!" pinta mas Agam, Salwa mengangguk pelan. Dia duduk di samping Agam berhadapan dengan Hana. Bik Asih dan Zahro menyiapkan semua makan malam.


Setelah meletakkan semua makanan, bik Asih dan Zahro duduk berjejer disamping Hana. Salwa melihat bik Asih dan Zahro dengan pandangan jijik. Tika mencob mengalihakan perhatian Zahro, agar dia tidak tersinggung dengan sikap Salwa. Agam diam membisu melihat sikap Salwa. Selama dia bisa menghargai Tika. Agam tidak akan membuka suara.


"Agam, kamu tidak salah. Kita makan satu meja dengan pembantu!" ujar Salwa, Zahro meradang mendengar perkataan Salwa. Dengan sigap Tika menahan tangan Zahro. Tika tidak ingin terjadi keributan di meja makan.


"Salwa, diam dan makan saja. Mereka bukan pembantu disini. Mereka sudah seperti saudara bagi kami!" sahut Agam dingin, Tika sengaja diam. Dia hanya ingin melihat sikap Agam terhadap Salwa.


"Tapi Agam, kamu turunan nigrat. Tidak sepantasnya kamu makan satu meja dengan pembantu. Apa yang akan ayah dan bunda katakan? Jika mereka melihatmu makan satu meja dengan mereka! Ayah pasti akan kecewa, kamu kepala rumah tangga. Tidak seharusnya kamu tunduk pada Tika!" ujar Salwa kesal, Agam menatap tajam ke arah Salwa. Tika menggeleng lemah menyesalkan perkataan Salwa. Bik Asih dan Zahro memutuskan meninggalkan meja makan. Mereka tidak ingin terjadi keributan, yang akhirnya menyusahkan Tika.


Dengan perasaan bersalah Tika melihat kepergian bik Asih dan Zahro. Tika diam bukan tidak ingin membela, tapi Tika sedang mencari waktu yang tepat menghancurkan keangkuhan Salwa. Agam marah melihat sikap kuranh sopan Salwa. Dia menatap tajam Salwa, seolah meminta Salwa menutup mulutnya.


"Bik Asih dan Zahro, kalian tidak perlu pergi. Jangan memikirkan perkataan Salwa. Aku pemilik rumah ini, bukan dia. Jadi tidak perlu menuruti perkataannya!" ujar Agam dingin, Salwa menunduk merasa tersinggung. Bik Asih dan Zahro menggeleng hampir bersama. Mereka memutuskan tetap meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Maaf mas Agam, kami tetap akan pergi. Kami bukan karena dia, tapi semua demi mbak Tika. Cukup kami melihat dia susah. Jika kami tetap disini, orang tua mas Agam akan menyalahkan mbak Tika. Bagi kami hanya senyum mbak Tika yang ingin kami lihat!" ujar bik Asih sopan, lalu meninggalkan meja makan bersama Zahro. Tika termenung setelah mendengar perkataan bik Asih. Agam membisu, dia seolah tertampar dengan perkataan bik Asih. Perkataan bik Asih seakan ingin menunjukkan, betapa tersiksanya Tika hidup bersamanya.


Tika tidak menyentuh makanan di depannya. Meski Agam dan Salwa sudah mulai makan malam. Tika memilih berdiri menjauh, tapi saat dia berdiri tangannya tertahan oleh genggaman Agam. Tika menatap Agam dengan penuh amarah.


"Aku sudah meminta mereka tinggal, tapi mereka memilih tetap pergi. Pantaskah kamu meninggalkanku demi mereka. Jika memang kamu marah dan tidak ingin makan malam. Temani aku disini, tidak mungkin aku berdua dengannya. Jangan kamu berpikir selalu benar, yang akhirnya rumah tangga kita hancur hanya karena sikapmu!" ujar Agam, Tika kembali duduk. Dia diam membisu, Tika memilih diam demi ketenangan.


"Kamu seharusnya sadar, Agam itu suami kamu. Dia yang lebih pantas kamu bela, bukan dua pembantu tadi. Demi mereka kamu ingin meninggalkan meja makan!" ujar Salwa sinia, Agam menatap Salwa dengan tatapan membunuh. Tika tersenyum sinis mendengar perkataan Salwa.


"Diam!" bentak Agam pada Salwa, seketika Salwa menunduk menghentikan makan malamnya. Tika dengan santai meminum segelas air. Makan malam yang selalu tenang berubah panas. Hanya karena kesombongan Salwa. Agam menghentikan makan malamnya, semua orang larut dalam pikirannya.


"Mas Agam, jangan anggap dirimu kepala keluarga di rumah ini. Jika kamu tetap diam, saat ada wanita yang mengusik batin istrimu. Bik Asih dan Zahro, memikirkan senyumku. Sebaliknya baru saja kamu menahanku, hanya untuk dihina oleh mbak Salwa. Aku tetap diam melihatmu mematuhi orang tuamu. Sebab surgamu berada di bawah kaki mereka. Namun seharusnya sebagai seorang suami, mas Agam harus mampu memilih dan membuat keputusan. Aku melihat perjuangan bunda dan papa, tapi mereka selalu bergandeng tangan. Saling percaya dan jujur satu sama lain. Haruskah aku menjauh, baru mas Agam bisa membuat keputusan untuk hubungan kita!" tutit Tika, lalu meninggalkan Agam dan Salwa.


"Kamu sudah mendengarnya sendiri. Kamu menghina bik Asih dan Zahro, padahal mereka jauh lebih berarti daripada diriku. Sekarang kamu memahami, jika Tika bukan wanita biasa. Dia diam hanya demi ayah dan bunda. Jika dia menginginkan, jangankan dirimu yang hancur. Keluargaku bisa hancur secara materi. Tika pewaris keluarga Anggara, dia putri pertama Dimas Putra Anggara. Sekarang kamu sadar, siapa Tika? Dia mampu mencari laki-laki yang jauh lebih baik dariku!" tutur Agam lirih, Salwa melongo mendengar perkataan Agam. Selama ini Salwa berpikir, Kedua orang tua Agam tak pernah setuju hanya karena Tika tak sederajat.


"Kamu bercanda Agam, jika memang dia anak orang kaya. Kenapa ayah dan bunda seakan tidak pernah merestuinya?"

__ADS_1


"Salwa, aku mengakui pernah ada rasa diantara kita. Namun semua itu jauh sebelum adanya Tika. Keluargaku menolak Tika, bukan karena status. Mereka selalu merasa Tika tidak pantas untukku. Ayah dan ibu selalu mencari kesalahan Tika. Bukan hanya kamu wanita yang sengaja mereka dekatkan padaku. Sikap Tika tetap sama, diam tak bersuara. Namun kehadiranmu kali ini, menjadi firasat terburukku. Jika mungkin aku harus merelakan Tika. Aku sendiri sudah lelah melihat Tika terus diragukan oleh ayah dan ibu. Tika benar, aku harus bisa memilih!"


"Kamu tidak perlu memilih, aku akan pergi. Jadi tidak akan ada alasan, orang tuamu memaksa diriku menikah denganmu!" ujar Salwa, Agam menggeleng lemah.


"Kepergianmu dari rumah ini, hanya akan menambah kebencian ayah dan bunda pada Tika. Mereka akan menyalahkan Tika untuk semua hal yang kamu alami! Aku akan menemui bunda Nissa, aku akan bertanya jalan mana yang terbaik!"


"Bunda Nissa, maksudmu Fitri choirunnissa. Memangnya siapa dia? Bukankah dia temanmu saat sekolah dulu!"


"Dia orang yang sangat dihormati Tika. Apapun yang bunda katakan, Tika akan mendengarkannya. Dia menyayangi Nissa dengan setulus hati. Dia tahu yang terbaik untuk Tika istriku. Sedangkan aku hanya suami yang tak berdaya. Salwa, apapun hubungan kita dulu. Aku minta maaf jika pernah menyakitimu!" ujar Agam, lalu meninggalkan Salwa termenung sendirian di meja makan. Tika berdiri di balik lemari, dia mendengarkan semua perkataan Agam. Sebuah kejujuran yang tak pernah dia katakan pada Nissa


"Maaf mas Agam, aku terlalu kasar. Tapi Salwa sudah melampaui batasannya. Jika memang kamu ingin menemui bunda untuk menyerahkanku. Aku siap lahir batin, tak ada gunanya bertahan bila saling menyakiti. Perkataanmu seolah rasa lelah dalam pernikahan ini. Kamu imamku, apapun keputusanmu akan kuterima dengan ikhlas. Bukti tulusku mencintaimh. Selama perpisahan ini membuatmu bahagia!" batin Tika.


...☆☆☆☆☆...


TERIMA KASIH😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2