
"Maafkan Arkan dan mama, kami akan baik-baik saja. Selama kakek dan nenek baik-baik saja. Arkan titip Hanna, dia adik kecil Arkan satu-satunya. Kini tidak ada hak Arkan melindunginya. Dia bahagia bersama papa!" ujar Arkan, lalu mundur menjauh.
Plaakkk
"Dulu kamu pergi tanpa bicara, sekarang setelah datang. Kamu malah pamit akan pergi. Mungkin aku bukan ayah yang baik, tapi setidaknya ada darahku dalam tubuhmu!" ujar Agam lantang, sesaat setelah dia menanpar Arkan.
"Kak Hanif!" panggil Hanna lirih. Arkan terdiam mematung, Agam menoleh ketika mendengar suara Hanna. Dia melihat putrinya berdiri tak jauh darinya. Memanggil sang kakak yang lama tak pernah dia temui.
"Kak Arkan!" teriak Vahira lantang. Sontak Arkan menoleh. Dia melihat Vahira berdiri tak jauh darinya. Arkan segera berlari menghampiri Vahira. Arkan seolah lupa pada keluarga yang telah merindukannya.
Hanna termenung menatap sang kakak yang berlari menghampiri gadis lain. Bukannya menghampirinya sekadar melepas kerinduan selama bertahun-tahun. Agam terpukul melihat sikap dingin Arkan. Baginya sikap Arkan bukan yang pertama, tapi mengacuhkan Hanna adik kandungnya. Agam sungguh tak percaya Arkan putranya akan bersikap seperti itu. Seandainya bukan dengan mata kepalanya sendiri. Tentulah Agam tidak akan pernah mempercayainya.
Arkan bukan lagi Hanif kakak laki-laki Hanna. Tak ada rasa simpati yang terlihat. Arkan mengacuhkan kerinduan Hanna. Arkan tidak peduli pada air mata sang adik yang terlanjut menetes. Agam menghampiri Hanna, dia memeluk tubuh putrinya. Keduanya termenung menatap Arkan yang sedang menghampiri Vahira.
Nissa dan Bayu tak kalah terkejut. Mereka tidak lagi mengenali Arkan. Pemuda yang ada di depannya. Seakan bukan keturunan keluarga Anggara. Tak ada sedikitpun rasa iba atau simpati yang ditunjukkan Arkan. Bahkan ketika air mata Nissa mengalir. Arkan seolah mengacuhkannya dan malah menghampiri Vahira yang baru saja datang.
"Kenapa kamu ada disini? Mama dimana? Sudah aku peringatkan, jangan pernah tinggalkan mama sendiri. Sekarang kamu malah ada disini? Lantas siapa yang akan menjaga mama?" ujar Arkan emosi, Vahira menunduk ketakutan. Vahira sudah sering melihat amarah Arkan. Namun merasakan sendiri amarah Arkan, baru pertama kali ini dirasakan Vahira.
Amarah yang seakan mampu menelan hidup-hidup Vahira. Arkan memang tidak pernah main-main bila berhubungan dengan Tika. Dia selalu mengutamakan kepentingan Tika. Apapun yang diinginkan Tika akan Arkan penuhi. Kecuali satu hal yang tak pernah Arkan setujui sampai saat ini. Permintaan yang sangat mustahil, yaitu menikah dengan Vahira Putri Annisa. Wanita yang kini berdiri di depannya.
Vahira Putri Annisa gadis berumur 19 tahun, dua tahun lebih muda dari Arkan. Seorang anak yang sejak kecil diasuh oleh Tika. Vahira anak yatim piatu yang tanpa sengaja bertemu Tika. Kecelakaan parah merenggut kedua orang tuanya. Semenjak itu Vahira tinggal bersama Tika dan menjadi adik angkat bagi Arkan. Vahira bukan gadis sembarangan. Dia memiliki harta yang tak sedikit. Namun tak pernah Tika menggunakan harta milik Vahira. Atau melarang Vahira kembali hidup mewah bersama keluarganya.
"Maaf!" ujar Vahira lirih, suaranya terdengar parau. Sekilas Arkan melihat tubuh Vahira bergetar hebat. Dia menangis ketika Arkan memarahinya.
__ADS_1
Vahira memang adik angkat Arkan, tapi sejak kecil mereka tidak pernah tinggal dalam satu atap. Vahira tinggal satu atap dengan Tika. Sedangkan Arkan berada di asrama sekolahnya. Arkan menganggap Vahira sudah seperti adik kandungnya sendiri. Sedangkan Vahira menyimpan rasa yang tak pernah bisa terungkap. Vahira lebih memilih diam, selama dia bisa tetap berada sedekat mungkin pada Arkan.
"Kenapa kamu malah menangis? Katakan dimana mama?" ujar Arkan, Vahira diam membisu. Terdengar isak tangis Vahira, amarah Arkan mampu membuat Vahira terluka dan ketakutan.
"Mama, ada di dalam mobil. Aku datang bersama mama, tapi beliau tidak turun. Takut mengganggu kak Arkan!" ujar Vahira, Arkan menggelengkan kepalanya pelan.
Arkan kesal melihat sikap Vahira yang lamban. Seandainya dia mengatakannya sejak tadi. Mungkin sekarang Arkan sudah bertemu Vahira.
"Kenapa kamu baru mengatakannya? Kasihan mama berada di dalam mobil!" ujar Arkan, Vahira semakin menunduk. Kekesalah Arkan mampu membuat Vahira tak berkutik.
Arkan berjalan melewati Vahira. Dia melangkah dengan sangat cepat keluar rumah sakit. Nissa dan Bayu mengejar Arkan. Agam dan Hanna mengekor di belakang mereka. Suara lantang Arkan ketika bertanya pada Vahira. Seolah mengatakan, bahwa Tika sedang menunggu di luar rumah sakit. Arkan terus berlari keluar dari rumah sakit. Arkan tidak peduli pada keluarga yang sangat merindukannya.
Tap Tap Tap
"Mama!" sapa Arkan, Tika menoleh. Air matanya membasahi cadar yabg dipakainya.
Arkan melihat ke arah yang sama dengan Tika. Arkan terkejut ketika melihat Dimas Putra Anggara terbaring tak sadarkan diri. Arkan merangkul tubuh Tika. Arkan mencoba menenangkan Tika yang terlihat kecewa dengan apa yang terjadi.
"Arkan, kakekmu terlihat kesakitan!" ujar Tika lirih, Nissa dan Bayu tersentak kaget.
Mereka melihat Tika berdiri di depan ruangan Dimas di rawat. Bertahun-tahun Dimas mencoba mencari keberadaan Tika. Tenaga dan harta segalanya di korbankan demi bertemu dengan Tika. Namun hari ini tanpa dicari, Tika sudah berdiri di depan ruang ICU.
"Kak Nissa, hubungan darah tidak akan pernah berbohong. Tika berdiri di depan mas Dimas. Tanpa ada yang meminta atau melarangnya. Selamanya mereka akan terikat satu dengan yang lainnya!" ujar Bayu, Nissa mengangguk pelan.
__ADS_1
Nissa tersenyum bahagia melihat putrinya telah kembali. Nissa menatap lekat Tika gadis kecilnya yang berubah menjadi sangat dewasa dengan penampilan bercadarnya. Sebaliknya Tika langsung menoleh ke arah Nissa ketika Vahira dan Hanna datang bersamaan.
Tika menatap Nissa penuh kerinduan. Lima belas tahun dia sengaja menjauh. Entah keputusannya benar atau salah? Namun yang paling penting, kini Tika kembali. Meleburkan kerinduan yang terpendam selama bertahun-tahun. Tika melihat ke arah Hanna putri kecilnya. Penyesalan terbesar dalam hidupnya. Meninggalkan Hanna sendirian dengan membawa Hanif bersamanya.
"Bunda!" ujar Tika lirih, Nissa mengangguk pelan. Dia merentangkan kedua tangannya. Keduanya berjalan saling mendekat. Nissa memeluk Tika putri kecilnya. Lalu mencium puncak kepala Tika.
"Bunda, maafkan Tika!" ujar Tika, Nissa menggeleng lemah.
"Kamu tidak perlu meminta maaf. Bunda yang seharusnya meminta maaf padamu. Tak seharusnya bunda meninggalkanmu. Bunda mengacuhkan masalahmu, berpikir semua akan baik-baik saja. Meski kenyataannya kamu menangis tanpa bunda menyadarinya. Terima kasih sayang, terima kasih sudah kembali untuk papamu!" ujar Nissa sembari memeluk Tika erat.
Agam terpaku melihat Tika berdiri tak jauh darinya. Entah kenapa Agam merasa tak percaya? Wanita yang begitu dirindukannya, kini berdiri tepat di depannya. Agam bahagia sekaligus sedih, melihat Tika datang bukan untuk dirinya lagi. Dia hanya bisa Agam tatap, tanpa bisa Agam menyentuhnya.
"Hanna!" ujar Tika, suara lembut Tika membuyarkan lamunan Agam. Suara yang bertahun-tahun menghilang, kini terdengar lagi.
"Peluk mama sayang!" ujar Tika, Hanna diam mematung. Ada kecewa dan bahagia dalam hati Hanna. Lalu Hanna menggeleng lemah, menolak sikap hangat Tika. Sebaliknya Tika tersenyum menerima penolakan Hanna. Dia memahami rasa marah dan kecewa Hanna.
Selama bertahun-tahun Tika meninggalkannya tanpa banyak bicara. Memaksa Hanna tinggal bersama keluarga yang memandang hubungan dari harta.
"Marahlah sayang, mama pantas menerimanya!" ujar Tika.
"Arkan, carikan Vahira tempat menginap. Malam ini mama akan menemani kakek!"
"Baik!" sahut Arkan, lalu mengajak Vahira ke luar dari rumah sakit.
__ADS_1
"Mama!" ujar Hanna lirih.