Pengabdian Cinta

Pengabdian Cinta
Bertamu


__ADS_3

"Agam, masuklah ke dalam. Sebentar aku panggilkan Hana dan Hanif. Mereka sudah siap sejak tadi!" sapa Nissa ramah, Agam mengangguk pelan. Sebenarnya Agam ragu ingin masuk ke dalam rumah ini. Rumah yang dulunya seperti rumahnya sendiri. Kini terasa sangat asing bagu Agam. Nissa sekilas melihat Zalwa sedang duduk di dalam mobil. Mungkin kedua orang tua Agam memaksa dia ikut. Agar Zalwa bisa membantu menjaga si kembar.


Nissa mengangguk pelan dengan mengutas senyum pada Zalwa. Bukan amarah atau kebencian yang ditunjukkan Nissa. Sampai saat ini Tika tidak pernah menyalahkan Zalwa yang datang diantara dirinya dan Agam. Kebimbangan Agam dalam memutuskan, menjadikan Zalwa bagian dari rumitnya masalah yang ada. Sebab hancurnya sebuah pernikahan. Bukan salah orang ketiga, tapi ketegasan dari pasangan suami-istri itu sendiri. Mampu tidak menjaga pernikahan mereka.


"Zalwa, silahkan masuk. Tidak baik menunggu di dalam mobil. Agam menjemput kedua buah hatinya. Jadi sangat tidak sopan, bila aku tidak mempersilahkan kalian masuk!" sapa Nissa ramah, Zalwa mengangguk kikuk dari dalam mobil. Dia membuka pintu mobil, lalu turun dan berjalan perlahan menghampiri Hana. Agam tertunduk malu pada Nissa. Bukan menjelaskan hubungannya dengan Tika. Agam masih bersikap lemah, dengan datang bersama Zalwa. Wanita yang dipaksa menjadi calon istrinya.


"Terima kasih tante!" ujar Zalwa sopan, Nissa mengangguk pelan. Dengan ramah Nissa menggandeng tangan Zalwa berjalan masuk ke dalam rumahnya. Zalwa tertegun menerima perlakuan baik keluarga Tika. Seandainya Zalwa bisa memilih. Ingin rasanya dia pergi jauh dari kehidupan Agam. Namun layaknya Agam yang belum mampu menyadarkan keluarganya tentang Tika. Zalwa juga sama, balas budi kepada orang tua Agam dan permintaan orang tuanya. Membuat Zalwa harus bertahan di sisi Agam. Menerima hujatan yang tak seharusnya dia terima.


Zalwa berjalan mengikuti langkah kaki Nissa. Dia terperangah melihat betapa besar dan mewahnya rumah Tika. Kenyataan Tika terlahir dari keluarga yang tak biasa. Membuat hati kecil Zalwa bertanya. Alasan apa yang membuat orang tua Agam? Terutama ibunya begitu membenci Tika. Jika mengenai status, Zalwa jauh di bawah Tika. Kekayaan keluarga Tika takkan pernah bisa sepadan dengan kekayaannya. Bahkan harta Agam tidak ada separuh dari harta keluarga Tika.

__ADS_1


"Silahkan duduk, sebentar aku ambilkan minum. Hana dan Hanif mungkin di kamar Tika. Aku akan memanggil mereka!" ujar Nissa ramah, diam membisu jawaban dari Agam dan Zalwa. Malu dan canggung, yang terlihat jelas dari raut wajah Agam dan Zalwa. Keramahan Nissa membuat Zalwa malu sebagai seorang wanita. Dia telah sengaja melukai hati wanita lain.


"Kalian sudah datang!" sapa Dimas tak kalah ramah dari Nissa. Usia yang tak lagi muda, membuat Dimas terlihat sang bijaksana. Ketampanan Dimas masih jelas terlihat. Sikap tenang Dimas masih jelas terlihat, meski sekarang dia jauh lebih tegas. Tepat saat Dimas duduk, salah satu ART Dimas membawakan minuman. Dimas mempersilahkan Zalwa dan Agam meminum teh yang sudah disuguhkan. Kebijaksanaan sebuah keluarga yang percaya. Jika Tika bisa menyelesaikan masalah yang menimpanya.


Tak berapa lama, terlihat Nissa datang membawa dua koper kecil. Satu berwarna hitam dan satu berwarna putih. Kedua koper itu milik Hana dan Hanif. Malam ini Agam sengaja datang ke rumah keluarga Anggara. Sebab dia akan menjemput Hana dan Hanif. Beberapa hari ke depan keduanya akan menginap di rumah Agam. Tika ataupun kedua orang tuanya tidak melarang. Agam dan si kembar berhak bersama, selama mereka menginginkan. Hanya status Tika dan Agam yang berbeda, tapi hubungan Agam dan si kembar tetap sama.


"Maaf Agam kamu harus menunggu, Hana dan Hanif sedang sholat berjamaah dengan Tika. Sebentar lagi mereka akan turun. Ini koper Hana dan Hanif, Tika sudah menyiapkan semua keperluan Hana dan Hanif. Seragam sekolah mereka selama seminggu, juga sudah tidak masukkan!" ujar Nissa ramah, lalu duduk di samping Dimas. Tak ada amarah yang mereka perlihatkan pada Agam dan Zalwa. Malah keramahan yang seolah menusuk hati Agam dan Zalwa. Rasa bersalah menyergap menusuk ke dalam hati mereka.


Agam dan Zalwa tak mampu mengatakan apa-apa? Suasana terasa hening dan sepi. Nissa memahami sikap diam Agam. Rasa bersalah membuat Agam takut berhadapan dengan Dimas. Meski sebenarnya, tak ada rasa marah Dimas pada Agam.

__ADS_1


"Bagaimana kelanjutan hubungan kalian? Tidak baik terus bersama tanpa status. Lebih baik segera dihalalkan. Agar tak menimbulkan fitnah!" ujar Dimas ramah, Agam mendongak kaget menatap Dimas. Dia tidak menyangka, jika Dimas memintanya menikah dengan Zalwa. Bukan meminta Agam kembali pada putrinya. Setidaknya demi kedua cucunya.


"Maksud papa?" ujar Agam lirih, Zalwa tak ubahnya Agam yang terperangah mendengar perkataan Dimas. Sebuah sinyal yang seakan mengizinkan Agam menikah dengannya. Nissa tersenyum melihat Zalwa dan Agam yang bingung.


"Kalian tidak perlu bingung, maksud mas Dimas. Sebaiknya kalian segera menikah, agar tidak terjadi fitnah. Sehingga Hana dan Hanif akan memiliki keluarga yang utuh. Sedangkan Tika bisa melanjutkan hidupnya dengan kedua buah hatinya!" ujar Nissa lirih, Agam menunduk tak percaya akan kenyataan yang dia dengar. Jelas kedua orang tua Agam, memintanya melepaskan Tika dan menikah dengan Zalwa. Wanita yang tak pernah dia cintai.


"Kenapa tante dan om tidak marah? Aku wanita yang menghancurkan pernikahan putri kalian. Aku alasan kedua cucumu jauh dari ayahnya. Lantas kenapa kalian begitu baik padaku? Bahkan meminta kami menikah, sebuah permintaan yang akan menghancurkan hati Tika putri kalian!" ujar Zalwa lirih, Nissa menoleh pada Dimas. Kemudian tersenyum pada Zalwa. Nissa memahami kebingungan Zalwa dan Agam. Orang tua yang mengingkan kehancuran keluarga putrinya. Mungki mereka tidak pernah menemukannya.


"Zalwa, kamu pantasa heran dan ragu akan permintaan tulus kami. Sebagai orang tua, tidak mungkin bahkan tidak akan pernah berharap pernikahan putrinya hancur. Sebagai orang tua, kami sudah cukup melihat rasa sakit Tika yang dia tahan. Aku jauh lebih siap melihat dia menangis. Namun kenyataannya, aku tidak pernah melihat air matanya jatuh. Aku tak pernah mendengar bibirnya mengeluh. Selama dua tahun, dia diam menerima kenyataan pernikahannya tak bisa bersatu atau berakhir. Seandainya Tika menangis dalam pelukanku, mungkin kami jauh lebih lega. Ketegaran Tika bagaikan karang di tepi pantai. Seolah kokoh dan kuat, tapi kenyataannya rapuh dan berlubang di dalamnya!" ujar Nissa, Agam dan Zalwa diam membisu.

__ADS_1


"Agam, aku pernah berada dalam posisimu. Aku pernah kehilangan Nissa dan si kembar. Rasa sakit jauh dari buah hati kita. Aku pernah merasakannya, tapi satu hal yang berbeda dari kita berdua. Aku dan Nissa masih memiliki jodoh yang menyatukan. Sebaliknya kamu dan Tika, mungkin berpisah jauh lebih baik. Kami tidak akan meminta kebahagian Tika padamu. Cukup tegas bersikap, putuskan yang terbaik untuk hidup Tika dan si kembar. Kamu berhak atas hidup si kembar, tapi Tika sudah tidak mungkin kamu genggam!" ujar Dimas ramah, sembaro menepuk punggung Agam.


"Tidak bisakah aku dan Tika bersama!" ujar Agam lirih.


__ADS_2